12 May 2015

Dalang potehi panen di kelenteng



Setelah tahun baru Imlek, disusul Capgomeh, pertengahan Februari 2015, pertunjukan wayang potehi sempat nganggur cukup lama. Ini siklus biasa. Baru kemarin wayang potehi khas Tionghoa itu ditanggap lagi di berbagai kelenteng. Khususnya kelenteng yang tuan rumahnya dewi laut alias Makco Thian Siang Seng Bo.

Gak tanggung-tanggung, Ki Subur ditanggap di Kelenteng Tjong Hok Kiang Sidoarjo selama 65 hari (dua bulan lebih). Nonstop. Biasanya tanggapan ditambah satu atau dua minggu sesuai pesanan pengurus atau umat kelenteng. "Saya sejak dulu memang selalu mengisi acara hari jadi Makco di Kelenteng Sidoarjo. Bahkan saya juga dapat nama ya di Sidoarjo ini," kata Ki Subur yang badannya memang subur.

Selain Ki Subur, dalang potehi asal Surabaya, Ki Sukar Mudjiono juga ditanggap lama di Kelenteng Kim Hin Kiong Gresik. Tiap hari Mudjiono harus main selama 4 jam selama 32 hari. "Wayang potehi itu memang mainnya lama. Gak cuma satu malam kayak wayang kulit," kata dalang 56 tahun itu.

Pimpinan Grup Lima Merpati, yang bermarkas di Kelenteng Dukuh Surabaya, ini dikenal sebagai bapaknya wayang potehi di Jawa Timur. Dialah yang banyak mencetak dalang-dalang potehi yang kini menyebar di berbagai daerah. Ki Subur di Sidoarjo pun dulunya aktif di Lima Merpati pimpinan Ki Mudjiono. Orang Tionghoa layak berterima kasih kepada Mudjiono, wong Jowo tulen, yang berhasil mengembangkan wayang potehi ketika rezim Orde Baru mengharamkan seni pertunjukan Tionghoa ini.

Bagi orang Tionghoa, khususnya jemaat kelenteng, potehi bukan sekadar seni hiburan atau pertunjukan biasa. Kesenian ini terkait erat dengan ritual dan kepercayaan tradisional Tionghoa. Maka panggung potehi biasanya selalu dibuat menyatu dengan kelenteng. Di Kelenteng Dukuh bahkan berada di dalam kelenteng.

Ki Mudjiono bersama anak buahnya bahkan menggelar pertunjukan setiap hari di Kelenteng Dukuh. Ada atau tidak ada event, hari besar, potehi jalan terus. Meski begitu, dia tetap melayani tanggapan dari luar. Bahkan tanggapan luar inilah yang biasanya memberikan rezeki nomplok kepada para sehu alias dalang potehi.

Di Kelenteng Gresik ini, dalam rangka hari jadi ke-374 kelenteng, Ki Mudjiono memainkan lakon Sun Pin vs Ban Kwan. Cerita tentang perang antarpendekar yang berebut kekuasaan di tujuh kerajaan di Zhongguo tempo doeloe. Lakon yang sudah dihafal di luar kepala. Karena cerita panjang, ruwet, sarat pertarungan, Mudjiono mengatur sedemikian rupa agar ceritanya tuntas selama 32 hari.

"Yang berat justru kalau disuruh main 30 menit. Wong pakemnnya satu bulan, kita harus memadatkan agar jadi singkat. Ini sangat sulit. Pakem wayang potehi memang tidak bisa pendek," kata ayah satu anak yang menekuni potehi sejak kelas 1 SMA di Surabaya.

Ki Mudjiono pernah ditanggap manggung selama delapan bulan nonstop. Dia justru senang. Sebab dalang dan grup musik lebih mudah mengatur cerita. Dan, tentu saja, fulusnya pun lebih mengalir lancar. Saat ini tarif wayang potehi minimal Rp 500 ribu sehari. Tinggal dikalikan saja 32 hari atau delapan bulan.

"Alhamdulillah, berkat wayang potehi, saya sudah keliling 134 kota di Indonesia. Mulai kota kecil setingkat kecamatan, kota provinsi, sampai Jakarta," ujarnya. Agustus 2015 Mudjiono dijadwalkan tampil di Amerika Serikat dan Jerman.

"Kalau gak wayangan potehi, mungkin sampai mati saya cuma luntang-lantung di kampung," ujar pak dalang yang selalu mementaskan potehi dalam bahasa campuran Jawa, Indonesia, Mandarin, Hokkian, dan Madura itu.

No comments:

Post a Comment