02 May 2015

Jurnalisme Olahraga Makin Kering

Entah mengapa sejak beberapa bulan terakhir saya gandrung membaca berita-berita olahraga di koran dan majalah lawas. Media massa terbitan 1970an dan 1980-an, sedikit 1990an. Paling asyik membaca tulisan tentang badminton dan sepak bola, dua olahraga yang sangat digemari rakyat Indonesia... dulu. Sekarang sih bulutangkis alias badminton sudah kurang diminati masyarakat dan pemerintah.

Membaca berita-berita olahraga, khususnya sepak bola, di surat kabar juga rutin saya lakukan. Tapi kenikmatannya gak ada lagi karena hampir semua berita itu sudah kita ketahui di internet. Ulasan di telegraph, guardian, marca, goal.com, soccernet, guardian, BBC, dsb jauh lebih dalam dan menarik ketimbang yang dimuat di media massa kita. Sebab, berita-berita olahraga yang dirilis koran-koran kita sejatinya cuma saduran belaka dari bahasa Inggris.

Mana ada wartawan Indonesia yang selalu menguntit Ronaldo, Messi, atau Pirlo? Karena itu, berita-berita olahraga kita memang informatif tapi kering. Ibarat makanan, ia bikin kenyang, memenuhi sedikit gizi, tapi gak enak. Mustahil wartawan menulis berita olahraga dengan bagus kalau dia tidak berada di lapangan, ngobrol sama pemain, pengurus, pelatih, mencium bau keringat atlet, dan tahu aturan permainan (law of the game).

Syukurlah, di tengah kekeringan reportase olahraga yang lezat itu, masih ada Azrul Ananda. Tulisan-tulisan Mas Azrul ini sejak dulu saya anggap oase di tengah kegersangan jurnalisme olahraga tanah air. Saya perhatikan Mas Azrul punya passion, gandrung, hobi berat dengan basket, balapan (khususnya F1), dan belakangan sepeda pancal. Begitu besar cintanya pada cabang-cabang olahraga itu, tulisan apa saja yang dibuat Mas Azrul selalu enak dan mendalam. Membaca tulisannya, kita tahu bahwa Mas Azrul ini sangat paham basket dan balapan. Sisi human interest, hal-hal kecil yang menarik selalu diangkat jadi bumbu penyedap reportase Azrul Ananda di Jawa Pos.

Sebaliknya, saya lebih sering sakit kepala membaca brita-berita olahraga yang ditulis wartawan masa kini. Ada yang menulis catur tapi tidak tahu aturan bermain catur. Menulis bridge, wushu, atau panjat tebing tapi hatinya tidak ada di olahraga itu. Akhirnya, si wartawan cuma menulis berputar-putar, mbulet, tak karuan. Tidak jelas apa maunya. Membaca satu alinea saja kita sudah malas.

Suatu ketika saya menemuka majalah TEMPO lama, lamaaa sekali... yang sampulnya sudah hilang. TEMPO edisi 26 April 1986. Langsung saya cari berita olahraga. Wow, empat halaman khusus membahas persiapan tim Piala Thomas Indonesia di Jakarta. Ada foto Liem Swie King, Han Jian, Yang Yang, kemudian empat pemain top Malaysia: Razief, Jaelani, Misbun, dan Rashid Sidek. Ada wawancara dengan Wan Wenjiao, pelatih Tiongkok asal Solo yang sejak 1953 menetap di Tiongkok.

Wartawan TEMPO juga ngobrol dengan Morten Frost Hansen dari Denmark. Kemudian foto Park Joo Bong dan Kim Moon Soo dari Korea Selatan. Reportase olahraga ala TEMPO tempo doeloe itu dibuat ringan, akrab, ibarat koki yang sangat pandai meracik masakan. Sebagai pelanggan restoran, saya benar-benar menikmati semua sajian pembuka hingga penutup sampai selesai. Reportase itu ditulis wartawan kawakan Ahmed Soeriawidjaja dan Rudy Novrianti yang diedit Marah Sakti Siregar.

Membaca liputan wartawan olahraga masa lalu ini bukan sekadar nostalgia. Saya justru menemukan roh jurnalisme narasi yang makin hilang di era internet ini. Di era breaking news, berita instan, kenikmatan membaca media massa makin hilang karena ketergesaan yang tidak perlu. Selain itu, ya, makin sulit menemukan wartawan olahraga yang kualitas dan passion-nya seperti Azrul Ananda.

No comments:

Post a Comment