16 May 2015

Simfoni 65 Tahun Indonesia - Tiongkok



Hubungan Indonesia dengan Tiongkok makin mesra meski sempat beku pada era Orde Baru. Tiongkok yang makin kaya, kelebihan duit, terus ekspandi dagang ke seluruh dunia. Indonesia jadi salah satu pasar berbagai produk made in China yang murah harganya meskipun kualitasnya banyak yang rongsokan. Tahun 2015 ini hubungan persahabatan Indonesia-Tiongkok genap 65 tahun.

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menggandeng Surabaya Symphony Orchestra (SSO) menyelenggarakan konser musik bertajuk Simfoni Tiongkok Indonesia. Solomon Tong, dirigen sekaligus bos SSO, menyiapkan lagu-lagu dari kedua negara. Musik merupakan bahasa universal yang terbukti ampuh untuk menjalin persahabatan antarbangsa. Kita tak harus mengerti kata-katanya untuk menikmati lagu atau musik instrumentalia. Apalagi dalam bentuk orkes simfoni.

Pak Tong menyiapkan 8 lagu Indonesia dan 8 lagu Tiongkok. Dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Tiongkok Zhongguo Geoge, konser persahabatan ini digelar di Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa 19 Mei 2015. Sudah bertahun-tahun SSO memang rutin menggelar konser di Shangri-La. "Soalnya di Surabaya ini hampir gak ada tempat yang layak untuk konser symphony orchestra," kata dirigen dan guru musik berusia 76 tahun yang selalu energetik itu. (Jamunya apa Pak Tong? Yang jelas, Pak Tong punya banyak koleksi teh pahit dari Tiongkok dan Tibet, juga aneka herbal dari negeri Zhongguo.)

Tujuh lagu Indonesia ini sudah akrab di telinga pencinta musik, khususnya seriosa. Pantang Mundur karya Titiek Puspa, Cintaku Jauh di Pulau (FX Sutopo), Bukit Kemenangan (Djuhari), Nyiur Hijau (R Maladi, orkestrasi Yazeed Jamin), Wanita (Ismail Marzuki), kemudian Renungan di Makam Pahlawan (Binsar Sitompul). Ada juga potpouri lagu-lagu Ismail Marzuki yang diaransemen Siswanto WS dengan judul Indung Selam Tiba.

Lagu-lagu Tiongkok pun dipilih yang populer dan punya nilai AIGUO (cinta tanah air) sangat tinggi. Solomon Tong alias Tong Tjoeng An yang lahir di Xiamen, Fujian, 20 Oktober 1939, jelas tidak sulit memilihkan lagu-lagu yang cocok untuk hajatan besar ini. Tentu saja sudah dikonsultasikan dengan Konjen RRT yang punya hajatan.

Ada lagu Tiongkok berjudul Bunga Melati (terjemahan Indonesia), Negaraku, Bernyanyi untuk Negara, Kidung Sungai Chang Jang, Kisah Cinta Sam Pek Eng Tai, dan Penghormatan kepada Bendera. Penyanyi-penyanyinya kolaborasi vokalis Surabaya dan Tiongkok. SSO sendiri sejak konser pertama pada 1996 tidak pernah kesulitan penyanyi yang fasih bahasa Tionghoa. Pak Tong pun guru musik dan bahasa Tionghoa yang mumpuni.

Solomon Tong beberapa kali menjelaskan kepada saya bahwa orkes simfoni yang didirikan para pengusaha Kristen Tionghoa di Surabaya ini tidak bisa hanya melayani satu segmen penonton. Sebab selera penggemarnya berbeda-beda. Ada yang suka orkes simfoni klasik murni. Ada yang suka lagu-lagu seriosa Indonesia. Yang lain suka lagu Tiongkok. Ada yang pop opera. Dan, jangan lupa, lagu-lagu gerejawi atau choral pun diminta banyak penggemar.

Kemudian ada orang tua yang ingin anaknya bisa main concerto piano atau violin bersama SSO. Beberapa pengusaha dan pejabat (dulu Wiranto) pun ingin menyanyi diiringi orkes simfoni. "Itulah yang membuat menu konser SSO selalu bervariasi. Susah kalau klasik murni," katanya.

Nah, kali ini pun SSO menerima permintaan Konjen Tiongkok di Surabaya untuk memeriahkan perayaan 65 tahun hubungan Tiongkok-Indonesia. Karena itu, tidak ada satu pun repertoar klasik Barat yang disajikan orkes simfoni satu-satunya di Surabaya itu.

2 comments:

  1. Dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Tiongkok Zhongguo Geige,

    Rupanya om Hurek telah salah ketik, tentunya yang dimaksud oleh om Hurek adalah Guoge bukan Geige, Guo (negara) seperti Zhongguo, Aiguo

    Numpang tanya om, apakah konser ini terbuka untuk umum?

    ReplyDelete
  2. Kamsia buat Wong Tjilik yg sudah koreksi ejaan Cungkuo. Acara kenegaraan seperti ini selalu pakai undangan resmi dari penyelenggara acara, yakni Konjen Tiongkok. Beda dengan konser musik klasik biasa yg memang bebas merdeka untuk umum, bahkan sangat diharapkan dihadiri banyak penonton. Sekali lagi, matur suwun sudah sering berkomentar.

    ReplyDelete