29 May 2015

Oriental Circus gak ada matinya

Dari dulu yang namanya pertunjukan sirkus ya begitu-begitu saja. Begitu juga atraksi binatang yang dilatih sedemikian rupa agar patuh pada perintah sang pawang. Tapi tetap saja circus show ini disukai orang dari zaman mbah buyut sampai era media sosial.

Sejak 22 Mei 2015 Oriental Circus Indonesia bikin pertunjukan di lapangan Pakuwon City, Kenjeran Surabaya. Pertunjukan kelompok sirkus legendaris ini berlangsung sampai 14 Juni 2015. Senin sampai Jumat dua kali show. Sabtu tiga kali dan Minggu empat kali.

"Pertunjukan kami selalu ramai penonton. Bahkan banyak penonton yang nonton berkali-kali," kata David Wijaya, manajer operasi Oriental Circus Indonesia. Tiket paling murah kelas ekonomi Rp 50 ribu, paling mahal Rp 200 ribu.

Kali ini Oriental Circus mendatangkan dua artis akrobatik dari Ukraina untuk menghibur penggemar sirkus di Surabaya. Pria dan wanita jangkung ini mampu memainkan aksi-aksi akrobatik yang mencengangkan. "Dari dulu kami biasa mendatangkan artis asing untuk kolaborasi dengan pemain OCI," kata David.

Oriental Circus Indonesia yang berdiri sejak 1967 hingga kini merupakan grup sirkus paling kondang di Indonesia. Didukung Taman Safari Indonesia, sirkus ini sering keliling Indonesia untuk menghibur warga hingga kota-kota kecil. Tak hanya pemain-pemainnya yang terus beregenerasi, penonton pun sudah masuk generasi keempat.

Papa mama yang dulu waktu kecil senang nonton sirkus mengajak anak-anaknya untuk nonton Oriental Circus juga. "Pertunjukannya sih hampir gak ada bedanya dengan waktu saya masih SD tahun 1980an dulu. Kemasannya aja yang lebih mewah dan modern," kata Santi, warga Sidoarjo, yang mengajak dua anaknya nonton sirkus.

Setelah show di Surabaya selama dua bulan, menurut David Wijaya, Oriental Circus sudah punya jadwal pertunjukan di kota-kota lain. Yang pasti, sirkus gak ada matinye!

28 May 2015

Mukjizat Gedung SSO di Manyarrejo



Cukup lama saya tidak bertemu Pak Solomon Tong, bos dan dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO). Terakhir ngobrol lama di ruang kerjanya di Gentengkali tentang hebatnya obat-obatan tradisional Tiongkok. Pak Tong yang lahir di Xiamen kemudian hijrah ke Surabaya saat masih bocah ini ternyata paham kebun jamu dan jamur di Zhongguo yang khasiatnya luar biasa.

Rabu 27 Mei 2015 saya bertemu lagi sama Pak Tong di markas SSO yang baru di Jalan Manyarrejo I/4 Surabaya. Inilah gedung sendiri yang sudah lama dicita-citakan Pak Tong. Gedung yang luas, punya concert hall, ada panggung di halaman terbuka, kantor, gudang, kelas-kelas kecil, dapur, bahkan losmen untuk pemusik tamu. Udara terasa segar ketika berbincang santai di ruangnya si Mimin, dekat lapangan itu.

"Beda jauhlah sama di Gentengkali dulu. Di sini oksigennya buanyaaak," kata Mimin yang setia bekerja di kantor SSO selama 10 tahun lebih.

Ya, sejak mulai di-launching dengan konser perdana, Christmas Concert, Desember 1996, di Hotel Westin Surabaya (sekarang JW Marriott Hotel), Surabaya Symphony Orchestra ini belum punya gedung sendiri. Awalnya ngontrak gedung tua di Keputran, Jalan Urip Sumoharjo, Surabaya. Tapi tidak lama karena kurang kondusif. Kemudian pindah kontrak ke Gentengkali. Itu pun di lantai 2 dan lantai 3.

Ajaibnya, tidak ada lift. Kita harus jalan kaki mendaki meniti anak tangga yang banyak. Cocok untuk orang-orang gemuk yang ingin kurus. Mungkin olahraga rutin inilah yang membuat Mimin tambah kurus meskipun rajin makan enak. Di gedung kontrakan masih lumayan dan tempat latihan orkestra di lantai 3 sekaligus tempat konser kecil-kecilan untuk murid SS0.

Tapi Solomon Tong yang beberapa adik kandungnya pendeta hebat ini (Stephen Tong, Caleb Tong, Joseph Tong) selalu percaya bahwa mukjizat selalu akan terjadi. Berkat Tuhan selalu melimpahi dirinya dan SSO. Karena itu, SS0 masih rutin bikin konser setidaknya tiga kali setahun (konser besar). Selain konser-konser kecil dan konser pesanan. Terakhir SSO bikin konser persahabatan Indonesia-Tiongkok yang dipesan Konjen Tiongkok di Surabaya.

"Kalau dipikir dengan otak manusia tidak masuk akal SSO bisa bertahan. Uang masuk dari tiket berapa sih? Sponsor berapa? Sementara pemain symphony orchestra itu banyak sekali. Tapi, puji Tuhan, selalu ada mukjizat dari Tuhan. Dan mukjizat itu selalu saya alami sejak SSO berdiri," kata Pak Tong yang juga pendiri beberapa gereja berbahasa Tionghoa di Surabaya ini.

Mukjizat masih terjadi di Manyarrejo ini? Solomon Tong mengaku mengalami kasih Tuhan, miracle, yang akhirnya membuat SSO memiliki gedung sendiri yang representatif itu. Bangunan lama dimodifikasi sekitar 40 persen menjadi conservatory SSO sekarang.

Pak Tong bercerita kepada saya, ketika sangat ingin memiliki gedung sendiri, tak ada uang untuk beli tanah dan bangunan. Biaya untuk konser, produksi, latihan, honor pemain... dan lain-lain saja tidak mudah dicari. Tapi tiba-tiba ada kabar dari Bandung, lewat adiknya, silakan survei tempat dan bangunan yang dianggap layak jadi gedung SSO. Cari ke sana kemari, akhirnya sreg dengan yang ada di Manyarrejo ini.

"Harganya Rp 6 miliar," tutur Pak Tong. Sang adik di Bandung, juga tokoh gereja yang sangat terkenal, pun bilang oke. Silakan ditunggu saja, berdoalah kepada Tuhan, agar rencana yang mulia itu bisa terwujud.

"Eh, ternyata (tanah dan bangunan) sudah dibayar lunas. Apa ini bukan mukjizat? Bahkan, waktu itu saya malah tidak tahu geangan orang yang membayar gedung ini," kata Pak Tong yang pernah belajar musik pada almarhum Slamet Abdul Sjukur itu.

Belum sampai setahun menempati gedung baru di Manyarrejo, kata Pak Tong, ada orang yang ingin membeli gedung itu. Dengan harga lebih dari dua kali lipat harga saat dibeli Pak Tong. "Ini juga mukjizat. Semua itu sulit diterima akal manusia tapi nyata adanya," kata pria 75 tahun yang energetik dan tak pernah sakit itu.

Rupanya Pak Tong belum tergiur dengan tawaran untuk menjual kembali gedung itu meskipun harganya ciamik soro. Bisa saja diterima agar bisa membeli gedung baru yang lebih dekat di dalam kota. Saya belum sempat bertanya karena gak enak mengganggu Pak Tong yang harus bekerja siang itu.

Saya pun pamitan ke Sidoarjo. Dan... dapat mukjizat dari Pak Tong berupa kaos putih konser persahabatan Indonesia-Tiongkok. Hehehe.... kamsia Tong xiangshen!

Semoga SSO makin sukses setelah tidak lagi pindah-pindah gedung kontrakan.

27 May 2015

Susy Nander Dara Puspita Melayani Narapidana



Orang-orang lawas tentu pernah dengar (dan menikmati) Dara Puspita. Grup band beranggotakan 4 wanita yang sangat musikal di era 60an dan 70an. Titiek Adji Rachman (gitar), Titik Hamzah (bas), Lies Soetisnowati Adji Rachman (gitar), dan Susy Nander (drum). Benar-benar fenomenal karena di zaman yang masih serba sederhana, empat dara manis itu (biyen) bisa bikin rekaman album, manggung di mana-mana, dengan aksi yang menarik ditonton.

Sampai sekarang pun banyak orang asing, khususnya Belanda dan USA, yang terkagum-kagum dengan Dara Puspita. Mr Alan Bishop bahkan beberapa kali datang ke Indonesia untuk mencari album-album lawas Dara Puspita, gali informasi, dan wawancara langsung dengan personel Dara Puspita yang sudah sepuh itu.

Miss Nina, juga orang Amerika Serikat, ketika bertugas sebagai guru bahasa Inggris di Krian, Sidoarjo, juga kaget ketika mengetahui Indonesia pernah punya band putri yang musiknya sangat unik. Nina yang masih muda, warga USA keturunan India, bahkan menjadikan Dara Puspita sebagai salah satu band favoritnya. Mr Alan Bishop juga beberapa kali menghubungi saya untuk diskusi soal Dara Puspita.

