13 June 2015

Balai Pemuda dan kesenian yang buntet

Hampir tidak ada isu kesenian yang menonjol yang bisa dibahas di Surabaya. Setiap kali bertemu seniman-seniman Surabaya dan Sidoarjo, isunya soal konflik melulu. Kemarin, Herman Benk, seniman gaek yang dulu mangkal di Balai Pemuda, sekarang tinggal di Waru Sidoarjo, bercerita soal Balai Pemuda.

"Sudah denger belon? Balai Pemuda katanya mau direnovasi (Pemkot Surabaya) tapi seniman tidak diajak bicara. Mau dibawa ke mana kesenian di Surabaya? Seniman itu manusia yang mudah diajak rundingan kok," kata Pak Benk, seperti biasa, dengan nada tinggi.

Meskipun warga Sidoarjo, Pak Benk ini lebih banyak bergiat di Surabaya. Dia punya rasa memiliki yang tinggi terhadap Balai Pemuda itu. Maka, pelukis yang rajin bikin sketsa yang ruwet itu geram ketika ada pengurus Dewan Kesenian Surabaya (DKS) yang tiba-tiba merenovasi salah satu galeri di Balai Pemuda. "Tidak bisa begitu caranya meskipun paka uang sendiri. Ngomong dong yang enak," katanya.

Kali ini Pemkot Surabaya yang merenovasi Balai Pemuda secara besar-besaran. Gedung lawas peninggalan Belanda ini, cagar budaya, perlu dibuat kinclong. Agar seniman-seniman Surabaya bisa berkiprah dengan enak. Tapi, ya itu tadi, pemerintah dari dulu punya mentaliteit projek dan anggaran. Sering lupa mengajak bicara para seniman, setidaknya perwakilan seniman. Toh, gedung di pusat kota itu kan nantinya dipakai para seniman dan warga untuk ekspresi seni budaya.

Chrisman, ketua Dewan Kesenian Surabaya, juga meminta agar renovasi Balai Pemuda ditunda dulu. Alasannya, DKS sempat merenovasi secara swadaya. yang dimaksud swadaya itu tentu pemugaran galeri yang dilakukan pelukis Asri Nugroho dkk beberapa waktu lalu. "Kami memang pernah minta renovasi enam tahun lalu. Tapi tidak ada realisasi. Makanya, DKS berusaha melakukan renovasi secara swadaya," katanya.

Chrisman juga khawatir renovasi yang dilakukan pemkot itu bisa merusak bangunan cagar budaya.

Seperti diperkirakan, rencana renovasi Balai Pemuda langsung jadi isu panas di Surabaya dan sekitarnya. Diskusi soal ini, pro vs kontra, meluas di media sosial. Kata-kata kasar pun muncul di sana sini. Maklum, dari dulu hubungan antara para seniman dan pemerintah memang tidak begitu baik. Seniman dianggap seenaknya sendiri, sebaliknya pemerintah dinilai tidak mengerti kesenian.

Freddy H Istanto, dosen Universitas Ciputra yang juga pimpinan Sjarikat Poesaka Soerabaia, juga meminta ada rembuk bersama para seniman, pemkot, dan pihak lain yang terkait tentang rencana renovasi Balai Pemuda. Freddy menulis: "Niat PemKot u me-restorasi Bangunan Cagar Budaya ini harus didukung. Pihak2 yg terkait ya harus diajak ngomong. Kalo perlu makan2 dulu, kayak kerjasama ketika jaman Sjarikat Poesaka Soerabaia (SPS) akan mengecat Balai Pemuda tahun 2011."

Soeparmin Ras, juga seniman senior, meminta Pemkot Surabaya ngewongke masyarakat/seniman dengan bermusyawarah. Bicara baik-baik soal renovasi Balai Pemuda karena tujuannya juga baik. Seniman hanya ingin tidak terpinggirkan setelah gedung direnovasi. 

"Prinsipnya, seniman dan kesenian ini tak akan dipinggirkan dengan alasan apa pun, dan harus ditepati benar. Jangan nanti ganti penguasa (wali kota) terus ganti lagi kebijakan," katanya.

Soeparmin melanjutkan, "Sebenarnya apa sih kesulitan atau kerugianya dengan memfasilitasi seniman dan keseniannya untuk tampil di tempat bersejarah dan cukup bergengsi ini? Khan ujung-ujungnya juga nama Surabaya plus pemerintahnya juga yang dapat nama harum. Terlebih hal ini menunjukkan jiwa pekanya, jiwa halusnya, ketinggian rasa asihnya.... Jangan sampai yang indah hanya luarnya saja, taman taman dan sebagainya."

Joko Irianto Hamid, arek Suroboyo, wartawan senior, juga sineas, kecewa berat dengan perkembangan kesenian di Balai Pemuda. Cak Joko membandingkan gejolak kesenian masa lalu di Surabaya yang sebagian besar berpusat di Balai Pemuda. "Balai Pemuda itu pernah jadi pabrik kreator, mulai seni rupa, musik, teater, film. Mulai Amang Rahman cs sampai era Heri Dono, Dara Puspita sampai era Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Basuki Rahmat, Akhudiat-Bawong sampai era Nuri, era Gatot Kusumo," katanya.

Cak Joko mengingatkan, Surabaya (dulu) identik sebagai kota berkesenian heroik. Contoh produk kesenian heroik itu mulai dari orde WR Soepratman, Dara Puspita, Leo Kristi, Gombloh, Franky, The Gembel's, Sawung Jabo sampai generasi Netral. Produk teater mulai era Cak Durasim, Markeso, sampai Kartolo.

"Tapi belakangan buntet. Peran para broker bertopeng maesenas membuat Balai Pemuda berubah, gak beda dengan budaya mainstream Pasar Atom. Sebagai arek Suroboyo, saya kecewa berat," tegas Cak Joko yang pernah sibuk mengurusi persatuan artis sinetron itu.

No comments:

Post a Comment