15 June 2015

Indonesia hancur di SEA Games 2015

Betapa mundurnya olahraga di Indonesia. Tidak hanya sepak bola, yang dari dulu memang sulit maju, puluhan cabang olahraga lain pun makin sulit maju. Atau, jalan di tempat. Atau, maju, tapi negara-negara lain maju lebih cepat.

Saat ini Indonesia bahkan sudah tertinggal jauh di Asia Tenggara. Perhatikan perolehan medali di SEA Games 2015 yang sedang berlangsung di Singapura. Indonesia hanya duduk di posisi ke-5. Nomor 1 Singapura dengan 66 emas. Indonesia cuma 30 emas. Besok lusa akan ada perubahan jumlah medali, tapi rasanya posisi Indonesia masih tetap di nomor 5.

Bayangkan, saudara-saudara, Indonesia yang penduduknya 250 juta orang jauh tertinggal dari Singapura yang hanya 5 juta jiwa. Vietnam yang dulu kita kenal di pelajaran SMP sebagai negara bergejolak, perang saudara, sulit maju, malah jadi runner-up. Perolehan medali Vietnam pun jauh di atas Indonesia. Opo tumon?

Beberapa hari terakhir, saya menyaksikan siaran langsung beberapa pertandingan SEA Games di televisi. Balbalan Indonesia vs Thailand, yang dicukur gundul 5-0, kemudian bola voli putri yang juga keok sama Thailand. Betapa bedanya kualitas atlet-atlet kita dengan Thailand. Padahal, sama-sama makan nasi. Beda dengan Jerman atau Tiongkok yang tidak makan nasi.

Saya pun teringat masa lalu, ketika satu-satunya televisi di Indonesia, TVRI, menyiarkan dari gelanggang ke gelanggang SEA Games ini. Televisi masih hitam putih, nonton bareng di rumah tetangga, atau di halaman balai desa. Indonesia waktu itu begitu mudahnya dapat medali emas. Para atlet kita tidak perlu ngoyo tapi menang... kecuali sepak bola yang selalu disikat Muangthai alias Thailand ini.

Maka, begitu pertama kali ikut SEA Games, Indonesia langsung juara umum. Perolehan medali emas, perak, dan perunggu pun jauh dibandingkan dengan negara-negara peserta lawas macam Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, apalagi Brunei Darussalam yang cuma punya 250 ribu penduduk itu.

Begitu perkasanya Indonesia, di masa Orde Baru, negara-negara lain sepertinya kalah sebelum bertanding. Indonesia juga cenderung mengendorkan permainan sehingga perolehan medali berkurang di SEA Games berikutnya. Tapi tetap nomor 1 dengan selisih medali yang signifikan.

Saya masih ingat zaman itu Singapura hanya panen medali emas di kolam renang lewat Nurul Huda Abdullah, yang memang ratu renang masa lalu. Juga Ong Beng Tiong. Berkali-kali Nurul Huda muncul di TVRI karena sering dapat emas. Di cabor-cabor lain, Singapura gak ada apa-apanya.

Saya pun jadi malas lihat SEA Games karena Indonesia terlalu kuat. Njomplang, kata orang Jawa. Tapi, rupanya negara-negara yang dulu lemah, bergejolak, perang saudara, diam-diam menyusun kekuatan. Membina atlet muda secara sistematis dan masif. Singapura yang negara mungil itu, bandingkan dengan Provinsi Jawa Timur yang penduduknya 40 juta, diam-diam ingin menjadi raja Asia Tenggara di bidang olahraga.

Sebaliknya, Indonesia tenang-tenang saja. Pembinaan olahraga malah makin lama makin buruk. Lapangan-lapangan bola, badminton, basket, hoki... pelan-pelan hilang. Jadi perumahan, kantor, pergudangan, atau minimarket. Pengurus olahraga macam PSSI pun asyik dengan konfliknya yang tidak kunjung selesai. Regenerasi pengurus olahraga pun mandek. Sejak zaman saya kecil sampai sekarang pun Bob Hasan masih menjabat ketua PASI (atletik).

Maka, lengkap sudahlah nestapa olahraga Indonesia. Indonesia Hebat cuma tinggal slogan buat banyolan di warung kopi saja. Apanya yang hebat, Bu Puan? Apanya yang hebat, Pak Imam Nahrawi? Apanya yang hebat Pak Jokowi?

Kalau situasinya begini terus, budaya konflik dipelihara PSSI, mafia ikut bermain di olahraga, mungkin suatu ketika Indonesia disalip Myanmar, Kamboja, Laos, Brunei, bahkan Timor Leste.

2 comments:

  1. Indonesia hebat korupsi. Hehehe.

    ReplyDelete
  2. soalnya, olahraga diurus oleh politisi2 yg gak ngerti olahraga. olahraga cuma dijadikan kendaraan n tempat cari makan.

    ReplyDelete