"Dara Puspita itu band yang fantastis," kata Alan Bishop, produser rekaman spesialis lagu-lagu super lawas. Beliau sudah keliling ke berbagai negara dan secara khusus memuji musik-musik lawas di Indonesia, khususnya Dara Puspita.

Begitu dinamisnya industri musik membuat kita makin sulit mengingat nama-nama band atau artis lawas. Termasuk si Dara Puspita. Ketika Susy Nander muncul di Rutan Medaeng, Sidoarjo, tempat penggemblengan warga binaan yang terlibat berbagai kasus kriminalitas, orang tidak mengira bahwa dulunya Bu Susy ini artis terkenal.

"Puji Tuhan! Haleluya!!! Percayalah saudara-saudara bahwa saudara tetap disayang Tuhan. Kasih setia Tuhan selalu baru tiap hari," begitu antara lain kata-kata hiburan rohani buat para narapidana yang beragama Kristen di Medaeng. Senyum Bu Susy tetap mengembang menyapa para warga binaan. Para tahanan pun tak ada yang tahu kalau Susy Nander ini drummer Dara Puspita.
"Saya sekarang memang sering pelayanan ke penjara dan panti asuhan. Berbagi kasih dengan sesama yang sedang menghadapi ujian dari Tuhan," kata nenek kelahiran 5 Juli 1947 itu.

Bagi Susy, popularitas Dara Puspita dan dirinya sebagai drummer kawakan, khususnya pada 1965-1972, tak lebih dari nostalgia masa lalu. Dia lebih asyik menikmati kebersamaan dengan lima cucu dari tiga anaknya. Di usia 68 tahun, Susy mengaku tidak punya energi yang kuat untuk menggebuk drum. Apalagi untuk musik yang dinamis dalam tempo cepat.

"Cucu saya yang pintar main drum. Pakai baca partitur segala. Aku gak iso moco, wong otodidak. Pokoknya iso nggebuk, enak ya wis," kata Susy Nander yang sekarang tinggal di perumahan kawasan Gedangan, Sidoarjo, itu. "Saya kalah sama cucu," kata mantan artis yang suka berkebun itu.

Setelah vakum dari Dara Puspita, Susy Nander sempat tinggal di berbagai kota di tanah air. Di Bontang Kalimantan Timur selama 17 tahun. Gara-gara rumahnya dekat pabrik pupuk, Susy kena alergi. Ini pula yang membuat dia makin rewel menjaga makanan dan kebersihan rumahnya. Makan malam tepat pukul 18.00. "Kesehatan itu nomor satu. Ditambah hati yang gembira," katanya.

Karena sering pelayanan di penjara, tutur kata Susy Nander pun makin religius. Saat ini dia ingin melakukan bakti sosial di Nusakambangan. Bisa main drum di depan para terpidana kelas kakap, khususnya yang menunggu eksekusi mati.

26 May 2015

AdSense Selamatkan Blog

Sebelum dimakan facebook, twitter, BBM, instagram... dan entah apa lagi, blog sempat booming sekitar 10 tahun lalu. Orang ramai-ramai memanfaatkan blog untuk menulis semacam diari atau jurnal pribadi. Diari yang dulu rahasia, dibaca sendiri, sejak adanya blog malah jadi konsumsi publik. Bahkan, para blogger kerap mengudang orang lain, dengan segala cara, agar berkunjung ke blognya.

Komunitas blogger tumbuh di berbagai kota, tapi tak bertahan lama. Blogging ditelan media sosial yang sangat interaktif dengan notifikasi yang segera di smarphone. Ciut sana sini, komentar dikomentari, selfie, dsb dsb. Blog pun sempat mati. Blog milik seorang guru jurnalistik kawakan, yang dulu rajin memprovokasi wartawan-wartawan muda untuk blogging, ikut terkapar.

Kalau dulu blog kondang itu penuh artikel bagus, selalu di-update 3-4 kali seminggu, kini sepi jali. Belum tentu ada satu artikel dalam satu bulan. Gurunya jurnalis itu malah aktif di media sosial, khususnya twitter, yang cuma 140 karakter itu. Padahal, beliau itu dulu hampir tiap hari mengecam para jurnalis Indonesia yang sebagian besar tidak mampu menulis panjang.

Rupanya, kelesuan blogging ini disadari Google selaku pemilik blogspot dan beberapa platform blog lainnya. Blog atau website pribadi jangan sampai mati total. Maka harus ada iming-iming alias insentif agar orang mau kembali ngeblog. Iming-iming yang paling ampuh apa lagi kalau bukan duit. Program iklan ala Google Inc dengan sistem PPC pay per click) ini memang terbukti efektif untuk membangunkan jutaan blogger yang mati suri.

"Saya mau hidupkan blogspot saya yang lama. Sudah tidak aktif lima tahun," kata teman asli Surabaya yang juga penulis buku. Harapannya ya blognya bisa lolos AdSense. Kalau nasib mujur, dapat PO yang lumayanlah... meskipun masih kelas recehan.

Ada lagi blogger senior yang menyesal karena sudah lama menghapus blogspot-nya. Dia hijrah ke blog lain yang katanya lebih ciamik, dengan desain yang jauh lebih hidup, ketimbang punyanya Google. Belakangan menyesal karena perusahaan penyedia platform blog itu bangkrut. Blognya ikut hilang dari jagat maya. Lebih menyesal lagi setelah tahu ada program iklan versi Google yang disebut AdSense itu.

"Saya harus mulai dari nol lagi," katanya sendu. Ingin menghidupkan blognya, dengan konten-konten yang bagus dan mendalam, agar bisa ikutan AdSense. "Soalnya, ada teman saya yang PO AdSense-nya sangat tinggi," katanya.

Sayang sekali, demam AdSense ini malah dimanfaatkan begitu banyak blogger, lama dan baru, untuk membuat blog semata-mata untuk AdSense. Bikin blog bukan untuk berbagi informasi, berekspresi, senang-senang, pengisi waktu luang (ketimbang ngelamun), tapi ingin dapat duit banyak dari AdSense. Banyak kiat yang ditawarkan untuk menjebak pembaca, khususnya kategori visitor, agar mengklik iklan AdSense di blognya. Penempatan AdSense pun dibuat sedemikian rupa agar diklik orang.

Demam AdSense yang kebablasan ini tentu saja tidak sehat. Tak hanya pembaca yang jengah, sang blogger pun tak lagi merasakan keasyikan ngeblog.

24 May 2015

Musik Rock Berjaya di Surabaya 1990-an

Membaca koran-koran lawas itu seperti membaca sejarah. Kita jadi tahu banyak hal tentang masa lalu yang sebagian besar sudah tidak pas dengan tren saat ini. Juga banyak kenangan tentang band atau artis lama yang kini tinggal kenangan. Artis-artis lawas yang kini jadi kakek-nenek atau telah kembali ke pangkuan ilahi.

Kliping berita Jawa Pos edisi 29 Desember 1989, Jumat Legi, itu berjudul ROCK DOMINASI PAKET JELANG 1990 TVRI. Yang menulis Sugeng Irianto, wartawan senior Jawa Pos yang sudah almarhum. Beliau salah satu guru saya yang telaten membimbing teknik reportase dan menulis konser musik pop, rock, metal, dangdut, dsb. "Dibuat sederhana dan asyik aja. Bikin pembaca seakan-akan menonton langsung konser itu," begitu pesan almarhum Sugeng Irianto.

Nah, secara kebetulan saya menemukan tulisan beliau tentang persiapan menyambut tahun baru 1990 di Surabaya. Cak Ir, sapaan akrab sang wartawan musik ini, menulis sejumlah band dan penyanyi yang mengisi paket old & new di TVRI Surabaya. Surabaya Rock Band. Andromedha. Rock Trickle. Gorella. GM Band.

Kemudian penyanyi Ita Purnamasari. Rita Monica. Nyoman Olly. Dewi Novianti. Paman Dolit yang kocak. Ada juga orkes melayu (dangdut) cewek Ashanti's dan Pink Road. Cak Ir menulis, "Dominannya jumlah kelompok rock rupanya cerminan menjamurnya kelompok-kelompok rock di Surabaya. Bisa juga kita sebut Surabaya adalah kota barometer musik rock di Indonesia saat ini."

Pendapat bahwa Surabaya barometer musik rock di Indonesia itu bukan kutipan pengamat, artis, atau sumber, tapi wartawannya sendiri. Cak Ir memang bilang kalau menulis musik sebaiknya masukkan opini atau pendapat untuk memperkaya tulisan. Jangan cuma menurut si A begini, kata si B begitu, si C berpendapat begini begitu... blablabla....

"Wartawan seni budaya itu kan punya otak dan wawasan. Jangan mau jadi corongnya narasumber thok," pesan almarhum Ir yang juga teman akrab Log Zhelebour, promotor musik rock papan atas dari Surabaya itu.

