29 June 2015

Tari Lenso (Trisakti) Tinggal Kenangan



Bung Karno bukan sekadar ideolog, jago ngomong, tapi selalu berusaha melaksanakan ide-ide besarnya. Ketika bicara soal Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari ekonomi, berkepribadian di bidang kebudayaan), Bung Karno langsung action. Kebijakan-kebijakannya, suka tak suka, selalu sejalan dengan Trisakti itu.

Inilah bedanya dengan pemimpin-pemimpin sekarang. Ngomong revolusi mental, tapi tak jelas juntrungannya. Revolusi koyok opo? Ngomong revolusi mental, tapi KPK diobok-obok. Ngomong Nawacita, tapi realisasi 9 cita-cita seperti apa, ora jelas. Anak dan cucunya Bung Karno, Bu Mega dan Mbak Puan, juga sering bicara Trisakti, tapi apa maksudnya? Ora jelas.

"Kader PDI Perjuangan agar mengamalkan Trisakti Bung Karno dan Nawacita... kalau mau maju di pilkada," kata Megawati Soekarnoputri yang saya baca di koran pagi ini.

Trisakti. Nawacita. Ini konsep yang terlalu besar, yang tidak bisa dilaksanakan secara individual. Ini menyangkut sistem ekonomi, pasal 33 UUD 1945, kebijakan negara yang strategis. Kalau hanya sekadar membaca dan menghafal konsep Trisakti, gampang. Tinggal membaca pidato-pidato lama Bung Karno. Jokowi sendiri mungkin sudah lupa Nawacitanya sendiri.

Kembali ke soal Trisakti, khususnya butir kebudayaan, kalau tidak salah, Bung Karno gencar sekali mengangkat tarian daerah untuk dibawakan di acara-acara nasional, regional, bahkan sampai ke desa-desa. Bung Karno melarang musik ngak-ngek-ngok, dansa-dansi, dan hiburan lain yang berbau imperialis Barat. "Dulu tari lenso dan serampang 12 dibawakan di mana-mana," kata Mbah Gito di kawasan Pucang, Surabaya.

Kemarin, wartawan senior Peter A. Rohi merilis foto lama beberapa wanita di Ende, Flores, menari lenso seperti dianjurkan Bung Karno. Berpakaian sarung tenun ikat khas Ende, para wanita itu berlenggak-lenggok di atas pasir. Peter Rohi menulis:

"Bung Karno adalah pemuja seni tanah air dari mana ia bisa melihat Indonesia. Selama empat tahun dalam interniren di Ende, Flores, 1934-1938, dia tidak boleh berpolitik dan tidak boleh membaca buku2 politik. Tapi bukan Bung Karno kalau ia taat begitu saja pada aturan kolonial. Dia membuka kegiatan politik melalui seni tari dan drama. Dia membaca buku2 di perpustakaan pastoran, karena dia tahu Belanda tak mampu melampaui otonomi gereja katolik. Pastor Hetink menjamin Bung Karno boleh membaca dan meminjam buku2 dari perpustakaan pastoran.

"Selama di Ende, cerita mendiang Kepala Daerah pertama Flores, Monteiro, Bung Karno suka tari lenso. Dia membawa teman2nya ke permandian Wolaare, dan di sanalah mereka melakukan kegiatan seni itu, tari lenso."

Sayang, setelah Bung Karno dijatuhkan, semua ajarannya, khususnya Trisakti, dilenyapkan di Indonesia. Rezim Orde Baru secara sistematis menghilangkan semua yang berbau Bung Karno di Indonesia. Termasuk tari lenso dan serampang 12 yang pernah sangat terkenal pada era 1960-an itu. Maka, saya tidak pernah meihat tari lenso dimainkan saat pesta atau perayaan-perayaan di Flores, NTT, khususnya.

Yang justru populer adalah dansa-dansi ala Eropa yang dulu dimaki-maki Bung Karno. Acara dansa-dansi ini bahkan sering berlebihan, dilakukan sampai pagi hari. Ketika mahasiswa NTT berkumpul di kos-kosan di Jawa pun yang menonjol justru pesta dansa. "Juaranya pasti teman-teman dari Kabupaten Ngada. Dulu sih juaranya mahasiswa Timor Timur," kata Ansel, bekas aktivis mahasiswa di Jatim.

28 June 2015

Himne Lama Masih Enak

Mampir ke kampus Universitas Kristen Petra Surabaya belum lama ini, lamat-lamat terdengar nyanyian lama. Melodinya persis lagu Salam Santa Maria yang sangat terkenal saat saya kecil di Flores Timur, NTT. Mahasiswa dan dosen Petra yang 96 persen Protestan nyanyi lagu devosi Bunda Maria?

Tentu saja tidak. Lagunya memang sama dengan nyanyian Katolik di buku Syukur Kepada Bapa (dulu dipakai di NTT), tapi syairnya tak ada hubungan dengan Santa Maria. Lagu yang dibawakan di UK Petra ini berjudul Serikat Persaudaraan. Dari Kidung Jemaat No 249. "Lagu Serikat Persaudaraan selalu dinyanyikan saat kebaktian di sini," kata seorang dosen UK Petra asal NTT.

Gara-gara dengar Salam Santa Maria, eh Serikat Persaudaraan di UK Petra, saya mulai iseng memeriksa lagu-lagu Protestan di Kidung Jemaat. Wow, banyak himne yang sama dengan di Katolik. Di sebelahnya Serikat Persaudaraan, ada lagu Allahmu Benteng yang Teguh. Sama persis dengan di Puji Syukur, buku nyanyian resmi umat Katolik di Jawa.

Masih dekat dengan Serikat, KJ 247, lagu yang sangat terkenal di Katolik: Terpuji Sang Kristus. Namun, di KJ judulnya Sungguh, Kerajaan Allah di Bumi Tak Kalah. Makin banyak kita periksa, makin terlihat kesamaan selera musik saudara-saudari kita di gereja reformasi. Gerak melodi, pola penerjemahan, aransemen kor... sangat mirip.

Sejak mendengar himne Protestan di UK Petra itu, saya mulai rajin melacak himne-himne gereja lama di YouTube. Enak-enak ternyata. Lagunya sederhana, tidak sulit, sengaja dibuat untuk nyanyian jemaat. Bukan lagu solo ala worship songs yang dibawakan bersama-sama. Asyik betul menikmati lagu-lagu lawas yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Betapa berbedanya dengan lagu-lagu kristiani yang saya dengar saat mengikuti kebaktian ala karismatik di Rutan Medaeng bulan lalu. Kita seperti menonton konser artis pop di lapangan. Ada band, tiga penyanyi yang disebut worship leader, lalu jemaat ibarat fans sang artis itu. Yang menggelegar suara musik karena sound system yang tidak proporsional.

Tak tahan, saya pamit panitia, Tante Lanny, dengan alasan yang dibuat-buat. Agar meninggalkan kebaktian kristiani yang corak musiknya tidak cocok dengan selera saya. Belum lagi celetukan-celetukan Haleluya dan "bahasa roh" yang berhamburan. "Ini memang ibadah raya khas anak muda yang lagi ngetren," kata seorang panitia.

Begitulah. Sebagaimana musik pop, musik liturgi gerejawi pun punya segmen sendiri-sendiri. Ada yang suka himne lawas ala Kidung Jemaat, Puji Syukur, Nyanyian Kemenangan Iman... tapi banyak juga yang doyan praise and worship songs ala gereja-gereja karismatik yang booming di Indonesia sejak 1980an. Semua dapat tempat!

Orang yang terbiasa dengan himne-himne lawas akan kelimpungan ketika disuguhi musik dar-der-dor, loncat-loncat ala Bethany dan sejenisnya. Sebaliknya, para pemuja praise and worship music menganggap himne sebagai lagu-lagu kacangan yang tidak bermutu.

"Itu lagu yang tidak mengantar kita ke hadirat Tuhan," ujar FS, seorang artis penyanyi lagu-lagu worship terkenal di Indonesia, dalam sebuah seminar di Surabaya. Malamnya FS bikin konser di kebaktian kebangunan rohani di mal besar di Surabaya.

Lantas, lagu-lagu yang bagus, membawa ke hadirat Tuhan, penuh kuasa roh kudus itu seperti apa? Jawabannya mbulet dan panjang lebar. Tapi ujung-ujungnya tidak jauh dari lagu-lagu ciptaannya di CD yang ia promosikan di sela seminar.

Hehehe... Jualan kaset sembari menjelek-jelekkan lagu-lagu lama di Kidung Jemaat. Inilah bedanya penulis-penulis himne masa lalu seperti Fanny Jane Crosby, William Bradbury, atau Martin Luther. Yang pasti, penulis-penulis himne lama ini sama sekali tidak punya motivasi jualan kaset, selain memuji dan memuliakan Tuhan lewat nyanyian.

27 June 2015

Argentina vs Kolombia menjemukan

Orang USA tidak suka sepak bola karena golnya sedikit. Beda dengan basket atau american footbal yang golnya buanyaak. Maka, kalau ingin disukai orang USA, bikinlah aturan main baru agar balbalan bisa menghasilkan banyak gol.

Ada benarnya juga pendapat orang Amerika. Saya pun jengah ketika menonton sepak bola, 90 menit, plus tambahan waktu, tanpa gol. Kok gak gol-gol sih? Kapan golnya? Masa Messi gak bisa bikin gol? Tapi, apa boleh buat, orang yang sudah kecanduan bola sulit meninggalkan televisi meski peluang gol hanpir tidak ada. Mirip pecandu rokok yang sulit meninggalkan rokoknya.

Begitulah. Laga semifinal Copa America beberapa menit lalu, Argentina vs Kolombia, bagi saya, sangat menjemukan. Main selama 90 menit tanpa gol. Skor 0-0 ini sejak dulu paling saya benci. Saya suka skor 3-3 atau 4-4 atau 5-4 dst.

Benar-benar tidak asyik menonton pemain kelas dunia macam Messi, di Maria, Teves, cuma bisa berputar-putar, protes wasit, jegal lawan... tapi tidak bisa menghasilkan gol. Gak mutu!

Saya dari dulu suka balbalan yang sudah ada gol sebelum menit ke-20. Pertandingan pasti menarik. Sebab tim yang ketinggalan dipaksa menyerang agar bisa membalas. Mainnya jadi terbuka. Ini membuat tim yang menang bisa menambah gol lagi karena beknya ikut naik. Atau, skor jadi 1-1. Seru!

Syukurlah, Amerika Latin menggunakan sistem pertandingan 90 menit tanpa extra time 2 x 15 menit. Mestinya sistem ini diadopsi FIFA jadi standar internasional. Buat apa dikasih perpanjangan waktu 30 menit? Bukankah 90 menit itu sangat lama? Salah sendiri tidak bisa bikin gol pada masa 2 x 45 menit. Langsung saja adu penalti untuk menentukan pemenang.

Yang menarik dalam pertandingan Argentina vs Kolombia ini adalah adu penaltinya. Argetina akhirnya lolos ke semifinal. Sebetulnya saya sih ingin Argentina yang kalah sebagai hukuman atas kegagalan Messi dkk tidak membuat gol dalam 90 menit.

Kolombia gak usah menangis. Salahmu sendiri tidak mampu mencetak gol. Lalu, kapan ya ada pertandingan sepak bola yang sama-sama menyerang, banyak gol, cepat, semangat, pantang menyerah.. seperti Jerman vs Belanda di Piala Eropa dulu ya? Sampai sekarang, menurut saya, kayaknya belum ada pertandingan bola semenarik era Van Basten, Gullit, Rijkaard, Lothar Mathaeus, Klinsman dkk.

Salam balbalan!


Sent from my BlackBerry

26 June 2015

Lebih enak zaman Belanda? Enak zaman Pak Harto?

Kaget juga mendengar celetukan seorang opa, 80 tahun lebih, masih kuat, saat ngobrol di sebuah warung kopi di kawasan Pucangsewu, Surabaya. Opa berpendidikan Belanda itu bilang hidup di zaman penjajahan Belanda lebih enak ketimbang sekarang.

"Aneh, orang tua ini," pikir saya. Sejak SD, bahkan TK, kita mendapat pelajaran tentang betapa kejamnya penjajah Belanda. Rakyat ditindak, disiksa. Kerja paksa, Tanam paksa. Rakyat jajahan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Tuan dan nyonya Belanda di atas segalanya. Menikmati pelbagai kemewahan, hasil menguras hasil bumi dan alam Nusantara.

"Kok bisa sampean bilang zaman Belanda lebih enak? Belanda itu kejam-kejam," kata saya agak sok tahu.

"Gak kejam sebenarnya," ujar sang Opa. "Situasinya panas, gak karuan, itu justru zaman Jepang. Sebelumnya kita merasakan tenang-tenang saja... gak banyak gejolak," kata kakek kelahiran Surabaya itu.

"Tapi kan pejuang-pejuang itu banyak ditangkap, dibuang, dibui, dan sebagainya. Kok Anda bilang tenang-tenang saja?" pancing saya.

Masa itu, tahun 1930an, tentu belum ada telepon seluler, telepon biasa, atau media massa macam koran, radio, apalagi televisi. Kalaupun ada telepon lawas atau radio, mungkin koran, jumlahnya amat sangat terbatas. Karena itu, Opa Jadul ini mengatakan, rakyat biasa tidak pernah tahu ada penangkapan-penangkapan yang dilakukan aparat Hindia Belanda.

Apalagi, Opa Jadul yang masih anak-anak mana paham urusan politik tingkat tinggi di Hindia Belanda masa itu. Dia hanya tahu bahwa zaman itu enak, tenang, tidak ruwet. Mana ada kemacetan di jalan raya? Surabaya, kota besar yang sudah terkenal di era Hindia Belanda, pun masih sepi. "Daerah sini (Pucang) masih sawah-sawah yang luas. Penduduknya sangat sedikit," katanya.

