22 June 2015

Gampang jadi WNI? Jadilah pemain sepak bola!


Kick Andy di Metro TV siang kemarin (siaran ulangan) sangat menarik. Beberapa warga negara asing (WNA), bule Eropa, peneliti, dosen yang sudah puluhan tahun mengabdi di Indonesia curhat betapa sulitnya menjadi warga negara Indonesia. Padahal mereka mengaku sangat cinta negara ini.

"Kalau ada syarat yang belum lengkap, tolong tunjukkan. Agar saya bisa melengkapi," kata Mr Hywel Coleman asal Inggris yang profesor doktor.

Dosen bahasa Inggris ini tinggal dan bekerja di Indonesia sejak 23 tahun. Dimulai dari Bengkulu, dia ditugaskan di berbagai kota di tanah air. Untuk mencerdaskan anak bangsa agar bisa ngomong English. Coleman juga lama bekerja membantu kementerian pendidikan dan kebudayaan. Karena itu, dia akrab dengan Fuad Hasan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan.

Tapi dedikasi dan reputasi seorang Coleman rupanya dianggap belum cukup untuk jadi WNI. Apa lagi syarat yang kurang? Coleman tidak tahu karena tidak pernah diberi tahu. Namun dia tetap ingin menghabiskan usia di Indonesia. Coleman sudah menyiapkan makam untuk rumah masa depannya.

Komentar Andy Flores Noya, host acara Kick Andy, membuat saya tertawa terbahak-bahak. Lucu tapi pahit. Penonton di studio malah diam karena guyonan ala Andy Noya ini memang gak enak.

"Mengapa Anda sulit sekali jadi WNI?" tanya Andy Noya. Lantas dijawab sendiri, "Karena Pak Coleman bukan pemain sepak bola. Coba Anda pemain sepak bola, begitu Anda tiba di Indonesia, bahkan masih di bandara, Anda sudah dapat status WNI."

Hahahaha.... Saya suka banget humor ala Andy Noya ini. Tajam, lucu, satir, sangat telak. Pernyataan itu juga menurut saya sekaligus kesimpulan bincang-bincang bersama para bule di Kick Andy itu. Ah, andaikan Coleman pemain bola!

Mas Wahyu yang mualaf, lahir di Skotlandia, status warga negara Australia, pakai songkok dan berkali-kali menyatakan kemualafannya di Kick Andy. Dia juga tak mau pakai nama Barat tapi Mas Wahyu yang sangat Jawa. Beda banget dengan etika Barat yang cenderung tidak membicarakan agama atau keimanan pribadi di muka umum.

Toh, Mas Wahyu yang juga pengasuh program islami di beberapa televisi nasional itu juga susah dapat status WNI. Wahyu boleh mualaf, Islam taat, nama Jawa, penampilan ustad, tapi jangan lupa... bukan pemain sepak bola. Seandainya Mas Wahyu mualaf ini pemain bola, ceritanya jadi lain sekali. Tiba di bandara sudah resmi WNI lalu memperkuat tim nasional bentukan PSSI.

Acara Kick Andy kemarin, khususnya celetukan Andy F Noya, soal pemain bola yang begitu mudahnya dinaturalisasi, benar-benar mewakili uneg-uneg saya selama ini.

Apa pun alasannya, saya sudah lama melihat diskriminasi yang luar biasa dalam proses naturalisasi sejumlah WNA yang puluhan tahun mengabdi untuk Indonesia dengan pemain sepak bola. Padahal, dari dulu timnas PSSI sulit menang lawan Malaysia atau Thailand. Boro-boro ke Piala Dunia, juara SEA Games saja nyaris mustahil. Padahal negara-negara peserta SEA Games ini kelasnya paling lemah di Asia dalam urusan balbalan.

Tidak hanya Mr Coleman atau Mas Wahyu yang harus menunggu puluhan tahun untuk diakui sebagai WNI. Juara-juara bulutangkis kita yang keturunan Tionghoa pun sama saja. Sudah mengharumkan nama Indonesia, sumbang medali emas di berbagai kejuaraan... eh ternyata juga dipersulit jadi WNI. Sampai-sampai ada sejumlah pemain dan pelatih top yang putus asa dan memilih jadi warga negara Tiongkok atau negara lain.