Membaca tulisan Cak Ir di Jawa Pos lama memang hidup dan asyik. Terasa sekali dia dekat banget dengan artis, musisi, atau promotor yang jadi narasumbernya. Akhirnya, saya baru sadar mengapa dulu Cak Ir ini sering guyon dan cangkrukan bersama George Handiwiyanto yang selama ini saya kenal sebagai pengacara dan ketua himpunan pengusaha hiburan umum di Surabaya. Saya baru tahu, setelah baca klipingan lawas, George ternyata manajer yang mengorbitkan Surabaya Rock Band. Oalahhhh...

Di bawah berita tulisan Cak Ir, ada liputan dari Malang berjudul RIA RESTY FAUZY BERTAHUN BARU DI REGENT'S. Selain Ria Resty, ada paket musik yang menampilkan penyanyi Ira Puspita, Markonah n Dance Group, Dino Magician, serta Star Light Band.

Harga tiket menikmati malam tahun baru 1990 di Regent's Park Hotel Jalan Jaksa Agung Suprapto 12-16 Malang ini Rp 35 ribu (VIP) dan Rp 25 ribu (biasa) per orang. Hari ini, Mei 2015, uang Rp 35000 bahkan tidak bisa dipakai untuk makan di depot sederhana di Surabaya dengan menu gulai kambing plus es teh. Amboi, betapa dahsyatnya inflasi rupiah selama 25 tahun ini!

Ludruk Irama Budaya Menolak Mati

Margono, warga Pegirian, berbincang santai dengan temannya di depan panggung Ludruk Irama Budaya, Surabaya, dalam bahasa Madura. Temanya tentang beberapa lakon ludruk populer di Jawa Timur. Cerita Pak Sakerah, Sarip Tambakoso, Joko hingga Sembung. "Saya sudah hafal semua lakon ludruk. Wong sejak masih di Lumajang saya nonton ludruk," kata Margono kepada saya.

Malam Minggu itu, 23 Mei 2015, hanya kami bertiga di ruang pertunjukan ludruk di kampung seni Taman Hiburan Rakyat (THR). Beberapa waria senior sesekali mondar mandir ke samping panggung yang jadi tempat tinggal pemain ludruk pimpinan Deden Irawan, 34 tahun, itu. Sayang, mas Deden, anak angkat almarhum Sakia Sunaryo, pendiri Irama Budaya, lagi keluar saat itu. Padahal, saya ingin tahu perkembangan ludruk yang dikelolanya itu.

Syukurlah, Margono bisa jadi saksi hidup yang lebih objektif untuk melihat perkembangan Ludruk Irama Budaya. Sebab pria yang selalu pakai kopiah hitam ini rajin menonton Irama Budaya sejak masih bermarkas di Pulo Wonokromo, dekat Terminal Joyoboyo. Ketika sang empunya tanah meminta haknya, Sakia dan kawan-kawan kelimpungan. Mereka kemudian dibantu Pemkot Surabaya agar boyongan ke THR.

Gedung pertunjukan THR jauh lebih bagus dan bersih daripada di Wonokromo dulu. Juga lebih luas. Lampunya bagus. Sound system dibantu Bank Jatim. Sayang, kehidupan Irama Budaya malah senen kemis. "Penonton di sini paling banyak 20 orang. Rata-rata ya 10 sampai 15 orang. Termasuk saya," kata Margono dengan logat Madura yang sangat kental.

Padahal harga karcis cuma Rp 5000.
Tidak cukup untuk beli nasi di warung yang paling murah Rp 7000 (plus es teh). "Kalau dipakai beli rokok ya nggak bisa," kata Margono tentang nestapa kehidupan seniman ludruk.

Andaikan yang nonton ludruk ini 20 orang, duit masuk Rp 100 ribu. Pemain ludruk dan musisi pendukung sekitar 50 orang. Berapa rupiah duit yang diterima seorang seniman? "Hehehe... Kalau dihitung-hitung ya jelas gak masuk akal bisa hidup. Tapi kok masih bertahan sampai sekarang," kata Margono yang hafal benar jalan cerita ludruk di Jatim.

Ketika masih di Wonokromo, penonton ludruk Irama Budaya pun sebenarnya tidak banyak. Tapi setiap malam grup pimpinan Sakiah alias Sunaryo ini bisa menyedot 20an orang ke gedung pertunjukan dari bahan kayu-kayu bekas itu. Setiap malam ada pertunjukan. Malam Minggu pasti penuh gedung tobong itu.

"Di THR ini Irama Budaya cuma main malam Minggu thok. Itu pun yang nonton hanya belasan orang," tutur Margono yang polos dan suka senyum ini.

Pukulan kian berat ketika Sakia, waria yang merintis Ludruk Irama Budaya sejak 1987, meninggal dunia tahun 2012. Irama Budaya kehilangan motor penggerak sekaligus manajer, juru lobi, dan pencari sponsor. Sakia dengan segala keterbatasannya bisa menggandeng pejabat macam wali kota saat itu, Bambang DH, atau Arif Afandi, wakil wali kota saat itu. Juga pengusaha dan pejabat lain agar jadi sponsor pertunjukan Irama Budaya.

Berkat almarhum Sakia, yang ngotot dan kerap digojlok sebagai rai gedhek, Irama Budaya beberapa kali mengadakan pertunjukan keliling Surabaya. Khususnya wilayah pinggiran macam Tandes atau Benowo. Nah, rupanya Sakia lupa mengkader anak buahnya agar bisa luwes mendekati para pejabat dan pengusaha. Deden Irawan jelas bukan Sakia yang punya pengalaman dalam urusan cari sponsor.

"Makanya, bisa bertahan saja sudah keajaiban," kata Margono.

Tak jauh dari gedung ludruk, ada pertunjukan Srimulat yang dibiayai pemkot dalam rangka hari jadi Kota Surabaya. Penontonnya cukup melimpah. Kalau tak ada sponsor ya Srimulat tidak manggung. Beda dengan Irama Budaya yang menolak mati meskipun kanker ganas sudah menggerogoti tubuhnya.

Sebagai orang desa yang akrab dengan ludruk sejak bocah, Margono menilai keberadaan Irama Budaya di kampung seni THR, tengah kota Surabaya, salah tempat. Apalagi di depannya ada pusat belanja modern yang dikenal sebagai HighTec Mall. Di samping bagian depan ada Taman Remaja Surabaya yang dikemas moder dan full dangdut. Mana ada orang yang mau ke belakang untuk nonton ludruk yang pemain-pemainnya makin uzur itu?

Margono, juga beberapa penggemar, berpendapat ludruk seperti Irama Budaya ini lebih cocok bermarkas di wilayah pinggiran. Khususnya di Tandes, Benowo, atau perbatasan Surabaya-Gresik macam Romokalisari. Atau, perbatasan dengan Sidoarjo, khususnya dekat Desa Tambakoso, yang punya tokoh legendaris Sarip Tambakoso. Masyarakat Surabaya di pinggiran masih bisa diharapkan datang menonton ludruk yang memang kesenian tradisional agraris.

"Kalau di THR terus ya lama-lama habis," kata Margono.

Malam itu Ludruk Irama Budaya menampilkan cerita Akal Bulus. Pukul 21.30 pertunjukan belum dimulai. Penontonnya baru tiga orang. Termasuk mas Margono yang setia itu.

Srimulat Surabaya yang Lesu Darah

Mau nonton konser Dewa 19 (Ahmad Dhani) atau Srimulat? Dua-duanya gratis. Tadi malam saya memilih yang kedua. Sebab sudah bertahun-tahun saya tidak menyaksikan pertunjukan Srimulat secara langsung di THR Surabaya. Gedung pertunjukan yang masih lumayan bagus, yang pernah sangat berjaya hingga tahun 1990an.

Saya juga sering penasaran dengan tulisan preview yang dibuat mas Agus, wartawan senior, yang sangat aktif woro-woro pertunjukan di THR Surabaya. "Ceritanya menarik, judulnya Dendam Kuntilanak. Bintang-bintang Srimulat kawakan seperti Bambang Gentolet, Vera, Hanter... come back," kata mas Agus yang memang bikin catatan untuk promosi Taman Hiburan Rakyat (THR).
Sabtu malam, 23 Mei 2015, penonton cukup melimpah. Lebih dari 50 persen kursi terisi. Mungkin karena gratis. Mungkin juga karena banyak undangan yang tidak enak sama panitia hari jadi Kota Surabaya. Tak sedikit orang Tionghoa yang nonton. Banyak pula gadis-gadis 20an tahun yang sibuk mengabadikan pertunjukan dengan gadget mereka.

Seperti biasa, pertunjukan dibuka dengan band yang diisi pemain-pemain lawas. Lagu-lagunya juga lawas. Ada Tanjung Perak Tepi Laut (lumayan menghibur dengan irama keroncong), I Can't Stop Loving You, yang disusul seorang nenek 70an tahun membawakan Still Loving You. Musisi dan penyanyi lawas ini sebetulnya punya kemampuan di atas rata-rata. Sayang, sound system benar-benar jelek. Jauh lebih buruk ketimbang sound system orkes dangdut yang pentas di kampung terpencil di Sidoarjo.

Kok bisa Srimulat yang sangat terkenal itu bermain dengan sound system yang jelek? Padahal gedung pertunjukannya masih bersih, bagus, dan terawat. Jeleknya sound membuat kita sulit menikmati musik. Syair lagu hampir tidak bisa diikuti. Suara instrumen pun numpuk gak karuan. Pemain saksofon yang gondrong bikin gaya macam-macam tapi suaranya tidak jelas.