Opa Jadul itu kemudian membandingkan kondisi ekonomi, sosial, politik, budaya, dsb dsb di Indonesia saat ini yang tidak karuan. Dolar USA masih tenang di atas Rp 13.300. Mata uang rupiah seperti tak ada harganya di dunia. Opa Jadul kemudian mengenang uang recehan kecil era Belanda yang nilainya sangat tinggi.

Bangunan-bangunan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda juga bagus dan kuat. Bahkan, masih awet sampai sekarang. Bandingkan dengan kondisi bangunan sekarang yang keropos, asal jadi. Belum lima tahun sudah hancur. Bahkan, ada gedung sekolah (dimuat di koran pagi itu) yang sudah rusak sebelum diresmikan. "Zaman dulu Belanda) gak ada yang main-main kalau bikin bangunan," katanya.

Pagi yang lain, saya bertemu opa yang lain lagi, juga di atas 80 tahun. Pria Tionghoa ini lebih banyak membahas kondisi ekonomi Indonesia yang dianggap kurang mantap. Pengusaha-pengusaha kesulitan membayar upah buruh sesuai ketentuan UMK Surabaya/Sidoarjo yang nilainya Rp 2,7 juta sebulan.

"Bagaimana bisa mbayar gaji (UMK) kalau kondisinya masih seperti ini," kata opa sepuh yang masih sehat waras itu.

Dia kemudian bernostalgia ke masa yang jauuuh di belakang: zaman Hindia Belanda. Kesannya bagus-bagus, ibarat lautan yang teduh. Ada gejolak, tapi tidak sampai mencemaskan.

Yen dipikir-pikir, manusia yang semakin tua punya kecenderungan untuk meromantisasi masa lalu. Nostalgia yang bagus-bagus. Makanya, tidak heran dalam beberapa tahun terakhir foto Presiden Soeharto (Pak Harto) dipasang di truk-truk atau kaos. "Piye... Enak jamanku to!"

Setelah melewati banyak tahun, manusia memang cenderung menyeleksi memori di kepalanya. Yang diingat cuma yang baik-baik saja seperti bensin murah, sekolah bisa gratis beneran, buku-buku pelajaran bisa dipakai bertahun-tahun (tidak gonta-ganti terus kayak sekarang), kehidupan yang guyub dan tenang di desa sambil menonton TVRI hitam putih, satu-satunya televisi zaman Orde Baru.

Yang maki-maki Pak Harto dan Orde Baru biasanya para politisi oposisi atau korban politik buldoser ala Orba. "Siapa bilang Pak Harto bagus? Orde Baru lebih baik? Saya ini dibuang ke Pulau Buru selama 10 tahun tanpa diadili sama sekali. Sampai sekarang saya tidak tahu apa kesalahan saya hingga dibuang ke Pulau Buru," kata Gregorius Suharsojo, seniman tua yang tinggal di Taman, Sidoarjo, kepada saya.

Bagi Suharsojo, yang dulu aktif di Lekra, lembaga kebudayaan yang dituduh terkait PKI, rezim Soeharto alias Orde Baru itu sangat brengsek, melanggar HAM, tidak demokratis, kejam, sewenang-wenang dst dst.

"Baca itu tulisan-tulisan tentang Pulau Buru, eks tapol, dsb. Pak Harto itu hanya kenal 3B: buang, bui, bunuh. Masih untung saya cuma dibuang ke Buru. Ribuan, bahkan mungkin jutaan orang Indonesia yang mati gara-gara Orde Baru. Gombal kalau dibilang zaman Pak Harto itu enak," protes Opa Greg dengan nada tinggi.

Begitulah. Angle atau sudut pandang orang beda-beda dalam melihat sebuah peristiwa. Apalagi masa lalu yang jauh. Pengalaman orang memang berbeda. Banyak orang yang senang dengan sistem pemerintahan ala Pak Harto, tapi banyak juga yang menderita. Di zaman Hindia Belanda pun ada saja orang yang senang dan diuntungkan.

22 June 2015

Gampang jadi WNI? Jadilah pemain sepak bola!


Kick Andy di Metro TV siang kemarin (siaran ulangan) sangat menarik. Beberapa warga negara asing (WNA), bule Eropa, peneliti, dosen yang sudah puluhan tahun mengabdi di Indonesia curhat betapa sulitnya menjadi warga negara Indonesia. Padahal mereka mengaku sangat cinta negara ini.

"Kalau ada syarat yang belum lengkap, tolong tunjukkan. Agar saya bisa melengkapi," kata Mr Hywel Coleman asal Inggris yang profesor doktor.

Dosen bahasa Inggris ini tinggal dan bekerja di Indonesia sejak 23 tahun. Dimulai dari Bengkulu, dia ditugaskan di berbagai kota di tanah air. Untuk mencerdaskan anak bangsa agar bisa ngomong English. Coleman juga lama bekerja membantu kementerian pendidikan dan kebudayaan. Karena itu, dia akrab dengan Fuad Hasan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan.

Tapi dedikasi dan reputasi seorang Coleman rupanya dianggap belum cukup untuk jadi WNI. Apa lagi syarat yang kurang? Coleman tidak tahu karena tidak pernah diberi tahu. Namun dia tetap ingin menghabiskan usia di Indonesia. Coleman sudah menyiapkan makam untuk rumah masa depannya.

Komentar Andy Flores Noya, host acara Kick Andy, membuat saya tertawa terbahak-bahak. Lucu tapi pahit. Penonton di studio malah diam karena guyonan ala Andy Noya ini memang gak enak.

"Mengapa Anda sulit sekali jadi WNI?" tanya Andy Noya. Lantas dijawab sendiri, "Karena Pak Coleman bukan pemain sepak bola. Coba Anda pemain sepak bola, begitu Anda tiba di Indonesia, bahkan masih di bandara, Anda sudah dapat status WNI."

Hahahaha.... Saya suka banget humor ala Andy Noya ini. Tajam, lucu, satir, sangat telak. Pernyataan itu juga menurut saya sekaligus kesimpulan bincang-bincang bersama para bule di Kick Andy itu. Ah, andaikan Coleman pemain bola!

Mas Wahyu yang mualaf, lahir di Skotlandia, status warga negara Australia, pakai songkok dan berkali-kali menyatakan kemualafannya di Kick Andy. Dia juga tak mau pakai nama Barat tapi Mas Wahyu yang sangat Jawa. Beda banget dengan etika Barat yang cenderung tidak membicarakan agama atau keimanan pribadi di muka umum.

Toh, Mas Wahyu yang juga pengasuh program islami di beberapa televisi nasional itu juga susah dapat status WNI. Wahyu boleh mualaf, Islam taat, nama Jawa, penampilan ustad, tapi jangan lupa... bukan pemain sepak bola. Seandainya Mas Wahyu mualaf ini pemain bola, ceritanya jadi lain sekali. Tiba di bandara sudah resmi WNI lalu memperkuat tim nasional bentukan PSSI.

Acara Kick Andy kemarin, khususnya celetukan Andy F Noya, soal pemain bola yang begitu mudahnya dinaturalisasi, benar-benar mewakili uneg-uneg saya selama ini.

Apa pun alasannya, saya sudah lama melihat diskriminasi yang luar biasa dalam proses naturalisasi sejumlah WNA yang puluhan tahun mengabdi untuk Indonesia dengan pemain sepak bola. Padahal, dari dulu timnas PSSI sulit menang lawan Malaysia atau Thailand. Boro-boro ke Piala Dunia, juara SEA Games saja nyaris mustahil. Padahal negara-negara peserta SEA Games ini kelasnya paling lemah di Asia dalam urusan balbalan.

Tidak hanya Mr Coleman atau Mas Wahyu yang harus menunggu puluhan tahun untuk diakui sebagai WNI. Juara-juara bulutangkis kita yang keturunan Tionghoa pun sama saja. Sudah mengharumkan nama Indonesia, sumbang medali emas di berbagai kejuaraan... eh ternyata juga dipersulit jadi WNI. Sampai-sampai ada sejumlah pemain dan pelatih top yang putus asa dan memilih jadi warga negara Tiongkok atau negara lain.

Mengapa bisa begitu? Jawabnya itu tadi: karena mereka bukan pemain sepak bola! Itulah Indonesia, negeri ajaib yang mengagung-agungkan sepak bola yang tidak maju-maju itu.


Sent from my BlackBerry

20 June 2015

Peter A Rohi: Bung Karno Lahir di Pandean IV Surabaya



Usianya tahun ini masuk 73 tahun. Tapi Peter Apollonius Rohi masih rajin meliput, menulis, diskusi, ngelencer, bercerita, dan tertawa khas. Omongannya masih meletup-letup khas orang NTT bagian selatan yang ngeyel memperjuangkan gagasannya. Peter A Rohi, nama populernya di media massa, wartawan senior asal Pulau Sabu, NTT, beralamat KTP di Surabaya, tapi lebih banyak bekerja di Jakarta.

"Wartawan itu tidak kenal pensiun. Kita bekerja terus sampai akhir," kata Om Peter yang dekat dengan komunitas tempo doeloe di Surabaya dan NTT.

Rasanya tak akan ada lagi wartawan nyentrik, pekerja keras, blusukan ke mana-mana macam Peter A Rohi. Dia bisa seenaknya pergi meliput ke mana-mana, lokasi yang jauh dari Surabaya/Jakarta (kantor redaksi), dalam waktu lama tanpa takut dipecat. Peter tak kenal sistem mengisi daftar hadir elektronik ala perusahaan media sekarang.

"Wartawan itu harus bebas. Agar liputannya tajam, dibaca pengambil kebijakan, dan punya pengaruh di masyarakat. Buat apa menulis banyak berita tapi kelasnya cuma ecek-ecek? Beta bukan tipe wartawan macam itu," kata wartawan yang banyak membidani berbagai koran di Indonesia sejak 1980-an itu.

Biasanya, setelah dikelola enam bulan atau setahun, Peter minggat, keluar, dan jadi wartawan bebas alias freelance. Kemudian ada saja pemodal yang mengajak bekas KKO (marinir) ini untuk bikin koran baru. Bosan, ditinggal lagi... dst dst. "Beta sampai sekarang bikin reportase dan dimuat di mana-mana," katanya dengan suara nyaring.

Di Surabaya, Peter A Rohi lebih dikenal karena kegigihannya "menemukan" rumah tempat kelahiran Bung Karno (Ir Sukarno), presiden pertama Indonesia. Berbekal segepok buku referensi, yang sangat banyak di rumahnya di Kampung Malang itu, Peter dan kawan-kawan dari Sukarno Institute akhirnya pada bulan Bung Karno, Juni 2010, bikin deklarasi besar-besaran bahwa Bung Karno itu arek Surabaya. Beliau lahir di Jalan Pandean IV, Surabaya.

"Ketika berita itu diturunkan media cetak dan media elektronika, beta dikecam orang dari mana-mana. Beta sudah siap menghadapi serangan-serangan itu," katanya. Peter A Rohi diserang karena ngotot memasang prasasti di kampung Pandean IV itu bahwa Sukarno lahir di Surabaya. Padahal selama Orde Baru orang Indonesia diindoktrinasi lewat buku-buku dan pelajaran sejarah bahwa Bung Karno lahir di Blitar.

Karena itu, Peter tidak menyelahkan penulis pidato Presiden Jokowi yang menyatakan Bung Karno lahir di Blitar. "Beta memahami betapa sulitnya meyakinkan orang tentang pelurusan sebuah kebenaran yang sudah lama tertanam dalam benak setiap orang Indonesia pada kurun waktu itu," katanya.

Jangankan Sukarni Rinakit, penulis pidato Jokowi, atau Presiden Jokowi, saat survei lima tahun lalu pun warga Pandean dan Lawang Seketang di Surabaya pun tidak tahu bahwa Bung Karno, sang proklamator, lahir di kampung mereka. Ketua RT, RW, tokoh masyarakat pun tahunya Bung Karno lahir di Blitar. Wartawan-wartawan muda pun tak tahu. Karena itu, hasil riset Peter Rohi dkk ini besoknya menjadi berita besar di media massa Surabaya. Lalu dipasanglah prasasti di rumah itu yang dipimpin Wali Kota Bu Risma Harini.

Peter menjelaskan, sejak 1967 rezim Orde Baru mengganti kota kelahiran Bung Karno, Surabaya jadi Blitar, saat merilis terjemahan buku Soekarno, an Autobiography as told to Cyndi Adams. Terjemahan itu dilakukan ABRI (militer) dengan kata sambutan Presiden Soeharto. "Buku terjemahan itu dibuat dengan menyelipkan pesanan-pesanan khusus untuk mendiskreditkan Bung Karno," kata Peter.

Sejarah memang milik pemenang. Karena itu, setelah Bung Karno dijatuhkan, sejarah versi sang pemenang, Orde Baru, dikeluarkan secara sistematis, terstruktur, dan masif sejak 1967 untuk menggantikan buku-buku sejarah sebelumnya. Generasi yag lahir sejak 1967 dicecoki dengan buku sejarah yang salah itu. Sayangnya, buku Cyndi Adams yang asli, versi Inggris, pun dilarang beredar di Indonesia.

Mmantan direktur sejarah Anhar Gonggong saat berdebat di Metro TV pun saat itu berpendapat Bung Karno lahir di Blitar. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam pun bingung dan minta waktu untuk meneliti kembali "penemuan" yang sebetulnya sudah jadi pengetahuan umum ilmuwan Barat itu.

"Puji Tuhan, setelah arsip-arsip lama dibuka, ternyata saya yang benar!" kata Peter A Rohi bangga.

18 June 2015

Polemik awal Ramadan sangat menarik

Pemerintah menetapkan awal Ramadan 1436 H jatuh pada 18 Juni 2015. Begitu pengumuman Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Alasan menteri yang kader PPP itu karena hilal atau anak bulan sabit yang sangat kecil tidak terlihat menjelang magrib 17 Juli 2015.

"Pengamatan hilal dilakukan di 36 tempat di seluruh Indonesia," kata Pak Menteri dalam konferensi pers hasil sidang isbat di Jakarta yang disiarkan tvOne.

