24 May 2015

Ludruk Irama Budaya Menolak Mati

Margono, warga Pegirian, berbincang santai dengan temannya di depan panggung Ludruk Irama Budaya, Surabaya, dalam bahasa Madura. Temanya tentang beberapa lakon ludruk populer di Jawa Timur. Cerita Pak Sakerah, Sarip Tambakoso, Joko hingga Sembung. "Saya sudah hafal semua lakon ludruk. Wong sejak masih di Lumajang saya nonton ludruk," kata Margono kepada saya.

Malam Minggu itu, 23 Mei 2015, hanya kami bertiga di ruang pertunjukan ludruk di kampung seni Taman Hiburan Rakyat (THR). Beberapa waria senior sesekali mondar mandir ke samping panggung yang jadi tempat tinggal pemain ludruk pimpinan Deden Irawan, 34 tahun, itu. Sayang, mas Deden, anak angkat almarhum Sakia Sunaryo, pendiri Irama Budaya, lagi keluar saat itu. Padahal, saya ingin tahu perkembangan ludruk yang dikelolanya itu.

Syukurlah, Margono bisa jadi saksi hidup yang lebih objektif untuk melihat perkembangan Ludruk Irama Budaya. Sebab pria yang selalu pakai kopiah hitam ini rajin menonton Irama Budaya sejak masih bermarkas di Pulo Wonokromo, dekat Terminal Joyoboyo. Ketika sang empunya tanah meminta haknya, Sakia dan kawan-kawan kelimpungan. Mereka kemudian dibantu Pemkot Surabaya agar boyongan ke THR.

Gedung pertunjukan THR jauh lebih bagus dan bersih daripada di Wonokromo dulu. Juga lebih luas. Lampunya bagus. Sound system dibantu Bank Jatim. Sayang, kehidupan Irama Budaya malah senen kemis. "Penonton di sini paling banyak 20 orang. Rata-rata ya 10 sampai 15 orang. Termasuk saya," kata Margono dengan logat Madura yang sangat kental.

Padahal harga karcis cuma Rp 5000.
Tidak cukup untuk beli nasi di warung yang paling murah Rp 7000 (plus es teh). "Kalau dipakai beli rokok ya nggak bisa," kata Margono tentang nestapa kehidupan seniman ludruk.

Andaikan yang nonton ludruk ini 20 orang, duit masuk Rp 100 ribu. Pemain ludruk dan musisi pendukung sekitar 50 orang. Berapa rupiah duit yang diterima seorang seniman? "Hehehe... Kalau dihitung-hitung ya jelas gak masuk akal bisa hidup. Tapi kok masih bertahan sampai sekarang," kata Margono yang hafal benar jalan cerita ludruk di Jatim.

Ketika masih di Wonokromo, penonton ludruk Irama Budaya pun sebenarnya tidak banyak. Tapi setiap malam grup pimpinan Sakiah alias Sunaryo ini bisa menyedot 20an orang ke gedung pertunjukan dari bahan kayu-kayu bekas itu. Setiap malam ada pertunjukan. Malam Minggu pasti penuh gedung tobong itu.

"Di THR ini Irama Budaya cuma main malam Minggu thok. Itu pun yang nonton hanya belasan orang," tutur Margono yang polos dan suka senyum ini.

Pukulan kian berat ketika Sakia, waria yang merintis Ludruk Irama Budaya sejak 1987, meninggal dunia tahun 2012. Irama Budaya kehilangan motor penggerak sekaligus manajer, juru lobi, dan pencari sponsor. Sakia dengan segala keterbatasannya bisa menggandeng pejabat macam wali kota saat itu, Bambang DH, atau Arif Afandi, wakil wali kota saat itu. Juga pengusaha dan pejabat lain agar jadi sponsor pertunjukan Irama Budaya.

Berkat almarhum Sakia, yang ngotot dan kerap digojlok sebagai rai gedhek, Irama Budaya beberapa kali mengadakan pertunjukan keliling Surabaya. Khususnya wilayah pinggiran macam Tandes atau Benowo. Nah, rupanya Sakia lupa mengkader anak buahnya agar bisa luwes mendekati para pejabat dan pengusaha. Deden Irawan jelas bukan Sakia yang punya pengalaman dalam urusan cari sponsor.

"Makanya, bisa bertahan saja sudah keajaiban," kata Margono.

Tak jauh dari gedung ludruk, ada pertunjukan Srimulat yang dibiayai pemkot dalam rangka hari jadi Kota Surabaya. Penontonnya cukup melimpah. Kalau tak ada sponsor ya Srimulat tidak manggung. Beda dengan Irama Budaya yang menolak mati meskipun kanker ganas sudah menggerogoti tubuhnya.

Sebagai orang desa yang akrab dengan ludruk sejak bocah, Margono menilai keberadaan Irama Budaya di kampung seni THR, tengah kota Surabaya, salah tempat. Apalagi di depannya ada pusat belanja modern yang dikenal sebagai HighTec Mall. Di samping bagian depan ada Taman Remaja Surabaya yang dikemas moder dan full dangdut. Mana ada orang yang mau ke belakang untuk nonton ludruk yang pemain-pemainnya makin uzur itu?

Margono, juga beberapa penggemar, berpendapat ludruk seperti Irama Budaya ini lebih cocok bermarkas di wilayah pinggiran. Khususnya di Tandes, Benowo, atau perbatasan Surabaya-Gresik macam Romokalisari. Atau, perbatasan dengan Sidoarjo, khususnya dekat Desa Tambakoso, yang punya tokoh legendaris Sarip Tambakoso. Masyarakat Surabaya di pinggiran masih bisa diharapkan datang menonton ludruk yang memang kesenian tradisional agraris.

"Kalau di THR terus ya lama-lama habis," kata Margono.

Malam itu Ludruk Irama Budaya menampilkan cerita Akal Bulus. Pukul 21.30 pertunjukan belum dimulai. Penontonnya baru tiga orang. Termasuk mas Margono yang setia itu.

No comments:

Post a Comment