Lebih kacau lagi ketika home band Srimulat itu membawakan dangdut. Berantakan! Syukurlah, penonton masih mencoba bertahan karena penasaran dengan dagelan Dendam Kuntilanak. Buat mengusir stres di tengah kepungkan isu beras plastik, melambungnya harga sembako, dan kesulitan hidup lainnya.

Pertunjukan dimulai. Pelawak Lutfi dan Insaf buka warung kopi di tengah hutan. Jualan kopi, teh, pisang goreng, tahu kotak, ote-ote dsb. Sebentar-sebentar ada gangguan daru kuntilanak. Kedua pelawak ini seperti biasa bikin ulah konyol yang membuat penonton tertawa ngakak. Yang paling ramai tertawa tentu anak-anak kecil karena belum tahu guyonan lawas. Yang tua-tua cuma tertawa partisipasi. Gak enak kalau diam saja.

Tapi ya itu tadi, sound system yang berantakan membuat kata-kata para pemain Srimulat tidak kedengaran. Sayup-sayup tidak jelas. Untung grup lawas yang dijuluki pabrik tawa ini banyak main action, slapstick konyol, sehingga penonton agak terhibur. Suara tawa anak-anak di kursi depan praktis menutupi dialog pemain di atas panggung.

Bambang Getolet, Hanter, Vera, Eko... dan beberapa pemain lain terkesan cuma sambil lewat begitu saja. Perannya di panggung seperti figuran saja. Justru Insaf dan Lutfi, yang bukan anggota asli Srimulat, yang bekerja keras mengawal cerita Kuntilanak ini sejak awal sampai akhir. "Persiapannya kurang. Insya Allah, ke depan kami buat lebih bagus lagi," kata mas Lutfi, pelawak yang tinggal di Sidoarjo.

Selain sound system, masih banyak hal yang harus dibenahi Srimulat kalau ingin bertahan di tengah kepungan hiburan modern yang makin melimpah. Manajemen pertunjukan jelas sangat lemah. Sulit dipercaya grup kawakan ini tidak sadar bahwa sound system di dalam gedung benar-benar payah. Ilustrasi musik juga tidak ada. Yang ada cuma band pembukaan dengan kualitas sound yang berantakan itu.

Yang paling urgen tentu kaderisasi pemain atau pelawak. Lutfi dan Insaf, motor pertunjukan Srimulat Surabaya, itu produk lawak tahun 1990an. Usia keduanya sudah di atas 40 tahun. Padahal Lutfi dan Insaf ini paling muda di Srimulat. Tanpa pemain 20an tahun, masa depan pabrik tawa ini sangat suram. Mbah Bambang Gentolet yang sangat sepuh malam itu hanya ngomong dua tiga kalimat saja. Dan tidak lucu.

Sayang, ketika penonton di Surabaya sudah bersedia datang untuk menyaksikan Srimulat, pengurus THR dari Pemkot Surabaya malah tidak menyiapkan sound system yang layak. Maka tidak heran kalau orang-orang muda lebih memilih menyaksikan konser Dewa 19 di Grand City ketimbang datang ke kompleks THR pada malam Minggu.

21 May 2015

PSM Universitas Jember Larang 44 Lagu Daerah

Sangat mengejutkan. Pantia festival paduan suara Piala Rektor Universitas Jember membuat kebijakan melarang 44 lagu daerah karena terlalu sering dibawakan dan lomba atau festival paduan suara di tanah air. Peserta diminta memilih lagu daerah di luar yang 44 itu.

Daftar lagu-lagu daerah terlaris yang dilarang itu antara lain Yamko Rambe Yamko, Umbul-Umbul Blambangan, Tanduk Majeng, Gundul-Gundul Pacul, Cik-Cik Periuk, Kicir-Kicir, Karaban Sape, Jaranan, Jangkrik Genggong, Bungong Jeumpa, Manuk Dadali, dan Paijjar Laggu.

"Lagu-lagu daerah di Indonesia itu ada ratusan, bahkan ribuan. Jangan cuma itu-itu saja yang dinyanyikan di festival," kata Rohmat Hidayanto, pembina Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Jember.

Rasanya baru kali ini ada panitia lomba paduan suara yang melarang begitu banyak lagu daerah. 44 lagu itu tidak sedikit. Semuanya dipastikan sangat populer dan jadi favorit paduan suara di mana pun. Belum lagu-lagu Batak yang juga sangat populer seperti Sigulempong, Sitogol, Tilo-Tilo, atau Siksik Sibatumanikam.

Yang terakhir ini bahkan sudah jadi lagu rakyat paling disukai paduan suara di seluruh dunia. Diaransemen Pontas Purba, Siksik Sibatumanikam dibawakan dengan sangat bagus oleh paduan suara Incheon Korea Selatan, Thailand, dan beberapa negara Eropa. Bisa dipastikan lagu ini pun masuk dalam daftar 44 lagu daerah yang jarang dinyanyikan itu.

Kalau 44 lagu ini dilarang dinyanyikan di festival paduan suara (tingkat TK hingga perguruan tinggi), lantas peserta mau menyanyikan lagu apa? Masih buanyaaak lagu daerah di tanah air yang belum dieksplor. "Ibarat lapangan tenis, yang dieksplor paduan suara kita baru sebesar bola tenis," kata Rohmat.

Mas Rohmat mungkin benar. Kor-kor harus lebih banyak mengeksplor lagu-lagu daerah di luar 44 top hits itu. Tapi untuk bisa mengeksplorasi, bikin aransemen kor, menemukan keenakan sebuah lagu, butuh orang-orang khusus. Dus, tidak semua arranger mampu mengutak-atik lagu-lagu daerah yang benar-benar belum dikenal sebelumnya. Di level nasional sekalipun tidak banyak arranger paduan suara seperti mas Budi Susanto dari Malang, Pontas Purba, Avip Priatna, atau arranger yang dimiliki paduan suara di kampus terkemuka.

Kalau mau jujur, kor-kor Indonesia yang berjaya di festival paduan suara tingkat nasional dan internasional pun umumnya membawakan lagu daerah yang termasuk 44 itu. Bahkan, lagu daerah yang sama dibawakan dengan aransemen yang sama. Beberapa tahun lalu mas Budi yang dikenal sebagai arranger dan dirigen jempolan sering dipinjam berbagai paduan suara untuk tampil di festival internasional. Dan menang! Mas Budi ini memang dirigen, pelatih, arranger paduan suara yang menangan.

Itu paduan suara tingkat universitas yang sedikit banyak pula home arranger. Itu pun masih menggunakan aransemen paduan suara yang digarap dedengkot kor macam mas Budi. Kalau zaman dulu kita yang biasa terlibat di paduan suara lebih sering memakai lagu daerah yang diaransemen Lilik Sugiarto, N Simanungkalit, Theys Watopa, Nikolai Varvalomejev, atau Paul Widyawan. Bisa juga garapan Feri Dewobroto dari Jakarta atau Bonar Sihombing atau Gorga Gultom.

Mengapa begitu? Sebab partitur-partitur lagu daerah karya para arranger populer itu sudah siap saji. Fotokopiannya beredar di seluruh paduan suara mahasiswa di Indonesia. Selain itu, lagu-lagu daerah itu digarap dengan rasa yang enak. Plus tingkat kesulitannya masih bisa diatasi paduan suara amatiran. "Lagu-lagu Batak itu paling enak kalau dibawakan paduan suara," kata beberapa teman yang dulu aktif di paduan suara kampus dan gereja.

Kembali ke larangan membawakan 44 lagu daerah itu. Apakah panitia festival menyediakan aransemen puluhan lagu daerah lain sebagai pengganti? Tingkat kesulitannya bagaimana? Kemampuan dirigen atau pelatih menguasai lagu-lagu daerah yang belum pernah didengar? Ini tidak gampang.

Berdasar pengalaman saya, banyak pelatih paduan suara (amatir) di Indonesia hanya bisa melatih membawakan lagu-lagu yang pernah dia nyanyikan sebelumnya di paduan suaranya ketika di sekolah menengah, perguruan tinggi, atau komunitas lain seperti gereja dsb. Kalau diminta membimbing paduan suara dengan lagu baru, aransemen baru, apalagi dengan tingkat kesulitan di atas level 3, banyak pelatih yang mundur. (Tingkat kesulitan paduan suara versi Pusat Musik Liturgi Katolik di Jogjakarta mulai level 1 atau paling mudah hingga level 6 sangat-sangat sulit).

Tapi bagaimanapun juga kebijakan PSM Universitas Jember melarang 44 lagu daerah yang terlalu sering dinyanyikan ini punya banyak sisi positifnya. Paling tidak ke depan makin banyak lagu daerah baru yang bergema di seluruh Indonesia. Orang akan bosan dengan lagu-lagu daerah yang itu-itu saja macam Lisoi, Ampar-Ampar Pisang, Sayang Dilale, Paris Barantai, Goro-gorone, Gunung Sahilatua, Bolelebo, Kicir-Kicir, Cente Manis, Jali-Jali, Anging Mamiri....