Mengapa bisa begitu? Jawabnya itu tadi: karena mereka bukan pemain sepak bola! Itulah Indonesia, negeri ajaib yang mengagung-agungkan sepak bola yang tidak maju-maju itu.


Sent from my BlackBerry

7 comments:

  1. Tionghoa Nyasar2:52 AM, June 23, 2015

    Ternyata begitu ya. Tadinya saya kira harus masuk Islam. Ternyata itu pun tidak cukup untuk mempermudah pengurusan WNI. Syarat utamanya ialah menjadi pemain bola, hahahaha.

    Kalau di Amerika, lain lagi ceritanya. Bila sudah 5 tahun lebih menjadi penduduk tetap yang resmi, boleh melamar menjadi warga negara. Setelah melalui background check dan tes kewarganegaraan (proses kira-kira makan waktu 6 - 9 bulan), resmi kita disumpah dan diberi sertifikat tanda warga negara, dengan surat yang ditandatangani Presiden (walaupun hanya cap saja)!

    ReplyDelete
  2. Kisah abang saya mendapatkan SBKRI. Abang saya kebetulan dilahirkan di Tiongkok tahun 1933, setelah berusia 4 tahun, dia dijemput untuk pulang kepulau Jawa. Kakek-buyut saya datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1860. Karena kebetulan kami dari keluarga yang mampu, jadi para keluarga sering pergi-pulang Tiongkok-Jawa. Karena abang lahir di Tiongkok, jadi dia WNA, sedangkan saudara2-nya yang semuanya lahir di Hindia- Belanda, berstatus Dwi-warganegara.
    Abang sudah mengajukan surat permohonan SBKRI sejak zaman Bung Karno, melalui biro-jasa ( makelar ), tetapi tidak bisa selesai, selalu minta biaya tambahan untuk menyuap kanan-kiri.
    Suatu hari ( sudah zaman Soeharto, Mendagri-nya Rudini ) abang bertamu kerumah iparnya disebuah desa Banyuwangi. Pada saat yang bersamaan
    diruangan tamu sudah ada 2 orang tamu, yaitu Pak Haji dan seorang lelaki muda. Pak Haji adalah seorang tengkulak padi ( gabah ) yang kaya raya dan sudah berdagang dengan kakek-saya. Jadi Pak Haji kenal baik dengan abang-saya. Mereka ngobrol tentang dagangan.
    Si-ipar yang juga masih berstatus WNA, walaupun lahir di Banyuwangi, menyeletuk: Lim, bagaimana dengan urusan surat WNI-mu ?
    Abang langsung naik pitam, memaki kanan-kiri. Dia ngomel : Liem Sioe Liong yang sama2 seperti gua, lahir di Tiongkok, bisa jadi WNI dan dipuja-puji, ngomong Indonesia saja masih pelo. Gua mau jadi WNI dipersulit !
    Lalu abang berkata kepada Pak Haji : " Pak, sampeyan kenal kulo, sejak saya
    masih kanak2. Saya bukan mau menyombongkan diri, kenyataan sepertiga dari penduduk kecamatan pernah makan nasi dari saya, mereka kebanyakan pegawai- dan buruh-saya. Bener opo ora, Pak Haji ?
    Pak Haji mengangguk-angguk; Yo pancene ngono Lim !
    Melihat abang sewot, iparnya ketakutan, ber-kali2 dia berkata dengan bahasa Hokkien; tutup mulut-mu ! Tutup mulut-mu ! Mendengar itu, Abang tambah sewot dan tambah mencaci-maki .
    Si-orang muda yang datang bersama Pak Haji, ternyata adalah menantu-nya, lantas meminta secarik kertas dan pulpen. Dia bertanya kepada Abang; siapa nama anda, tanggal lahir, alamat dan pekerjaan anda.
    Abang yang masih penasaran, balas bertanya : Anda siapa, mengapa tanya-tanya ? Orang muda itu menjawab dengan sopan: Nama saya Letkol. Yasin dari Kopkamtib ! Si-Ipar langsung memaki kakak-saya dengan bahasa Jawa;
    Wis tak omongi, tapi cangkem-mu isik misuh2 terus ! Kakak jadi kaget dan pucat, mendengar kata Kopkamtib.
    Letkol. Yasin tersenyum ramah dan berkata; Jangan takut, saya sudah mendengarkan makian dan keluhan anda. Semuanya ada cengli-nya. Saya bermaksud membantu anda, supaya bisa mendapatkan surat WNI.
    Dimana berkas surat2 anda sekarang ? Katanya si-makelar masih nyantol dikantor Bupati, Pak !
    Mendengar itu si-ipar langsung berkata; yen ngono, tek ku urusen pisan, Pak !
    Keesokan sore, kakak-saya dan iparnya ditelpon oleh Bupati. Dimarahi, mengapa berani mengadu ke-Kopkamtib. Setelah sebulan kedua-duanya menjadi WNI, tanpa membayar uang se-sen-pun.
    Jadi yang mempersulit dan memeras adalah calo dan pejabat !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia Xiangsen, cerita nyata yg sangat menarik. Begitulah Indonesia. Penyakit lama itu katanya dicontoh dari tuan2 Londo jaman VOC tempo doeloe. Makanya Bung Hatta bilang korupsi itu sudah jadi budaya. Yo opo maneh Cak.

