12 June 2015

Dian Piesesha diburu orang Swiss

Di media sosial, dia dikenal dengan nama Dida Daniar Amaraja. Teman atawa followernya buanyaaak banget. Maklum, tahun 1980-an sampai 1990-an Mbak Dida ini sangat terkenal dengan lagulagu pop manis ciptaan Pance Pondaag (almarhum). Antara lain Tak Ingin Sendiri, Mengapa Tak Pernah Jujur, Cemara-Cemara Cinta.

Ya, Dida Daniar Amaraja ini tak lain Dian Piesesha. Sempat sakit keras, operasi berat segala, tapi alhamdulillah sekarang sehat. Dan masih menyanyi di kalangan terbatas. Sulit masuk televisi karena TV-TV di Indonesia hanya kasih tempat untuk artis yang berusia di bawah 30 tahun.

Menariknya, Dian Piesesha ini masih diburu para penggemar lamanya, yang tentu saja sudah jadi om dan tante. Belum lama ini Tonny, orang Swiss, datang ke Indonesia untuk berlibur. Sekaligus ingin bertemu Dian Piesesha, penyanyi lawas idolanya. Menarik karena biasanya orang Indonesia yang gila artis Barat, kayak saya (dulu) gila Whitney Houston dan George Benson, tapi Tonny malah begitu gila sama Dian Piesesha.

Akhirnya, Tonny ketemuan, makan bersama Dian Piesesha alias Dida Daniar Amaraja, didampingi Leonard Kristianto, produser JK Records, Jakarta. Dian Piesesha populer berkat kaset-kaset yang diproduksi JK (Judhi Kristianto) Records. Leonard yang lulusan USA ini tak lain putra Judhi Kristianto. Dia mencoba meneruskan jejak JK Recods di industri musik meskipun tertatih-tatih karena bisnis musik berubah total dengan revolusi digital dan IT.

Leonard Kristianto mengunggah foto dengan caption: "Dinner meeting with tante DP dan Tonny the bridge builder, salah satu fans tante datsng dari Swiss. Siapa bilang kalo orang bule gak suka lagu Jeka, ini buktinya dan dia fasih bahasa Indonesia."

Ceritanya, ketika Dian Piesesha dan artis-artis JK lagi di atas angin (Meriam Bellina, Lydia Natalia, Ria Angelina, Annie Ibon, Chintami Atamanegara, dsb), Tonny asal Swiss ini lagi sibuk-sibuknya garap proyek jembatan d Indonesia. Khususnya di daerah terpencil yang bahkan sulit dijangkau pemerintah. Saat itulah Tonny nguping lagu-lagu pop Indonesia. Jatuh cintalah dia sama suara Dian Piesesha, Tak Ingin Sendiri dan sejenisnya.

"Tonny dapat kaset saya di Malaysia," tutur Dian Piesesha.

Hari berganti, bulan berlalu, usia Tonny, Dian, kita semua bertambah. Kenangan akan lagu-lagu pop manis (Menteri Harmoko dulu bilang lagu cengeng) selalu tertanam di benak sang pembangun jembatan. Bagaimana dia bisa ketemu Dian Piesesha, makan bersama, ngobrol santai?

"Lucu juga ya... dia sudah 20 tahun lebih nyari si DP, akhirnya ketemu juga lewat orang NTT hahaha...," kata Dian Piesesha.

Tidak disebutkan siapa orang NTT itu. Yang jelas, saya akui lagu-lagu ala Dian Piesesha (JK Records) memang sangat populer di NTT. Apalagi, dulu JK Records juga punya pencipta lagu terkenal bernama Obbie Messakh, yang tak lain putra bangsawan Pulau Rote, NTT. Mungkin orang NTT yang kebetulan berada di Swiss (biasanya pastor) yang bikin Tonny mau datang jauh-jauh ke Indonesia untuk bertemu artis idolanya.

Seperti biasa, dengan rendah hati Dian Piesesha mengatakan, "Seorang DP (Dian Piesesha) dari dulu ga seperti artis lain... Saya lebih santai, ga aji mumpung, ngejalanin hidup apa adanya, ya ketemunya ahirnya dengan orang yg biasa aja yg baik2, jauh dari dunia keartisan..."

1 comment:

  1. Sebenarnya di barat pun tidak kurang lagu-lagu "manis" atau "cengeng". Kita kenal dari Australia ada Air Supply. Ada Carpenter bersaudara. Lagu-lagu country lama pun isinya kalau tidak tentang patah hati, ditinggal istri, dikhianati suami, pasti habis harta karena berjudi, mabuk, masuk penjara, minta pengampunan kpd Tuhan, seperti tema lagu dangdut jaman dulu. Ada Emmylou Harris, Conway Twitty, itu semua lagu-lagu tiga jurus (chordnya C-F-G, atau G-C-D) dengan lirik dan progresi yang sederhana. Di tahun 70-an dari Jerman pernah ada lagu cengeng dari Peter Maffay "Du" yang populer di Indonesia. Dari Prancis, ada lagu "Aline". Jadi kesimpulannya, jangan menghina lagu cengeng!

    ReplyDelete