Saya sendiri sih kalau diminta membimbing paduan suara untuk festival di Jember itu akan memilih lagu Cikcik Periuk. Lagu daerah Kalimantan ini buat saya sangat enak, lincah, variatif, tidak terlalu sukar tapi juga tidak terlalu gampang, punya greget untuk sebuah festival. Dan, yang paling penting, arranger-nya Lilik Sugiarto (almarhum) dari PSM Universitas Indonesia yang sangat saya kagumi. Kalau dipaksa harus membawakan lagu daerah di luar 44 judul, yang belum pernah saya ketahui, saya pasti tidak akan berani.

Salam paduan suara!

20 May 2015

Membaca e-paper gak asyik

Tidak gampang mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Termasuk kebiasaan membaca koran kertas, newspaper, sejak kecil. Mengubah kebiasaan membaca berita di atas kertas ke berita di atas komputer yang nirkertas ternyata perlu penyesuaian mental, psikologi, dsb.

Sebetulnya jauh lebih gampang mengakses dan membaca e-paper. Cukup buka internet di komputer, lalu ketemu laman surat kabar macam Jawa Pos, Radar Surabaya, dan Kompas -- tiga koran yang selalu saya ikuti. Tidak perlu menunggu kiriman loper atau membeli koran di pinggir jalan. Dengan tampilan yang sama persis dengan edisi kertas, sejatinya membaca e-paper sama saja dengan membaca koran kertas.

Tapi ya itu tadi, keasyikkan membolak-balik halaman koran, kadang menandai beberapa berita atau artikel, jadi hilang di depan komputer atau laptop atau gawai lainnya. Belum lagi godaan di internet begitu banyaknya. Belum tuntas membaca dua sampai lima berita, selalu ada keinginan untuk memelototi breaking news, Youtube, atau diskusi di media sosial macam FB. Maklum, banyak sekali usul, saran, atau informasi warga Sidoarjo di grup fesbuk yang bisa dikembangkan jadi berita.

Akibatnya, saya tidak pernah membaca koran elektronik (e-paper) secara mendalam. Beda dengan membaca koran kertas konvensional yang terasa enak, tenang, merangsang imajinasi dan membuat kita sering sebel, geli, atau tertawa sendiri dengan ulah politisi yang konyol. Padahal, berita-berita di koran kertas itu dijamin sudah ketinggalan satu hari ketimbang breaking news di internet.

Karena gak asyik membaca e-paper, saya biasanya membaca lagi koran kertas beberapa jam kemudian, bahkan malam hari di kantor, meskipun isi dan tampilannya sama persis. Maka, saya pikir-pikir, e-paper itu hanya cocok untuk orang-orang yang belum punya kebiasaan membaca koran kertas sejak kecil. Kalau sejak balita sudah biasa main internet, browsing ke sana kemari, aktif di media sosial, e-paper rasanya kurang efektif.

Kayaknya e-paper ini semacam media transisi dari koran kertas ke koran online yang benar-benar nihil kertas. Semoga masa transisi ini berlangsung lamaaaa... sehingga bisnis koran kertas bisa terus berjalan. Dan para loper serta pengecer koran tetap berjualan di pinggir jalan.

Hidup koran kertas!

19 May 2015

Via Vallen Bintang Dangdut dari Sidoarjo



Siapa penyanyi dangdut paling top di Jawa Timur saat ini? Hampir semua penggemar dangdut (koplo) di Surabaya dan Sidoarjo menyebut nama ini: VIA VALLEN. Gadis manis asal Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, yang terdampak lumpur Lapindo, ini luar biasa populernya. Jauh sebelum namanya menanjak, rekaman live Via Vallen terlihat berjubel di YouTube.

"Makanya, dulu saya dijuluki Ratu Pop Koplo YouTube," ujar penyanyi kelahiran 1 Oktober 1990 dengan nama asli Maulidia Octavia ini.

Video-video di YouTube itu tak lain rekaman saat Via Vallen manggung di berbagai kota. Via tampil bersama semua orkes melayu (OM) papan atas di Jawa Timur seperti OM Sera, OM Monata, atau OM New Palapa. Lagu-lagu milik artis lain, khususnya pop, di-cover si Via dengan racikan koplo ala OM Sera dan orkes-orkes sejenisnya.

"Alhamdulillah, banyak orang yang senang dengan gaya saya meskipun saya gak bisa goyang kayak artis lain," kata nona yang suaranya nyaring ini.

Via Vallen menjadi fenomenal di tanah air, tak hanya Jawa Timur, justru karena dia tak latah meniru para seniornya di jagat koplo yang norak, berbusana super seksi, goyangan vulgar, lirik lagu yang ngeseks, dsb. Via tampil dengan pakaian sopan, nyaris tanpa goyangan ala penyanyi dangdut. Cengkok dangdut yang sering berlebihan pun dia hindari. "Kalau nyanyi lagu dangdut asli baru saya pakai cengkok. Kalau lagu pop yang di-cover ya biasa saja," katanya.

Rupanya resep yang tidak neko-neko ini justru mengundang simpati penggemar musik dangdut koplo. Lagi pula, goyangan norak nan ngebor ala Inul Daratista yang heboh sejak 2004 sudah bikin orang jenuh. Ketika para artis koplo dari pantai utara (pantura) cenderung gila-gilaan, Via Vallen datang dengan tawaran baru yang segar dan sederhana.

"Sekarang ini Via Vallen jadi artis favorit di pantura," kata M Syaiful, mantan duta wisata Sidoarjo, yang sekarang jadi salah satu promotor show Via Vallen bersama OM Sera di kawasan pantura Jawa Tengah. "Via Vallen itu malah jauh lebih populer di luar Jawa Timur. Permintaan dari Kalimantan pun luar biasa. Anehnya, di Sidoarjo sendiri biasa-biasa saja," kata pria asal Desa Candipari, Kecamatan Porong, itu.

Saking populernya Via Vallen di Jawa Tengah, Syaiful mengaku paling senang menggarap konser Via Vallen bersama OM Sera. Orkes Melayu Sera (Selera Rakyat) ini milik pengusaha musik dari Gresik, tapi hampir semua musisinya dari Sidoarjo. Via Vallen menjadi penyanyi paling diandalkan OM Sera.

"Kalau OM Sera manggung sama Via Vallen, sudahlah, kita sudah BEP sebelum konser. Agen-agen tiket pada berebut jualan tiket. Satu stadion penuh sesak," ujar Syaiful kepada saya pekan lalu. "Kalau jualan band-band pop, wah, sulitnya setengah mati. Makanya, saya sekarang tiap minggu blusukan di Jawa Tengah, khususnya pantura, sama Via Vallen," mantan Guk Sidoarjo itu menambahkan.

Bagi promotor muda asli kota lumpur ini (rumah Syaiful tak jauh dari lokasi semburan lumpur Lapindo), Via Vallen dan OM Sera merupakan kombinasi yang dahsyat di Jawa Tengah. Mengapa? Baik Via Vallen maupun OM Sera memiliki ribuan fans yang setia, cenderung fanatik, dan siap menonton pertunjukan Via Vallen + Sera di mana saja.

"Anda lihat saja di YouTube bagaimana hebatnya para penonton konser Via Vallen. Nggak pakai tawuran kayak penonton dangdut lawas yang kampungan itu," katanya.

Sampai kapan popularitas Via Vallen yang baru merilis single berjudul Selingkuh (setelah sukses mengkoplokan ratusan lagu-lagu pop terkenal) bertahan? Belajar dari pengalaman mengangkat artis lokal Sidoarjo macam Putri Vinata (Kecamatan Taman) dan Uut Permatasari (Krian), menurut Syaiful, popularitas penyanyi dangdut wanita itu sangat dipengaruhi usia. Sebab, penggemar dangdut koplo sejak dulu lebih suka penyanyi berusia 20-an tahun.

Kalau sudah menginjak 27 tahun, 28 tahun, apalagi 30 tahun, otomatis sudah muncul biduanita baru yang jadi primadona panggung. Saat ini Via Vallen berusia 25 tahun. Usia emas seorang bintang dangdut-koplo untuk mencetak income sebanyak-banyaknya.

"Inul itu 10 tahun lalu hebohnya kayak apa. Sekarang Inul cuma jadi komentator di TV atau ngurusin rumah karaokenya karena wis tuwek (sudah tua). Siklus di industri hiburan ya selalu begitu," katanya.

18 May 2015

Orkes Keroncong Gita Nirmala Sidoarjo




Minggu, 17 Mei 2015, rumah Pak Suyadi, 5 tahun, di Perumahan Gelora, depan Stadion Jenggolo, Sidoarjo, berubah jadi ajang konser. Irama keroncong memenuhi kediaman mantan Camat Tanggulangin itu. Suasananya gayeng, santai, kental dengan nuansa kekeluargaan. Mirip acara arisan rutin.

"Yah, ketimbang nggak ada acara di rumah, ya kumpul-kumpul, main keroncong," ujar Pak Suyadi, pimpinan Orkes Keroncong (OK) Gita Nirmala Sidoarjo.

