28 May 2015

Mukjizat Gedung SSO di Manyarrejo



Cukup lama saya tidak bertemu Pak Solomon Tong, bos dan dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO). Terakhir ngobrol lama di ruang kerjanya di Gentengkali tentang hebatnya obat-obatan tradisional Tiongkok. Pak Tong yang lahir di Xiamen kemudian hijrah ke Surabaya saat masih bocah ini ternyata paham kebun jamu dan jamur di Zhongguo yang khasiatnya luar biasa.

Rabu 27 Mei 2015 saya bertemu lagi sama Pak Tong di markas SSO yang baru di Jalan Manyarrejo I/4 Surabaya. Inilah gedung sendiri yang sudah lama dicita-citakan Pak Tong. Gedung yang luas, punya concert hall, ada panggung di halaman terbuka, kantor, gudang, kelas-kelas kecil, dapur, bahkan losmen untuk pemusik tamu. Udara terasa segar ketika berbincang santai di ruangnya si Mimin, dekat lapangan itu.

"Beda jauhlah sama di Gentengkali dulu. Di sini oksigennya buanyaaak," kata Mimin yang setia bekerja di kantor SSO selama 10 tahun lebih.

Ya, sejak mulai di-launching dengan konser perdana, Christmas Concert, Desember 1996, di Hotel Westin Surabaya (sekarang JW Marriott Hotel), Surabaya Symphony Orchestra ini belum punya gedung sendiri. Awalnya ngontrak gedung tua di Keputran, Jalan Urip Sumoharjo, Surabaya. Tapi tidak lama karena kurang kondusif. Kemudian pindah kontrak ke Gentengkali. Itu pun di lantai 2 dan lantai 3.

Ajaibnya, tidak ada lift. Kita harus jalan kaki mendaki meniti anak tangga yang banyak. Cocok untuk orang-orang gemuk yang ingin kurus. Mungkin olahraga rutin inilah yang membuat Mimin tambah kurus meskipun rajin makan enak. Di gedung kontrakan masih lumayan dan tempat latihan orkestra di lantai 3 sekaligus tempat konser kecil-kecilan untuk murid SS0.

Tapi Solomon Tong yang beberapa adik kandungnya pendeta hebat ini (Stephen Tong, Caleb Tong, Joseph Tong) selalu percaya bahwa mukjizat selalu akan terjadi. Berkat Tuhan selalu melimpahi dirinya dan SSO. Karena itu, SS0 masih rutin bikin konser setidaknya tiga kali setahun (konser besar). Selain konser-konser kecil dan konser pesanan. Terakhir SSO bikin konser persahabatan Indonesia-Tiongkok yang dipesan Konjen Tiongkok di Surabaya.

"Kalau dipikir dengan otak manusia tidak masuk akal SSO bisa bertahan. Uang masuk dari tiket berapa sih? Sponsor berapa? Sementara pemain symphony orchestra itu banyak sekali. Tapi, puji Tuhan, selalu ada mukjizat dari Tuhan. Dan mukjizat itu selalu saya alami sejak SSO berdiri," kata Pak Tong yang juga pendiri beberapa gereja berbahasa Tionghoa di Surabaya ini.

Mukjizat masih terjadi di Manyarrejo ini? Solomon Tong mengaku mengalami kasih Tuhan, miracle, yang akhirnya membuat SSO memiliki gedung sendiri yang representatif itu. Bangunan lama dimodifikasi sekitar 40 persen menjadi conservatory SSO sekarang.

Pak Tong bercerita kepada saya, ketika sangat ingin memiliki gedung sendiri, tak ada uang untuk beli tanah dan bangunan. Biaya untuk konser, produksi, latihan, honor pemain... dan lain-lain saja tidak mudah dicari. Tapi tiba-tiba ada kabar dari Bandung, lewat adiknya, silakan survei tempat dan bangunan yang dianggap layak jadi gedung SSO. Cari ke sana kemari, akhirnya sreg dengan yang ada di Manyarrejo ini.

"Harganya Rp 6 miliar," tutur Pak Tong. Sang adik di Bandung, juga tokoh gereja yang sangat terkenal, pun bilang oke. Silakan ditunggu saja, berdoalah kepada Tuhan, agar rencana yang mulia itu bisa terwujud.

"Eh, ternyata (tanah dan bangunan) sudah dibayar lunas. Apa ini bukan mukjizat? Bahkan, waktu itu saya malah tidak tahu geangan orang yang membayar gedung ini," kata Pak Tong yang pernah belajar musik pada almarhum Slamet Abdul Sjukur itu.

Belum sampai setahun menempati gedung baru di Manyarrejo, kata Pak Tong, ada orang yang ingin membeli gedung itu. Dengan harga lebih dari dua kali lipat harga saat dibeli Pak Tong. "Ini juga mukjizat. Semua itu sulit diterima akal manusia tapi nyata adanya," kata pria 75 tahun yang energetik dan tak pernah sakit itu.

Rupanya Pak Tong belum tergiur dengan tawaran untuk menjual kembali gedung itu meskipun harganya ciamik soro. Bisa saja diterima agar bisa membeli gedung baru yang lebih dekat di dalam kota. Saya belum sempat bertanya karena gak enak mengganggu Pak Tong yang harus bekerja siang itu.

Saya pun pamitan ke Sidoarjo. Dan... dapat mukjizat dari Pak Tong berupa kaos putih konser persahabatan Indonesia-Tiongkok. Hehehe.... kamsia Tong xiangshen!

Semoga SSO makin sukses setelah tidak lagi pindah-pindah gedung kontrakan.

4 comments:

  1. Pengamat Bisnis2:20 AM, May 29, 2015

    Orang relijius seperti Tong bersaudara akan menganggap itu sebagai mukjijat. Saya menganggap itu normal saja, karena Pak Tong bekerja keras untuk membuat produk yang baik, dan didukung oleh public relations yang baik (termasuk wawancara dengan Sdr Hurek), maka kebutuhannya akan kantor dan gedung pertunjukan yang layak tersebar ke telinga para dermawan, sampai ada yang mau menyumbang.

    Apakah itu mukjijat? Menurut saya itu strategi produk dan pemasaran yang bagus dari Pak Tong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah... kacamata Pak Tong bersaudara yang hampir semuanya pendeta ternama memang berkat Tuhan, kasih Tuhan, mukjizat dari Tuhan. Dan memang betul beliau bekerja sangat keras, ngotot, meskipun dengan segala keterbatasan dan dukungan fasilitas konser klasik di Surabaya. Pak Tong di usia 75 tetap kerja keras, mewujudkan ambisinya... sehingga selalu menemukan jalan keluar dari kesulitan. mungkin inilah WU WEI ala orang Tionghoa. segalanya menjadi mudah setelah berusaha sangat keras. terima kasih untuk pengamat bisnis.

      Delete
  2. salut sama pak tong yg tetap eksis dan gigih dengan SSOnya. selalu ada donatur yg mau membantu kerja kebudayaan yg serius.

    ReplyDelete
  3. ini juga bukti kalo musik klasik masih didukung oleh pengusaha2 sukses.

    ReplyDelete