27 May 2015

Susy Nander Dara Puspita Melayani Narapidana



Orang-orang lawas tentu pernah dengar (dan menikmati) Dara Puspita. Grup band beranggotakan 4 wanita yang sangat musikal di era 60an dan 70an. Titiek Adji Rachman (gitar), Titik Hamzah (bas), Lies Soetisnowati Adji Rachman (gitar), dan Susy Nander (drum). Benar-benar fenomenal karena di zaman yang masih serba sederhana, empat dara manis itu (biyen) bisa bikin rekaman album, manggung di mana-mana, dengan aksi yang menarik ditonton.

Sampai sekarang pun banyak orang asing, khususnya Belanda dan USA, yang terkagum-kagum dengan Dara Puspita. Mr Alan Bishop bahkan beberapa kali datang ke Indonesia untuk mencari album-album lawas Dara Puspita, gali informasi, dan wawancara langsung dengan personel Dara Puspita yang sudah sepuh itu.

Miss Nina, juga orang Amerika Serikat, ketika bertugas sebagai guru bahasa Inggris di Krian, Sidoarjo, juga kaget ketika mengetahui Indonesia pernah punya band putri yang musiknya sangat unik. Nina yang masih muda, warga USA keturunan India, bahkan menjadikan Dara Puspita sebagai salah satu band favoritnya. Mr Alan Bishop juga beberapa kali menghubungi saya untuk diskusi soal Dara Puspita.

"Dara Puspita itu band yang fantastis," kata Alan Bishop, produser rekaman spesialis lagu-lagu super lawas. Beliau sudah keliling ke berbagai negara dan secara khusus memuji musik-musik lawas di Indonesia, khususnya Dara Puspita.

Begitu dinamisnya industri musik membuat kita makin sulit mengingat nama-nama band atau artis lawas. Termasuk si Dara Puspita. Ketika Susy Nander muncul di Rutan Medaeng, Sidoarjo, tempat penggemblengan warga binaan yang terlibat berbagai kasus kriminalitas, orang tidak mengira bahwa dulunya Bu Susy ini artis terkenal.

"Puji Tuhan! Haleluya!!! Percayalah saudara-saudara bahwa saudara tetap disayang Tuhan. Kasih setia Tuhan selalu baru tiap hari," begitu antara lain kata-kata hiburan rohani buat para narapidana yang beragama Kristen di Medaeng. Senyum Bu Susy tetap mengembang menyapa para warga binaan. Para tahanan pun tak ada yang tahu kalau Susy Nander ini drummer Dara Puspita.
"Saya sekarang memang sering pelayanan ke penjara dan panti asuhan. Berbagi kasih dengan sesama yang sedang menghadapi ujian dari Tuhan," kata nenek kelahiran 5 Juli 1947 itu.

Bagi Susy, popularitas Dara Puspita dan dirinya sebagai drummer kawakan, khususnya pada 1965-1972, tak lebih dari nostalgia masa lalu. Dia lebih asyik menikmati kebersamaan dengan lima cucu dari tiga anaknya. Di usia 68 tahun, Susy mengaku tidak punya energi yang kuat untuk menggebuk drum. Apalagi untuk musik yang dinamis dalam tempo cepat.

"Cucu saya yang pintar main drum. Pakai baca partitur segala. Aku gak iso moco, wong otodidak. Pokoknya iso nggebuk, enak ya wis," kata Susy Nander yang sekarang tinggal di perumahan kawasan Gedangan, Sidoarjo, itu. "Saya kalah sama cucu," kata mantan artis yang suka berkebun itu.

Setelah vakum dari Dara Puspita, Susy Nander sempat tinggal di berbagai kota di tanah air. Di Bontang Kalimantan Timur selama 17 tahun. Gara-gara rumahnya dekat pabrik pupuk, Susy kena alergi. Ini pula yang membuat dia makin rewel menjaga makanan dan kebersihan rumahnya. Makan malam tepat pukul 18.00. "Kesehatan itu nomor satu. Ditambah hati yang gembira," katanya.

Karena sering pelayanan di penjara, tutur kata Susy Nander pun makin religius. Saat ini dia ingin melakukan bakti sosial di Nusakambangan. Bisa main drum di depan para terpidana kelas kakap, khususnya yang menunggu eksekusi mati.

1 comment:

  1. artis super lawas yg memang hebat. wanita2 langka dan kreatif pada jamannya...

    ReplyDelete