Bagi orang awam, pengumuman pemerintah ini sudah standar. Setiap tahun menjelang puasa juga begitu. Ada kegiatan pengamatan bulan pakai teleskop, kemudian bikin laporan ke Jakarta. Kalau hilal terlihat, maka besoknya puasa atau Lebaran. Kecuali Muhammadiyah yang dari dulu pakai sistem perhitungan atau hisab tanpa perlu memelototi bulan segala.

Bagi mereka yang paham ilmu falak, apalagi astronom, ada yang lucu dalam kegiatan pengamatan hilal di 36 titik kemarin. Mengapa? Sebab konjungsi atau ijtimak terjadi jauh setelah matahari terbenam. Tepatnya pukul 21.05 WIB. Ijtimak itu artinya posisi bulan, bumi, dan matahari sejajar. Inilah batas pergantian hari dalam penanggalan bulan atau Imlek versi Tionghoa.

Lha, kalau konjungsinya jam sembilan malam, mengapa harus capek-capek memelototi ufuk saat surya tenggelam? Hilal atau anak bulan itu tentu tidak akan terlihat. Hil yang mustahal, kata Srimulat tempo dulu. Wong hilal baru terbentuk setelah konjungsi.

Tapi, pemantauan hilal harus dilakukan karena sudah tradisi dari tahun ke tahun. Bukan saja tradisi tapi sudah menyangkut keyakinan atau doktrin agama. Aturan awal puasa memang sudah begitu: mulailah puasa ketika engkau melihat hilal! Jadi, harus dilihat secara visual (harfiah) meskipun ilmu astronomi dengan tegas menyatakan bahwa Selasa 16 Juni 2015 itu hilal tidak akan mungkin terlihat dengan alat secanggih apa pun.

Dulu saya tidak begitu peduli dengan urusan pemantauan hilal, awal puasa, atau kapan Idulfitri. Saya hanya berpatokan pada tanggal merah yang ada di kalender plus pengumuman hari libur yang disampaikan jauh hari sebelumnya. Awalnya sih selalu cocok, khususnya zaman Orde Baru. Tapi, setelah sering terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran, saya mulai tertarik mendalami lagi pelajaran ilmu bumi antariksa zaman SMP dulu.

Saya jadi ingat Pak Martinus (almarhum), guru di SMP di Larantuka Flores, yang sangat piawai menjelaskan konjungsi, rotasi bumi, revolusi, dsb. Ilmu falak inilah yang menjadi dasar penentuan puasa dan lebaran. Saya pun jadi semangat membaca lagi buku lawas atau internet.

Akhirnya, saya jadi sadar dan sangat bisa memahami mengapa sering terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran di Indonesia. Saya pun jadi sangat memahami mengapa Muhammadiyah selalu mengumumkan awal puasa dan lebaran beberapa minggu sebelumnya. Saya juga sangat memahami mengapa harus ada pemantauan bulan meskipun perhitungan astronomisnya sudah sangat jelas.

Intinya, selama belum ada kesepakatan tentang kriteria hilal, ketinggian berapa derajat, usia hilal... maka perbedaan awal puasa dan/atau lebaran akan sering terjadi. Kriteria Mabims (menteri agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) bahwa tinggi hilal itu minimal 2 derajat ternyata tidak sepenuhnya diterima di Indonesia.

Ada ormas yang tidak berpatokan pada ketinggian hilal tapi konjungsi sebelum matahari terbenam. Kalau sudah konjungsi, berapa pun ketinggian hilal, dilihat atau tidak, sudah masuk 1 Ramadan atau 1 Syawal. Sebaliknya, pemerintah dan sebagian besar ormas merujuk pada kriteria Mabims itu. Maka, kalau awal puasa tahun 2015 ini bisa bersama-sama, itu berkat kehendak alam. Bukan hasil pendekatan atau lobi menteri agama dsb.

Lantas, bagaimana dengan 1 Syawal 1436? Kuncinya ya ijtimak atau konjungsi itu tadi.

Data dari Lapan menyebutkan, konjungsi pada akhir bulan Ramadan nanti terjadi pada Kamis 16 Juli 2015 pukul 08.24 WIB. Karena konjungsinya pagi hari, besar kemungkinan si hilal bisa dilihat dengan teleskop karena ketinggiannya 2-3 derajat. Maka, ormas seperti Muhammadiyah bisa dipastikan berlebaran pada 17 Juli 2015.

Apakah pemerintah juga akan sama dengan Muhammadiyah? Secara teori astronomi memang begitu. Tapi, karena hilal harus bisa dilihat mata, bisa jadi bulan baru itu tidak bisa diamati tim pemantau di 36 lokasi seluruh Indonesia itu karena gangguan cuaca dan sebagainya. Kalau sudah begitu, pemerintah bisa saja menetapkan Idulfitri jatuh pada 18 Juli 2015.

Sangat menarik mengikuti polemik tahunan tentang awal puasa dan lebaran di Indonesia. Kita semua, termasuk saya yang tidak berpuasa, dipaksa untuk mendalami kembali ilmu pengetahuan bumi dan antariksa, mata pelajaran lawas versi Orde Baru itu.

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk umat Islam di Indonesia dan di mana saja! Salam damai!

Sekolah pinggiran kalahkan sekolah favorit

Peta mutu sekolah-sekolah di Jawa Timur berubah drastis sejak tahun 2000an. Sekolah-sekolah negeri atau swasta yang dulu favorit, langganan unas terbaik, NEM tertinggi, dan sejenisnya kini nyaris tak terdengar. Sekolah-sekolah di pelosok pun makin unjuk prestasi.

Siapa yang menyangka kalau siswi sebuah SMP di Bangkalan, Madura, justru jadi peraih unas terbaik SMP se-Jatim? Dulu orang memandang sebelah mata Madura yang dianggap kering dan serba tertinggal. Termasuk ketinggalan dalam pelajaran dan kualitas pendidikan. Makan jagung pula.

Kemarin diumumkan peraih nilai ujian sekolah tertinggi tingkat SD/MI se-Jatim. SDN Kedungboto paling tinggi. MI Roudotul Ikhsan Sidoarjo juga tertinggi untuk madrasah ibtidaiyah. Bukan itu saja. Murid SDN Candi Sidoarjo juga tercatat sebagai peraih unas tertinggi tingkat SD. Nilai rata-ratanya 10 alias sempurna!

Sebaliknya, nilai para murid SD di Kota Surabaya malah jeblok. Koran-koran pun menyoroti kegagalan sekolah-sekolah di kota terbesar di Jatim ini yang hampir berulang setiap tahun. Apa sih yang tak ada di Surabaya? Fasilitas pendidikan terlengkap, bahkan berlebih. Guru-gurunya juga mumpuni. Komputer, laboratorium, teknologi informasi dsb melimpah.

Kok bisa kalah sama Madura atau Sidoarjo? Sudah banyak pengamat yang membeberkan alasan kemunduran pendidikan di Surabaya, khususnya di sekolah-sekolah elite, mahal, dan favorit. Juga keberhasilan para murid di sekolah-sekolah pinggiran yang makin moncer dalam kompetisi ujian sekolah atau ujian nasional.

Kalau dicermati saksama, kualitas pendidikan cenderung makin merata di Jatim. Wilayah terpencil yang dulu krisis guru, buku, gedung dsb kini mulai teratasi. Bahkan, saya lihat sendiri guru-guru yang mengajar di sekolah paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo, SDN Gebang 2, Dusun Pucukan, Kecamatan Kota, punya dedikasi yang luar biasa. Selain punya kompetensi yang sama dengan guru-guru di kota.

Bu Sumini misalnya tak ingin pindah ke sekolah di kota meskipun harus naik perahu motor selama satu jam lebih ke Pucukan setiap hari kerja. Kalau air surut, guru-guru bisa tertahan berjam-jam di kampung tambak itu. Anak-anak SD di Pucukan diajar layaknya murid bimbingan belajar. Sangat intensif.

Buku-buku pun saya lihat menumpuk. Komputer yang tidak ada karena listrik PLN belum masuk. "Kalau anak-anak mau belajar aja, insyaallah, mereka tidak akan kalah dengan teman-temannya di Sidoarjo atau Surabaya," kata Bu Sumini.

SDN Kedungboto yang jadi juara pertama unas di Jatim tahun ini tentu tidak seterpencil SDN Gebang 2 di Pucukan. Tapi, untuk ukuran Sidoarjo, Kedungboto tetap sulit diakses dari jalan raya. Tidak banyak orang yang mengenal Desa Kedungboto, kecuali warga Kecamatan Porong. Itu pun hanya desa-desa tetangga seperti Wunut atau Candi Pari.

Selama ini Kedungboto jadi terkenal gara-gara Lapindo Brantas Inc. Jauh sebelum terjadi semburan lumpur di Porong itu, 29 Mei 2006, Lapindo sudah memiliki instalasi pengolahan gas di Kedungboto. Gas bumi inilah yang membuat Lapindo bisa kaya-raya sebelum terkena karma di sumur Banjarpanji 1. Seandainya tidak ada instalasi gas itu, orang Sidoarjo, khususnya di bagian utara, tak akan kenal Kedungboto.

Nah, setelah lama tak ada kabarnya di media massa, baru kemarin itu muncul berita menarik dari Kedungboto. Hasil unas SDN Kedungboto tertinggi di Jawa Timur. Luar biasa! Tak ada yang menyangka kalau kampung terpencil yang dulu penuh dengan tanaman tebu puluhan hektare itu memiliki anak-anak yang sangat cerdas.

"Ini berkat pembinaan yang sudah kami lakukan selama bertahun-tahun. Juga kerja sama dengan orang tua, guru, siswa, dinas pendidikan, serta semua elemen yang terkait," kata Pak Djoko Supriyadi dari Dinas Pendidikan Sidoarjo.

16 June 2015

Sidoarjo hebat di olahraga populer

Pekan olahraga provinsi (porprov) Jawa Timur di Banyuwangi baru saja usai. Kota Surabaya seperti diduga unggul sangat telak atas 37 kabupaten/kota lain. Surabaya meraih 118 emas disusul Kota Malang dengan 42 emas. Betapa jomplangnya kekuatan olahraga di Jawa Timur. Surabaya seperti bermain sendiri di porprov dua tahunan itu.

Sidoarjo, kabupaten kesayangan kita, naik satu tingkat dari urutan ke-5 dua tahun lalu menjadi ke-4. Target tiga besar meleset. "Lawan-lawan kita ternyata lebih siap. Kita kewalahan," kata Pujianto, pengurus KONI Sidoarjo.

Lumayan, dengan 30 medali emas, Sidoarjo kalah dari Surabaya, Malang, dan Kediri. Kabupaten Malang masih di bawah Sidoarjo. Begitu juga Gresik yang dapat 30 emas tapi kalah perak dan perunggu.

Yang menggembirakan, meski kalah jauh sama Surabaya, tim Sidoarjo justru unggul di olahraga permainan yang populer. Bola voli dapat emas putra dan putri. Futsal dapat emas dan semakin sulit ditandingi di Jatim. Bola basket juga Sidoarjo gak punya lawan berat setelah Surabaya ditaklukkan di babak kualifikasi.

Sepak bola dapat medali perak alias juara dua. Anak-anak asuhan Istikoh Hadi Susanto itu kelelahan di partai final melawan Tulungagung. Waktu istirahatnya kurang ketimbang Tulungagung yang dapat emas. Tapi secara teknik dan permainan, balbalan Sidoarjo boleh dikata the best di Jatim. Untuk kelas pemain-pemain muda U-21 di ajang porprov ini.

Apresiasi khusus perlu diberikan kepada pelatih Istikhoh. Sebab tim asuhannya hanya satu kali kalah sejak babak kualifikasi, penyisihan, hingga final. Satu-satunya kekalahan ya saat lawan Tulungagung di final itu. Padahal, ketika ditunjuk sebagai pelatih Sidoarjo, hampir semua pengamat dan praktisi bola di Sidoarjo sangat meragukan kemampuan pria asal Sukodono itu.

Dari dua kali porprov di Madiun dan Banyuwangi, kita bisa mengambil banyak hikmah. Ternyata Sidoarjo ini lemah di cabang-cabang olahraga yang punya banyak stok medali. Kita lemah di olahraga terukur. Tapi kuat di olahraga permainan yang sangat populer seperti basket, voli, futsal, atau sepak bola yang medalinya cuma satu atau dua (putra dan putri).

Selain Surabaya dan Malang, Sidoarjo sebetulnya punya fasilitas olahraga bertaraf nasional, bahkan internasional. Lintasan atletik kelas dunia ada di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Kolam renang juga banyak. Satu-satunya SMA negeri olahraga di Jatim pun ada di Sidoarjo. Sayang, siswa-siswi atlet Smanor ini memperkuat daerah asalnya masing-masing saat porprov.

Mudah-mudahan Sidoarjo, Malang, dan kota/kabupaten lain di Jatim lebih serius menggembleng atlet agar bisa mengimbangi Surabaya. Jangan kayak sekarang. Porprov baru jalan tiga hari (total 7 hari), Surabaya sudah dipastikan jadi juara umum.

Salam olahraga!

Bahasa Indonesia memperlemah bahasa daerah

Saya baru saja menonton pertandingan sepak bola Cile vs Meksiko di Kompas TV. Cukup menarik. Kedua kesebelasan ngotot dan tercipta banyak gol. Tapi, yang lebih menarik bagi saya justru Christian Carrasco. Bekas penyerang Persebaya yang asli Cile itu jadi komentator.

Luar biasa si Carrasco ini. Beberapa tahun lalu, ketika saya bertemu sang pemain berjuluk Spiderman itu (karena selalu pasang topeng spiderman selepas mencetak gol), bahasa Indonesianya masih patah-patah. Kosa katanya belum banyak. Tapi di televisi pagi ini, 16 Juni 2015, bahasa Indonesianya lancar sekali. Bahkan lebih lancar ketimbang sebagian orang Indonesia asli.

