16 June 2015

Bahasa Indonesia memperlemah bahasa daerah

Saya baru saja menonton pertandingan sepak bola Cile vs Meksiko di Kompas TV. Cukup menarik. Kedua kesebelasan ngotot dan tercipta banyak gol. Tapi, yang lebih menarik bagi saya justru Christian Carrasco. Bekas penyerang Persebaya yang asli Cile itu jadi komentator.

Luar biasa si Carrasco ini. Beberapa tahun lalu, ketika saya bertemu sang pemain berjuluk Spiderman itu (karena selalu pasang topeng spiderman selepas mencetak gol), bahasa Indonesianya masih patah-patah. Kosa katanya belum banyak. Tapi di televisi pagi ini, 16 Juni 2015, bahasa Indonesianya lancar sekali. Bahkan lebih lancar ketimbang sebagian orang Indonesia asli.

Tidak gampang jadi analisis di televisi. Selain fasih bahasa Indonesia, bicara cepat, harus punya pemahaman teknik sepak bola yang detail. Dan saya perhatikan Carrasco tidak kalah dengan komentator lokal. Saya pun langsung refleksi? Bertanya dalam hati.

Mengapa Carrasco yang belum lama di Indonesia sudah punya kemampuan berbahasa Indonesia level tinggi? Sebaliknya, mengapa Om Edi di Surabaya dan Om Anton di Malang (keduanya asli Flores NTT) yang sejak 1970an tinggal di Pulau Jawa tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar? Cuma paham secara pasif. Itu pun tidak 100 persen.

Jawabannya: karena bahasa Indonesia! Carrasco yang buta bahasa Inggris, meski berasal dari Amerika Latin, setiap hari dipaksa teman-teman dan lingkungan di Indonesia agar berkomunikasi dalam bahasa nasional itu. Ketidakmampuannya berbahasa Inggris justru jadi nilai plus untuk lebih cepat berbahasa Indonesia. Orang Indonesia pun tidak bisa bahasa Inggris. Lingkungan yang sangat kondusif bagi Carrasco, juga pemain-pemain bola asal Amerika Latin, untuk lancar berbahasa Indonesia.

Seandainya Carrasco fasih berbahasa Inggris, kemudian teman-temannya di Surabaya (dan kota lain) juga melayaninya dengan english, meski tidak fasih, maka Carrasco tidak akan bisa berbahasa Indonesia selancar sekarang. Ini juga alasan mengapa para TKW di Hongkong sangat cepat berbahasa Kanton meski baru satu dua tahun bekerja di sana. Karena sang majikan setiap hari hanya berbahasa Kanton itu.

Bapak Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN, dulu pun sengaja tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota di Tiongkok untuk belajar bahasa Mandarin langsung dari tuan rumah dan penduduk setempat. Beliau memastikan tidak ada warga yang bisa berbahasa Inggris atau Indonesia. Maka, mau tidak mau, Pak Dahlan dipaksa berbahasa Mandarin. Dan hasilnya memang dahsyat.

Sebaliknya, di Pulau Jawa, khususnya kota-kota besar, semua orang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Bahasa Indonesia benar-benar efektif sebagai alat komunikasi antaretnis yang berbeda di Indonesia. Ketika berhadapan dengan orang Flores, Maluku, Papua, Batak dsb, orang Surabaya atau Malang atau Jember dsb secara otomatis berbahasa Indonesia.

Para pendatang macam Om Anton atau Om Edi tidak dipaksa untuk berbahasa Jawa. Apalagi bahasa Jawa punya beberapa tingkatan yang tidak mudah dikuasai, bahkan oleh orang Jawa sendiri. Ketimbang keliru, melanggar unggah-ungguh, orang Jawa di kota besar lebih suka bermain aman dengan bahasa Indonesia. Maka, jangan heran kalau Om Anton dan Om Edi (dan hampir semua orang NTT di Jawa) tidak akan pernah menguasai bahasa Jawa hingga level tinggi.

Sebaliknya, Ibu Acha yang asli Jawa Barat, bahasa ibunya bahasa Sunda, ternyata sangat fasih berbahasa Lamaholot, bahasa daerah di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, NTT. Padahal, ibu ini baru dua tahun tinggal di Lembata bersama suaminya yang asli Lembata setelah merantau di Malaysia. Mengapa Ibu Acha bisa selancar itu berbahasa Lamaholot?

Kasusnya sama dengan Christian Carrasco, mantan pemain Persebaya tadi. Di Lembata, khususnya di desa-desa pelosok macam kampung saya, semua orang berbahasa Lamaholot. Sangat jarang orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar kecuali PNS, guru, katekis, atau pastor. Maka, mau tidak mau, orang luar macam Ibu Acha ini dipaksa untuk berbahasa Lamaholot.

