10 June 2015

Hancurnya kompetisi internal di Malang dan Surabaya



Pelatih Rohanda menggembleng pemain-pemain muda di Malang (foto beritajatim).

"Dulu kompetisi (internal) dalam kota saja, yang menonton selalu penuh. Kalau sekarang, Persebaya main saja belum tentu penuh. Apalagi kalau kalah… Dari klub-klub internal dipilih yang terbaik dan dilawankan dengan klub luar negeri. Saya pernah melawan Locomotive Moscow."


Yang ngomong ini bukan orang sembarangan. Dialah Prof Dr Isack Adri Ferdinandus, pemain top Persebaya era 1950an, yang lebih dikenal sebagai guru besar fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Setiap kota memang punya perserikatan atau bond yang beranggotakan puluhan klub (sekaligus SSB). Klub-klub ini dibagi menjadi kelas utama (yang kuat-kuat), kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Kota besar macam Surabaya atau Jakarta punya kelas veteran.

Sebelum sepak bola nasional centang perenang seperti sekarang setiap kota, khususnya di Jawa, seakan berlomba menghidupkan kompetisi internal. Di Jawa Timur, selain Persebaya Surabaya, ada Persema Malang (Arema belum ada), Persegres Gresik, Persida Sidoarjo, Persik Kediri, atau Persid Djember.

Yang paling top di Jatim adalah Persebaya dan Persema. Karena itulah, suporter bola kedua kota ini selalu menjadi musuh bebuyutan sampai sekarang. Sebelum kick off pun biasanya, pemain-pemain Persebaya sudah diteriaki, bahkan dilempar, kalau main di Stadion Gajayana Malang. Sebaliknya, pemain-pemain Persema pun diperlakukan sama kalau main di Stadion Tambaksari Surabaya.

Saya sendiri, dulu, begitu gandrung dengan kompetisi internal di Kota Malang. Bukan apa-apa, hampir setiap hari saya menyaksikan latihan PS Indonesia Muda dan PS Angkatan Darat (PSAD) di Lapangan Ajendam di belakang Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA). Indonesia Muda dan PSAD adalah dua dari sekitar 20 klub utama Persema Malang.

Tapi saya lebih gandrung Indonesia Muda yang dilatih Bapak Rohanda. Pemain-pemainnya masih muda, 20an tahun, bahkan belasan tahun, tapi sangat berbakat. Ngotot, tempo tinggi, selalu berlari cepat sepanjang laga. Kalau malas lari ya dihukum sama Pak Rohanda, pelatih terkenal asal Malang itu.

Rohandak juga mengharamkan kiper (Mas Dwi, belakangan jadi kiper top Arema) menahan bola lama-lama. Bola harus langsung ditendang atau dilempar agar tempo permainan tidak rusak. Padahal waktu itu hampir semua kiper suka berlama-lama memainkan bola karena belum ada aturan back pass seperti sekarang. Pak Rohanda memang sangat visioner.

Saya yang aslinya wong ndeso, dari pelosok NTT, tiap hari melihat langsung metode pelatihan, coaching, kelas nasional di klub Indonesia Muda yang rutin berlatih di Lapangan Ajendam Malang. Kok bisa? Saya tinggal di rumah kos persis di depan stadion milik TNI AD itu. Tidak perlu ke lapangan pun kita bisa mendengar dengan jelas teriakan-teriakan Pak Rohanda. Juga Pak Karno, pemain senior yang jadi asisten pelatih. Betapa senangnya melihat mas Gito, striker IM yang sangat haus gol.

IM (Indonesia Muda) ini memang luar biasa untuk ukuran Kota Malang. Setiap tahun selalu juara 2 kompetisi internal Persema. Juara pertama (hampir) selalu Gajayana FC, klub yang diperkuat sebagian besar pemain top Persema. Tapi sering juga Gajayana yang mesnya di dekat Splendid Kali Brantas itu diganyang Indonesia Muda yang benar-benar muda dan trengginas. Sehingga beberapa pemain Indonesia Muda diambil untuk memperkuat Persema.

Setiap hari Sabtu dan Minggu digelar kompetisi internal di Stadion Gajayana. Sebagai penggemar Indonesia Muda, yang setiap hari menyaksikan latihannya, saya dan teman-teman datang ke stadion kebangaan arek-arek Malang itu. Bayar! Stadion memang tidak penuh tapi selalu terisi di atas 60 persen. Kalau Gajayana lawan Indonesia Muda, stadion bisa terisi 80-90 persen.