Tidak gampang jadi analisis di televisi. Selain fasih bahasa Indonesia, bicara cepat, harus punya pemahaman teknik sepak bola yang detail. Dan saya perhatikan Carrasco tidak kalah dengan komentator lokal. Saya pun langsung refleksi? Bertanya dalam hati.

Mengapa Carrasco yang belum lama di Indonesia sudah punya kemampuan berbahasa Indonesia level tinggi? Sebaliknya, mengapa Om Edi di Surabaya dan Om Anton di Malang (keduanya asli Flores NTT) yang sejak 1970an tinggal di Pulau Jawa tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar? Cuma paham secara pasif. Itu pun tidak 100 persen.

Jawabannya: karena bahasa Indonesia! Carrasco yang buta bahasa Inggris, meski berasal dari Amerika Latin, setiap hari dipaksa teman-teman dan lingkungan di Indonesia agar berkomunikasi dalam bahasa nasional itu. Ketidakmampuannya berbahasa Inggris justru jadi nilai plus untuk lebih cepat berbahasa Indonesia. Orang Indonesia pun tidak bisa bahasa Inggris. Lingkungan yang sangat kondusif bagi Carrasco, juga pemain-pemain bola asal Amerika Latin, untuk lancar berbahasa Indonesia.

Seandainya Carrasco fasih berbahasa Inggris, kemudian teman-temannya di Surabaya (dan kota lain) juga melayaninya dengan english, meski tidak fasih, maka Carrasco tidak akan bisa berbahasa Indonesia selancar sekarang. Ini juga alasan mengapa para TKW di Hongkong sangat cepat berbahasa Kanton meski baru satu dua tahun bekerja di sana. Karena sang majikan setiap hari hanya berbahasa Kanton itu.

Bapak Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN, dulu pun sengaja tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota di Tiongkok untuk belajar bahasa Mandarin langsung dari tuan rumah dan penduduk setempat. Beliau memastikan tidak ada warga yang bisa berbahasa Inggris atau Indonesia. Maka, mau tidak mau, Pak Dahlan dipaksa berbahasa Mandarin. Dan hasilnya memang dahsyat.

Sebaliknya, di Pulau Jawa, khususnya kota-kota besar, semua orang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Bahasa Indonesia benar-benar efektif sebagai alat komunikasi antaretnis yang berbeda di Indonesia. Ketika berhadapan dengan orang Flores, Maluku, Papua, Batak dsb, orang Surabaya atau Malang atau Jember dsb secara otomatis berbahasa Indonesia.

Para pendatang macam Om Anton atau Om Edi tidak dipaksa untuk berbahasa Jawa. Apalagi bahasa Jawa punya beberapa tingkatan yang tidak mudah dikuasai, bahkan oleh orang Jawa sendiri. Ketimbang keliru, melanggar unggah-ungguh, orang Jawa di kota besar lebih suka bermain aman dengan bahasa Indonesia. Maka, jangan heran kalau Om Anton dan Om Edi (dan hampir semua orang NTT di Jawa) tidak akan pernah menguasai bahasa Jawa hingga level tinggi.

Sebaliknya, Ibu Acha yang asli Jawa Barat, bahasa ibunya bahasa Sunda, ternyata sangat fasih berbahasa Lamaholot, bahasa daerah di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, NTT. Padahal, ibu ini baru dua tahun tinggal di Lembata bersama suaminya yang asli Lembata setelah merantau di Malaysia. Mengapa Ibu Acha bisa selancar itu berbahasa Lamaholot?

Kasusnya sama dengan Christian Carrasco, mantan pemain Persebaya tadi. Di Lembata, khususnya di desa-desa pelosok macam kampung saya, semua orang berbahasa Lamaholot. Sangat jarang orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar kecuali PNS, guru, katekis, atau pastor. Maka, mau tidak mau, orang luar macam Ibu Acha ini dipaksa untuk berbahasa Lamaholot.

"Lebih enak bicara bahasa daerah saja deh," kata Ibu Acha kepada saya beberapa waktu lalu. Lama-lama, kalau keasyikan bahasa Lamaholot, kefasihan bahasa Indonesia orang Sunda ini akan merosot. Contohnya Mama Sawia (asal Sulawesi) dan Mama Hamid (Jawa Tengah) yang sudah tinggal 30an tahun di pedalaman Flores Timur.

15 June 2015

Indonesia hancur di SEA Games 2015

Betapa mundurnya olahraga di Indonesia. Tidak hanya sepak bola, yang dari dulu memang sulit maju, puluhan cabang olahraga lain pun makin sulit maju. Atau, jalan di tempat. Atau, maju, tapi negara-negara lain maju lebih cepat.

Saat ini Indonesia bahkan sudah tertinggal jauh di Asia Tenggara. Perhatikan perolehan medali di SEA Games 2015 yang sedang berlangsung di Singapura. Indonesia hanya duduk di posisi ke-5. Nomor 1 Singapura dengan 66 emas. Indonesia cuma 30 emas. Besok lusa akan ada perubahan jumlah medali, tapi rasanya posisi Indonesia masih tetap di nomor 5.

Bayangkan, saudara-saudara, Indonesia yang penduduknya 250 juta orang jauh tertinggal dari Singapura yang hanya 5 juta jiwa. Vietnam yang dulu kita kenal di pelajaran SMP sebagai negara bergejolak, perang saudara, sulit maju, malah jadi runner-up. Perolehan medali Vietnam pun jauh di atas Indonesia. Opo tumon?

Beberapa hari terakhir, saya menyaksikan siaran langsung beberapa pertandingan SEA Games di televisi. Balbalan Indonesia vs Thailand, yang dicukur gundul 5-0, kemudian bola voli putri yang juga keok sama Thailand. Betapa bedanya kualitas atlet-atlet kita dengan Thailand. Padahal, sama-sama makan nasi. Beda dengan Jerman atau Tiongkok yang tidak makan nasi.

Saya pun teringat masa lalu, ketika satu-satunya televisi di Indonesia, TVRI, menyiarkan dari gelanggang ke gelanggang SEA Games ini. Televisi masih hitam putih, nonton bareng di rumah tetangga, atau di halaman balai desa. Indonesia waktu itu begitu mudahnya dapat medali emas. Para atlet kita tidak perlu ngoyo tapi menang... kecuali sepak bola yang selalu disikat Muangthai alias Thailand ini.

Maka, begitu pertama kali ikut SEA Games, Indonesia langsung juara umum. Perolehan medali emas, perak, dan perunggu pun jauh dibandingkan dengan negara-negara peserta lawas macam Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, apalagi Brunei Darussalam yang cuma punya 250 ribu penduduk itu.

Begitu perkasanya Indonesia, di masa Orde Baru, negara-negara lain sepertinya kalah sebelum bertanding. Indonesia juga cenderung mengendorkan permainan sehingga perolehan medali berkurang di SEA Games berikutnya. Tapi tetap nomor 1 dengan selisih medali yang signifikan.

Saya masih ingat zaman itu Singapura hanya panen medali emas di kolam renang lewat Nurul Huda Abdullah, yang memang ratu renang masa lalu. Juga Ong Beng Tiong. Berkali-kali Nurul Huda muncul di TVRI karena sering dapat emas. Di cabor-cabor lain, Singapura gak ada apa-apanya.

Saya pun jadi malas lihat SEA Games karena Indonesia terlalu kuat. Njomplang, kata orang Jawa. Tapi, rupanya negara-negara yang dulu lemah, bergejolak, perang saudara, diam-diam menyusun kekuatan. Membina atlet muda secara sistematis dan masif. Singapura yang negara mungil itu, bandingkan dengan Provinsi Jawa Timur yang penduduknya 40 juta, diam-diam ingin menjadi raja Asia Tenggara di bidang olahraga.

Sebaliknya, Indonesia tenang-tenang saja. Pembinaan olahraga malah makin lama makin buruk. Lapangan-lapangan bola, badminton, basket, hoki... pelan-pelan hilang. Jadi perumahan, kantor, pergudangan, atau minimarket. Pengurus olahraga macam PSSI pun asyik dengan konfliknya yang tidak kunjung selesai. Regenerasi pengurus olahraga pun mandek. Sejak zaman saya kecil sampai sekarang pun Bob Hasan masih menjabat ketua PASI (atletik).

Maka, lengkap sudahlah nestapa olahraga Indonesia. Indonesia Hebat cuma tinggal slogan buat banyolan di warung kopi saja. Apanya yang hebat, Bu Puan? Apanya yang hebat, Pak Imam Nahrawi? Apanya yang hebat Pak Jokowi?

Kalau situasinya begini terus, budaya konflik dipelihara PSSI, mafia ikut bermain di olahraga, mungkin suatu ketika Indonesia disalip Myanmar, Kamboja, Laos, Brunei, bahkan Timor Leste.

13 June 2015

Balai Pemuda dan kesenian yang buntet

Hampir tidak ada isu kesenian yang menonjol yang bisa dibahas di Surabaya. Setiap kali bertemu seniman-seniman Surabaya dan Sidoarjo, isunya soal konflik melulu. Kemarin, Herman Benk, seniman gaek yang dulu mangkal di Balai Pemuda, sekarang tinggal di Waru Sidoarjo, bercerita soal Balai Pemuda.

"Sudah denger belon? Balai Pemuda katanya mau direnovasi (Pemkot Surabaya) tapi seniman tidak diajak bicara. Mau dibawa ke mana kesenian di Surabaya? Seniman itu manusia yang mudah diajak rundingan kok," kata Pak Benk, seperti biasa, dengan nada tinggi.

Meskipun warga Sidoarjo, Pak Benk ini lebih banyak bergiat di Surabaya. Dia punya rasa memiliki yang tinggi terhadap Balai Pemuda itu. Maka, pelukis yang rajin bikin sketsa yang ruwet itu geram ketika ada pengurus Dewan Kesenian Surabaya (DKS) yang tiba-tiba merenovasi salah satu galeri di Balai Pemuda. "Tidak bisa begitu caranya meskipun paka uang sendiri. Ngomong dong yang enak," katanya.

Kali ini Pemkot Surabaya yang merenovasi Balai Pemuda secara besar-besaran. Gedung lawas peninggalan Belanda ini, cagar budaya, perlu dibuat kinclong. Agar seniman-seniman Surabaya bisa berkiprah dengan enak. Tapi, ya itu tadi, pemerintah dari dulu punya mentaliteit projek dan anggaran. Sering lupa mengajak bicara para seniman, setidaknya perwakilan seniman. Toh, gedung di pusat kota itu kan nantinya dipakai para seniman dan warga untuk ekspresi seni budaya.

Chrisman, ketua Dewan Kesenian Surabaya, juga meminta agar renovasi Balai Pemuda ditunda dulu. Alasannya, DKS sempat merenovasi secara swadaya. yang dimaksud swadaya itu tentu pemugaran galeri yang dilakukan pelukis Asri Nugroho dkk beberapa waktu lalu. "Kami memang pernah minta renovasi enam tahun lalu. Tapi tidak ada realisasi. Makanya, DKS berusaha melakukan renovasi secara swadaya," katanya.

Chrisman juga khawatir renovasi yang dilakukan pemkot itu bisa merusak bangunan cagar budaya.

Seperti diperkirakan, rencana renovasi Balai Pemuda langsung jadi isu panas di Surabaya dan sekitarnya. Diskusi soal ini, pro vs kontra, meluas di media sosial. Kata-kata kasar pun muncul di sana sini. Maklum, dari dulu hubungan antara para seniman dan pemerintah memang tidak begitu baik. Seniman dianggap seenaknya sendiri, sebaliknya pemerintah dinilai tidak mengerti kesenian.

Freddy H Istanto, dosen Universitas Ciputra yang juga pimpinan Sjarikat Poesaka Soerabaia, juga meminta ada rembuk bersama para seniman, pemkot, dan pihak lain yang terkait tentang rencana renovasi Balai Pemuda. Freddy menulis: "Niat PemKot u me-restorasi Bangunan Cagar Budaya ini harus didukung. Pihak2 yg terkait ya harus diajak ngomong. Kalo perlu makan2 dulu, kayak kerjasama ketika jaman Sjarikat Poesaka Soerabaia (SPS) akan mengecat Balai Pemuda tahun 2011."

Soeparmin Ras, juga seniman senior, meminta Pemkot Surabaya ngewongke masyarakat/seniman dengan bermusyawarah. Bicara baik-baik soal renovasi Balai Pemuda karena tujuannya juga baik. Seniman hanya ingin tidak terpinggirkan setelah gedung direnovasi. 

"Prinsipnya, seniman dan kesenian ini tak akan dipinggirkan dengan alasan apa pun, dan harus ditepati benar. Jangan nanti ganti penguasa (wali kota) terus ganti lagi kebijakan," katanya.

Soeparmin melanjutkan, "Sebenarnya apa sih kesulitan atau kerugianya dengan memfasilitasi seniman dan keseniannya untuk tampil di tempat bersejarah dan cukup bergengsi ini? Khan ujung-ujungnya juga nama Surabaya plus pemerintahnya juga yang dapat nama harum. Terlebih hal ini menunjukkan jiwa pekanya, jiwa halusnya, ketinggian rasa asihnya.... Jangan sampai yang indah hanya luarnya saja, taman taman dan sebagainya."

Joko Irianto Hamid, arek Suroboyo, wartawan senior, juga sineas, kecewa berat dengan perkembangan kesenian di Balai Pemuda. Cak Joko membandingkan gejolak kesenian masa lalu di Surabaya yang sebagian besar berpusat di Balai Pemuda. "Balai Pemuda itu pernah jadi pabrik kreator, mulai seni rupa, musik, teater, film. Mulai Amang Rahman cs sampai era Heri Dono, Dara Puspita sampai era Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Basuki Rahmat, Akhudiat-Bawong sampai era Nuri, era Gatot Kusumo," katanya.