Orkes yang menonjolkan keroncong asli ini berdiri pada 17 Agustus 2012. Tapi sebetulnya Pak Yadi dan kawan-kawan sudah puluhan tahun menggeluti musik keroncong. Nyanyi-nyanyi, latihan bersama, kadang tampil di acara resmi maupun setengah resmi. "Dulu waktu masih dinas sih nggak ada waktu. Tapi dari dulu saya memang senang keroncong," kata Suyadi yang juga ketua RT di perumahannya.

Latar belakang anggota komunitas keroncong, yang makin langka ini, berbeda-beda. Ada yang pensiunan pemkab, dokter, pengusaha, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Yang pasti, tidak ada anak-anak muda berusia 20an tahun. Misinya memang ingin melestarikan musik keroncong yang makin keroncongan di era musik digital ini. "Keroncong itu iramanya tenang, bikin ayem," kata Mas Teguh, pemain violin.

Meski awalnya hanya diniatkan untuk mengisi waktu luang, menikmati hobi lama, menurut Pak Yadi, OK Gita Nirmala sering diminta tampil di berbagai acara di Sidoarjo dan Surabaya. Mereka sering mengisi acara di RRI Surabaya dan Radio Siaran Pemerintah Kabupaten (RSPK) Sidoarjo. Pernah juga tampil di acara ulang tahun pemilik butik ternama di Sidoarjo.

"Teman-teman ini punya semangat yang luar biasa. Hujan deras pun tetap datang untuk latihan atau pementasan di Surabaya sekalipun," kata Pak Yadi sambil tersenyum.

Bagi Pak Suyadi, yang paling penting dari orkes keroncong ini adalah semangat kebersamaan dan kekeluargaan di antara anggota. Karena itu, tempat latihan pun selalu bergantian di rumah anggota. "Alhamdulillah, sekarang kami ditawari berlatih sekaligus pentas di RTH Tandjoeng Puri, Lingkar Timur," katanya.

Sutikno, anggota asal Kwadengan, berharap generasi muda di Kabupaten Sidoarjo mau berabung agar musik keroncong tidak hilang ditelan sejarah.

17 May 2015

JAGAL, BEGAL, COPET Bikin Bingung

Ada dua kata yang selalu bikin saya bingung ketika membaca koran: JAGAL dan BEGAL. Kedua kata asli bahasa Jawa itu sudah masuk kamus bahasa Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Kalau saya cermati konteks kalimatnya di surat kabar, para wartawan dan redaktur yang asli Jawa pun sering bingung menempatkan kelas kata JAGAL dan BEGAL.

"Begal itu kata benda, kata kerja, atau kata sifat?" tanya saya kepada seorang wartawan yang asli Jawa Timur.

"Begal ya kata kerja. Begal itu kan sama dengan merampok," kata si wartawan.

Mbah Bambang, asli Jogja, tapi sudah puluhan tahun tinggal di Sidoarjo, seniman senior, malah menyebut BEGAL sebagai kata benda. Begal itu sinonim dengan penyamun atau perampok. Dari dulu saya manut sama Mbah Bambang Thelo yang sudah almarhum itu. Soalnya, beliau ini punya beberapa buku referensi Jawa yang sangat meyakinkan. Beliau juga pernah jadi wartawan dan penulis artikel opini di surat kabar di Surabaya.

Selain BEGAL, saya juga meminta pendapat beberapa orang (lebih tepat: ngetes) kata JAGAL. Jagal itu kata kerja, kata benda, atau kata sifat? Jawaban para responden, yang semuanya orang Jawa, pun tidak tegas. Ada yang bilang kata benda (n), ada yang bilang kata kerja (v). Syukurlah, tak ada yang bilang kata sifat (a).

Hari Minggu ini, 17 Mei 2015, kata JAGAL muncul berkali-kali dalam cerpen di Kompas karya A Muttaqin, penulis kelahiran Gresik dan tinggal di Surabaya. Judul cerpennya: Hidup Hanya Menunda Penggorokan. Ceritanya memang tak jauh dari dunia penyembelihan hewan di rumah potong hewan (RPH).

Saya perhatikan A Muttaqin ini selalu menggunakan kata PENJAGAL dan TUKANG JAGAL. "Kau anak tukang jagal sama betul dengan bapakmu yang bebal," begitu salah satu dialog. Kalimat lain: "Sebagai anak tukang jagal yang tersohor...." Kalimat lain lagi: "Bapakku penjagal kakap. Ia hanya menjagal sapi, kerbau, kuda, atau paling remeh kambing."

Saya kaget karena di kepala saya JAGAL (dan BEGAL) itu pelaku alias kata benda. JAGAL berarti orang yang menjagal sapi, kerbau, kuda, dsb. Tidak perlu imbuhan atau kata bantu menjadi PENJAGAL atau TUKANG JAGAL agar jadi pelaku (kata benda). Karena itu, PENJAGAL atau TUKANG JAGAL jelas berlebihan. Pakai JAGAL saja sudah cukup.

Kalimat di cerpen A Muttaqin itu cukup ditulis: "Sebagai anak jagal yang tersohor." "Bapakku jagal (kelas) kakap." (Kalau jagal kakap bisa dikira menjagal ikan kakap.)

Setelah saya cek Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus paling resmi di Indonesia, pendapat almarhum Mbah Bambang Thelo ternyata beroleh konfirmasi. Berikut keterangan KBBI tentang kata JAGAL:

JAGAL 1 orang yg bertugas menyembelih (memotong) binatang lembu, kambing, kerbau) di rumah pemotongan hewan; pembantai; 2 orang yg berusaha di bidang potong-memotong hewan atau sbg agen penjual daging hewan; 3 cak pembunuh orang yg tidak bersalah;

MENJAGAL v 1 menjadi jagal; 2 membantai; memotong ternak (lembu dsb): ia ~ sapi setiap harinya tidak kurang dr 20 ekor; 3 cak membunuh (manusia) secara kejam (dng dipotong-potong dsb);
PENJAGALAN n rumah jagal; penjagalan;
PENJAGALAN n 1 proses, cara, perbuatan memotong ternak; pembantaian; pemotongan hewan; 2 tempat menyembelih ternak (spt lembu, kerbau, kambing)


Setelah membaca Kompas, saya beralih ke Jawa Pos. Ada berita tentang pelajar SMKN 2 Surabaya membuat alat pencegah perampasan sepeda motor. Kalimat pertama di berita itu begini: "Begal termasuk kejahatan yang belakangan ini kian ngetren."

Kasusnya sama persis dengan JAGAL tadi. BEGAL itu kata benda, kata kerja, atau kata sifat? Si wartawan (dan redaktur) jelas sekali menganggap BEGAL sebagai peristiwa perampasan sepeda motor di jalan raya. Bukan pelaku atau penyamun. Seandainya si wartawan menganggap BEGAL sebagai pelaku tentu kalimatnya tidak seperti itu. Cukuplah pakai kalimat sederhana: Begal makin merajalela belakangan ini.

Orang Indonesia, termasuk orang Jawa sendiri yang empunya kata, memang sering terkecoh dengan kata JAGAL dan BEGAL. Dikira kata kerja (verba). Karena itu, agar jadi kata benda (pelaku), dibuatlah kata bentukan PENJAGAL, TUKANG JAGAL, PELAKU PEMBEGALAN; PEMBEGAL, TUKANG BEGAL, PELAKU PEMBEGALAN.

Apa kata KBBI?

BEGAL /b├ęgal/ n penyamun;
MEMBEGAL v merampas di jalan; menyamun;
PEMBEGALAN n proses, cara, perbuatan membegal; perampasan di jalan.


Jawaban kamus baku sangat gamblang. Tapi, setelah saya renungkan, tidak salah juga kalau para wartawan dan masyarakat menganggap JAGAL dan BEGAL sebagai kata kerja. Sebab, sebelumnya ada kata COPET, juga dari bahasa Jawa, aslinya kata benda (pelaku), tapi sudah puluhan tahun dianggap sebagai kata kerja.

Mengembalikan COPET sebagai pelaku (kata benda) malah dianggap salah. Inilah yang namanya salah kaprah. Kesalahan yang dibiasakan terus-menerus akhirnya dianggap benar. Maka, koran-koran di Surabaya biasanya menulis judul berita EMPAT PENCOPET DITANGKAP POLISI. Jarang sekali ada judul (dan isi) berita: EMPAT COPET DITANGKAP POLISI

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikan COPET sebagai berikut:

COPET n orang yg mencuri (sesuatu yg sedang dipakai, uang di dl saku, barang yg dikedaikan, dsb) dng cepat dan tangkas; tukang copet; pencopet;
MENCOPET v mencuri (barang yg sedang dipakai, uang dl saku, barang yg dikedaikan, dsb) dng cepat dan tangkas: anak itu telah ~ dompet orang asing;
PENCOPET n orang yg mencopet; tukang copet;
PENCOPETAN n proses, cara, perbuatan mencopet;
KECOPETAN 1 v cak kehilangan sesuatu krn dicopet orang: seorang turis ~ di depan bioskop; 2 n perihal copet


Kamus resmi terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini menganggap COPET dan PENCOPET sebagai kata benda (n) yang artinya sama persis. Maka, COPET yang semula berarti pelaku, pencuri, orang yang mencuri... lama-lama dianggap kata kerja. Pelakunya disebut PENCOPET.

