02 May 2015

Paroki Gresik Belum Lahirkan Pastor

Kaget juga membaca unek-unek Mas Tommy, pengurus Dewan Paroki Santa Perawan Maria Gresik. Dia sedih, ngersulo, karena Gereja Katolik di Gresik yang sudah dirintis sejak zaman Hindia Belanda, 1930-an, ini sampai sekarang belum mampu menghasilkan pastor, suster, bruder, atau frater. Belum ada buah panggilan dari kota tetangga dekat Surabaya ini.

"Sekarang baru ada satu siswa Seminari Garum. Semoga diberi jalan yang lapang oleh Tuhan," kata Mas Tommy yang sangat aktif di gereja sejak kecil itu.

Saya benar-benar gak nyangka kalau paroki tetangga kami, Sidoarjo dan Surabaya, itu kondisinya nihil panggilan. Tetangga dekat Gresik, yakni Stasi Krian, Kabupaten Sidoarjo, sejak dulu rajin mempersembahkan anak-anak mudanya menjadi pastor atau suster. Padahal, umat Katolik di Krian ini belum punya rumah ibadah (gereja). Misa mingguan terpaksa nunut di sekolah Katolik di pinggir jalan dekat simpang lima.

Stasi Krian pun ikut Paroki Mojokerto meski berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Siapa sangka justru umat Katolik di wilayah pinggiran itu punya potensi yang sangat besar di bidang panggilan. Sebaliknya, Gresik memiliki bangunan gereja yang megah dengan arsitektur mentereng. Mungkin salah satu gereja terindah di Jawa Timur.

Umat Katolik di Gresik juga buanyaaaak... Tapi sejak dulu Romo Suwadji CM yang bertugas di Gresik berasal dari Slorok, kampung di pelosok Blitar. Romo-romo lain yang mendampingi Eyang Romo Wadji ini juga biasanya berasal dari kampung-kampung kecil di Jawa Timur. Saking kecilnya, mereka tidak punya gereja, cuma buka stasi sederhana.

"Kapan ya Paroki Gresik bisa melahirkan pastor atau suster?" tanya Mas Tommy gundah. Ia kemudian menyebut beberapa alasan yang menyebabkan Gereja Katolik Gresik yang megah itu tak mampu belum bisa disebut mandiri sejak era Belanda.

Saya juga heran. Gresik yang berimpitan dengan Tanjung Perak, Surabaya, sama-sama punya pelabuhan, sejak zaman Belanda dilayani imam-imam kongregasi misi (CM) yang berpusat di Jalan Kepanjen, Surabaya. Dekat Tanjung Perak pula. Karena itulah, romo-romo CM yang babat alas dan melayani Paroki Gresik sampai hari ini. Karena dekat banget dengan pusat CM di Surabaya, kita sering mengira bahwa anak-anak muda Katolik di Gresik pun punya ketertarikan dengan kehidupan membiara. Tapi nyatanya tidak.

Mas Tommy melihat bahwa para orang tua Katolik justru tidak ingin anaknya kecemplung jadi romo, suster, bruder, atau frater. Sebab, jadi romo itu dianggap tidak membawa kesejahteraan ekonomi. "Apalagi banyak orang Katolik di Gresik yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Posisi mereka mapan, sejahtera, sehingga ikut mempengaruhi paradigma anaknya dalam hidup rohani," kata Mas Tommy.

Persoalan lain, menurut Mas Tommy, sejak dulu sampai sekarang tidak ada sekolah Katolik di Kabupaten Gresik. Maka, anak-anak Katolik tidak terbiasa bergaul erat dengan romo, suster, atau bruder. Mereka sekolah di sekolah negeri atau swasta umum di kota santri itu. "Guru agama Katolik pun tidak ada. Yang ada cuma relawan yang mau mengajar agama Katolik di sekolah," katanya.

Faktor lain adalah belum adanya biara di Gresik. Ini jelas berbeda dengan Kabupaten Sidoarjo atau Kabupaten Jember, yang sama-sama kota santri, tapi punya biara susteran sejak puluhan tahun lalu. Mas Tommy menulis:

"Ibaratnya, bagaimana bisa kita menyuruh anak untuk merasakan enaknya bakso kalau tidak ada yang berjualan bakso di dekat mereka. Atau, bagaimana kita membuat anak-anak kita mempunyai kebiasaan membaca jika tidak disediakan buku-buku di rumah kita. Demikian halnya dengan panggilan, bagaimana kita menumbuhkan panggilan jika anak-anak tidak pernah mengenal sosok imam atau biarawan dan biarawati dalam hidup mereka sehari-hari."

No comments:

Post a Comment