11 May 2015

Musik Kontemporer Apa Itu?

Oleh Slamet Abdul Sjukur
Komponis, pelopor musik kontemporer di Indonesia

Tidak ada salahnya kalau orang meragukan musik kontemporer. Musik demikian memang sukar dimengerti, tidak enak didengar, dan sering kali tidak karuan.

Komponis-komponis banyak yang tergesa mencari sesuatu yang baru tanpa mencoba memanfaatkan apa yang masih bisa dimanfaatkan. Mereka sungguh-sungguh tidak mau bersikap demikian - karena mempunyai kebutuhan asasi yang memang lain - tidak banyak. Sisanya hanyalah seniman-seniman yang telanjur harus nyeniman dan jumlahnya seperti bintang-bintang di langit.

Soalnya tentu saja tidak semudah itu. Bisa saja dibuat pelik. Dan sesungguhnya persoalan musik kontemporer (untuk hanya menyebutkan musik) merupakan jalinan sejumlah masalah yang masing-masing meminta pembahasan yang hati-hati.

Tapi reaksi-reaksi yang kelihatannya awam dan dangkal itu bagaimanapun juga perlu mendapat perhatian. Bukan untuk memanjakan publik, melainkan justru untuk menguji, betulkah musik yang maunya erudite atau spontan, atau entah apalagi itu, betul-betul sudah mencapai maksudnya? Ataukah rahasinya terletak pada perangkap: dapatkah kita bermusik tanpa meributkan semua itu?

Monte Young, seorang komponis Amerika, menulis antara lain beberapa karya untuk piano. Salah satu di antaranya seorang pianis (seorang saja) harus mendorong piano ke dinding, dan lamanya (musik ini) dia sendiri yang menetapkannya.

Pernah terjadi seorang pengunjung konser datang kepada Schoenberg dan mengeluh tidak mengerti karyanya yang baru saja dipentaskan. Tentu saja, jawab tokoh musik abad ke-20 ini, musik saya tidak dimainkan sebagaimana mestinya.

Juga sebuah ciptaan Stravinsky yang sekarang menjadi kesayangan hampir setiap pecinta musik. Le Ascre du Printems pernah dilempari tomat oleh orang yang biasanya paling semangat menanggapi pikiran-pikiran baru, yakni murid-murid kelas komposisi konservatori negara di Paris.

Lagu lama masih berputar di sekitar kecurigaan terhadap kemampuan komponis atau kesiapan pendengar. Mungkinkah sebuah karya besar dapat begitu saja diterima tanpa menggoncangkan nilai-nilai yang sudah ada?

Satu hal yang setidak-tidaknya sukar dipungkiri bahwa musik tidak pernah berhenti dalam memperluas daerahnya. Apa yang dianggap kemarin tidak musikal, sekarang malah bisa menjadi ramuan yang paling sedap. Suara apa pun bisa menjadi musik.

Terasa semacam ada keyakinan yang tenang dan mustahil dibendung dalam hal mengeluarkan suara-suara yang tadinya dianggap liar. Pada suatu ketika kita akan terpaksa (harus berani) mengakui musik yang serba bagai. Musik bukanlah hanya simfoni-simfoni Beethoven.

Jimmy Hendrix hanyalah salah satu aspek daripada musik yang bisa kita bayangkan. Di samping itu laut, angin, kicau burung, kucing kawin, sepeda motor. Tapi musik demikian lebih baik tidak disebut namanya. Kapan saja kita mendengar suara, kapan saja kita sadar akan adanya suara-suara, kita tahu bahwa hampir pada saat itu juga lenyaplah suara-suara yang kita rasakan kehadirannya.
Musik adalah soal SAAT. Tepat pada saatnya. Atau belum saatnya. Kita juga bisa mengalami ketinggalan saat.
Sinar Harapan, 16 Oktober 1976

No comments:

Post a Comment