Mungkin asosiasi kata COPET/PENCOPET inilah yang akhirnya melahirkan PENJAGAL, TUKANG JAGAL, JURU JAGAL, PELAKU PENJAGALAN, PEMBEGAL, TUKANG BEGAL, PELAKU PEMBEGALAN.

16 May 2015

Simfoni 65 Tahun Indonesia - Tiongkok



Hubungan Indonesia dengan Tiongkok makin mesra meski sempat beku pada era Orde Baru. Tiongkok yang makin kaya, kelebihan duit, terus ekspandi dagang ke seluruh dunia. Indonesia jadi salah satu pasar berbagai produk made in China yang murah harganya meskipun kualitasnya banyak yang rongsokan. Tahun 2015 ini hubungan persahabatan Indonesia-Tiongkok genap 65 tahun.

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menggandeng Surabaya Symphony Orchestra (SSO) menyelenggarakan konser musik bertajuk Simfoni Tiongkok Indonesia. Solomon Tong, dirigen sekaligus bos SSO, menyiapkan lagu-lagu dari kedua negara. Musik merupakan bahasa universal yang terbukti ampuh untuk menjalin persahabatan antarbangsa. Kita tak harus mengerti kata-katanya untuk menikmati lagu atau musik instrumentalia. Apalagi dalam bentuk orkes simfoni.

Pak Tong menyiapkan 8 lagu Indonesia dan 8 lagu Tiongkok. Dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Tiongkok Zhongguo Geoge, konser persahabatan ini digelar di Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa 19 Mei 2015. Sudah bertahun-tahun SSO memang rutin menggelar konser di Shangri-La. "Soalnya di Surabaya ini hampir gak ada tempat yang layak untuk konser symphony orchestra," kata dirigen dan guru musik berusia 76 tahun yang selalu energetik itu. (Jamunya apa Pak Tong? Yang jelas, Pak Tong punya banyak koleksi teh pahit dari Tiongkok dan Tibet, juga aneka herbal dari negeri Zhongguo.)

Tujuh lagu Indonesia ini sudah akrab di telinga pencinta musik, khususnya seriosa. Pantang Mundur karya Titiek Puspa, Cintaku Jauh di Pulau (FX Sutopo), Bukit Kemenangan (Djuhari), Nyiur Hijau (R Maladi, orkestrasi Yazeed Jamin), Wanita (Ismail Marzuki), kemudian Renungan di Makam Pahlawan (Binsar Sitompul). Ada juga potpouri lagu-lagu Ismail Marzuki yang diaransemen Siswanto WS dengan judul Indung Selam Tiba.

Lagu-lagu Tiongkok pun dipilih yang populer dan punya nilai AIGUO (cinta tanah air) sangat tinggi. Solomon Tong alias Tong Tjoeng An yang lahir di Xiamen, Fujian, 20 Oktober 1939, jelas tidak sulit memilihkan lagu-lagu yang cocok untuk hajatan besar ini. Tentu saja sudah dikonsultasikan dengan Konjen RRT yang punya hajatan.

Ada lagu Tiongkok berjudul Bunga Melati (terjemahan Indonesia), Negaraku, Bernyanyi untuk Negara, Kidung Sungai Chang Jang, Kisah Cinta Sam Pek Eng Tai, dan Penghormatan kepada Bendera. Penyanyi-penyanyinya kolaborasi vokalis Surabaya dan Tiongkok. SSO sendiri sejak konser pertama pada 1996 tidak pernah kesulitan penyanyi yang fasih bahasa Tionghoa. Pak Tong pun guru musik dan bahasa Tionghoa yang mumpuni.

Solomon Tong beberapa kali menjelaskan kepada saya bahwa orkes simfoni yang didirikan para pengusaha Kristen Tionghoa di Surabaya ini tidak bisa hanya melayani satu segmen penonton. Sebab selera penggemarnya berbeda-beda. Ada yang suka orkes simfoni klasik murni. Ada yang suka lagu-lagu seriosa Indonesia. Yang lain suka lagu Tiongkok. Ada yang pop opera. Dan, jangan lupa, lagu-lagu gerejawi atau choral pun diminta banyak penggemar.

Kemudian ada orang tua yang ingin anaknya bisa main concerto piano atau violin bersama SSO. Beberapa pengusaha dan pejabat (dulu Wiranto) pun ingin menyanyi diiringi orkes simfoni. "Itulah yang membuat menu konser SSO selalu bervariasi. Susah kalau klasik murni," katanya.

Nah, kali ini pun SSO menerima permintaan Konjen Tiongkok di Surabaya untuk memeriahkan perayaan 65 tahun hubungan Tiongkok-Indonesia. Karena itu, tidak ada satu pun repertoar klasik Barat yang disajikan orkes simfoni satu-satunya di Surabaya itu.

12 May 2015

Dalang potehi panen di kelenteng



Setelah tahun baru Imlek, disusul Capgomeh, pertengahan Februari 2015, pertunjukan wayang potehi sempat nganggur cukup lama. Ini siklus biasa. Baru kemarin wayang potehi khas Tionghoa itu ditanggap lagi di berbagai kelenteng. Khususnya kelenteng yang tuan rumahnya dewi laut alias Makco Thian Siang Seng Bo.

Gak tanggung-tanggung, Ki Subur ditanggap di Kelenteng Tjong Hok Kiang Sidoarjo selama 65 hari (dua bulan lebih). Nonstop. Biasanya tanggapan ditambah satu atau dua minggu sesuai pesanan pengurus atau umat kelenteng. "Saya sejak dulu memang selalu mengisi acara hari jadi Makco di Kelenteng Sidoarjo. Bahkan saya juga dapat nama ya di Sidoarjo ini," kata Ki Subur yang badannya memang subur.

Selain Ki Subur, dalang potehi asal Surabaya, Ki Sukar Mudjiono juga ditanggap lama di Kelenteng Kim Hin Kiong Gresik. Tiap hari Mudjiono harus main selama 4 jam selama 32 hari. "Wayang potehi itu memang mainnya lama. Gak cuma satu malam kayak wayang kulit," kata dalang 56 tahun itu.

Pimpinan Grup Lima Merpati, yang bermarkas di Kelenteng Dukuh Surabaya, ini dikenal sebagai bapaknya wayang potehi di Jawa Timur. Dialah yang banyak mencetak dalang-dalang potehi yang kini menyebar di berbagai daerah. Ki Subur di Sidoarjo pun dulunya aktif di Lima Merpati pimpinan Ki Mudjiono. Orang Tionghoa layak berterima kasih kepada Mudjiono, wong Jowo tulen, yang berhasil mengembangkan wayang potehi ketika rezim Orde Baru mengharamkan seni pertunjukan Tionghoa ini.

Bagi orang Tionghoa, khususnya jemaat kelenteng, potehi bukan sekadar seni hiburan atau pertunjukan biasa. Kesenian ini terkait erat dengan ritual dan kepercayaan tradisional Tionghoa. Maka panggung potehi biasanya selalu dibuat menyatu dengan kelenteng. Di Kelenteng Dukuh bahkan berada di dalam kelenteng.

Ki Mudjiono bersama anak buahnya bahkan menggelar pertunjukan setiap hari di Kelenteng Dukuh. Ada atau tidak ada event, hari besar, potehi jalan terus. Meski begitu, dia tetap melayani tanggapan dari luar. Bahkan tanggapan luar inilah yang biasanya memberikan rezeki nomplok kepada para sehu alias dalang potehi.

Di Kelenteng Gresik ini, dalam rangka hari jadi ke-374 kelenteng, Ki Mudjiono memainkan lakon Sun Pin vs Ban Kwan. Cerita tentang perang antarpendekar yang berebut kekuasaan di tujuh kerajaan di Zhongguo tempo doeloe. Lakon yang sudah dihafal di luar kepala. Karena cerita panjang, ruwet, sarat pertarungan, Mudjiono mengatur sedemikian rupa agar ceritanya tuntas selama 32 hari.

"Yang berat justru kalau disuruh main 30 menit. Wong pakemnnya satu bulan, kita harus memadatkan agar jadi singkat. Ini sangat sulit. Pakem wayang potehi memang tidak bisa pendek," kata ayah satu anak yang menekuni potehi sejak kelas 1 SMA di Surabaya.

Ki Mudjiono pernah ditanggap manggung selama delapan bulan nonstop. Dia justru senang. Sebab dalang dan grup musik lebih mudah mengatur cerita. Dan, tentu saja, fulusnya pun lebih mengalir lancar. Saat ini tarif wayang potehi minimal Rp 500 ribu sehari. Tinggal dikalikan saja 32 hari atau delapan bulan.

"Alhamdulillah, berkat wayang potehi, saya sudah keliling 134 kota di Indonesia. Mulai kota kecil setingkat kecamatan, kota provinsi, sampai Jakarta," ujarnya. Agustus 2015 Mudjiono dijadwalkan tampil di Amerika Serikat dan Jerman.

