17 May 2015

JAGAL, BEGAL, COPET Bikin Bingung

Ada dua kata yang selalu bikin saya bingung ketika membaca koran: JAGAL dan BEGAL. Kedua kata asli bahasa Jawa itu sudah masuk kamus bahasa Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Kalau saya cermati konteks kalimatnya di surat kabar, para wartawan dan redaktur yang asli Jawa pun sering bingung menempatkan kelas kata JAGAL dan BEGAL.

"Begal itu kata benda, kata kerja, atau kata sifat?" tanya saya kepada seorang wartawan yang asli Jawa Timur.

"Begal ya kata kerja. Begal itu kan sama dengan merampok," kata si wartawan.

Mbah Bambang, asli Jogja, tapi sudah puluhan tahun tinggal di Sidoarjo, seniman senior, malah menyebut BEGAL sebagai kata benda. Begal itu sinonim dengan penyamun atau perampok. Dari dulu saya manut sama Mbah Bambang Thelo yang sudah almarhum itu. Soalnya, beliau ini punya beberapa buku referensi Jawa yang sangat meyakinkan. Beliau juga pernah jadi wartawan dan penulis artikel opini di surat kabar di Surabaya.

Selain BEGAL, saya juga meminta pendapat beberapa orang (lebih tepat: ngetes) kata JAGAL. Jagal itu kata kerja, kata benda, atau kata sifat? Jawaban para responden, yang semuanya orang Jawa, pun tidak tegas. Ada yang bilang kata benda (n), ada yang bilang kata kerja (v). Syukurlah, tak ada yang bilang kata sifat (a).

Hari Minggu ini, 17 Mei 2015, kata JAGAL muncul berkali-kali dalam cerpen di Kompas karya A Muttaqin, penulis kelahiran Gresik dan tinggal di Surabaya. Judul cerpennya: Hidup Hanya Menunda Penggorokan. Ceritanya memang tak jauh dari dunia penyembelihan hewan di rumah potong hewan (RPH).

Saya perhatikan A Muttaqin ini selalu menggunakan kata PENJAGAL dan TUKANG JAGAL. "Kau anak tukang jagal sama betul dengan bapakmu yang bebal," begitu salah satu dialog. Kalimat lain: "Sebagai anak tukang jagal yang tersohor...." Kalimat lain lagi: "Bapakku penjagal kakap. Ia hanya menjagal sapi, kerbau, kuda, atau paling remeh kambing."

Saya kaget karena di kepala saya JAGAL (dan BEGAL) itu pelaku alias kata benda. JAGAL berarti orang yang menjagal sapi, kerbau, kuda, dsb. Tidak perlu imbuhan atau kata bantu menjadi PENJAGAL atau TUKANG JAGAL agar jadi pelaku (kata benda). Karena itu, PENJAGAL atau TUKANG JAGAL jelas berlebihan. Pakai JAGAL saja sudah cukup.

Kalimat di cerpen A Muttaqin itu cukup ditulis: "Sebagai anak jagal yang tersohor." "Bapakku jagal (kelas) kakap." (Kalau jagal kakap bisa dikira menjagal ikan kakap.)

Setelah saya cek Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus paling resmi di Indonesia, pendapat almarhum Mbah Bambang Thelo ternyata beroleh konfirmasi. Berikut keterangan KBBI tentang kata JAGAL:

JAGAL 1 orang yg bertugas menyembelih (memotong) binatang lembu, kambing, kerbau) di rumah pemotongan hewan; pembantai; 2 orang yg berusaha di bidang potong-memotong hewan atau sbg agen penjual daging hewan; 3 cak pembunuh orang yg tidak bersalah;

MENJAGAL v 1 menjadi jagal; 2 membantai; memotong ternak (lembu dsb): ia ~ sapi setiap harinya tidak kurang dr 20 ekor; 3 cak membunuh (manusia) secara kejam (dng dipotong-potong dsb);
PENJAGALAN n rumah jagal; penjagalan;
PENJAGALAN n 1 proses, cara, perbuatan memotong ternak; pembantaian; pemotongan hewan; 2 tempat menyembelih ternak (spt lembu, kerbau, kambing)


Setelah membaca Kompas, saya beralih ke Jawa Pos. Ada berita tentang pelajar SMKN 2 Surabaya membuat alat pencegah perampasan sepeda motor. Kalimat pertama di berita itu begini: "Begal termasuk kejahatan yang belakangan ini kian ngetren."

Kasusnya sama persis dengan JAGAL tadi. BEGAL itu kata benda, kata kerja, atau kata sifat? Si wartawan (dan redaktur) jelas sekali menganggap BEGAL sebagai peristiwa perampasan sepeda motor di jalan raya. Bukan pelaku atau penyamun. Seandainya si wartawan menganggap BEGAL sebagai pelaku tentu kalimatnya tidak seperti itu. Cukuplah pakai kalimat sederhana: Begal makin merajalela belakangan ini.

Orang Indonesia, termasuk orang Jawa sendiri yang empunya kata, memang sering terkecoh dengan kata JAGAL dan BEGAL. Dikira kata kerja (verba). Karena itu, agar jadi kata benda (pelaku), dibuatlah kata bentukan PENJAGAL, TUKANG JAGAL, PELAKU PEMBEGALAN; PEMBEGAL, TUKANG BEGAL, PELAKU PEMBEGALAN.

Apa kata KBBI?

BEGAL /b├ęgal/ n penyamun;
MEMBEGAL v merampas di jalan; menyamun;
PEMBEGALAN n proses, cara, perbuatan membegal; perampasan di jalan.


Jawaban kamus baku sangat gamblang. Tapi, setelah saya renungkan, tidak salah juga kalau para wartawan dan masyarakat menganggap JAGAL dan BEGAL sebagai kata kerja. Sebab, sebelumnya ada kata COPET, juga dari bahasa Jawa, aslinya kata benda (pelaku), tapi sudah puluhan tahun dianggap sebagai kata kerja.

Mengembalikan COPET sebagai pelaku (kata benda) malah dianggap salah. Inilah yang namanya salah kaprah. Kesalahan yang dibiasakan terus-menerus akhirnya dianggap benar. Maka, koran-koran di Surabaya biasanya menulis judul berita EMPAT PENCOPET DITANGKAP POLISI. Jarang sekali ada judul (dan isi) berita: EMPAT COPET DITANGKAP POLISI

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikan COPET sebagai berikut:

COPET n orang yg mencuri (sesuatu yg sedang dipakai, uang di dl saku, barang yg dikedaikan, dsb) dng cepat dan tangkas; tukang copet; pencopet;
MENCOPET v mencuri (barang yg sedang dipakai, uang dl saku, barang yg dikedaikan, dsb) dng cepat dan tangkas: anak itu telah ~ dompet orang asing;
PENCOPET n orang yg mencopet; tukang copet;
PENCOPETAN n proses, cara, perbuatan mencopet;
KECOPETAN 1 v cak kehilangan sesuatu krn dicopet orang: seorang turis ~ di depan bioskop; 2 n perihal copet


Kamus resmi terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini menganggap COPET dan PENCOPET sebagai kata benda (n) yang artinya sama persis. Maka, COPET yang semula berarti pelaku, pencuri, orang yang mencuri... lama-lama dianggap kata kerja. Pelakunya disebut PENCOPET.

Mungkin asosiasi kata COPET/PENCOPET inilah yang akhirnya melahirkan PENJAGAL, TUKANG JAGAL, JURU JAGAL, PELAKU PENJAGALAN, PEMBEGAL, TUKANG BEGAL, PELAKU PEMBEGALAN.

No comments:

Post a Comment