21 May 2015

PSM Universitas Jember Larang 44 Lagu Daerah

Sangat mengejutkan. Pantia festival paduan suara Piala Rektor Universitas Jember membuat kebijakan melarang 44 lagu daerah karena terlalu sering dibawakan dan lomba atau festival paduan suara di tanah air. Peserta diminta memilih lagu daerah di luar yang 44 itu.

Daftar lagu-lagu daerah terlaris yang dilarang itu antara lain Yamko Rambe Yamko, Umbul-Umbul Blambangan, Tanduk Majeng, Gundul-Gundul Pacul, Cik-Cik Periuk, Kicir-Kicir, Karaban Sape, Jaranan, Jangkrik Genggong, Bungong Jeumpa, Manuk Dadali, dan Paijjar Laggu.

"Lagu-lagu daerah di Indonesia itu ada ratusan, bahkan ribuan. Jangan cuma itu-itu saja yang dinyanyikan di festival," kata Rohmat Hidayanto, pembina Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Jember.

Rasanya baru kali ini ada panitia lomba paduan suara yang melarang begitu banyak lagu daerah. 44 lagu itu tidak sedikit. Semuanya dipastikan sangat populer dan jadi favorit paduan suara di mana pun. Belum lagu-lagu Batak yang juga sangat populer seperti Sigulempong, Sitogol, Tilo-Tilo, atau Siksik Sibatumanikam.

Yang terakhir ini bahkan sudah jadi lagu rakyat paling disukai paduan suara di seluruh dunia. Diaransemen Pontas Purba, Siksik Sibatumanikam dibawakan dengan sangat bagus oleh paduan suara Incheon Korea Selatan, Thailand, dan beberapa negara Eropa. Bisa dipastikan lagu ini pun masuk dalam daftar 44 lagu daerah yang jarang dinyanyikan itu.

Kalau 44 lagu ini dilarang dinyanyikan di festival paduan suara (tingkat TK hingga perguruan tinggi), lantas peserta mau menyanyikan lagu apa? Masih buanyaaak lagu daerah di tanah air yang belum dieksplor. "Ibarat lapangan tenis, yang dieksplor paduan suara kita baru sebesar bola tenis," kata Rohmat.

Mas Rohmat mungkin benar. Kor-kor harus lebih banyak mengeksplor lagu-lagu daerah di luar 44 top hits itu. Tapi untuk bisa mengeksplorasi, bikin aransemen kor, menemukan keenakan sebuah lagu, butuh orang-orang khusus. Dus, tidak semua arranger mampu mengutak-atik lagu-lagu daerah yang benar-benar belum dikenal sebelumnya. Di level nasional sekalipun tidak banyak arranger paduan suara seperti mas Budi Susanto dari Malang, Pontas Purba, Avip Priatna, atau arranger yang dimiliki paduan suara di kampus terkemuka.

Kalau mau jujur, kor-kor Indonesia yang berjaya di festival paduan suara tingkat nasional dan internasional pun umumnya membawakan lagu daerah yang termasuk 44 itu. Bahkan, lagu daerah yang sama dibawakan dengan aransemen yang sama. Beberapa tahun lalu mas Budi yang dikenal sebagai arranger dan dirigen jempolan sering dipinjam berbagai paduan suara untuk tampil di festival internasional. Dan menang! Mas Budi ini memang dirigen, pelatih, arranger paduan suara yang menangan.

Itu paduan suara tingkat universitas yang sedikit banyak pula home arranger. Itu pun masih menggunakan aransemen paduan suara yang digarap dedengkot kor macam mas Budi. Kalau zaman dulu kita yang biasa terlibat di paduan suara lebih sering memakai lagu daerah yang diaransemen Lilik Sugiarto, N Simanungkalit, Theys Watopa, Nikolai Varvalomejev, atau Paul Widyawan. Bisa juga garapan Feri Dewobroto dari Jakarta atau Bonar Sihombing atau Gorga Gultom.

Mengapa begitu? Sebab partitur-partitur lagu daerah karya para arranger populer itu sudah siap saji. Fotokopiannya beredar di seluruh paduan suara mahasiswa di Indonesia. Selain itu, lagu-lagu daerah itu digarap dengan rasa yang enak. Plus tingkat kesulitannya masih bisa diatasi paduan suara amatiran. "Lagu-lagu Batak itu paling enak kalau dibawakan paduan suara," kata beberapa teman yang dulu aktif di paduan suara kampus dan gereja.

Kembali ke larangan membawakan 44 lagu daerah itu. Apakah panitia festival menyediakan aransemen puluhan lagu daerah lain sebagai pengganti? Tingkat kesulitannya bagaimana? Kemampuan dirigen atau pelatih menguasai lagu-lagu daerah yang belum pernah didengar? Ini tidak gampang.

Berdasar pengalaman saya, banyak pelatih paduan suara (amatir) di Indonesia hanya bisa melatih membawakan lagu-lagu yang pernah dia nyanyikan sebelumnya di paduan suaranya ketika di sekolah menengah, perguruan tinggi, atau komunitas lain seperti gereja dsb. Kalau diminta membimbing paduan suara dengan lagu baru, aransemen baru, apalagi dengan tingkat kesulitan di atas level 3, banyak pelatih yang mundur. (Tingkat kesulitan paduan suara versi Pusat Musik Liturgi Katolik di Jogjakarta mulai level 1 atau paling mudah hingga level 6 sangat-sangat sulit).

Tapi bagaimanapun juga kebijakan PSM Universitas Jember melarang 44 lagu daerah yang terlalu sering dinyanyikan ini punya banyak sisi positifnya. Paling tidak ke depan makin banyak lagu daerah baru yang bergema di seluruh Indonesia. Orang akan bosan dengan lagu-lagu daerah yang itu-itu saja macam Lisoi, Ampar-Ampar Pisang, Sayang Dilale, Paris Barantai, Goro-gorone, Gunung Sahilatua, Bolelebo, Kicir-Kicir, Cente Manis, Jali-Jali, Anging Mamiri....

Saya sendiri sih kalau diminta membimbing paduan suara untuk festival di Jember itu akan memilih lagu Cikcik Periuk. Lagu daerah Kalimantan ini buat saya sangat enak, lincah, variatif, tidak terlalu sukar tapi juga tidak terlalu gampang, punya greget untuk sebuah festival. Dan, yang paling penting, arranger-nya Lilik Sugiarto (almarhum) dari PSM Universitas Indonesia yang sangat saya kagumi. Kalau dipaksa harus membawakan lagu daerah di luar 44 judul, yang belum pernah saya ketahui, saya pasti tidak akan berani.

Salam paduan suara!

No comments:

Post a Comment