02 June 2015

Costa pun sulit berbahasa Inggris

Tidak gampang belajar bahasa asing. Apalagi bahasa Inggris yang tata bahasa, susunan kalimat, tenses... berbeda jauh dengan bahasa Indonesia. Karena itu, sangat wajar kalau orang Indonesia umumnya kesulitan berbahasa Inggris, meski percakapan sederhana, meski sejak SMP (atau SD) sudah diajari bahasa Inggris.

Jangankan orang Indonesia atau Asia umumnya, sebagian orang Eropa pun kepontal-pontal untuk bicara bahasa Inggris harian. Contoh terbaru Diego Costa, pemain Chelsea, London, yang asal Spanyol. Kabar terbaru menyebutkan bahwa striker terbaik Chelsea itu frustrasi karena tidak mampu menguasai bahasa Inggris.

Instruksi pelatih Mourinho dalam bahasa Inggris tak bisa ia tangkap. Costa pun minta diterjemahkan ke bahasa Spanyol. Syukurlah, si Mou yang asli Portugal ini menguasai banyak bahasa Eropa dengan fasih. Hanya bahasa Jerman yang masih pasif. Gara-gara kendala bahasa inilah ada rumor bahwa Costa ingin kembali ke Spanyol.

Saya barusan baca di Telegraph: "The language barrier has been exacerbated by Costa's injury problems, which have given him extra time to make trips back to Spain and have friends and family join him in England."

Sebetulnya bahasa Inggris sama sekali bukan kendala bagi Costa di lapangan. Buktinya, dia mampu mencetak gol di hampir semua pertandingan. Sebab sepak bola itu ada bahasanya sendiri, bahasa bola yang sangat universal. Striker asli Inggris yang sejak bayi sudah fasih bahasa Inggris pun tidak sehebat Costa. Contohnya Daniel Sturridge yang akhirnya dijual Chelsea itu.

Tapi poin yang menarik bagi saya, sejak dulu, adalah mengapa orang Spanyol dan Amerika Latin, yang berbahasa Spanyol atau Portugal, punya masalah seperti Diego Costa ketika belajar bahasa Inggris. Bukankah bahasa-bahasa Eropa itu punya kemiripan? Ada struktur dan akar yang sama? Beda dengan orang Indonesia yang sangat wajar kesulitan menguasai bahasa Inggris ala native speaker.

Beberapa tahun lalu saya sering bertemu pemain-pemain bola asal Amerika Latin yang memperkuat Deltras Sidoarjo atau Persebaya. Ketika masih baru di Indonesia, mereka tidak bisa diajak ngobrol dengan bahasa Inggris sederhana untuk sekadar basa-basi. English dasar seperti sesuatu yang asing bagi orang Amerika Latin yang bahasa ibunya bahasa Spanyol itu.
"Saya tidak bisa Inggris. Pakai bahasa Spanyol saja," kata istri seorang pemain Deltras asal Argentina yang saya lupa namanya. Wanita cantik ini malah lebih paham bahasa Indonesia meskipun belum enam bulan di negara kita. "English no!" ujarnya seraya tertawa kecil.

Minggu lalu, saya juga membaca di internet bahwa Garet Bale kesulitan mengembangkan kemampuannya di Real Madrid karena kendala bahasa. Bale yang sejak bayi nerocos pakai British English dikelilingi 97 persen pemain yang berbahasa Spanyol dan Portugal. Bahasa Inggris ternyata tidak begitu laku di Madrid, Spanyol.

Beberapa berita ringan dari sepak bola ini paling tidak membuat kita, orang Indonesia, tidak perlu minder atau berkecil hati kalau tidak bisa lancar berbahasa Inggris layaknya orang USA atau Inggris. Masih banyak orang terkenal di dunia macam Diego Costa atau Maradona atau Pele atau Messi yang juga pusing tujuh keliling dengan bahasa Inggris. Toh, mereka tetap kinclong, menciptakan prestasi luar biasa.

Karena itu, rasanya kurang tepat kalau kefasihan bahasa Inggris jadi syarat diterima bekerja di perusahaan tertentu. Lha, apa hubungannya bahasa Inggris dengan sepak bola?

1 comment:

  1. Pengamat Bahasa1:54 AM, June 03, 2015

    Lambertus yang baik, bahasa-bahasa Eropa tidak semuanya dari satu famili. Bahasa-bahasa keturunan Latin atau Romance Languages dalam bahasa Inggris, sangat lain dalam tata bahasa ataupun kosakata dari bahasa Inggris, yang termasuk satu keluarga dengan bahasa Jerman dan Belanda. Orang Belanda dan Orang Jerman lebih mudah mempelajari bahasa Inggris.

    Bahasa-bahasa Prancis, Portugis, Spanyol, semuanya satu akar, jadi mudah belajar satu sama lain. Memang Bahasa Inggris banyak menyerap kosa kata dari Bahasa Latin (lewat Bahasa Prancis) karena pernah dikuasai oleh keluarga bangsawan dari Normandy dan Bahasa Prancis menjadi bahasa resmi keraton. Tetapi tata bahasa Inggris jauh berbeda. Selain itu Bahasa Inggris juga menyerap dari bahasa Scandinavia karena pernah diserbu dan diduduki oleh perompak Viking. Akibatnya kosa kata Bahasa Inggris sangat banyak, dan sangat luwes dalam menyerap kata-kata baru. Dampak negatifnya, ya itu, sulit karena tidak ada aturan yang baku dalam membaca kata-kata yang asalnya dari tiga sumber itu.

    ReplyDelete