24 May 2015

Srimulat Surabaya yang Lesu Darah

Mau nonton konser Dewa 19 (Ahmad Dhani) atau Srimulat? Dua-duanya gratis. Tadi malam saya memilih yang kedua. Sebab sudah bertahun-tahun saya tidak menyaksikan pertunjukan Srimulat secara langsung di THR Surabaya. Gedung pertunjukan yang masih lumayan bagus, yang pernah sangat berjaya hingga tahun 1990an.

Saya juga sering penasaran dengan tulisan preview yang dibuat mas Agus, wartawan senior, yang sangat aktif woro-woro pertunjukan di THR Surabaya. "Ceritanya menarik, judulnya Dendam Kuntilanak. Bintang-bintang Srimulat kawakan seperti Bambang Gentolet, Vera, Hanter... come back," kata mas Agus yang memang bikin catatan untuk promosi Taman Hiburan Rakyat (THR).
Sabtu malam, 23 Mei 2015, penonton cukup melimpah. Lebih dari 50 persen kursi terisi. Mungkin karena gratis. Mungkin juga karena banyak undangan yang tidak enak sama panitia hari jadi Kota Surabaya. Tak sedikit orang Tionghoa yang nonton. Banyak pula gadis-gadis 20an tahun yang sibuk mengabadikan pertunjukan dengan gadget mereka.

Seperti biasa, pertunjukan dibuka dengan band yang diisi pemain-pemain lawas. Lagu-lagunya juga lawas. Ada Tanjung Perak Tepi Laut (lumayan menghibur dengan irama keroncong), I Can't Stop Loving You, yang disusul seorang nenek 70an tahun membawakan Still Loving You. Musisi dan penyanyi lawas ini sebetulnya punya kemampuan di atas rata-rata. Sayang, sound system benar-benar jelek. Jauh lebih buruk ketimbang sound system orkes dangdut yang pentas di kampung terpencil di Sidoarjo.

Kok bisa Srimulat yang sangat terkenal itu bermain dengan sound system yang jelek? Padahal gedung pertunjukannya masih bersih, bagus, dan terawat. Jeleknya sound membuat kita sulit menikmati musik. Syair lagu hampir tidak bisa diikuti. Suara instrumen pun numpuk gak karuan. Pemain saksofon yang gondrong bikin gaya macam-macam tapi suaranya tidak jelas.

Lebih kacau lagi ketika home band Srimulat itu membawakan dangdut. Berantakan! Syukurlah, penonton masih mencoba bertahan karena penasaran dengan dagelan Dendam Kuntilanak. Buat mengusir stres di tengah kepungkan isu beras plastik, melambungnya harga sembako, dan kesulitan hidup lainnya.

Pertunjukan dimulai. Pelawak Lutfi dan Insaf buka warung kopi di tengah hutan. Jualan kopi, teh, pisang goreng, tahu kotak, ote-ote dsb. Sebentar-sebentar ada gangguan daru kuntilanak. Kedua pelawak ini seperti biasa bikin ulah konyol yang membuat penonton tertawa ngakak. Yang paling ramai tertawa tentu anak-anak kecil karena belum tahu guyonan lawas. Yang tua-tua cuma tertawa partisipasi. Gak enak kalau diam saja.

Tapi ya itu tadi, sound system yang berantakan membuat kata-kata para pemain Srimulat tidak kedengaran. Sayup-sayup tidak jelas. Untung grup lawas yang dijuluki pabrik tawa ini banyak main action, slapstick konyol, sehingga penonton agak terhibur. Suara tawa anak-anak di kursi depan praktis menutupi dialog pemain di atas panggung.

Bambang Getolet, Hanter, Vera, Eko... dan beberapa pemain lain terkesan cuma sambil lewat begitu saja. Perannya di panggung seperti figuran saja. Justru Insaf dan Lutfi, yang bukan anggota asli Srimulat, yang bekerja keras mengawal cerita Kuntilanak ini sejak awal sampai akhir. "Persiapannya kurang. Insya Allah, ke depan kami buat lebih bagus lagi," kata mas Lutfi, pelawak yang tinggal di Sidoarjo.

Selain sound system, masih banyak hal yang harus dibenahi Srimulat kalau ingin bertahan di tengah kepungan hiburan modern yang makin melimpah. Manajemen pertunjukan jelas sangat lemah. Sulit dipercaya grup kawakan ini tidak sadar bahwa sound system di dalam gedung benar-benar payah. Ilustrasi musik juga tidak ada. Yang ada cuma band pembukaan dengan kualitas sound yang berantakan itu.

Yang paling urgen tentu kaderisasi pemain atau pelawak. Lutfi dan Insaf, motor pertunjukan Srimulat Surabaya, itu produk lawak tahun 1990an. Usia keduanya sudah di atas 40 tahun. Padahal Lutfi dan Insaf ini paling muda di Srimulat. Tanpa pemain 20an tahun, masa depan pabrik tawa ini sangat suram. Mbah Bambang Gentolet yang sangat sepuh malam itu hanya ngomong dua tiga kalimat saja. Dan tidak lucu.

Sayang, ketika penonton di Surabaya sudah bersedia datang untuk menyaksikan Srimulat, pengurus THR dari Pemkot Surabaya malah tidak menyiapkan sound system yang layak. Maka tidak heran kalau orang-orang muda lebih memilih menyaksikan konser Dewa 19 di Grand City ketimbang datang ke kompleks THR pada malam Minggu.

No comments:

Post a Comment