09 June 2015

Aku, Saya, Beta... yang berubah


Penyanyi Raisa Andriana mengundang Gubernur Jakarta Ahok untuk datang ke konsernya. Raisa menulis, "Selamat pagi yth. Bapak Basuki, aku Raisa. Dengan segala hormat ingin mengundang Bapak ke konser aku."

Kata-kata sang dara manis 24 tahun itu standar, cukup formal, untuk mengundang seorang gubernur. Tapi, bagi orang-orang lama, kata ganti orang pertama AKU yang dipakai Raisa rasanya kok kurang sopan ketika berbicara dengan pejabat. Lisan, apalagi tertulis.

Kata aku, saya, beta, awak, sahaya, hamba... memang sinonim tapi tidak bisa dipertukarkan begitu saja. Itu pelajar dasar saat saya belajar bahasa Indonesia di pelosok NTT. Saat itu kami, seisi kelas, sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia karena di kampung hanya ngomong bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

"Kalau bicara dengan guru atau orang yang lebih tua, pakailah kata SAYA. Jangan pakai AKU karena kurang sopan," begitu pesan guru SD saya yang sudah meninggal dunia.

Lalu, mengapa kita di kampung selalu berdoa AKU PERCAYA, bukan SAYA PERCAYA? Begitu pertanyaan saya yang tidak sempat dijawab pak guru di kampung. Atau, sudah dijawab tapi saya lupa.

Pesan seorang guru SD di pelosok Lembata, yang tamatan SPG Katolik Larantuka yang berasrama dan sangat ketat itu, selalu nancap di otak saya. Karena itu, setiap kali ada orang yang menggunakan AKU saat bicara dengan orang tua, guru, pejabat, romo, kiai... otak saya selalu kembali ke pelajaran bahasa Indonesia di SD dulu. Kok pakai AKU, bukan SAYA?

Setelah mahasiswa barulah saya menemukan kamus bahasa Indonesia karya Sutan Mohammad Zain edisi 1952. Kamus ini tak hanya menjelaskan arti kata tapi juga etimologi dan rasa bahasa. Belakangan kamus lawas ini disempurnakan oleh ahli bahasa JS Badudu menjadi kamus modern bahasa Indonesia.

Nah, di kamus St M Zain yang saya temukan di lapak buku bekas itu, sang munsyi menjelaskan kata AKU persis seperti bapak guru SD saya di kampung itu. Sutan M Zain menjelaskan, "AKU hanyalah dipakai dalam bahasa ramah tamah. Terhadap kepada orang yang belum dikenal baik dipandang agak kasar. Apalagi terhadap kepada orang yang lebih tinggi."

SAYA: Boleh dipakai kepada orang yang sama dengan kita, boleh kepada orang di atas kita dan boleh juga kepada orang di bawah kita.

Dalam bahasa Melayu logat Kupang dan Ambon, kata AKU dan SAYA (apalagi AWAK atau HAMBA) tidak dikenal. Orang-orang Kupang hanya mengenal kata BETA yang sifatnya netral. Mau bicara dengan pejabat, pendeta, romo, tukang sayur, nelayan, petani, mahasiswa... orang Kupang selalu pakai BETA.

Tapi, ketika diskusi formal di kelas atau kampus, BETA otomatis diganti jadi SAYA. Saya hampir tidak pernah dengar orang NTT pakai AKU untuk kata ganti dirinya. Kata AKU justru selalu dipakai para artis Jakarta baik dalam percakapan informal maupun diskusi yang agak formal. Para artis di sinetron, infotainment, hampir tak pernah pakai SAYA.

Bahasa itu soal kelaziman dan kesepakatan saja. Diksi atau pilihan kata selalu berkembang sesuai dengan lingkungan sosial dan zaman. Kata BEKAS yang dulu netral, sekarang umumnya diganti MANTAN yang dianggap lebih halus. Kata EKS juga jarang dipakai karena mengingatkan eks PKI atau eks tahanan politik.

Kata lonte, sundal, pelacur sekarang diganti pekerja seks komersial (PSK) yang dianggap lebih terhormat. Meskipun tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lonte atau sundal sebetulnya sama saja PSK.

Bagaimana pendapat Anda?

6 comments:

  1. Pengamat Bahasa2:52 AM, June 10, 2015

    Menurut saya, lonte dan sundal mengandung konotasi negatif, sehingga sering digunakan sebagai kata makian. Konotasi negatifnya ialah mau menjual harga diri dan kehormatan demi uang. Begitu juga pelacur, hanya pelacur ada kata dasarnya "lacur", jadi melacurkan bisa digunakan sebagai kata kerja untuk menggambarkan kegiatan yang menjual kehormatan (tidak selalu harus seksual) demi uang.