Cak Joko mengingatkan, Surabaya (dulu) identik sebagai kota berkesenian heroik. Contoh produk kesenian heroik itu mulai dari orde WR Soepratman, Dara Puspita, Leo Kristi, Gombloh, Franky, The Gembel's, Sawung Jabo sampai generasi Netral. Produk teater mulai era Cak Durasim, Markeso, sampai Kartolo.

"Tapi belakangan buntet. Peran para broker bertopeng maesenas membuat Balai Pemuda berubah, gak beda dengan budaya mainstream Pasar Atom. Sebagai arek Suroboyo, saya kecewa berat," tegas Cak Joko yang pernah sibuk mengurusi persatuan artis sinetron itu.

12 June 2015

Gus Kholiq populerkan paranormal di Sidoarjo



Sejak 2003, Gus Kholiq Waseso Puro aktif mengadakan Gelar Seni Budaya Nusantara di Pendapa Delta Krida Budaya, Sidoarjo. Pria asal Tulangan itu yang juga ketua Ikatan Paranormal Indonesia (IPI) itu ingin agar masyarakat tidak lagi melecehkan paranormal, dukun, pengobatan tradisional, yang merupakan warisan budaya leluhur.

"Sebagian besar masyarakat kita itu tidak fair. Kalau punya hajat seperti mantenan minta bantuan pawang hujan atau orang pinter. Ingin jadi kepala desa, datang minta bantuan orang pinter. Sakit nggak sembuh-sembuh, datang ke pengobatan alternatif. Tapi, di sisi lain, mereka sering mencela keberadaan pawang hujan atau paranormal," ujar Gus Kholiq.

Selama ini, menurut pria yang punya pondok pesantren di kawasan Tulangan dan Waru ini, banyak warga memperoleh informasi yang kurang tepat tentang paranormal, supranatural, benda-benda pusaka, dan sebagainya. Informasi itu bahkan diperoleh dari orang-orang yang antiparanormal. "Makanya, sejak tahun 2013 saya dan teman-teman mengadakan pameran supranatural di Sidoarjo. Biar warga bisa berinteraksi langsung dengan paranormal," ujarnya.

Dalam pameran kali ini, Gus Kholiq mengajak sejumlah rekannya, sesama anggota IPI, untuk membuka stan di pendapa di Jalan Sultan Agung Sidoarjo. Di antaranya, Gus Nur Kholik (Madiun), Mbah Macan Putih (Solo), Ki Amar (Jakarta), Gus Nanak (Surabaya), Solikin (Ponorogo), Suhu Indra (Sidoarjo), dan Den Sayyid Asmoro Bangun (Sidoarjo).

"Pesertanya terbatas karena lokasinya tidak memungkinkan. Saya juga memberi kesempatan kepada teman-teman yang belum pernah ikut," kata pria bernama asli Abdul Kholiq ini.

Di ajang gelar budaya Nusantara 2015 di Sidoarjo, Gus Kholiq mengadakan magic show, demo debus, hipnotis, mentalis, hingga lelang batu akik. Atraksi yang menegangkan ini selalu diminati masyarakat. "Limbad itu dulu sebelum terkenal, ya, atraksi di Sidoarjo. Begitu juga Bayu Gendheng," tuturnya.

Tampilnya Limbad, Bayu Gendheng, serta sejumlah mentalis di televisi nasional, menurut Gus Kholiq, sangat membantu mengangkat reputasi paranaromal di tanah air. Perlahan-lahan warga tak lagi mencibir keberadaan paranormal setelah menikmati magic show.

"Demam batu akik sekarang ini juga membuktikan bahwa kita punya kekayaan spiritual yang luar biasa. Sebab, batu akik itu bukan sekadar batu biasa, tapi punya nilai budaya yang tinggi," katanya. (*)

Kolom agama yang kebablasan

Sudah lama ada debat perlu tidaknya kolom agama di KTP. Di Indonesia yang penduduknya wajib beragama resmi tentu protes kalau kolom agama dihapus. Yang jadi masalah, orang Indonesia yang menganut agama di luar 6 agama resmi itu masih buanyaaak.

Anehnya, kepercayaan atau agama tidak resmi itu justru hampir semuanya agama lokal. Asli dari bumi nusantara. Enam agama resmi sejatinya dari luar Indonesia. Tapi pemerintah, khususnya Orde Baru, melakukan diskriminasi yang sistematis selama bertahun-tahun terhadap penganut agama lokal itu. Sekadar ditulis di kolom KTP pun jadi masalah.

Ihwal kolom agama di KTP akan selamanya jadi debat yang tak ada ujungnya. Yang agak menggelikan, sampai sekarang masih banyak warga yang membawa-bawa agama untuk urusan yang tidak ada kaitan dengan iman atau keyakinan. Waktu mau ikut lomba makan kerupuk atau mancing, ada saja panitia yang mencantumkan kolom agama untuk diisi peserta.

Mungkin untuk kepentingan penguburan kalau ada peserta yang meninggal, kata saya dalam hati. Biar tidak salah memanggil rohaniwannya. Kalau yang meninggal beragama Hindu, sementara rohaniwan yang pimpin doa Islam kan payah! Makanya, kolom agama perlu ada di SIM, siapa tahu pengendaranya celaka fatal di jalan raya.

Belum lama ini saya iseng-iseng mampir ke sebuah stan sepeda motor dalam pameran di Sidoarjo. Ramai sekali orang antre mencoba simulator kendaraan bermotor. Mirip game yang menarik untuk latihan menghadapi kondisi lalu lintas di jalan. Saya pun ikut antre mendaftar agar bisa menjajal simulator itu.

Selain nama, alamat, nomor telepon, email, saya kaget sekali karena ada... kolom agama yang harus diisi. Mengapa urusan remeh-temeh macam ini, mencoba simulator, harus diisi agama seseorang? Saya lihat tidak ada yang keberatan menulis agamanya di form itu. Dari 40an pendaftar, hanya dua orang Kristen, sedangkan lainnya Islam.

Saya protes keras. Tapi cuma dalam hati saja. Caranya dengan tidak jadi mendaftarkan diri menjadi peserta simulasi berkendara di stan yang dijaga beberapa SPG cantik itu. Mengapa kita harus mengisi kolom agama untuk urusan yang jauh dari pernikahan atau kematian? Saya pun malas bertanya, apalagi berdebat dengan SPG-SPG, yang pasti tidak tahu tujuan kebijakan itu.

Di negara-negara Barat yang sekuler, agama dianggap urusan privat. Mau beragama silakan, mau ateis monggo, mau bertuhan tapi tidak beragama boleh. Bahkan paham yang antiagama pun diberi tempat. Di Indonesia tentu tidak bisa sebebas di Barat. Kolom agama justru sangat penting di KTP. Cari pacar atau istri (bahkan wanita simpanan) pun harus dipastikan agamanya sama.

Tapi, kalau urusan agama dibawa ke mana-mana, rasanya kok terlalu berlebihan.

Dian Piesesha diburu orang Swiss

Di media sosial, dia dikenal dengan nama Dida Daniar Amaraja. Teman atawa followernya buanyaaak banget. Maklum, tahun 1980-an sampai 1990-an Mbak Dida ini sangat terkenal dengan lagulagu pop manis ciptaan Pance Pondaag (almarhum). Antara lain Tak Ingin Sendiri, Mengapa Tak Pernah Jujur, Cemara-Cemara Cinta.

Ya, Dida Daniar Amaraja ini tak lain Dian Piesesha. Sempat sakit keras, operasi berat segala, tapi alhamdulillah sekarang sehat. Dan masih menyanyi di kalangan terbatas. Sulit masuk televisi karena TV-TV di Indonesia hanya kasih tempat untuk artis yang berusia di bawah 30 tahun.

Menariknya, Dian Piesesha ini masih diburu para penggemar lamanya, yang tentu saja sudah jadi om dan tante. Belum lama ini Tonny, orang Swiss, datang ke Indonesia untuk berlibur. Sekaligus ingin bertemu Dian Piesesha, penyanyi lawas idolanya. Menarik karena biasanya orang Indonesia yang gila artis Barat, kayak saya (dulu) gila Whitney Houston dan George Benson, tapi Tonny malah begitu gila sama Dian Piesesha.

Akhirnya, Tonny ketemuan, makan bersama Dian Piesesha alias Dida Daniar Amaraja, didampingi Leonard Kristianto, produser JK Records, Jakarta. Dian Piesesha populer berkat kaset-kaset yang diproduksi JK (Judhi Kristianto) Records. Leonard yang lulusan USA ini tak lain putra Judhi Kristianto. Dia mencoba meneruskan jejak JK Recods di industri musik meskipun tertatih-tatih karena bisnis musik berubah total dengan revolusi digital dan IT.

Leonard Kristianto mengunggah foto dengan caption: "Dinner meeting with tante DP dan Tonny the bridge builder, salah satu fans tante datsng dari Swiss. Siapa bilang kalo orang bule gak suka lagu Jeka, ini buktinya dan dia fasih bahasa Indonesia."

Ceritanya, ketika Dian Piesesha dan artis-artis JK lagi di atas angin (Meriam Bellina, Lydia Natalia, Ria Angelina, Annie Ibon, Chintami Atamanegara, dsb), Tonny asal Swiss ini lagi sibuk-sibuknya garap proyek jembatan d Indonesia. Khususnya di daerah terpencil yang bahkan sulit dijangkau pemerintah. Saat itulah Tonny nguping lagu-lagu pop Indonesia. Jatuh cintalah dia sama suara Dian Piesesha, Tak Ingin Sendiri dan sejenisnya.

"Tonny dapat kaset saya di Malaysia," tutur Dian Piesesha.

Hari berganti, bulan berlalu, usia Tonny, Dian, kita semua bertambah. Kenangan akan lagu-lagu pop manis (Menteri Harmoko dulu bilang lagu cengeng) selalu tertanam di benak sang pembangun jembatan. Bagaimana dia bisa ketemu Dian Piesesha, makan bersama, ngobrol santai?

"Lucu juga ya... dia sudah 20 tahun lebih nyari si DP, akhirnya ketemu juga lewat orang NTT hahaha...," kata Dian Piesesha.

Tidak disebutkan siapa orang NTT itu. Yang jelas, saya akui lagu-lagu ala Dian Piesesha (JK Records) memang sangat populer di NTT. Apalagi, dulu JK Records juga punya pencipta lagu terkenal bernama Obbie Messakh, yang tak lain putra bangsawan Pulau Rote, NTT. Mungkin orang NTT yang kebetulan berada di Swiss (biasanya pastor) yang bikin Tonny mau datang jauh-jauh ke Indonesia untuk bertemu artis idolanya.

Seperti biasa, dengan rendah hati Dian Piesesha mengatakan, "Seorang DP (Dian Piesesha) dari dulu ga seperti artis lain... Saya lebih santai, ga aji mumpung, ngejalanin hidup apa adanya, ya ketemunya ahirnya dengan orang yg biasa aja yg baik2, jauh dari dunia keartisan..."

10 June 2015

Hancurnya kompetisi internal di Malang dan Surabaya



Pelatih Rohanda menggembleng pemain-pemain muda di Malang (foto beritajatim).

"Dulu kompetisi (internal) dalam kota saja, yang menonton selalu penuh. Kalau sekarang, Persebaya main saja belum tentu penuh. Apalagi kalau kalah… Dari klub-klub internal dipilih yang terbaik dan dilawankan dengan klub luar negeri. Saya pernah melawan Locomotive Moscow."


Yang ngomong ini bukan orang sembarangan. Dialah Prof Dr Isack Adri Ferdinandus, pemain top Persebaya era 1950an, yang lebih dikenal sebagai guru besar fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Setiap kota memang punya perserikatan atau bond yang beranggotakan puluhan klub (sekaligus SSB). Klub-klub ini dibagi menjadi kelas utama (yang kuat-kuat), kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Kota besar macam Surabaya atau Jakarta punya kelas veteran.

Sebelum sepak bola nasional centang perenang seperti sekarang setiap kota, khususnya di Jawa, seakan berlomba menghidupkan kompetisi internal. Di Jawa Timur, selain Persebaya Surabaya, ada Persema Malang (Arema belum ada), Persegres Gresik, Persida Sidoarjo, Persik Kediri, atau Persid Djember.

Yang paling top di Jatim adalah Persebaya dan Persema. Karena itulah, suporter bola kedua kota ini selalu menjadi musuh bebuyutan sampai sekarang. Sebelum kick off pun biasanya, pemain-pemain Persebaya sudah diteriaki, bahkan dilempar, kalau main di Stadion Gajayana Malang. Sebaliknya, pemain-pemain Persema pun diperlakukan sama kalau main di Stadion Tambaksari Surabaya.

Saya sendiri, dulu, begitu gandrung dengan kompetisi internal di Kota Malang. Bukan apa-apa, hampir setiap hari saya menyaksikan latihan PS Indonesia Muda dan PS Angkatan Darat (PSAD) di Lapangan Ajendam di belakang Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA). Indonesia Muda dan PSAD adalah dua dari sekitar 20 klub utama Persema Malang.

Tapi saya lebih gandrung Indonesia Muda yang dilatih Bapak Rohanda. Pemain-pemainnya masih muda, 20an tahun, bahkan belasan tahun, tapi sangat berbakat. Ngotot, tempo tinggi, selalu berlari cepat sepanjang laga. Kalau malas lari ya dihukum sama Pak Rohanda, pelatih terkenal asal Malang itu.

Rohandak juga mengharamkan kiper (Mas Dwi, belakangan jadi kiper top Arema) menahan bola lama-lama. Bola harus langsung ditendang atau dilempar agar tempo permainan tidak rusak. Padahal waktu itu hampir semua kiper suka berlama-lama memainkan bola karena belum ada aturan back pass seperti sekarang. Pak Rohanda memang sangat visioner.

