04 May 2015

Chelsea 2015 memang membosankan

Setelah menyaksikan Barcelona melumat Cordoba, 8-0, semalam saya menyaksikan siaran langsung Chelsea vs Crystal Palace di sebuah warung kopi di Desa Sidokerto, Buduran, Sidoarjo. Warkop ini langganan TV kabel. Karena itu, setiap saat banyak pengunjung yang sengaja cangkrukan, ngopi, agar bisa nunut nonton pertandingan bola. Maklum, pertandingan yang menentukan Chelsea sebagai juara Liga Iggris ini tidak disiarkan di SCTV atau Indosiar.

Benar saja. Betapa membosankan permainan Chelsea. Melawan Crystal yang bukan tim besar, big five, tim asuhan Jose Mourinho ini kesulitan mencetak gol. Bahkan penalti pun tidak masuk. Untung bolanya muntah dan diselesaikan Hazard. Satu gol itu sudah lebih dari cukup untuk membawa Chelsea juara Liga Inggris musim 2014/2015.

Semula saya mengira pemain-pemain Chelsea, khususnya manajer Mourinho, memberikan hiburan segar kepada pendukungnya di kandang, dan yang nonton TV di seluruh dunia, dengan menampilkan permainan atraktif, cepat, kaki ke kaki, dan... banyak gol. Tak usah delapan atau sembilan gol ala Barcelona. Cukup tiga gol sajalah. Eh, ternyata Chelsea masih seperti yang dulu. Sudah puas dengan satu gol.

Drogba masih jadi titik lemah. Bola sering lepas dari kakinya, antusiasme bermain hilang, posisinya juga gak karuan. Saya tidak tahu mengapa Mou masih mempertahankan pemain tua yang sudah layak pensiun di usia 37 itu. Pemain-pemain yang lain pun tidak punya ambisi untuk menyerang dan membuat banyak gol. Toh, menang satu gol atau delapan gol, atau 12 gol, poinnya sama-sama 3. Dan sudah juara.

Filsafat bertahan, puas dengan satu gol, parkir bus ala Mou mungkin sudah lebih dari cukup untuk menjuarai Liga Inggris. Tapi apakah Chelsea hanya puas jadi jago kandang? Tidak ingin juara di Liga Champions? Ingat, tahun ini tim-tim Liga Inggris keok di ajang terbesar di Eropa itu. Semuanya kalah kelas dari tim-tim di liga negara lain yang nota bene kalah populer dan kalah kaya ketimbang klub-klub Inggris.

Karena itu, saya merasa sangat senang, bahagia, saat menyaksikan Chelsea disingkirkan PSG, Prancis, di kandang sendiri. Lebih konyol lagi, saat itu PSG bermain dengan 10 orang di menit-menit awal karena Ibra kena kartu merah. Dengan taktik dan filsafat Mou selama ini, saya sangat pesimistis Chelsea akan menang. Apalagi menang dengan selisih dua atau tiga gol. Benar saja. Skor 2-2, sehingga Chelsea tersingkir. Alhamdulillah!

Dengan duit yang melimpah, stok pemain-pemain bagus, pelatih cerdik macam Jose Mourinho, rasanya Chelsea masih tetap kompetitif di musim depan di Liga Inggris. Tapi masak sih hanya puas jadi jago kandang? Tidak ingin jadi tim elite Eropa yang atraktif, tajam, bikin banyak gol macam Barcelona, Real Madrid, atau Bayern Munchen?

Syukurlah, empat klub semifinalis Liga Champions 2015 sangat mewakili kekuatan terbaik sepak bola dunia. Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen, dan Juventus. Selama masih dipegang Jose Mourinho kayaknya mustahil Chelsea bisa jadi tim elite Eropa yang ciamik dan mengesankan.

1 comment:

  1. Rupanya om Hurek ini Mou hater ya :)
    Mou dg Chelseanya memang kadang membosankan, tetapi gimana ya, mereka juara EPL, Mourinho juga sudah berhasil merengkuh banyak trofi.
    Sama mengecewakan dg Mayweather Jr, Pacman tidak berhasil mengalahkan dia, Mayweather Jr bertinju dengan cara yg membosankan tetapi berhasil selamat dan tetap sebagai juara.
    Apa mau dikata, ini berarti Mou juga Mayweather Jr tahu cara mengambil celah dari peraturan bola dan tinju, penonton boleh bosan tetapi mereka bermain tetap dalam koridor peraturan.
    Sebaliknya Barca bermain cantik, tetapi pernah kalah oleh Chelsea di UCL, juga pernah dikalahkan Mou di el Classico.
    Sekarang tinggal 4 team, siapa jagoan om? Kalau saya boleh tebak, om mendukung Barca ya :)
    Nanti ada Juve vs Madrid, saya mau tidur dulu om, pingin nonton juga :)
    Btw coba nonton lewat fedd2all om, saya kadang nonton NBA lewat feed2all, jagoan saya GSW.
    Selamat menikmati UCL, semoga Barca baik baik saja ya :)
    Wah berarti semoga Munich kalah ya :)

    ReplyDelete