    Penggunaan PSK ialah istilah sekuler untuk memanusiakan bisnis perlontean dan pelacuran. Dalam kata ini, tidak ada konotasi negatif. Perempuan atau lelaki yang menjual layanan seksual melakukan dengan kesadaran, sukarela, demi imbalan uang, dan transaksi ini tidak perlu dihakimi sebagai dosa (itu urusan Tuhan) atau rendah. Dengan demikian, masyarakat dapat dengan netral mengawasi bisnis tersebut. Transaksinya dipajaki, dan dana digunakan untuk pendidikan PSK. Kesehatan pelakunya diawasi sehingga penyebaran penyakit kelamin bisa ditekan. Keamanan pekerja dilindungi sehingga tidak terjadi kekerasan oleh mucikari atau pembeli layanan seksual. Dan saya kira, bahasa sekuler ini lebih bagus.

    ReplyDelete
  2. Saya jarang sekali memakai kata AKU, kecuali jika berbincang menggunakan bahasa Jawa ngoko dengan kawan2 lawas. Berbicara secara sopan dan santun, seharusnya tidak perlu extra diajarkan kepada orang2 Indonesia, sebab budi pekerti kita serap bersamaan dengan air yang kita minum dari bumi Indonesia. Saya dibesarkan dengan air sumur Nusantara, dan pertama kali minum Aqua atau Ades setelah berumur 32 tahun.

    ReplyDelete
  3. om hurek, seorang kawan pernah bilang begini, "Tuhan itu Maha Tinggi dan Maha Besar, lebih tinggi dan lebih besar dari seorang presiden atau raja... tapi kenapa berbicara kepada presiden harus menggunakan "SAYA" ketika berbicara kepada Tuhan boleh menggunakan "AKU" dan "KAU"???

    bagaimana menurut om hurek???

    oh iya, saya kurang tau bagaimana ceritanya bahasa Melayu Ambon dan Kupang menggunakan kata "BETA" padahal aslinya dalam bahasa Melayu "BETA" digunakan sebagai kata ganti pertama raja/sultan kepada rakyat biasa... coba om hurek nonton film2 seperti "Hang Tuah" atau "Puteri Gunung Ledang"...

    dalam bahasa Batak, kata ganti pertama tunggal hanya "AHU" (aku) dan lawannya "HO" (kau)... berbicara kepada kawan, adik, kakak, orang tua, raja, bupati, gubernur, presiden, dan Tuhan, ya menggunakan kata "ahu" dan "ho"...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengamat Bahasa2:06 AM, June 26, 2015

      Pengamatan yang tajam. Dalam bahasa Inggris malah kebalikannya. Dengan sesama manusia gunakan hanya I and you saja. Tetapi dengan Tuhan digunakan Thou, Thy, Thine dalam doa-doa dan lagu-lagu gereja.

      Delete
    2. Terima kasih bung Nababan dan mas Pengamat sudah menulis komentar yg bagus. Saya lupa menjelaskan kata BETA sesuai deskripsi kamus lama itu. Kata BETA di lingkungan Melayu asli memang hanya untuk para petinggi, sultan, bangsawan...

      Ketika bahasa Melayu tersebar luas di luar wilayah komunitas Melayu oleh pedagang, khususnya ke Indonesia Timur, khususnya Kupang dan Maluku... rupanya kata BETA malah diturunkan harkatnya jadi kata biasa yang egaliter. Bahasa Melayu pasar yang muncul di Maluku dan Kupang diduga ada kaitan erat dengan pekabaran Injil oleh para misionaris Katolik dan Protestan yang bukan penutur asli bahasa Melayu. Lama-lama bahasa pasaran Melayu ini berkembang luas menjadi lingua franca untuk mengatasi banyaknya bahasa lokal di Indonesia Timur.

      Bahkan, sampai sekarang pun kami di Flores Timur pun masih menyebut bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu. Contoh: GO KODA MELAYU KOI HALA. (Saya tidak bisa berbicara bahasa Indonesia.). Begitu kira2 tafsiran saya.

      Delete
    3. Kritis bener teman Lae Nababan :D
      Opini saya, penggunaan kata "aku" kepada Tuhan itu krn Tuhan (bagi orang Nasrani, setahu saya) adalah pribadi yg dekat dengan kita, bahkan bisa jadi sahabat kita. Ada ayatnya, kan? Hehe. Masa' kalau ngobrol dengan sahabat kita pakai "saya" untuk menyebut diri kita sendiri? kan enakan pakai "aku" :D
      Nah, kata "kau" ini yg sepertinya agak rancu. Di beberapa daerah, "kau" lebih tinggi derajatnya daripada "kamu". Di daerah lain, "kamu" lebih tinggi derajatnya daripada "kau". Tinggal ditelusuri aja, berasal dari daerah manakah orang yang pertama kali menerjemahkan Alkitab. saya rasa doa terinspirasi dari Alkitab juga. Mungkin udah jadi kebiasaaan kali ya atau semacam adat yang sudah terlanjur begitu (pakai kata "kau"), dan orang ga berani mengubah terjemahan kata di Alkitab karena dianggap sakral

      Delete