11 May 2015

Wayang Potehi vs Wayang Kulit di Kelenteng Sidoarjo

Ki Sugilar kembali tampil di halaman Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo, tadi malam. Setiap tahun pak dalang asal Mojokerto selalu ditanggap pengurus kelenteng di pinggi Sungai Karanggayam itu. Tak hanya mendalang, Ki Sugilar membawa tiga penari remo yang genit (dan gemuk) untuk menghibur warga sekitar kelenteng.

Sementara itu, di halaman dalam Ki Subur bersama grupnya memainkan wayang potehi. Beda dengan wayang kulit, wayang khas Tionghoa yang sempat dilarang selama 30 tahun oleh rezim Orde Baru itu dimainkan selama satu bulan. Dua jam sehari.

"Alhamdulillah, rezeki tahunan dari umat kelenteng," kata Ki Subur, satu-satunya dalang potehi asal Sidoarjo.

Begitulah. Kolaborasi seni tradisional Tionghoa dan Jawa ini selalu diperlihatkan saat perayaan ulang tahun Makco Thiang Siang Seng Bo. Makco yang dikenal sebagai dewi laut ini merupakan tuan rumah Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo. Dewi asal Fujian, Tiongkok, ini juga sangat dihormati oleh warga Tionghoa di seluruh dunia. Karena itu, hari jadinya selalu dirayakan dengan sangat meriah. Jauh lebih meriah ketimbang tahun baru Imlek atau hari-hari besar Tionghoa lainnya.

Tak hanya di halaman, suasana perayaan sejit Makco di dalam GOR Basket, satu kompleks dengan kelenteng, pun tak kalah meriah. Warga Tionghoa dari berbagai daerah berbaur bersama warga pribumi sekitar kelenteng menyaksikan berbagai atraksi yang ciamik. Aksi barongsai dari Pasuruan boleh juga. Begitu juga Power Band Surabaya yang tampil kompak dengan dukungan sound system yang enak.

Saya terkesan dengan penyanyi Ruben asal Surabaya yang vokalnya sangat powerful. Begitu pula Lily, penyanyi Surabaya juga yang suaranya ciamik. Rupanya orang Tionghoa ini punya banyak artis hebat yang terkenal di komunitas sendiri tapi tak dikenal masyarakat luas. Sebab tidak pernah muncul di televisi. Percayalah, vokal penyanyi-penyanyi pop Mandarin ini jauh lebih bagus ketimbang artis-artis karbitan di televisi itu.

Malam kian larut. Musisi Power Band cabut ke Surabaya. Warga Tionghoa juga mulai meninggalkan arena pesta di kelenteng dan GOR karena jarum jam sudah melewati pukul 00.00. Tapi di panggung luar, Ki Sugilar baru memulai pertunjukannya dengan "bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip...."

Makin lama makin banyak penggemar wayang kulit berdatangan untuk menikmati pertunjukan wayang kulit Jawa Timuran itu. "Orang Tionghoa malah rajin nanggap wayang, sementara kita yang wong Jowo malah sering mengabaikan wayang kulit," kata Rusman asal Porong.

No comments:

Post a Comment