01 May 2015

Hari Jazz 2015 di Sidoarjo



Hari Jazz? Kapan itu? Kok gak pernah dengar ya? Begitu kata-kata beberapa kenalan di Sidoarjo. Sebagai kota industri, orang Sidoarjo dan sekitarnya lebih tahu hari buruh pada 1 Mei. Tak banyak orang Sidoarjo, bahkan Indonesia umumnya, yang tahu bahwa sehari sebelum Mayday itu, 30 April, ada hari khusus yang dirayakan di seluruh dunia: International Jazz Day.

Yah, bisa dipahami. Jazz bukan musik populer di Indonesia. Meski tia tahun ada beberapa festival jazz di Jakarta, belakangan di Surabaya juga ada Jazz Traffic Festival dari SSFM, peminat jazz sangat-sangat minim. Musik jazz yang berkerabat dengan blues itu menggunakan nada-nada biru, blue notes, sehingga musiknya tidak mudah dicerna kebanyakan orang. Tapi, kalau sering didengerin sih tetap asyik juga.

"Saya sih tahunya dangdut koplo," kata Mas Atim, warga Bungurasih, dekat Terminal Purabaya. Hehehe... Maklum, di dekat situ ada banyak kafe dangdut yang setiap malam menyajikan musik dangdut koplo yang meriah itu.

Syukurlah, di Sidoarjo, kota kecil tetangga Sidoarjo, ada komunitas kecil yang berusaha merawat jazz. Main musik, ngejes untuk santai, sosialisasi, bukan untuk cari duit. Komunitas ini semalam, 30 April 2015, merayakan hari jazz di Cafe Ale, Pondok Jati, Sidoarjo. Di kafe kecil itu ada beberapa band lokal, yang juga amatiran, mencoba menghadirkan jazz di kota yang sejak dulu dikenal sebagai sentranya musik dangdut itu.

"Merayakan hari jazz sekaligus silaturahmi teman-teman Forwod. Biasanya kan cuma ngobrol di FB, diskusi, ya momen ini untuk kopi darat," kata Bambang Heru, pengurus Forwod alias Forum Rembug Sidoarjo.

Forum ini cukup ramai. Isinya ratusan orang yang peduli Kabupaten Sidoarjo. Sebagian pengurus dan aktivisnya ternyata penggemar jazz, suka main musik, suka berbagi informasi, peduli pada kemajuan Sidoarjo yang makin metropolis. Mereka ingin buktikan bahwa warga Sidoarjo, yang sekarang makin didominasi penghuni perumahan, tidak hanya numpang hidup dan makan di Sidoarjo, tapi juga mau berbuat sesuatu untuk Kabupaten Sidoarjo.

Dibandingkan dengan Surabaya, komunitas jazz di Sidoarjo masih kalah jauh. Kalaupun ada musisi, jazz player, biasanya mereka main di Surabaya yang iklim jazz-nya lebih baik. Mana ada tempat main jazz tetap di Sidoarjo?

"Dulu saya pernah rintis, bahkan datangkan beberapa artis Jakarta, tapi nggak bisa dilanjutkan. Masih sulit mengembangkan jazz di Sidoarjo," ujar Pak Rahadi, mantan general manager The Sun Hotel Sidoarjo. Sebelum sempat berkembang, Pak GM yang juga pintar main musik jazz (piano) ini pindah jad GM hotel berbintang yang lebih terkenal di Kota Batu, Malang.

Sebelumnya pernah dirintis arena jazz di Perumahan Deltasari, Kecamatan Waru. Dulu ramai luar biasa. Band-band yang tampil pun bagus-bagus. Sering mendatangkan jazz player dari Jakarta. Tapi kafe jazz itu pun tak bertahan lama. Malah tempat itu kayaknya sudah berganti pemilik. "Jazz gak payu," kata mantan pengelola kafe itu beberapa waktu lalu.

Makanya, saya kaget, sekaligus bangga, di Sidoarjo ada komunitas baru yang mau merawat musik jazz. Karena komunitas inilah saya pun jadi ingat hari jazz di sela-sela unjuk rasa buruh pabrik sepatu di Candi. Salam jazz!

No comments:

Post a Comment