"Lebih enak bicara bahasa daerah saja deh," kata Ibu Acha kepada saya beberapa waktu lalu. Lama-lama, kalau keasyikan bahasa Lamaholot, kefasihan bahasa Indonesia orang Sunda ini akan merosot. Contohnya Mama Sawia (asal Sulawesi) dan Mama Hamid (Jawa Tengah) yang sudah tinggal 30an tahun di pedalaman Flores Timur.

5 comments:

  1. Ketika saya belajar bahasa Indonesia, alphabet " e " ditulis dan diejak dengan 2 macam, yaitu e dan e' . Bahasa Bali dan bahasa Melayu memakai " e " , sedangkan bahasa Jawa memakai " e' " .
    Orang Tionghoa ada yang mempunyai Surname ( She ) 白 dan 柏 . Menurut
    pinyin seharusnya dibaca Bai, tetapi di Indonesia ditulis Pek dan diejak Pe'k.
    Walaupun Pek berasal dari ejakan bahasa Hokkien, tetapi cara mengucapkan lain di Indonesia dan lain dengan orang Hokkien asli. Ejakan Hokkien seharusnya Peik.
    Saya ini Cina-Bali, jadi ketularan jaruh-nya orang Bali. Jaruh dalam bahasa Bali sinonim cabul atau seronok. Maksud saya orang Bali tidak mengenal " Prudery " ala orang Jawa. Orang Bali menganggap semuanya yang berhubungan dengan Sex, adalah hal yang biasa, natur.
    Banyak sekali kata2 dalam bahasa Indonesia jika diterjemahkan kedalam bahasa Bali yang mempunyai arti seronok.
    Seorang warga Tionghoa yang nama-family-nya 白 dan 柏, akan menjadi bahan olok-olok oleh anak2 Bali, sebab di Indonesia diejak Pe'k.
    Pe'k bengu, kata bocah Bali.
    Demikian pula disekolah rakyat, ibu-guru kalau mendikte tidak berani memakai kata " titik " pada achir kalimat.
    Titik kenyang, celetuk anak Bali.
    Bahasa daerah harus dipertahankan, sebab bahasa adalah budaya dari suku atau etnis bangsa itu masing2.
    Bulan lalu saya mengunjungi saudara sepupu di Cuan-ciu / Tiongkok, saya heran cucu-nya tidak berbahasa Hokkien dengan kakek- atau nenek-nya.
    Saya tegur saudara sepupu, mengapa dia tidak memaksa cucunya untuk memakai bahasa Hokkien, bahasa Mandarin otomatis diajar disekolah.
    Katanya sepupu, sekarang Cuan-ciu berkembang sedemikian pesat, dua-per-tiga penduduknya adalah kaum pendatang yang tidak bisa berbahasa Hokkien ( Min-nan-hua ). Saya bilang; jika demikian maka lambat laun punahlah budaya nenek-moyang kita.
    Perkembangan kota2 diseluruh Tiongkok, selama 15 tahun terachir sangat mengerikan. Gedung2 pencakar langit menjamur bak sapu-lidi yang dijejer.
    Malam hari gedung2 itu gelap gulita, tidak ada penghuninya. Kota2 satelit hantu berserakan diseluruh negeri. Menurut teman2 apartement2 itu sudah ada pembelinya, hanya untuk investasi. Bahkan ada pejabat2 yang korup memiliki puluhan sampai 200 apartement. Sekarang presiden Xi Jin-ping ingin memberantas korupsi, para pejabat mulai ketakutan, bahkan mereka tidak berani makan direstoran mewah, alhasil restoran2 mewah pada gulung tikar.

    ReplyDelete
  2. memang serba salah om... di satu sisi ya kita ingin meningkatkan persatuan bangsa Indonesia melalui satu bahasa, tapi ini beresiko meminggirkan bahasa daerah... hal ini sudah terjadi di negara2 seperti Tiongkok dan Thailand... banyak bahasa daerah, tetapi kebijakan pemerintah menekankan 1 bahasa nasional akhirnya memperlemah status bahasa2 daerah di negara itu...
    beda kasus yg ekstrim seperti di India, setiap negara bagian punya bahasa sendiri dan tidak ada bahasa persatuan... makanya di India biasanya orang2 dari negara bagian yg berbeda akan berbahasa Inggris...

    sayang sekali, padahal bahasa Jawa adalah bahasa rumpun Austronesia dgn penutur terbanyak, lebih banyak dari bahasa Melayu dan Tagalog... tetapi bahasa Jawa adalah bahasa terbesar yg tidak mempunyai surat kabar sendiri... sangat miris...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengamat Bahasa2:46 AM, June 25, 2015

      Sebenarnya bangsa Indonesia sangat beruntung memiliki Bahasa Indonesia. Demikian kata Pramoedya Ananta Toer, dan saya setuju.

