12 May 2015

Artis Lonte dan UMK Buruh

Pagi ini serikat buruh di Sidoarjo masih bicara soal normatif. Upah minimum kabupaten (UMK) Rp 2,7 juta yang belum dipenuhi sebagian besar perusahaan. Soal BPJS. Uang lebur. Dan soal-soal klasik lainnya.

"Banyak kawan-kawan buruh yang di-PHK tanpa pesangon," kata mas Agus, pengurus serikat buruh di Sidoarjo. Agus juga menyoroti pengadilan hubungan industrial yang dianggap tidak memihak pekerja.

Mas Agus tak bosan-bosannya bicara di televisi. Dia juga sering turun langsung membela sesama buruh yang mengalami masalah. Bulan lalu dia dikepruk ormas gara-gara advokasinya di Bluru Sidoarjo. "UMK itu cuma bagus di atas kertas," katanya.

Pindah channel televisi Jakarta, obrolannya jauh lebih hot dan menarik: artis merangkap pelacur alias pekerja seks komersial (PSK). Memangnya ada pekerja seks yang tidak komersial? Pekerja seks sosial? Pengamat, psikolog, anggota dewan, artis bicara soal AA, artis yang tertangkap basah di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.

Artis gak jelas ini dibayar Rp 80 juta sekali main. Paling lama tiga jam. Kalau lebih dari tiga jam ya tarifnya bisa Rp 100 juta, bisa Rp 150 juta, bisa Rp 200 juta. Lalu di TV itu ada berita bahwa si germo Robby ini punya koleksi 200 artis yang bisa dipakai. Ada pula daftar harganya.

Wuih, edan tenan! Mas Kokkang bikin karikatur di koran pagi ini tentang lonte artis bertarif Rp 80 juta. "Sama-sama daging, kalau dibelikan daging sapi bisa satu kontainer," begitu komentar di karikatur lucu itu.

Itu kalau daging sapi yang makin mahal. Daging ayam bisa tiga kontainer dengan uang Rp 80 juta. Membeli ikan segar di pasar ikan Tambakcemandi dapat berapa? Beli kerupuk cukup untuk makan semua penduduk Sidoarjo. Beli beras raskin untuk keluarga miskin dapat berapa tuh?

Ada kontras luar biasa antara tema hari buruh dan artis-pelacur yang baru terungkap ini. Si AA yang gak jelas keartisannya cuma kerja tiga jam dapat Rp 80 juta. Sebulan berapa? Tinggal dikalikan saja. Sebaliknya buruh yang kerja delapan jam di pabrik dibayar di bawah Rp 2 juta. Bahkan di Sidoarjo ini masih banyak guru honorer yang dibayar di bawah Rp 1 juta.

Di zaman wuedaaan ini, ketika pagar moral dan nilai-nilai agama makin kendor, ketuhanan yang maha esa diganti keuangan yang mahakuasa, hedonisme dirayakan di mana-mana, kasus AA dan pelacur kelas atas ini jadi masalah besar di Indonesia. Ia bisa menjadi inspirasi bagi orang muda (yang salah jalan) untuk cemplung ke dunia gelap tapi menggiurkan itu.

Buat apa capek-capek jadi buruh di pabrik tapi dibayar di bawah UMK? Buat apa jadi petani yang hasilnya gak jelas? Menyabung nyawa di laut sebagai nelayan? Jadi guru honorer yang bayarannya juga gak jelas? Buka warung kopi atau mracang?

Ketika masyarakat makin permisif, tetangga tak saling kenal, cuek bebek satu sama lain, tak ada kontrol sosial... fenomena pelacuran kelas atas atau kelas tengah via online makin menjadi hal yang lazim di masyarakat. Pemerintah daerah hanya bisa mengobrak lokalisasi Gang Dolly, Jarak, Kremil, pasar sapi Krian, tangkis Porong, atau Telocor Jabon tapi gamang menghadapi bisnis perlontean kelas atas.

5 comments:

  1. Terus terang hanya blok Mas Hurek yang bikin saya ketagihan
    Ingat gaya gaya Jawa Pos waktu tahun 90' an

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... suwun mas Didik. nulis enteng2an buat selingan pengisi waktu dan berbagai informasi. gaya JP lawas (dan sebagian media cetak lawas) memang beda dgn tulisan gaya media sekarang di era internet. saya sendiri juga selalu cari majalah TEMPO lawas era 80an dan 70an karena kecanduan gaya ceritanya meskipun kertasnya sangat sederhana. salam sukses untuk mas Didik.

      Delete
  2. pelacuran itu fenomena sosial yg terjadi sejak zaman dulu. pemerintah perlu action utk menghentikan di era internet n media sosial ini.

    ReplyDelete
  3. para ortu harus lebih waspada, nggak boleh membiarkan anak2 perempuannya tanpa kontrol.

    ReplyDelete
  4. Prostitusi, terlepas dari senang atau tidak senang ikut menyumbang geliat ekonomi, berapapun uangnya, apakah 80juta, atau 800 ribu, uang itu akan mengalir sampai jauh, menetes ke mana mana, membasahi banyak orang dg profesi yg berbeda beda.

    Prostitusi, sudah ada sejak sebelum negeri ini berdiri, setelah negeri ini berganti presiden berkali kali, setelah DKI berganti gubernur berkali kali, sebelum diadakan lokalisasi, setelah ada lokalisasi, setelah lokalisasinya ditutup, prostitusi tetap ada.

    PSK dan bukan PSK itu sesungguhnya beda beda tipis saja.

    Dengan alasan yg berbeda beda, dg motivasi yg berbeda beda, prostitusi itu ada di antara kita.

    Tentu bukan untuk membenarkan adanya prostitusi, tetapi memang kenyataannya begitu.

    Di seluruh pelosok dunia dg paham yg berbeda beda, prostitusi itu ada.

    ReplyDelete