Saya yang aslinya wong ndeso, dari pelosok NTT, tiap hari melihat langsung metode pelatihan, coaching, kelas nasional di klub Indonesia Muda yang rutin berlatih di Lapangan Ajendam Malang. Kok bisa? Saya tinggal di rumah kos persis di depan stadion milik TNI AD itu. Tidak perlu ke lapangan pun kita bisa mendengar dengan jelas teriakan-teriakan Pak Rohanda. Juga Pak Karno, pemain senior yang jadi asisten pelatih. Betapa senangnya melihat mas Gito, striker IM yang sangat haus gol.

IM (Indonesia Muda) ini memang luar biasa untuk ukuran Kota Malang. Setiap tahun selalu juara 2 kompetisi internal Persema. Juara pertama (hampir) selalu Gajayana FC, klub yang diperkuat sebagian besar pemain top Persema. Tapi sering juga Gajayana yang mesnya di dekat Splendid Kali Brantas itu diganyang Indonesia Muda yang benar-benar muda dan trengginas. Sehingga beberapa pemain Indonesia Muda diambil untuk memperkuat Persema.

Setiap hari Sabtu dan Minggu digelar kompetisi internal di Stadion Gajayana. Sebagai penggemar Indonesia Muda, yang setiap hari menyaksikan latihannya, saya dan teman-teman datang ke stadion kebangaan arek-arek Malang itu. Bayar! Stadion memang tidak penuh tapi selalu terisi di atas 60 persen. Kalau Gajayana lawan Indonesia Muda, stadion bisa terisi 80-90 persen.

Meski cuma kelas internal, amatir pula, semua klub internal di Malang Raya (klub-klub di Kabupaten Malang dan Kota Batu masih gabung Persema) punya pendukung fanatik. Khususnya klub-klub 5 besar macam Gajayana, Indonesia Muda, Jagung, HW, PSAD, Armada. Suasana kompetisi begitu semarak.

Sayang, semarak kompetisi internal di Malang dan Surabaya (juga kota-kota lain) kini tinggal kenangan. Persema bahkan sudah lama dicoret PSSI karena dianggap ilegal. Gara-gara ikut kompetisi IPL (Indonesia Premier League) yang diharamkan PSSI versi Nurdin Halid + Djohan Arifin + La Nyalla. Persema pun hilang dari peredaran.

Aneh, klub lawas yang sudah ada sejak tempo doeloe kok dicoret begitu saja dari peta sepak bola Indonesia. Untung masih ada Arema yang masih membawa nama besar Malang di kancah balbalan Indonesia. Tapi hilangnya Persema tentu saja ikut merusak kompetisi internal yang dulu sangat semarak itu. Saya sendiri sudah lama tidak mengikuti perkembangan klub-klub lawas macam IM atau Gajayana di Malang.

Di Surabaya pun sama saja. Kompetisi internalnya sudah lama hancur lantaran Persebaya pecah jadi dua: Persebaya 1927 dan Persebaya ISL. Sebagian besar klub internal ikut Persebaya 27, sementara klub-klub lain ikut yang satunya.

Persaingan klasik antara Surya Naga (d/h PS Tionghoa kemudian Naga Kuning) dan Asyabaab pun tak ada lagi. Orang Surabaya yang paling gila bola sekalipun sudah tak tahu perkembangan klub-klub internal di Surabaya. Jangankan kompetisi internal, pertandingan Persebaya di kasta tertinggi, ISL, pun sepi penonton. Masih jauh lebih banyak penonton kompetisi internal era sebelum gonjang-ganjing bola nasional.

Pengurus PSSI, pembina sepak bola, dan berbagai elemen balbalan di tanah air sudah lama melupakan pembinaan dari bawah. Kompetisi internal tak lagi dianggap penting. Buat apa kompetisi internal kalau pemain-pemain bisa dibeli untuk ikut ISL atau divisi utama? Maka, tidak aneh kalau Pulau Madura yang sejak dulu tidak jelas kompetisi internalnya sekarang punya Madura United yang main di ISL.

Belum lama ini saya mampir ke warung kopi di Jalan Belakang RSSA Malang. Dekat Lapangan Ajendam Brawijaya yang terkenal itu. "Bagaimana Persema sekarang? IM bagaimana? Gajayana?" tanya saya kepada seorang bapak yang dulu doyan menonton kompetisi internal Persema di Stadion Gajayana.

"Waduh, hancuuur! Gak usah ngomong balbalan! Sekarang kacau semua," katanya dengan nada tinggi.

Beberapa anak muda, belasan tahun, yang pakai kaos Arema, rupanya heran bahwa dulu di Kota Malang pernah ada dua klub hebat bernama Indonesia Muda dan Gajayana. IM bahkan selalu berlatih di lapangan belakangan rumah sakit itu.

09 June 2015

Prof Isack Adri Ferdinandus pemain Persebaya era 1950an



Sudah lama saya mendengar nama Prof Dr Isack Adri Ferdinandus. Beliau guru besar fakultas kedokter Universitas Airlangga. Dokter senior yang juga teolog Kristen di Surabaya. Tapi saya tak menyangka bahwa beliau ternyata pernah jadi pemain hebat di Persebaya pada era 1940an dan 1950an.

Adri satu angkatan dengan pemain balbalan lawas kayak Saderan, Liem Tiong Hoo, dan The San Liong. Tempo doeloe banyak orang Tionghoa yang serius menekuni balbalan, selain basket, badminton, atau golf. "Saya ikut memperkuat Persebaya saat jadi juara nasional tahun 1951 dan 1952," kata kakek 85 tahun yang berposisi bek kanan.

Sepak bola masa itu masih sangat amatiran. Tidak bisa untuk mencari nafkah hidup. Olahraga hanya untuk hobi atau senang-senang. Adri muda pun berpikir untuk serius sekolah ketimbang tetap main bola yang masa depannya gak jelas. Maka, setelah ikut membawa Persebaya juara nasional, Adri meninggalkan si kulit bundar.

"Kalau saya main bola terus, lalu makan apa?" kata pria keturunan Tionghoa itu.

Adri kemudian kuliah di FK Unair. Kuliah pakai bahasa Belanda, sebagian besar dosennya pun asal Negeri Belanda. Sistem pendidikannya rumit dan sulit. Dalam setahun yang lulus hanya 10-15 orang. Adri akhirnya lulus tahun 1962. Kemudian memperdalam anatomi jaringan di USA. Kadang diajak main bola antarkampus.

Sibuk di kampus FK Unair selama 30 tahun lebih dan mengurus gereja tak membuat Adri yang semasa bocah asyik main bola di Plampitan Surabaya itu melupakan Persebaya dan balbalan Indonesia. Prof Adri ikut prihatin atas kemelut yang tengah melanda Persebaya dan PSSI saat ini. Meski kompetisi sudah dikelola (agak) profesional, ternyata nasib pemain bola masih sama saja. Bahkan lebih buruk sekarang.

Dulu, karena sepak bolanya amatir, para pemain serius kuliah, buka usaha, atau jadi pegawai negeri. Sekarang begitu banyak pemain mempertaruhkan hidup di lapangan bola. Konsekuensinya, mereka tidak bisa fokus di pendidikan tinggi. Mustahil kuliah di kedokteran yang menuntut konsentrasi dan fokus tingkat tinggi.

"Kalau tidak punya bekal pendidikan yang cukup, sulit bagi olahragawan untuk mencari nafkah setelah tidak laku lagi di klub," katanya.

Prof Adri selalu berpesan agar para pemain sepak bola yang masih muda-muda itu menyisihkan waktu untuk kuliah. Di fakultas apa saja sampai selesai. Dengan begitu, para mantan atlet itu bisa masuk ke dunia kerja, di luar sepak bola, dengan mudah.

Koes Plus ngamen di Sidoarjo



Di usianya yang sepuh, Yon Koeswoyo masih mampu menyanyi dengan suara lantang sambil main gitar. Pentolan Koes Plus asli yang tersisa ini manggung di Alun-Alun Sidoarjo pada hari Minggu 7 Juni 2015. Ribuan penonton berjubel di konser pagi untuk merayakan ulang tahun ke-8 SBO TV Surabaya itu.

Koes Plus yang asli praktis sudah tidak ada lagi. Sepeninggal Tony Koeswoyo pada 1987, grup yang berangkat dari Koes Bersaudara pada 1960 ini oleng. Karakter Koes Plus tergerus karena rohnya memang ada di Tony sang maestro, komposer, arranger, pimpinan band.

Personel sisa kemudian mencoba melanjutkan dengan mengajak beberapa musisi terkenal macam Deddy Dores atau Abadi Soesman. Tapi tidak pernah bertahan lama. Meninggalnya drummer Kasmuri, yang bukan keluarga Koeswojo, praktis membuat Koes Plus tamat. Hanya Yon yang mencoba membawa nama Koes Plus agar band ini laku dijual.

Maka, sejak 2004 Koes Plus ini sejatinya cuma band beranggota Danang (gitar, keyboard), Sony (bas), dan Seno (drum) untuk mengiringi Yon Koeswoyo menyanyi. Tapi, karena vokal Yon sangat dominan, khas Koes Plus, meskipun sering fals, orang tetap saja menganggap band Koes Plus. Lagu-lagu yang dibawakan Yon pun 100 persen lagu Koes Plus.

Bagi penggemar musik lawas, kehadiran Yon Koeswoyo tetap saja dianggap Koes Plus. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah pun sempat menggantikan tugas Yon untuk membawakan beberapa lagu seperti Kisah Sedih di Hari Minggu, Bis Sekolah, Bujangan. "Koes Plus ini band yang luar biasa. Nggak mudah bisa bertahan di industri musik sejak 1960an sampai sekarang," kata Saiful yang memang penggemar Koes Plus.

Yon Koeswoyo tetap menyanyi diiringi tiga musisi yang jauh lebih muda dengan aransemen yang sengaja dibuat sama persis dengan musik Koes Plus di kaset. Tidak ada variasi seperti yang sering dilakukan Abadi Soesman dulu. Yon memang sengaja menghadirkan memori kolektif bangsa tentang kejayaan musik pop lawas itu.

"Bernyanyi, main musik, menghibur pendengar itu seperti rekreasi. Nggak terasa seperti orang bekerja," kata Yon Koeswoyo.

Betapa enaknya bisa terus menyanyi, rekreasi di berbagai kota, dan tetap dibayar. Yon Koeswoyo ini benar-benar menggambarkan penyanyi tua yang punya banyak penggemar dari kakek hingga cucu.

"Oh penyanyi tua
Lagumu sederhana
Mutunya pun tak ada
Dan.. anehnya... banyak penggemarnya..."

Aku, Saya, Beta... yang berubah


Penyanyi Raisa Andriana mengundang Gubernur Jakarta Ahok untuk datang ke konsernya. Raisa menulis, "Selamat pagi yth. Bapak Basuki, aku Raisa. Dengan segala hormat ingin mengundang Bapak ke konser aku."

Kata-kata sang dara manis 24 tahun itu standar, cukup formal, untuk mengundang seorang gubernur. Tapi, bagi orang-orang lama, kata ganti orang pertama AKU yang dipakai Raisa rasanya kok kurang sopan ketika berbicara dengan pejabat. Lisan, apalagi tertulis.

Kata aku, saya, beta, awak, sahaya, hamba... memang sinonim tapi tidak bisa dipertukarkan begitu saja. Itu pelajar dasar saat saya belajar bahasa Indonesia di pelosok NTT. Saat itu kami, seisi kelas, sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia karena di kampung hanya ngomong bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

"Kalau bicara dengan guru atau orang yang lebih tua, pakailah kata SAYA. Jangan pakai AKU karena kurang sopan," begitu pesan guru SD saya yang sudah meninggal dunia.

Lalu, mengapa kita di kampung selalu berdoa AKU PERCAYA, bukan SAYA PERCAYA? Begitu pertanyaan saya yang tidak sempat dijawab pak guru di kampung. Atau, sudah dijawab tapi saya lupa.

Pesan seorang guru SD di pelosok Lembata, yang tamatan SPG Katolik Larantuka yang berasrama dan sangat ketat itu, selalu nancap di otak saya. Karena itu, setiap kali ada orang yang menggunakan AKU saat bicara dengan orang tua, guru, pejabat, romo, kiai... otak saya selalu kembali ke pelajaran bahasa Indonesia di SD dulu. Kok pakai AKU, bukan SAYA?

Setelah mahasiswa barulah saya menemukan kamus bahasa Indonesia karya Sutan Mohammad Zain edisi 1952. Kamus ini tak hanya menjelaskan arti kata tapi juga etimologi dan rasa bahasa. Belakangan kamus lawas ini disempurnakan oleh ahli bahasa JS Badudu menjadi kamus modern bahasa Indonesia.

Nah, di kamus St M Zain yang saya temukan di lapak buku bekas itu, sang munsyi menjelaskan kata AKU persis seperti bapak guru SD saya di kampung itu. Sutan M Zain menjelaskan, "AKU hanyalah dipakai dalam bahasa ramah tamah. Terhadap kepada orang yang belum dikenal baik dipandang agak kasar. Apalagi terhadap kepada orang yang lebih tinggi."

SAYA: Boleh dipakai kepada orang yang sama dengan kita, boleh kepada orang di atas kita dan boleh juga kepada orang di bawah kita.

Dalam bahasa Melayu logat Kupang dan Ambon, kata AKU dan SAYA (apalagi AWAK atau HAMBA) tidak dikenal. Orang-orang Kupang hanya mengenal kata BETA yang sifatnya netral. Mau bicara dengan pejabat, pendeta, romo, tukang sayur, nelayan, petani, mahasiswa... orang Kupang selalu pakai BETA.

Tapi, ketika diskusi formal di kelas atau kampus, BETA otomatis diganti jadi SAYA. Saya hampir tidak pernah dengar orang NTT pakai AKU untuk kata ganti dirinya. Kata AKU justru selalu dipakai para artis Jakarta baik dalam percakapan informal maupun diskusi yang agak formal. Para artis di sinetron, infotainment, hampir tak pernah pakai SAYA.

