28 June 2015

Himne Lama Masih Enak

Mampir ke kampus Universitas Kristen Petra Surabaya belum lama ini, lamat-lamat terdengar nyanyian lama. Melodinya persis lagu Salam Santa Maria yang sangat terkenal saat saya kecil di Flores Timur, NTT. Mahasiswa dan dosen Petra yang 96 persen Protestan nyanyi lagu devosi Bunda Maria?

Tentu saja tidak. Lagunya memang sama dengan nyanyian Katolik di buku Syukur Kepada Bapa (dulu dipakai di NTT), tapi syairnya tak ada hubungan dengan Santa Maria. Lagu yang dibawakan di UK Petra ini berjudul Serikat Persaudaraan. Dari Kidung Jemaat No 249. "Lagu Serikat Persaudaraan selalu dinyanyikan saat kebaktian di sini," kata seorang dosen UK Petra asal NTT.

Gara-gara dengar Salam Santa Maria, eh Serikat Persaudaraan di UK Petra, saya mulai iseng memeriksa lagu-lagu Protestan di Kidung Jemaat. Wow, banyak himne yang sama dengan di Katolik. Di sebelahnya Serikat Persaudaraan, ada lagu Allahmu Benteng yang Teguh. Sama persis dengan di Puji Syukur, buku nyanyian resmi umat Katolik di Jawa.

Masih dekat dengan Serikat, KJ 247, lagu yang sangat terkenal di Katolik: Terpuji Sang Kristus. Namun, di KJ judulnya Sungguh, Kerajaan Allah di Bumi Tak Kalah. Makin banyak kita periksa, makin terlihat kesamaan selera musik saudara-saudari kita di gereja reformasi. Gerak melodi, pola penerjemahan, aransemen kor... sangat mirip.

Sejak mendengar himne Protestan di UK Petra itu, saya mulai rajin melacak himne-himne gereja lama di YouTube. Enak-enak ternyata. Lagunya sederhana, tidak sulit, sengaja dibuat untuk nyanyian jemaat. Bukan lagu solo ala worship songs yang dibawakan bersama-sama. Asyik betul menikmati lagu-lagu lawas yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Betapa berbedanya dengan lagu-lagu kristiani yang saya dengar saat mengikuti kebaktian ala karismatik di Rutan Medaeng bulan lalu. Kita seperti menonton konser artis pop di lapangan. Ada band, tiga penyanyi yang disebut worship leader, lalu jemaat ibarat fans sang artis itu. Yang menggelegar suara musik karena sound system yang tidak proporsional.

Tak tahan, saya pamit panitia, Tante Lanny, dengan alasan yang dibuat-buat. Agar meninggalkan kebaktian kristiani yang corak musiknya tidak cocok dengan selera saya. Belum lagi celetukan-celetukan Haleluya dan "bahasa roh" yang berhamburan. "Ini memang ibadah raya khas anak muda yang lagi ngetren," kata seorang panitia.

Begitulah. Sebagaimana musik pop, musik liturgi gerejawi pun punya segmen sendiri-sendiri. Ada yang suka himne lawas ala Kidung Jemaat, Puji Syukur, Nyanyian Kemenangan Iman... tapi banyak juga yang doyan praise and worship songs ala gereja-gereja karismatik yang booming di Indonesia sejak 1980an. Semua dapat tempat!

Orang yang terbiasa dengan himne-himne lawas akan kelimpungan ketika disuguhi musik dar-der-dor, loncat-loncat ala Bethany dan sejenisnya. Sebaliknya, para pemuja praise and worship music menganggap himne sebagai lagu-lagu kacangan yang tidak bermutu.

"Itu lagu yang tidak mengantar kita ke hadirat Tuhan," ujar FS, seorang artis penyanyi lagu-lagu worship terkenal di Indonesia, dalam sebuah seminar di Surabaya. Malamnya FS bikin konser di kebaktian kebangunan rohani di mal besar di Surabaya.

Lantas, lagu-lagu yang bagus, membawa ke hadirat Tuhan, penuh kuasa roh kudus itu seperti apa? Jawabannya mbulet dan panjang lebar. Tapi ujung-ujungnya tidak jauh dari lagu-lagu ciptaannya di CD yang ia promosikan di sela seminar.

Hehehe... Jualan kaset sembari menjelek-jelekkan lagu-lagu lama di Kidung Jemaat. Inilah bedanya penulis-penulis himne masa lalu seperti Fanny Jane Crosby, William Bradbury, atau Martin Luther. Yang pasti, penulis-penulis himne lama ini sama sekali tidak punya motivasi jualan kaset, selain memuji dan memuliakan Tuhan lewat nyanyian.

2 comments:

  1. persis dgn saya om, saya sejak kecil sudah mengikuti kebaktian Minggu di gereja Protestan yg sangat menghormati nyanyian2 liturgi seperti yg om sebutkan... sempat juga melirik2 kebaktian ala aliran Haleluya, tapi makin ke sini saya makin mengerti bahwa ternyata lagu2 himne yg ada dalam buku2 nyanyian itu diciptakan bukan semalam 2 malam, tapi melalui proses yg panjang sehingga menghasilkan alunan melodi yg indah dan syair yg sesuai dgn kaidah kitab suci...

    ini juga yg menyebabkan saya gak "kerasan" ikut persekutuan doa mahasiswa di kampus saya karena puji2an dgn hentakan band... terus terang saya bilang ke kawan saya "saya datang ke sini ingin berjumpa dgn Tuhan, sayang saya tak menemukan Tuhan dalam suasana seperti ini"... saya lebih memilih bersekutu di gereja...

    dan akhir2 ini saya lagi seneng sama yg namanya Taize loh om, adem rasanya mengikuti suasana doa dan nyanyian ala Taize... saya bela2in dari Jakarta ke kapel Ursulin di Bandung hanya untuk menikmatinya, hehehe... dan jika Tuhan memberi tambahan rezeki pada saya, suatu saat ingin rasanya saya ke Taize...

    ReplyDelete
  2. lagu2 lama dan baru sebetulnya sama aja, yg penting niatnya untuk memuji sang pencipta yg kita sembah. gak boleh menjelek2an satu sama lain.

    ReplyDelete