20 May 2015

Membaca e-paper gak asyik

Tidak gampang mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Termasuk kebiasaan membaca koran kertas, newspaper, sejak kecil. Mengubah kebiasaan membaca berita di atas kertas ke berita di atas komputer yang nirkertas ternyata perlu penyesuaian mental, psikologi, dsb.

Sebetulnya jauh lebih gampang mengakses dan membaca e-paper. Cukup buka internet di komputer, lalu ketemu laman surat kabar macam Jawa Pos, Radar Surabaya, dan Kompas -- tiga koran yang selalu saya ikuti. Tidak perlu menunggu kiriman loper atau membeli koran di pinggir jalan. Dengan tampilan yang sama persis dengan edisi kertas, sejatinya membaca e-paper sama saja dengan membaca koran kertas.

Tapi ya itu tadi, keasyikkan membolak-balik halaman koran, kadang menandai beberapa berita atau artikel, jadi hilang di depan komputer atau laptop atau gawai lainnya. Belum lagi godaan di internet begitu banyaknya. Belum tuntas membaca dua sampai lima berita, selalu ada keinginan untuk memelototi breaking news, Youtube, atau diskusi di media sosial macam FB. Maklum, banyak sekali usul, saran, atau informasi warga Sidoarjo di grup fesbuk yang bisa dikembangkan jadi berita.

Akibatnya, saya tidak pernah membaca koran elektronik (e-paper) secara mendalam. Beda dengan membaca koran kertas konvensional yang terasa enak, tenang, merangsang imajinasi dan membuat kita sering sebel, geli, atau tertawa sendiri dengan ulah politisi yang konyol. Padahal, berita-berita di koran kertas itu dijamin sudah ketinggalan satu hari ketimbang breaking news di internet.

Karena gak asyik membaca e-paper, saya biasanya membaca lagi koran kertas beberapa jam kemudian, bahkan malam hari di kantor, meskipun isi dan tampilannya sama persis. Maka, saya pikir-pikir, e-paper itu hanya cocok untuk orang-orang yang belum punya kebiasaan membaca koran kertas sejak kecil. Kalau sejak balita sudah biasa main internet, browsing ke sana kemari, aktif di media sosial, e-paper rasanya kurang efektif.

Kayaknya e-paper ini semacam media transisi dari koran kertas ke koran online yang benar-benar nihil kertas. Semoga masa transisi ini berlangsung lamaaaa... sehingga bisnis koran kertas bisa terus berjalan. Dan para loper serta pengecer koran tetap berjualan di pinggir jalan.

Hidup koran kertas!

1 comment:

  1. Kok bisa sama ya Mas Hurek dengan saya.
    Lebih enak baca koran biasa di stasiun, atau kalau tidak habis dilanjutkan lagi di kantor bahkan sampai rumah menjelang tidur, padahal itu koran pagi

    ReplyDelete