Bahasa itu soal kelaziman dan kesepakatan saja. Diksi atau pilihan kata selalu berkembang sesuai dengan lingkungan sosial dan zaman. Kata BEKAS yang dulu netral, sekarang umumnya diganti MANTAN yang dianggap lebih halus. Kata EKS juga jarang dipakai karena mengingatkan eks PKI atau eks tahanan politik.

Kata lonte, sundal, pelacur sekarang diganti pekerja seks komersial (PSK) yang dianggap lebih terhormat. Meskipun tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lonte atau sundal sebetulnya sama saja PSK.

Bagaimana pendapat Anda?

Wanita Aceh di rumah saja



Pagi ini, 9 Juni 2015, Jawa Pos memuat berita di halaman depan tentang jam malam untuk wanita di Aceh. Intinya, kaum perempuan tak boleh berada di luar rumah di atas pukul 21.00. Alasannya, kata wali kota Illiza, karena para wanita di Aceh sering jadi korban pelecehan seksual. Maka aturan jam malam ini dibuat untuk melindungi kaum wanita.

Kalau mau aman ya jangan keluar malam-malam. Wow, begitu tidak amannya Aceh untuk wanita! Padahal sejak 2005 Aceh dinyatakan aman, ada hukum syariah yang berlaku khusus di Aceh. Padahal di Aceh ini sering dipamerkan hukuman cambuk kepada warga yang kedapatan pacaran, mesraan, pakai busana minim dsb. Hukuman cambuk bahkan terkesan seperti objek tontonan untuk wisatawan karena unik dan menarik.

Aturan jam malam ini juga menunjukkan bahwa show hukuman cambuk selama di Aceh ternyata tidak efektif. Pelecehan seksual malah makin banyak. Begitu argumentasi wali kota dan parlemen lokal. Kita yang tinggal di Jawa, apalagi kota besar macam Surabaya atau Jakarta, hanya bisa tersenyum dan geleng kepala dengan aturan jam malam itu.

Sulit membayangkan jam malam wanita juga diberlakukan di Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang. Bisa-bisa para perempuan jurnalis yang bekerja di media massa seperti majalah, koran, televisi, radio ditangkap aparat karena selalu pulang di atas pukul 22.00, bahkan di atas pukul 23.00.

Tak akan ada lagi presenter cantik yang membawakan berita tengah malam di televisi. Macam Manohara yang selalu kebagian bertugas di tvOne di atas pukul 23.00. Atau Stephany Silitonga yang selalu siaran di Metro TV di atas pukul 00.00. Atau mbak-mbak presenter musik keroncong di TVRI yang juga tayang di atas pukul 23.00.

Logika pemkot Aceh dengan jam malam, dengan alasan keamanan, pelecehan seksual, dsb, memang absurd di era globalisasi ini. Tapi, sebagai daerah istimewa, Aceh memang bebas merdeka membuat qanun aturan apa pun sekehendak hatinya. Kalau jam malam 21.00 ternyata tidak efektif, bisa saja dimajukan ke pukul 19.00. Kalau ternyata masih banyak pelecehan seksual ya dimajukan lagi ke pukul 18.00.

Bagaimana kalau ternyata banyak wanita di Aceh yang tidak aman juga? Mungkin wali kota bisa membuat qanun baru yang melarang para wanita bekerja di luar rumah. Ujung-ujung jalam malam di Aceh itu memang tidak bisa dipisahkan dari domestifikasi perempuan. Kalau mau aman ya jangan bekerja di luar rumah. Cukup di rumah saja, ngurus anak, bersih-bersih, dan sebagainya.

Selamat menikmati jam malam!

06 June 2015

Barca menang berapa? Indonesia kalah berapa?

Kalau tidak sempat nonton siaran langsung laga Barcelona di televisi, biasanya saya bertanya kepada teman-teman penggemar bola. Bunyi pertanyaannya sama: Barca menang berapa? Messi cetak berapa gol?

Begitu hebatnya Barca, khususnya di era tika-taka Per Guardiola, sehingga kita sulit membayangkan Barcelona bakal kalah di Liga Spanyol. Real Madrid sekalipun sulit menang. Messi juga selalu bikin gol-gol indah. Menang, menang, menang! Itulah habit Barcelona.

Kemenangan Barca, yang kadang terlalu mudah, juga akibat kegagalan pelatih-pelatih La Liga menemukan sistem untuk menghentikan Messi dkk. Bukannya membuat pertahanan berlapis, parkir bus, saya lihat tim-tim La Liga selalu bermain terbuka. Hanya Jose Mourinho yang sengaja mengubah taktik secara ekstrem agar permainan tika-taka, passing game ala Barca, bisa rusak. Itu pun tidak selalu berhasil.

Inilah bedanya dengan tim nasional Indonesia. Kalau tidak sempat nonton siaran langsung atau baca internet, biasanya pertanyaan saya pun standar: Indonesia kalah berapa? Kalah, kalah, kalah... kalah melulu! Itulah kultur pecundang yang melanda timnas asuhan PSSI sejak dulu.

Karena itu, kalau timnas Indonesia sesekali menang lawan Singapura atau Malaysia atau Thailand, kita biasanya terkejut. Kok bisa ya? Jangan-jangan lawan sengaja mengalah. Jangan-jangan pertandingan itu dijual. Jangan-jangan pemain lawan sudah makan suap. Jangan-jangan sudah diatur.

Bagaimana dengan laga final Liga Champion Barcelona vs Juventus di Jerman malam nanti, 6 Juni 2015? Saya ditanya seorang bapak di warung kopi di Gedangan beberapa menit lalu, saya pura-pura tertawa kecil dulu. Saya kemudian mengatakan, "Pertanyaannya bukan skor akhir berapa, tapi Barcelona menang dengan skor berapa?"

Pria asli Sidoarjo itu tidak terima. Soalnya dia ini pendukung berat Real Madrid. Karena itu, dia sangat berharap Juventus mempermalukan Barcelona. Hehehe... Obrolan warung kopi pun makin ramai karena sebagian besar peserta ternyata menginginkan agar Juventus yang juara.

Meskipun bukan pengamat bola, sejak dulu saya perhatikan Barcelona ini terlalu bagus untuk dikalahkan tim-tim lain di Spanyol. Bahkan tim-tim Inggris, Jerman, Italia, Prancis... pun kesulitan meladeni penguasaan bola yang nyaris sempurna dari Messi dkk. Barca seperti asyik bermain sendiri dengan lawan yang kelasnya jauh di bawah.

Ini juga yang membuat La Liga sangat tidak menarik. Apa menariknya menonton pertandingan bola, yang dimulai pukul 01.30, ketika semua orang terbuai mimpi, sementara hasilnya sudah bisa diketahui: Barcelona dan Real Madrid yang akan menang? Dan Messi merajalela plus bikin gol?

Ini pula sebabnya, sejak dua tahun terakhir saya hanya mau melekan untuk menonton laga el Clasico: Barcelona vs Real Madrid. Laga klasik ini juga makin lama makin tidak menarik karena itu tadi: Barcelona menang berapa? Apalagi Real Madrid sering ganti pelatih dengan sistem permainan yang berubah-ubah.

Timnas yang lelet di SEA Games

Dari dulu PSSI (dan pemerintah) bermimpi lolos ke piala dunia. Baguslah. Tak ada yang melarang orang bermimpi. Tapi, melihat permainan timnas dalam 20 tahun terakhir, mimpi ke piala dunia itu terlalu tinggi. Tidak realistis.

Tidak usah jauh-jauh ke piala dunia, sukses di piala Asia saja pun hil yang mustahal. Ketika melawan Iran atau Qatar misalnya, Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa. Kelasnya jauuuh sekali. Jangankan ke level Asia, juara di Asia Tenggara alias SEA Games aja sulitnya bukan main. Kalau tidak minta bantuan Google, kita tak akan tahun kapan terakhir kali Indonesia juara SEA Games. Sudah terlalu lama.

Karena itu, sebagai penggemar sepak bola, sejak dulu saya tidak pernah berharap muluk-muluk. Saya hanya minta agar Indonesia mampu mengalahkan Malaysia! Kalaupun tidak juara SEA Games atau Piala AFF, mengalahkan Malaysia, apalagi dengan skor besar, membuat saya girang bukan kepalang. Sayang, makin lama timnas kita makin sulit mengalahkan encik-encik Malaysia yang mainnya makin rancak.

Kemarin, waktu melawan Myanmar, timnas bermain sangat buruk. Dan itu tidak mengherankan. Dari dulu juga begitu. Karena itu, aneh sekali kalau ada pengamat yang menganggap buruknya penampilkan timnas lantaran sanksi FIFA. Pelatih Aji Santoso pun ikut-ikut menjadikan sanksi FIFA sebagai kambing hitam.

Hehehe.... Memangnya timnas Indonesia dari dulu sudah bagus? Sering menang lawan tim-tim kelas bawang merah macam Myanmar, Laos, Singapura, Malaysia? Bahkan Timor Leste, negara baru yang super miskin, bekas provinsi ke-27 Indonesia, pun timnas tidak berkutik. Kalah peringkat!

Maka, kita tak usah banyak berharap dari timnas Indonesia di ajang SEA Games atau AFF Cup. Dari dulu PSSI, pemerintah, pengamat, hingga mafia bicara berbusa-busa tentang sepak bola tapi prestasi timnas masih jauh panggang dari api. Sanksi FIFA ini justru menjadi legitimasi bahwa timnas Indonesia memang lebih layak bermain di kompetisi kelas tarkam (antarkampung).

Wahai PSSI, menpora, politisi, mafia... silakan bertengkar terus sampai teler! Salam balbalan!

05 June 2015

Geger Buaya Putih di Sungai Porong




Buaya sebetulnya bukan binatang yang istimewa. Hampir semua orang Surabaya dan sekitarnya pernah melihat buaya di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Di KBS buaya juga bukan satwa favorit. Anehnya, ketika buaya muncul di Sungai Porong, Desa Tambakrejo, Krembung, Sidoarjo, setiap hari ratusan orang ramai-ramai datang menonton.

Inilah yang terjadi sejak dua mingguan ini. Buaya jadi berita besar di media-media lokal. Ada yang bilang puluhan ekor. Ada yang bilang 10. Wartawan kami bilang 5. Sementara balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) memastikan cuma dua ekor. Pak Singky pemerhati satwa malah sebut cuma 1 ekor.

Mana yang benar? Puluhan ekor atau 2 atau 5? Pak Suyatno, kepala BKSDA Jatim, yakin cuma dua ekor. Sementara warga Dusun Awar-Awar masih ngotot bilang puluhan ekor. Mungkin akal-akalan wong kampung agar wisatawan penasaran datang ke Awar-Awar untuk melihat bajul putih yang katanya buaya muara mirip buaya di Papua.

"Kalau cuma dua atau lima buaya ya biasa aja. Kalau puluhan buaya pasti lebih menjual," begitu analisis seorang teman yang sangat tidak percaya buaya di Awar-Awar itu puluhan ekor. Saya pun sejak awal tidak yakin buayanya bisa sebanyak itu. Saya perkirakan paling banyak 7 ekor.

Yang pasti, mark-up jumlah buaya ala warga setempat ini membuat Desa Tambakrejo, Kecamatan Krembung, tiba-tiba jadi sangat terkenal di Sidoarjo. Padahal dulu jarang orang tahu Tambakrejo, kecuali warga setempat dan tetangga desa. Yang terkenal justru Kebonagung, tetangga Tambakrejo, karena ada penjara besar bernama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Porong. Para terpidana kelas kakap, termasuk teroris, dijebloskan ke situ.

Begitu banyak tesis dilontarkan pemerhati satwa hingga orang biasa di warkop tentang munculnya banyak buaya di Awar-Awar. Pak Singky sangat yakin bahwa buaya itu peliharaan orang yang sengaja dilepas. Sebab pemiliknya takut dengan buaya yang begitu panjang dan besar. "Itu buaya muara khas Papua. Gak mungkin buaya asli Sungai Porong," kata Singky yang rajin membuat analisis tanpa survei langsung di lokasi munculnya buaya putih itu.

Ada lagi yang bilang buaya muncul di Krembung karena muara Kali Porong tercemar lumpur lapindo. Dan beberapa analisis lain yang memang masuk akal. BKSDA sendiri belum punya penjelasan resmi. "Kami masih terus memantau," kata Pak Yatno.

Wakil Gubernur Jawa Timur Gus Ipul khawatir binatang predator itu mencelakakan warga setempat atau wisatawan. Maklum, si bajul sering naik berjemur di gisik dekat kampung Awar-Awar. Siapa yang bisa jamin buaya tidak mengigit orang? Maka Gus Ipul usul agar buaya dipindahkan ke KBS. Biar lebih aman.

Setelah Gus Ipul bicara, Kamis 4 Juni 2015, BKSDA mulai turun untuk melakukan evakuasi. Buaya dijaring, ditangkap, kemudian dipindahkan ke muara Sungai Porong di daerah Tlocor. "Tapi jadi tidaknya (evakuasi) tergantung situasi di lapangan," kata Pak Yatno kepada saya.

Seperti diduga, warga Awir-Awir menolak keras action BKSDA yang ingin memindahkan buaya ke muara. Mereka menganggap si buaya itu justru membawa rezeki bagi penduduk. Kalau buaya diambil, kampung itu kembali sepi dan terpencil. Mereka bahkan seakan menantang BKSDA bahwa buaya di Sungai Porong justru sangat jinak.

"Kalau buayanya buas, pasti saya yang pertama kali diterkam," kata Pak Sutomo, warga setempat yang setiap hari dekat dengan buaya. "Kalau kita gak ganggu ya dia tidak juga diam saja," tegasnya. Kepala desa pun mengatakan hal yang sama.

"Susah kalau warga punya sikap seperti itu. Sebab, tujuan kami justru untuk keamanan warga sendiri," kata Pak Suyatno, kepala BKSDA Jatim.