      Tanpa Bahasa Indonesia, sudah pecahlah negara dan bangsa ini. Akan tetapi, sejak Sumpah Pemuda, tidak dikatakan bangsa Indonesia itu berbahasa yang satu, tetapi MENJUNJUNG bahasa persatuan. Demi kepentingan politik (merdeka sebagai satu bangsa), nama bahasa tersebut diubah dari Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia. Dengan digunakannya bahasa minoritas seperti Melayu (dan bukannya bahasa Jawa dari penutur terbanyak, seperti Bhs Mandarin di Tiongkok; atau bahasa Belanda, yang warisan kolonial, seperti Bhs Inggris di India), bangsa-bangsa lain di Indonesia dengan sukarela menerima. Jadi bahasa daerah harusnya tetapi hidup bersamaan dengan Bahasa Indonesia.

      Selain itu, adanya bahasa yang sama mempermudah arus perdagangan antar pulau, antar daerah, sejak jaman Portugis dulu. Penelitian para ekonom bahkan menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara pertumbuhan ekonomi dan penggunaan bahasa yang sama (predominant language). Akan tetapi, memang pertumbuhan ekonomi dan penggunaan bahasa pemersatu itu mengancam kelangsungan bahasa-bahasa lokal.

      Masih ada harapan. Indonesia tidak seperti Tiongkok, yang pemerintah pusatnya secara aktif menekan penggunaan bahasa lokal seperti Min-nan atau Kanton. Jadi kebijakan penggiatan pengajaran bahasa lokal tetap diserahkan kepada pemerintah daerah masing-masing.

      Khusus mengenai bahasa Jawa, saya tidak suka menggunakannya, karena tidak egaliter dan terlalu reseh. Kalau mau survive, sudah waktunya penggiat Bahasa Jawa mengambil contoh dari Bahasa Jerman, di mana di abad pertengahan dulu ada berbagai macam dialek bahasa Jerman, yang secara kasar dibagi menjadi Bhs Jerman rendah (niederdeutsch) dan Bhs Jerman tinggi (hoschdeutsche). Antara lain berkat jasa Martin Luther, yang mau memasyarakatkan Alkitab dalam bahasa Jerman, digunakanlah bahasa Jerman yang mengambil elemen-elemen dari bahasa tinggi dan rendah, dan kemudian di abad ke-18 dan ke-19 berkembang menjadi bahasa Jerman standar sampai sekarang. Bagaimana caranya? Ya penggiatnya lah yang harus memikirkan, entah dengan ketoprak, ludruk, lagu-lagu di youtube, dll.

      Delete
  3. Saya sedang berpikir, seandainya tuan portugis dan tuan belanda tidak mengajarkan kepada kita huruf latin, bagaimana mungkin kita menggunakan bahasa Melayu sebagai landasan Bahasa Indonesia. Menurut Lee Kuan-yew, bahasa Melayu asal mulanya adalah bahasa gado-gado yang digunakan oleh para pelaut dan pedagang dipesisir semenanjung Malaka, daerah pesisir Nusantara, bahkan sampai dipesisir Mandagaskar. Bagi kita se-olah2 bahasa Melayu adalah bahasanya orang Sumatera, tetapi hal itu agak ganjil, sebab tiap2 suku di Sumatera memiliki bahasa daerahnya masing2. Seandainya benua Eropa tidak dijajah oleh bangsa Romawi ( orang Italy ), mungkin orang Jerman, Inggris, Belanda ,dll. sampai sekarang masih buta-huruf, sebab mereka tidak memiliki tulisan, seperti halnya orang2 Asia, ( India, Jawa, China,......... dll.-nya ). Buktinya semua prasasti2 zaman kuno tertulis dalam bahasa Sansekerta, Ibrani, Romawi, Jawa-Kawi, China, Yunani, Aramaic, Mesir,...dll. Mungkin 1000 tahun lagi akan ada prasasti yang pakai tulisan Latein tetapi berbahasa Melayu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang di Madagaskar itu bukan Bahasa Melayu, tetapi Bahasa Malagasy yang masih serumpun, dibawa oleh nenek moyang Orang Nusantara yang berasal dari Formosa menyebar beberapa PULUH RIBU tahun lalu sampai ke Madagaskar, Nusantara, Pilipina, dan kepulauan-kepulauan Polynesia seperti Hawaii, Guam, Tahiti, Samoa, Maori, dll. Kalau penyebaran Bahasa Melayu dari Semenanjung Melaka ke seluruh Nusantara itu baru beberapa ratus tahun terakhir saja sejak adanya perdagangan laut.

      Delete