      Delete
  3. Jika Mr. Coleman bersahabat dengan seorang Menteri Negara, mengapa dia tidak minta tolong kepada temannya itu ? Apakah orang Indonesia sekarang juga pamrih terhadap seorang teman ? Apakah pejabat Indonesia selalu berpikiran : Aku oleh e opo ? Baiknya punya teman seorang pejabat bule, dia akan membantu temannya tanpa pamrih, selama tidak melanggar hukum dan semua syarat telah terpenuhi, cuma untuk melancarkan birokrasi !

    ReplyDelete
  4. Bung Hurek, saya ingin bertanya, apakah Anda pribadi, atau Bapak Presiden Jokowi, memiliki SBKRI ( Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia ) ? Saya memiliki surat tersebut yang dikeluarkan oleh Kantor Pengadilan Indonesia.
    Soalnya begini: Ketika saya dan seorang teman pribumi Minang ingin mendaftarkan diri di Universitas Eropa, kita diasrama ramai2 ber-sama2 dengan para calon mahasiswa bule-pribumi mengisi formulir pendaftaran,
    kita harus melampirkan surat akta kelahiran, surat bukti kewarganegaraan, surat penduduk dari kantor polisi dan ijasah tanda lulus SMA.
    Teman saya si-Minang ter-heran2 ketika melihat setiap bule memiliki surat bukti kewarganegaraan. Dia bertanya kepada bule2 itu: Kalian kan pribumi, mengapa harus punya surat bukti kewarganegaraan ? Si-bule yang heran atas pertanyaan tersebut. Saya langsung mengejek si-Minang, Fril lu ini bukan Warganegara Indonesia, gua si-Cina inilah yang asli warganegara Indonesia, sebab gua punya SBKRI dan punya surat akta kelahiran dari kantor catatan sipil Indonesia. Lu yang ngaku2 Indonesier tidak punya kedua surat bukti tersebut, jangan2 lu dilahirkan dinegeri Siam.
    Di Eropa begitu seorang anak dilahirkan, maka oleh pihak rumah sakit otomatis dilaporkan kekantor kecamatan dan surat akta kelahiran langsung diterbitkan. Si-orangtua harus membawa surat bukti kewarganegaraan kekantor kecamatan, dan si-anak langsung mendapat surat bukti kewarganegaraan.
    Ketika saya masih kanak2 di Indonesia, kartu penduduk dan rebewes tidak ditulis tanggal lahir, tetapi ditulis umur, sebab penduduk Indonesia tidak punya surat kelahiran, kecuali si-cina, -arab dan -india, yang notabene orang2 asing.
    Tahun 1960 si-Untung yang seorang kernet kawakan diperusahaan abang-saya, ingin naik pangkat jadi sopir. Engkoh-saya mau membantu supaya Untung punya rebewes. Engkoh bertanya; Tung umur-mu piro ? Mboh yok, jarene mbok-ku, aku dilahirkan waktu ada angin lisus. Tahun piro angin lisus iku, Tung ? Mboh, aku dewe yo ora paham. Piye saiki lek ditakoni kantor polisi ? Yok umure piro, tulisen wae umurku podo karo sampeyan. Hus, kowe
    ojo ngawur, aku lak lebih tuwek sak arat-arat ketimbang kowe. Yen ngono tulisen sakarepe sampeyan.
    Si-Dobos juga kernetnya engkoh. Kalau prahoto-nya mau atret, Dobos selalu memberi aba2: Lor, lor, yok ! Kidul, kidul, yok ! Hoop, hoop ! Reaksi engkoh: Jancuk lor iku endi ? Kidul iku endi ? Wis ping piro kowe tak kandani, aba2 seorang kernet hanya ada 4 kata: kanan, kiri, terus, stop !
    Retrospektif hidup engkoh-ku tidak terlalu bahagia, SMA belum lulus sudah ditinggal ayah mati, harus ngingoni ibu dan adik2-nya, ngalami zaman londo, zaman perang, zaman jepang, revolusi, zaman edan gonta-ganti kabinet, zaman PP No 10 ( zaman Ali-Baba, perusahaan terpaksa pakai nama orang pribumi. Pribuminya orang sekolahan tinggi, gelar SH. Engkoh-ku diusir dari perusahaannya sendiri oleh si-Ali ), zaman Nasakom ( organisasi2 buruh kerjanya cuma mogok, baris2-an pakai drum-band ), inflasi 600 %, G-30-S / Gestok ( pembantaian massal di Cluring dan diseluruh kabupaten Banyuwangi ). Engkoh sudah 10 tahun almarhum.