Lembaga ini memang ditugasi negara untuk menangani urusan seperti kasus buaya ini. Misalnya terjadi apa-apa dengan warga, BKSDA juga yang dianggap salah. Dianggap tidak bertanggung jawab. Pak Yatno meminta pejabat kecamatan dan desa membuat surat pernyataan resmi yang isinya merekalah yang akan bertanggung jawab jika si buaya bikin ulah. "Merekanya nggak mau," kata Pak Yatno.

Maka, Pak Yatno memimpin langsung evakuasi buaya ke muara. BKSDA bikin pos evakuasi di pinggir sungai. Sekaligus pos pantau buaya. Berbagai perlengkapan disiapkan. Siang tadi seekor buaya muncul. Tapi ratusan warga menolak upaya BKSDA menangkap dan memindahkan buaya ke tempat lain. Tim BKSDA pun untuk sementara mengalah.

"Saya rencanakan proses evakuasi ini lima hari," kata Pak Yatno. "Sukses tidaknya ya tergantung dukungan warga setempat."

04 June 2015

Saiful Ilah dikeroyok 8 partai

Akhirnya, dugaan saya itu (hampir) jadi kenyataan. Delapan partai politik berkoalisi untuk menantang Saiful Ilah, calon bupati incumbent dari PKB, dalam pemilihan bupati Sidoarjo 9 Desember 2015.

PKB yang punya 13 kursi di DPRD Sidoarjo memang tidak perlu koalisi dengan partai mana pun. PKB pun berkepentingan memasang salah satu kadernya sebagai pendamping Saiful Ilah untuk regenerasi pemimpin Kota Delta. Sebab lima tahun mendatang Abah Ipul tidak bisa maju lagi.

Sejak awal semua partai di Sidoarjo ingin menempatkan orangnya sebagai calon wakil bupati pendamping Saiful Ilah. Bahkan PDI Perjuangan yang punya 8 kursi (partai terbesar kedua) ingin berkoalisi dengan PKB. Asalkan kader PKB jadi wakilnya Saiful Ilah. Tapi Saiful Ilah secara guyon mengatakan, "Silakan saja asal yang dicalonkan PDIP itu kader PKB dan NU."

Penolakan halus ini kontan membuat peta politik Sidoarjo berubah. Sebagai partai besar, PDI Perjuangan akhirnya memutuskan untuk maju pilkada. Lucu kalau PDIP diam saja, sementara partai-partai lain yang kursinya lebih sedikit malah aktif melakukan penjaringan. Bahkan Nasdem yang hanya punya 1 kursi pun membuka pendaftaran bakal calon bupati.

Gerindra juga paling aktif menjaring calon. Beberapa kadernya seperti Sholeh dan Hidar Assegaff mulai sosialisasi lewat poster dan baliho di jalan raya. Golkar, meski kisruh di pusat, juga aktif bikin manuver. PAN juga begitu. Demokrat cenderung pasif karena kursinya sedikit. Tapi bukan berarti Demokrat diam saja.
Akhirnya, Rabu 3 Juni 2015, delapan partai politik meneken deklarasi awal untuk bekera sama dalam rangka pilbup Sidoarjo. PDIP, PAN, Golkar, Demokrat, Gerindra, Nasdem, PPP, PBB. Hanya satu partai di luar PKB yang tidak ikut aliansi menantang Saiful Ilah, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Koalisi besar ini bakal membuat suasana jelang pilkada di Sidoarjo yang adem ayem jadi lebih hangat. Ada gairah baru. Tadinya semua orang cenderung apatis, karena incumbent terlalu kuat, seng ada lawan... sekarang muncul optimisme baru. Bahwa calon petahana yang super kuat macam Saiful Ilah bakal punya lawan tangguh.

Pertanyaannya, siapakah calon bupati dari koalisi besar ini? PDIP yang kursinya terbanyak tentu minta prioritas. Tapi dari dulu PDIP punya tokoh yang elektabilitasnya tinggi dengan latar belakang nahdliyin. Ingat, Sidoarjo itu kota santri dengan kultur nahdliyin. Dari dulu PDIP selalu kalah karena faktor elektabilitas yang rendah saat pilbup Sidoarjo.

PAN, Gerindra, dan Golkar juga tentu punya keinginan mendudukan orangnya di kursi nomor 1 Kabupaten Sidoarjo. Kalah popularitas dan elektabilitas calon kalah sama Saiful Ilah ya sulit mengatasi sang petahana. Sampai sekarang 8 partai ini, lebih tepat 4 partai menengah, ini belum sepakat soal figur calon. "Masih kita survei," kata Tito Pradopo, ketua PDIP Sidoarjo.

Di mana-mana sangat sulit melawan incumbent dalam pilkada. Apalagi sang incumbent itu tidak punya persoalan hukum macam dugaan korupsi atau perkara yang menggerus popularitasnya. Para politisi 8 partai ini sering mengkritik Bupati Saiful Ilah di media massa. Tapi faktanya Bupati Saiful sering mendapat penghargaan sebagai bupati yang sukses. Bahkan baru saja dapat penghargaan dari Presiden Jokowi.

"Kalau koalisi tidak punya calon kuat ya Abah Ipul (Saiful Ilah) akan menang lagi," kata Haryadi, pengamat politik dari Universitas Airlangga.

03 June 2015

DJ Aditya dihabisin geng motor



Geng motor bikin ulah di Jalan Ngagel Jaya Selatan subuh kemarin (2/6/2015). Aditya Wahyu Budi Hernanto, mahasiswa fakultas hukum Unair, 24 tahun, tewas mengenaskan. Dikeroyok ramai-ramai. Dikepruk beton. Sudah sekarat pun masih dikeroyok geng motor yang biasa trek-trekan di Ngagel Jaya Selatan Surabaya itu.

Luar biasa mengerikan! Mobil DJ Aditya pun dihancurkan. Lalu mayat sang DJ kafe di sebuah kafe di Dharmahusada Indah ini dibuang di pinggir rel kereta api. Surabaya geger! Begitu banyak kematian karena tabrak lari, kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, tapi ulah geng motor ini benar-benar jadi buah bibir warga Surabaya dan sekitarnya.

Polisi sepertinya tidak percaya geng motor dan kebiasaan balap liar di Ngagel Jaya Selatan. Juga ada beberapa lokasi lain yang jadi arena balapan geng motor. Di Sidoarjo pun ada beberapa ajang balap jalanan. Tapi, dengan tragedi di Ngagel Jaya Selatan, dekat rel di Jalan Bung Tomo, ini seharusnya penjahat-penjahat jalanan ini dihadapi dengan lebih keras.

Sebelum muncul tragedi sejenis Aditya yang tinggal di Sawotratap Gedangan, Sidoarjo, Perumahan TNI AL, ini. "Jangan tunggu ada orang mati baru polisi operasi. Balap liar di Ngagel ini sudah kronis," ujar Pak Mamat yang biasa mangkal di sebuah warkop di Ngagel Jaya Selatan pagi ini.

Yang bikin saya semakin nelangsa, ternyata mas Adit yang tewas dikeroyok geng motor ini ternyata putranya bu Tjindar Prihatin. Beliau ini dulu aktif di Partai Demokrat Sidoarjo ketika partai yang dididirikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini baru dirintis. Saya ingat bu Tjindar sangat antusias belajar politik dan jadi caleg untuk DPRD Sidoarjo.

Kok jadi caleg? "Yah, lagi belajar jadi politisi. Soalnya, susah cari caleg untuk Demokrat," kata suami pak Susanto (almarhum) menjelang pemilu 2004.

Modal yang dipunyai dari hasil menabung bertahun-tahun dia sisihkan untuk pencalegan. Bu Tjindar termasuk caleg Demokrat yang aktif sosialisasi agar partainya menang. Dan hasilnya memang luar biasa. Demokrat langsung melejit pada pemilu legislatif yang pertama kali diikuti. SBY akhirnya jadi presiden, berpasangan dengan JK, berkat kerja keras kader-kader militan macam bu Tjindar.

Sayang, Tjindar Prihatin gagal masuk ke DPRD Sidoarjo karena saat itu sistemnya mencontreng gambar partai politik. Bukan memilih caleg-caleg seperti pemilu legislatif 2009 dan 2014. Sistem lama ini hanya menguntungkan caleg-caleg yang posisinya di nomor urut 1 atau 2. Sedangkan bu Tjindar di nomor bawah.

Setelah gagal di pencalegan itu, Demokrat justru makin hebat. Melejit sebagai partai besar. Makin banyak orang yang merapat ke partainya SBY itu. Termasuk kader-kader kutu loncat yang sebelumnya aktif di partai lain. Sejak itu bu Tjindar yang ikut berjuang untuk membesarkan Demokrat di Sidoarjo di awal perintisan malah tidak aktif lagi di politik.

"Kita bicara yang lain saja. Gak usah bicara politik. Gak menarik itu!" kata bu Tjindar dalam beberapa kesempatan.

Sejak itulah saya tak pernah lagi mendengar kiprah bu Tjindar di dunia politik, sosial budaya, dan kegiatan kemasyarakatan. Kematian sang suami pada 2006 membuat dia lebih fokus di rumah bersama putra tunggalnya mas Aditya yang ternyata pelaku industri hiburan. Adit bahkan jadi tumpuan harapan bu Tjindar sepeninggal pak Susanto.

Baru semalam saya membaca berita bahwa DJ Aditya, korban geng motor di Ngagel, itu ternyata putra semata wayang bu Tjindar Prihatin. Saking terpukulnya, bu Tjindar enggan ditemui wartawan yang ingin ngobrol ringan seputar mas Adit, firasat, dan sebagainya.

Semoga Tuhan memberi tempat yang baik buat mas Adit. Dan semoga bu Tjindar diberi kekuatan iman untuk menghadapi ujian yang tidak ringan ini!

Dan, yang tak kalah penting, semoga polisi segera memberantas habis semua aksi trek-trekan di jalan raya!

02 June 2015

Costa pun sulit berbahasa Inggris

Tidak gampang belajar bahasa asing. Apalagi bahasa Inggris yang tata bahasa, susunan kalimat, tenses... berbeda jauh dengan bahasa Indonesia. Karena itu, sangat wajar kalau orang Indonesia umumnya kesulitan berbahasa Inggris, meski percakapan sederhana, meski sejak SMP (atau SD) sudah diajari bahasa Inggris.

Jangankan orang Indonesia atau Asia umumnya, sebagian orang Eropa pun kepontal-pontal untuk bicara bahasa Inggris harian. Contoh terbaru Diego Costa, pemain Chelsea, London, yang asal Spanyol. Kabar terbaru menyebutkan bahwa striker terbaik Chelsea itu frustrasi karena tidak mampu menguasai bahasa Inggris.

Instruksi pelatih Mourinho dalam bahasa Inggris tak bisa ia tangkap. Costa pun minta diterjemahkan ke bahasa Spanyol. Syukurlah, si Mou yang asli Portugal ini menguasai banyak bahasa Eropa dengan fasih. Hanya bahasa Jerman yang masih pasif. Gara-gara kendala bahasa inilah ada rumor bahwa Costa ingin kembali ke Spanyol.

Saya barusan baca di Telegraph: "The language barrier has been exacerbated by Costa's injury problems, which have given him extra time to make trips back to Spain and have friends and family join him in England."

Sebetulnya bahasa Inggris sama sekali bukan kendala bagi Costa di lapangan. Buktinya, dia mampu mencetak gol di hampir semua pertandingan. Sebab sepak bola itu ada bahasanya sendiri, bahasa bola yang sangat universal. Striker asli Inggris yang sejak bayi sudah fasih bahasa Inggris pun tidak sehebat Costa. Contohnya Daniel Sturridge yang akhirnya dijual Chelsea itu.

Tapi poin yang menarik bagi saya, sejak dulu, adalah mengapa orang Spanyol dan Amerika Latin, yang berbahasa Spanyol atau Portugal, punya masalah seperti Diego Costa ketika belajar bahasa Inggris. Bukankah bahasa-bahasa Eropa itu punya kemiripan? Ada struktur dan akar yang sama? Beda dengan orang Indonesia yang sangat wajar kesulitan menguasai bahasa Inggris ala native speaker.

Beberapa tahun lalu saya sering bertemu pemain-pemain bola asal Amerika Latin yang memperkuat Deltras Sidoarjo atau Persebaya. Ketika masih baru di Indonesia, mereka tidak bisa diajak ngobrol dengan bahasa Inggris sederhana untuk sekadar basa-basi. English dasar seperti sesuatu yang asing bagi orang Amerika Latin yang bahasa ibunya bahasa Spanyol itu.
"Saya tidak bisa Inggris. Pakai bahasa Spanyol saja," kata istri seorang pemain Deltras asal Argentina yang saya lupa namanya. Wanita cantik ini malah lebih paham bahasa Indonesia meskipun belum enam bulan di negara kita. "English no!" ujarnya seraya tertawa kecil.

Minggu lalu, saya juga membaca di internet bahwa Garet Bale kesulitan mengembangkan kemampuannya di Real Madrid karena kendala bahasa. Bale yang sejak bayi nerocos pakai British English dikelilingi 97 persen pemain yang berbahasa Spanyol dan Portugal. Bahasa Inggris ternyata tidak begitu laku di Madrid, Spanyol.

Beberapa berita ringan dari sepak bola ini paling tidak membuat kita, orang Indonesia, tidak perlu minder atau berkecil hati kalau tidak bisa lancar berbahasa Inggris layaknya orang USA atau Inggris. Masih banyak orang terkenal di dunia macam Diego Costa atau Maradona atau Pele atau Messi yang juga pusing tujuh keliling dengan bahasa Inggris. Toh, mereka tetap kinclong, menciptakan prestasi luar biasa.

Karena itu, rasanya kurang tepat kalau kefasihan bahasa Inggris jadi syarat diterima bekerja di perusahaan tertentu. Lha, apa hubungannya bahasa Inggris dengan sepak bola?