Meski cuma kelas internal, amatir pula, semua klub internal di Malang Raya (klub-klub di Kabupaten Malang dan Kota Batu masih gabung Persema) punya pendukung fanatik. Khususnya klub-klub 5 besar macam Gajayana, Indonesia Muda, Jagung, HW, PSAD, Armada. Suasana kompetisi begitu semarak.

Sayang, semarak kompetisi internal di Malang dan Surabaya (juga kota-kota lain) kini tinggal kenangan. Persema bahkan sudah lama dicoret PSSI karena dianggap ilegal. Gara-gara ikut kompetisi IPL (Indonesia Premier League) yang diharamkan PSSI versi Nurdin Halid + Djohan Arifin + La Nyalla. Persema pun hilang dari peredaran.

Aneh, klub lawas yang sudah ada sejak tempo doeloe kok dicoret begitu saja dari peta sepak bola Indonesia. Untung masih ada Arema yang masih membawa nama besar Malang di kancah balbalan Indonesia. Tapi hilangnya Persema tentu saja ikut merusak kompetisi internal yang dulu sangat semarak itu. Saya sendiri sudah lama tidak mengikuti perkembangan klub-klub lawas macam IM atau Gajayana di Malang.

Di Surabaya pun sama saja. Kompetisi internalnya sudah lama hancur lantaran Persebaya pecah jadi dua: Persebaya 1927 dan Persebaya ISL. Sebagian besar klub internal ikut Persebaya 27, sementara klub-klub lain ikut yang satunya.

Persaingan klasik antara Surya Naga (d/h PS Tionghoa kemudian Naga Kuning) dan Asyabaab pun tak ada lagi. Orang Surabaya yang paling gila bola sekalipun sudah tak tahu perkembangan klub-klub internal di Surabaya. Jangankan kompetisi internal, pertandingan Persebaya di kasta tertinggi, ISL, pun sepi penonton. Masih jauh lebih banyak penonton kompetisi internal era sebelum gonjang-ganjing bola nasional.

Pengurus PSSI, pembina sepak bola, dan berbagai elemen balbalan di tanah air sudah lama melupakan pembinaan dari bawah. Kompetisi internal tak lagi dianggap penting. Buat apa kompetisi internal kalau pemain-pemain bisa dibeli untuk ikut ISL atau divisi utama? Maka, tidak aneh kalau Pulau Madura yang sejak dulu tidak jelas kompetisi internalnya sekarang punya Madura United yang main di ISL.

Belum lama ini saya mampir ke warung kopi di Jalan Belakang RSSA Malang. Dekat Lapangan Ajendam Brawijaya yang terkenal itu. "Bagaimana Persema sekarang? IM bagaimana? Gajayana?" tanya saya kepada seorang bapak yang dulu doyan menonton kompetisi internal Persema di Stadion Gajayana.

"Waduh, hancuuur! Gak usah ngomong balbalan! Sekarang kacau semua," katanya dengan nada tinggi.

Beberapa anak muda, belasan tahun, yang pakai kaos Arema, rupanya heran bahwa dulu di Kota Malang pernah ada dua klub hebat bernama Indonesia Muda dan Gajayana. IM bahkan selalu berlatih di lapangan belakangan rumah sakit itu.

5 comments:

  1. Iki sing jenenge pergeseran nilai-nilai. Biyen akeh lapangan, saiki wis didadekno mal kabeh. Rakyat Indonesia sing nang kutha luwih seneng nonton pertandingan lewat tv. Luwih seru, lha opo maneh nontok pertandingan kutha dewe sing korup lan gak menarik. Masyarakate luwih seneng golek dhuwit, nontok tv, lan tawuran soal agama.

    ReplyDelete
  2. kenangan akan kompetisi sepakbola jaman biyen yg memang benar2 hidup dan semarak.

    ReplyDelete
  3. bisa bantu siapa nama asli anis roga ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anis Roga itu nama asli, mantan petinju asal Ende Flores NTT. Nama lengkapnya Stanislaus Roga Ratu. Kebetulan dulu saya jadi dirigen paduan suara waktu pernikahannya di gereja katolik di Jember.
      http://hurek.blogspot.com/2014/09/anis-roga-mantan-juara-tinju-yang-apes.html

      Delete
  4. Sangat menarik tulisannya!!!

    Saya adalah salah satu penggila kompetisi lokal di Malang. Saat ini kompetisi lokal kemarin tidak benar-benar hancur karena ada pertandingan di akhir tahun. Tepatnya bulan September, tiga bulan setelah tulisan ini dirilis.

    Namun nuansanya sedikit berbeda. banyak sekali kasus kecurangan pemain dan lain sebagainya. Ada di Malang Post atau Radar Malang.

    Tapi memang secara garis besar kompetisi internal kota Malang memang tidak seperti dulu.

    ReplyDelete