04 May 2015

Mengenang SAS di Jolotundo Trawas



Saya tidak menyangka kalau almarhum Slamet Abdul Sjukur (SAS) pernah bikin konser di kampung terpencil Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto. Sang komponis tidak main piano atau instrumen lain layaknya artis, tapi mengajak orang-orang kampung bermain musik bersama. Untuk merayakan hari bumi 24 April 1993.

Orang-orang kampung itu bebas membuat alat musik dari apa saja, bambu, kayu, daun kelapa, botol, gelas, atau mulutnya sendiri. Eyang SAS bikin workshop, latihan sambil main-main, khas SAS, lalu bikin pertunjukan. Konser musik bumi itu jadi fenomena luar biasa saat itu. Yang nonton warga dari berbagai kota besar di tanah air, bahkan luar negeri.

Inilah musik MINIMAX ala Slamet Abdul Sjukur yang kemudian jadi trade mark SAS hingga tutup usia pada 24 Maret 2015 di Surabaya. Menggunakan sumber daya yang MINIMAL, tapi menghasilkan sesuatu yang MAKSIMAL. Eyang SAS tidak terpukau dengan instrumen mahal, pianis sekolahan, orkes nan megah... meskipun almarhum sendiri merupakan embahnya sebagian besar guru musik klasik di Indonesia.

Slamet Abdul Sjukur menulis: "Membuat musik dengan cara demikian tidak memerlukan biaya mahal. Teknologinya sangat murah. Tapi ada tuntutan lain yang tidak main-main, yaitu tuntutan untuk tahu diri dan tanggap terhadap tuntutan saat."

"Karya bersama masyarakat desa ini memang dirancang sebagai teater energi yang tidak perlu bercerita apa-apa, karena karya itu sendiri sudah merupakan salah satu cara menyelamatkan diri dari godaan apa yang mungkin untuk mencapai hakikat apa yang sebenarnya kita butuhkan. Rasa tahu diri itu mengimbangi kecenderungan serakah yang sudah menjadi kodrat kita semua
," tulis SAS di buku Sluman Slumun Slamet halaman 153.

Desa Seloliman, yang punya situs petirtaan suci Jolotundo yang terkenal itu, tak asing bagi saya. Dulu hampir setiap akhir pekan saya bermalam di situ bersama seniman Eyang Bambang Haryadjie, yag juga sudah almarhum. Maka, hampir semua pemilik warung kopi di dekat Jolotundo saya kenal baik. Bahkan, sangat akrab layaknya keluarga sendiri. Bu Jono, Mbah Gembuk, Mbak Nining, hingga Koh Yang si Tionghoa Sidoarjo yang suka menghilangkan stres dengan berendam di air Jolotundo yang sejuk.

Sambil membaca buku SLUMAN SLUMUN SLAMET, kumpulan tulisan Slamet Abdul Sjukur, saya membayangkan konser musik bumi yang digelar Eyang SAS di Seloliman, Trawas, 13 tahun lalu. Konser itu bekerja sama dengan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di dekat Jolotundo itu. Begitu seringnya saya berada di daerah itu, tapi tidak menyadari ada musik alami seperti yang disampaikan Slamet Abdul Sjukur pada 1993 itu.

Duduk di kolam Jolotundo, sembari mendengar gemericik air dari pancuran alami, yang dibangun pada era Prabu Airlangga, saya pun tertegun membaca tulisan SAS di halaman 282:

"Musik ada di mana-mana. Tidak hanya terbatas yang ada di gedung pertunjukan saja. Angin, gemerisik dedaunan, kicau burung, hujan, petir, kendaraan di jalan, kucing kawin, dan sebagainya. Tinggal tergantung pada kepedulian dan kepekaan kita saja untuk bisa menangkap semua itu sebagai musik atau tidak," demikian pendapat bapak musik kontemporer Indonesia itu.

Oh begitu ya....

Selama ini saya malah sering memutar lagu-lagu pop dari HP karena tidak sadar bahwa suara-suara alam di Jolotundo, Trawas, itu justru musik alami yang sejati. Saya makin tertampar saat membaca lagi kalimat SAS berikut: "Ilmu dan teknologi yang semakin rumit merampas kemampuan kita untuk menyentuh kebenaran yang bersahaja...."

No comments:

Post a Comment