    ReplyDelete
  5. hehehe... xiangsen ini ngajak guyonan jawa timuran maneh. Seumur hidup kami orang2 yg disebut pribumi ini tidak punya SKBRI. malah saya pun tidak pernah melihat surat SKBRI yg biasa dipegang tenglang-tenglang di indonesia itu. Kami ini dianggap otomatis WNI karena bumiputra.
    Saya juga sampai sekarang tetap dianggap wong NTT meskipun sudah karatan di Jawa Timur dan pegang KTP Kabupaten Sidoarjo. Saya hafal sejarah Sidoarjo, mulai Kerajaan Jenggolo, blusukan ke 353 desa/kelurahan, 18 kecamatan, sering ngobrol sama pejabat dan wong penting di Sidoarjo, banyak menulis artikel tentang Sidoarjo dst dst... tapi ya tetap dianggap wong NTT. Kenapa? karena bentuk tubuh, warna kulit, logat bahasa katanya tidak mencerminkan wong Jawa Timur hehehe...
    Mungkin itulah sebabnya orang Tionghoa juga sering dicurigai bukan WNI meskipun nenek moyangnya sudah tinggal di Indonesia sejak jaman Hindia Belanda.

    Selamat makan bakcang... dan teh pahit Zhongguo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Hurek, Rapopo, sekali Flores tetap Flores ! Gua juga sami mawon, sekali Cino tetap Cino. Lha wong takdir tidak bisa diubah !
      Waktu masih kuliah, kita anak2 Indonesia sering cari kerjaan serabutan ketika masa liburan. Teman karib-ku si-Flores melamar kerjaan disebuah perusahaan, oleh nyonya sekretaris si-Flores diwawancara: Nama ? Joseph ! Kamu dari Tunesia ( karena bentuk tubuh, warna kulit ) ? Bukan, saya dari Indonesia ! Ya,ya, saya sudah tahu, kamu dari Tunesia . Bukan, saya dari Indonesia !
      Ya, ya, saya tahu, Tunesia itu ada di-Afrika ! Bukan, bukan, Indonesia itu ada di Asia ! Begitulah terus menerus, engkel2-an.
      Achirnya si-Flores kesal, demikian pula si-nyonya sama2 kesal, tidak jadi kerja ditempat itu.
      50 tahun silam, jarang sekali orang2 Eropa yang mengenyam pendidikan sampai jenjang universitas. Biasanya setelah lulus SMP, mereka melanjutkan pendidikan kesekolah kejuruan. Jadi pengetahuan umum mereka sangat rendah, tetapi keterampilan mereka dibidangnya sangat jagoan.
      Orang kulit putih selalu merasa diri sendiri lebih pintar daripada orang kulit berwarna. Si-Flores yang keriting dan hitam, koq ngaku2 dari Asia. Sejak dulu orang Eropa tahu Bali, tetapi tidak tahu Indonesia.

      Delete