12 May 2015

Klenik Wong Cilik sampai Sultan

Siang kemarin saya ketemu Mbak Ningsih di Candi Tawangalun, Sedati, Sidoarjo, tak jauh dari Bandara Juanda. Wanita asal Candi, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, ini bercerita panjang lebar tentang hal-hal aneh yang tak kasat mata. Takhayul bin klenik.

"Itu lho ada embah duduk di pojok. Pakai sorban, tapi punya ekor," katanya serius.

"Mana si embah itu? Kok gak kelihatan ya?"

"Itu lho orangnya. Wajahnya tenang, lagi meditasi."

"Di mana?"

"Di pojok itu lho! Wong anak saya aja lihat," kata Ningsih yang menggendong anak balitanya.

Oh, akhirnya saya sadar bahwa Ningsih ini orang klenik alias dukun. Kerennya: paranormal. Saya kemudian menemui Syaiful Munir, pengurus Candi Tawangalun, yang sedikit banyak tahu latar belakang Ningsih. "Mbak Ningsih itu memang paranormal. Dia suka keliling dari candi ke candi untuk semedi," kata Syaful yang juga pelukis asal Buncitan, Sedati.

Ditemani Syaiful, Ningsih bercerita lebih banyak lagi tentang pengalamannya meditasi di pantai selatan. Tiba-tiba dia didatangi sebongkah batu kristal putih dengan hiasan yang indah. Batu ajaib itu kini disimpan di rumahnya. "Minggu lalu wartawan majalah Liberty datang ke rumah saya untuk wawancara dan motret. Kamu gak wawancara ta?" katanya ramah.

Hehehe... Rupanya demam batu akik ini juga merambah ke Sidoarjo. Kalau dibungkus dengan cerita ajaib ala Ningsih, bisa-bisa batu ajaib misterius itu bisa laku puluhan atau ratusan juta rupiah. Ningsih masih ingin bercerita tapi saya sudah jengah. Saya lebih tertarik membahas penghijauan yang gagal di Candi Tawangalun dan Desa Buncitan. Ratusan bibit yang ditanam ramai-ramai tahun lalu tak satu pun yang hidup. Hanya tanaman kepuh yang ditanam Syaiful yang mampu bertahan di tanah bergaram itu.

"Setiap hari ada saja orang-orang seperti Ningsih yang datang ke sini. Ceritanya ya ajaib-ajab. Saya dengarkan saja supaya mereka senang. Antara percaya gak percaya. Wong kenyataannya budaya tradisional kita memang tidak lepas dari klenik," kata Syaiful.

Mendengar cerita-cerita Ningsih, kemudian disambung rombongan lain dari Krian, yang diperkuat Syaiful Munir, saya langsung teringat Sultan Hamengku Buwono X di Jogjakarta. Sri Sultan baru saja mengeluarkan SABDA RAJA yang mengundang kontroversi di masyarakat. Omongan Sri Sultan yang kita dengar di televisi pun berbau klenik atau spiritual Jawa sehingga tidak bisa ditanggapi secara rasional. Gak akan ketemu!

Sri Sultan mengaku hanya melaksakan dhawuh dari Gusti Allah yang disampaikan melalui leluhur! Karena wangsit gaib itulah, Sri Sultan membuat beberapa kebijakan strategis tentang masa depan Kerajaan Mataram. Luar biasa! Di era internet, mbah Google, media sosial yang berlimpah, spiritualitas klenik ternyata masih sangat hidup di masyarakat. Mulai dari wong clik macam Ningsih di Candi, Mbah Erwin di Krian, Mbah Jono di Trawas, dan eyang-eyang lain yang dianggap orang pinter.

Manusia-manusia yang dianggap punya kelebihan karena bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang biasa. Bisa mendengar bisikan (alam gaib) yang tak akan bisa didengar manusia kebanyakan. Dan, biasanya, menjelang pemilihan kepala daerah ini banyak dukun yang ingin jadi bekingnya calon bupati/wali kota. Atau, si calon itu yang diam-diam mendatangi dukun.

"Selama ini calon-calon yang saya dampingi selalu menang," kata seorang Mbah Dukun asal Tulangan.

1 comment:

  1. Tetapi mengapa sepakbola Indonesia selalu kalah walaupun dibekingi dukun, hahahahahaha. Mengapa bangsa Indonesia ketinggalan dari Malaysia, walaupun dari ras yang sama, budaya yang hampir sama? Karena kita masih terikat kepada mistik dan klenik; karena IQ kita bersama sebagai masyarakat masih rendah!!

    ReplyDelete