05 June 2015

Geger Buaya Putih di Sungai Porong




Buaya sebetulnya bukan binatang yang istimewa. Hampir semua orang Surabaya dan sekitarnya pernah melihat buaya di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Di KBS buaya juga bukan satwa favorit. Anehnya, ketika buaya muncul di Sungai Porong, Desa Tambakrejo, Krembung, Sidoarjo, setiap hari ratusan orang ramai-ramai datang menonton.

Inilah yang terjadi sejak dua mingguan ini. Buaya jadi berita besar di media-media lokal. Ada yang bilang puluhan ekor. Ada yang bilang 10. Wartawan kami bilang 5. Sementara balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) memastikan cuma dua ekor. Pak Singky pemerhati satwa malah sebut cuma 1 ekor.

Mana yang benar? Puluhan ekor atau 2 atau 5? Pak Suyatno, kepala BKSDA Jatim, yakin cuma dua ekor. Sementara warga Dusun Awar-Awar masih ngotot bilang puluhan ekor. Mungkin akal-akalan wong kampung agar wisatawan penasaran datang ke Awar-Awar untuk melihat bajul putih yang katanya buaya muara mirip buaya di Papua.

"Kalau cuma dua atau lima buaya ya biasa aja. Kalau puluhan buaya pasti lebih menjual," begitu analisis seorang teman yang sangat tidak percaya buaya di Awar-Awar itu puluhan ekor. Saya pun sejak awal tidak yakin buayanya bisa sebanyak itu. Saya perkirakan paling banyak 7 ekor.

Yang pasti, mark-up jumlah buaya ala warga setempat ini membuat Desa Tambakrejo, Kecamatan Krembung, tiba-tiba jadi sangat terkenal di Sidoarjo. Padahal dulu jarang orang tahu Tambakrejo, kecuali warga setempat dan tetangga desa. Yang terkenal justru Kebonagung, tetangga Tambakrejo, karena ada penjara besar bernama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Porong. Para terpidana kelas kakap, termasuk teroris, dijebloskan ke situ.

Begitu banyak tesis dilontarkan pemerhati satwa hingga orang biasa di warkop tentang munculnya banyak buaya di Awar-Awar. Pak Singky sangat yakin bahwa buaya itu peliharaan orang yang sengaja dilepas. Sebab pemiliknya takut dengan buaya yang begitu panjang dan besar. "Itu buaya muara khas Papua. Gak mungkin buaya asli Sungai Porong," kata Singky yang rajin membuat analisis tanpa survei langsung di lokasi munculnya buaya putih itu.

Ada lagi yang bilang buaya muncul di Krembung karena muara Kali Porong tercemar lumpur lapindo. Dan beberapa analisis lain yang memang masuk akal. BKSDA sendiri belum punya penjelasan resmi. "Kami masih terus memantau," kata Pak Yatno.

Wakil Gubernur Jawa Timur Gus Ipul khawatir binatang predator itu mencelakakan warga setempat atau wisatawan. Maklum, si bajul sering naik berjemur di gisik dekat kampung Awar-Awar. Siapa yang bisa jamin buaya tidak mengigit orang? Maka Gus Ipul usul agar buaya dipindahkan ke KBS. Biar lebih aman.

Setelah Gus Ipul bicara, Kamis 4 Juni 2015, BKSDA mulai turun untuk melakukan evakuasi. Buaya dijaring, ditangkap, kemudian dipindahkan ke muara Sungai Porong di daerah Tlocor. "Tapi jadi tidaknya (evakuasi) tergantung situasi di lapangan," kata Pak Yatno kepada saya.

Seperti diduga, warga Awir-Awir menolak keras action BKSDA yang ingin memindahkan buaya ke muara. Mereka menganggap si buaya itu justru membawa rezeki bagi penduduk. Kalau buaya diambil, kampung itu kembali sepi dan terpencil. Mereka bahkan seakan menantang BKSDA bahwa buaya di Sungai Porong justru sangat jinak.

"Kalau buayanya buas, pasti saya yang pertama kali diterkam," kata Pak Sutomo, warga setempat yang setiap hari dekat dengan buaya. "Kalau kita gak ganggu ya dia tidak juga diam saja," tegasnya. Kepala desa pun mengatakan hal yang sama.

"Susah kalau warga punya sikap seperti itu. Sebab, tujuan kami justru untuk keamanan warga sendiri," kata Pak Suyatno, kepala BKSDA Jatim.

Lembaga ini memang ditugasi negara untuk menangani urusan seperti kasus buaya ini. Misalnya terjadi apa-apa dengan warga, BKSDA juga yang dianggap salah. Dianggap tidak bertanggung jawab. Pak Yatno meminta pejabat kecamatan dan desa membuat surat pernyataan resmi yang isinya merekalah yang akan bertanggung jawab jika si buaya bikin ulah. "Merekanya nggak mau," kata Pak Yatno.

Maka, Pak Yatno memimpin langsung evakuasi buaya ke muara. BKSDA bikin pos evakuasi di pinggir sungai. Sekaligus pos pantau buaya. Berbagai perlengkapan disiapkan. Siang tadi seekor buaya muncul. Tapi ratusan warga menolak upaya BKSDA menangkap dan memindahkan buaya ke tempat lain. Tim BKSDA pun untuk sementara mengalah.

"Saya rencanakan proses evakuasi ini lima hari," kata Pak Yatno. "Sukses tidaknya ya tergantung dukungan warga setempat."

No comments:

Post a Comment