11 May 2015

Buka Giling PG Candi Baru 2015

Setiap bulan April (minggu ketiga atau keempat) atau Mei empat pabrik gula (PG) di Kabupaten Sidoarjo mengadakan selamatan buka giling. Pesta rakyat digelar mulai sore sampai dinihari yang diikuti ribuan warga desa di sekitar pabrik gula. Tradisi buka giling ini sudah berlangsung sejak zaman Hindia Belanda ketika pabrik-pabrik gula dibangun di Sidoarjo.

Begitu banyak pabrik gula di Sidoarjo... doeloe! Ada yang bilang 16, ada yang menyebut 14, penulis lain bilang 12 atau 11 pabrik gula. Yang jelas, lebih dari 10 pabrik gula eks Hindia Belanda. Mulai Kecamatan Taman, Waru, Krian, Balongbendo, Buduran, Gedangan, hingga Porong di perbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.

Sayang, pabrik-pabrik itu gulung tikar satu per satu ditelan perkembangan zaman yang tak lagi pro pertanian. Sekarang tinggal 4 pabrik gula di Sidoarjo: PG Candi Baru (Kecamatan Candi), PG Toelangan (Tulangan), PG Kremboong (Krembung), dan PG Watoetoelis (Prambon). Entah sampai kapan empat pabrik gula ini mampu bertahan. Sebab orang-orang muda di Sidoarjo tak lagi tertarik jadi petani tebu. Selain kalah keren dengan pekerjaan kantoran, konflik sering terjadi antara petani tebu dan pabrik gula dalam urusan rendemen dan sebagainya.

Kamis malam, 7 Mei 2015, PG Candi Baru mengadakan selamatan buka giling tebu. Kompleks pabrik gula peninggalan Belanda itu dibuka seluas-luasnya untuk masyarakat. Pasar malam, bazar, jualan obat, alat pijat, batu akik, makanan jangan ditanya lagi, pakaian macam-macam, hingga acara hiburan. Dangdut, ludruk, lawak, dan ditutup pergelaran wayang kulit sampai pagi dengan lakon Wahyu Hidayat. Dalangnya Ki Sugilar Kondo Bawono asal Pungging, Mojokerto, tapi gayanya Porongan, Sidoarjo. Salah satu jenis wayang kulit Jawa Timuran yang mulai terancam gaya Jawa Tengahan.

Asyik banget menikmati suasana pesta rakyat di dalam kompleks PG Candi Baru. Kita juga bisa dengan bebas melihat mesin-mesin yang sedang nganggur menunggu diaktifkan saat giling tiba. Produksi alias giling tebu di PG Candi Baru dimulai 22 Mei 2015. "Selamatan ini merupakan tradisi yang selalu diadakan setiap tahun. Kita ingin musim giling tahun ini berjalan lancar," kata Warsito, direktur PG Candi Baru.

Banyak pengamat gula, juga asosiasi petani tebu rakyat, selalu pesimistis dengan produksi gula nasional. Tapi Pak Warsito justru sebaliknya. Dia memasang target tingg di musim giling yang berlangsung selama 180 hari (enam bulan). PG Candi Baru menargetkan menggiling 460 ribu ton tebu. Gula putih yang dihasilkan 37.720 ton. Rendemen atau kadar gula 8,2 persen. "Insyallah, bisa terwujud," katanya.

Sebagai perbandingan, rata-rata rendemen tebu di Sidoarjo tahun lalu 7,24 persen. Angka ini masih jauh lebih rendah daripada rendemen tebu di Thailand atau Tiongkok. Karena itu, pihak pabrik gula bersama pemkab berusaha membuat sistem budidaya tebu yang semakin canggih agar rendemen bisa dinaikkan. Ini terkait erat dengan produksi gula, plus kesejahteraan petani tebu.

Selama ini PG Candi Baru tak hanya mengandalkan pasokan tebu dari wilayah Sidoarjo. Mana cukup untuk tiga pabrik gula? Maka, setiap hari kita bisa melihat truk-truk pengangkut tebu dari luar daerah, khususnya plat N, parkir di pinggir jalan raya Candi menunggu giliran masuk.

Wilayah Kecamatan Candi sendiri sudah lama tak punya lahan untuk perkebunan yang luas. Padahal, tempo doeloe, pemeritah Hindia Belanda selalu membangun pabrik gula di tempat-tempat yang ada kebun tebunya. Begitu tak ada lagi kebun tebu di Kecamatan Taman, maka otomatis PG lama di Ketegan tutup. PG Waroe juga tutup karena wilayah perbatasan Sidoarjo-Surabaya itu sudah jadi kota. Begitu pula PG Sroeni di Gedangan yang sekarang jadi markas tentara Arhanudse. Begitu pula PG Boedoeran yang tutup karena tak ada pasokan tebu.

Nah, sambil menyimak monolog Ki Sugilar, sekitar pukul 00.30, saya pun merenung sendiri. Sampai kapan empat pabrik gula di Kabupaten Sidoarjo ini mampu bertahan? Di tengah industri manufaktur yang berkembang luar biasa dan lahan-lahan tebu sudah beralih fungsi menjadi perumahan dan pergudangan?

PG Candi Baru ini terbilang sangat istimewa karena merupakan satu-satunya pabrik gula di tengah kota yang masih bertahan. Tak pernah mengeluh kekurangan pasokan tebu. Bahkan, selalu mendahului buka giling ketimbang PG-PG lain di Jawa Timur.

No comments:

Post a Comment