"Kalau gak wayangan potehi, mungkin sampai mati saya cuma luntang-lantung di kampung," ujar pak dalang yang selalu mementaskan potehi dalam bahasa campuran Jawa, Indonesia, Mandarin, Hokkian, dan Madura itu.

Artis Lonte dan UMK Buruh

Pagi ini serikat buruh di Sidoarjo masih bicara soal normatif. Upah minimum kabupaten (UMK) Rp 2,7 juta yang belum dipenuhi sebagian besar perusahaan. Soal BPJS. Uang lebur. Dan soal-soal klasik lainnya.

"Banyak kawan-kawan buruh yang di-PHK tanpa pesangon," kata mas Agus, pengurus serikat buruh di Sidoarjo. Agus juga menyoroti pengadilan hubungan industrial yang dianggap tidak memihak pekerja.

Mas Agus tak bosan-bosannya bicara di televisi. Dia juga sering turun langsung membela sesama buruh yang mengalami masalah. Bulan lalu dia dikepruk ormas gara-gara advokasinya di Bluru Sidoarjo. "UMK itu cuma bagus di atas kertas," katanya.

Pindah channel televisi Jakarta, obrolannya jauh lebih hot dan menarik: artis merangkap pelacur alias pekerja seks komersial (PSK). Memangnya ada pekerja seks yang tidak komersial? Pekerja seks sosial? Pengamat, psikolog, anggota dewan, artis bicara soal AA, artis yang tertangkap basah di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.

Artis gak jelas ini dibayar Rp 80 juta sekali main. Paling lama tiga jam. Kalau lebih dari tiga jam ya tarifnya bisa Rp 100 juta, bisa Rp 150 juta, bisa Rp 200 juta. Lalu di TV itu ada berita bahwa si germo Robby ini punya koleksi 200 artis yang bisa dipakai. Ada pula daftar harganya.

Wuih, edan tenan! Mas Kokkang bikin karikatur di koran pagi ini tentang lonte artis bertarif Rp 80 juta. "Sama-sama daging, kalau dibelikan daging sapi bisa satu kontainer," begitu komentar di karikatur lucu itu.

Itu kalau daging sapi yang makin mahal. Daging ayam bisa tiga kontainer dengan uang Rp 80 juta. Membeli ikan segar di pasar ikan Tambakcemandi dapat berapa? Beli kerupuk cukup untuk makan semua penduduk Sidoarjo. Beli beras raskin untuk keluarga miskin dapat berapa tuh?

Ada kontras luar biasa antara tema hari buruh dan artis-pelacur yang baru terungkap ini. Si AA yang gak jelas keartisannya cuma kerja tiga jam dapat Rp 80 juta. Sebulan berapa? Tinggal dikalikan saja. Sebaliknya buruh yang kerja delapan jam di pabrik dibayar di bawah Rp 2 juta. Bahkan di Sidoarjo ini masih banyak guru honorer yang dibayar di bawah Rp 1 juta.

Di zaman wuedaaan ini, ketika pagar moral dan nilai-nilai agama makin kendor, ketuhanan yang maha esa diganti keuangan yang mahakuasa, hedonisme dirayakan di mana-mana, kasus AA dan pelacur kelas atas ini jadi masalah besar di Indonesia. Ia bisa menjadi inspirasi bagi orang muda (yang salah jalan) untuk cemplung ke dunia gelap tapi menggiurkan itu.

Buat apa capek-capek jadi buruh di pabrik tapi dibayar di bawah UMK? Buat apa jadi petani yang hasilnya gak jelas? Menyabung nyawa di laut sebagai nelayan? Jadi guru honorer yang bayarannya juga gak jelas? Buka warung kopi atau mracang?

Ketika masyarakat makin permisif, tetangga tak saling kenal, cuek bebek satu sama lain, tak ada kontrol sosial... fenomena pelacuran kelas atas atau kelas tengah via online makin menjadi hal yang lazim di masyarakat. Pemerintah daerah hanya bisa mengobrak lokalisasi Gang Dolly, Jarak, Kremil, pasar sapi Krian, tangkis Porong, atau Telocor Jabon tapi gamang menghadapi bisnis perlontean kelas atas.

Klenik Wong Cilik sampai Sultan

Siang kemarin saya ketemu Mbak Ningsih di Candi Tawangalun, Sedati, Sidoarjo, tak jauh dari Bandara Juanda. Wanita asal Candi, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, ini bercerita panjang lebar tentang hal-hal aneh yang tak kasat mata. Takhayul bin klenik.

"Itu lho ada embah duduk di pojok. Pakai sorban, tapi punya ekor," katanya serius.

"Mana si embah itu? Kok gak kelihatan ya?"

"Itu lho orangnya. Wajahnya tenang, lagi meditasi."

"Di mana?"

"Di pojok itu lho! Wong anak saya aja lihat," kata Ningsih yang menggendong anak balitanya.

Oh, akhirnya saya sadar bahwa Ningsih ini orang klenik alias dukun. Kerennya: paranormal. Saya kemudian menemui Syaiful Munir, pengurus Candi Tawangalun, yang sedikit banyak tahu latar belakang Ningsih. "Mbak Ningsih itu memang paranormal. Dia suka keliling dari candi ke candi untuk semedi," kata Syaful yang juga pelukis asal Buncitan, Sedati.

Ditemani Syaiful, Ningsih bercerita lebih banyak lagi tentang pengalamannya meditasi di pantai selatan. Tiba-tiba dia didatangi sebongkah batu kristal putih dengan hiasan yang indah. Batu ajaib itu kini disimpan di rumahnya. "Minggu lalu wartawan majalah Liberty datang ke rumah saya untuk wawancara dan motret. Kamu gak wawancara ta?" katanya ramah.

Hehehe... Rupanya demam batu akik ini juga merambah ke Sidoarjo. Kalau dibungkus dengan cerita ajaib ala Ningsih, bisa-bisa batu ajaib misterius itu bisa laku puluhan atau ratusan juta rupiah. Ningsih masih ingin bercerita tapi saya sudah jengah. Saya lebih tertarik membahas penghijauan yang gagal di Candi Tawangalun dan Desa Buncitan. Ratusan bibit yang ditanam ramai-ramai tahun lalu tak satu pun yang hidup. Hanya tanaman kepuh yang ditanam Syaiful yang mampu bertahan di tanah bergaram itu.

"Setiap hari ada saja orang-orang seperti Ningsih yang datang ke sini. Ceritanya ya ajaib-ajab. Saya dengarkan saja supaya mereka senang. Antara percaya gak percaya. Wong kenyataannya budaya tradisional kita memang tidak lepas dari klenik," kata Syaiful.

Mendengar cerita-cerita Ningsih, kemudian disambung rombongan lain dari Krian, yang diperkuat Syaiful Munir, saya langsung teringat Sultan Hamengku Buwono X di Jogjakarta. Sri Sultan baru saja mengeluarkan SABDA RAJA yang mengundang kontroversi di masyarakat. Omongan Sri Sultan yang kita dengar di televisi pun berbau klenik atau spiritual Jawa sehingga tidak bisa ditanggapi secara rasional. Gak akan ketemu!

Sri Sultan mengaku hanya melaksakan dhawuh dari Gusti Allah yang disampaikan melalui leluhur! Karena wangsit gaib itulah, Sri Sultan membuat beberapa kebijakan strategis tentang masa depan Kerajaan Mataram. Luar biasa! Di era internet, mbah Google, media sosial yang berlimpah, spiritualitas klenik ternyata masih sangat hidup di masyarakat. Mulai dari wong clik macam Ningsih di Candi, Mbah Erwin di Krian, Mbah Jono di Trawas, dan eyang-eyang lain yang dianggap orang pinter.

Manusia-manusia yang dianggap punya kelebihan karena bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang biasa. Bisa mendengar bisikan (alam gaib) yang tak akan bisa didengar manusia kebanyakan. Dan, biasanya, menjelang pemilihan kepala daerah ini banyak dukun yang ingin jadi bekingnya calon bupati/wali kota. Atau, si calon itu yang diam-diam mendatangi dukun.

"Selama ini calon-calon yang saya dampingi selalu menang," kata seorang Mbah Dukun asal Tulangan.

11 May 2015

Musik Kontemporer Apa Itu?

Oleh Slamet Abdul Sjukur
Komponis, pelopor musik kontemporer di Indonesia

Tidak ada salahnya kalau orang meragukan musik kontemporer. Musik demikian memang sukar dimengerti, tidak enak didengar, dan sering kali tidak karuan.

Komponis-komponis banyak yang tergesa mencari sesuatu yang baru tanpa mencoba memanfaatkan apa yang masih bisa dimanfaatkan. Mereka sungguh-sungguh tidak mau bersikap demikian - karena mempunyai kebutuhan asasi yang memang lain - tidak banyak. Sisanya hanyalah seniman-seniman yang telanjur harus nyeniman dan jumlahnya seperti bintang-bintang di langit.

Soalnya tentu saja tidak semudah itu. Bisa saja dibuat pelik. Dan sesungguhnya persoalan musik kontemporer (untuk hanya menyebutkan musik) merupakan jalinan sejumlah masalah yang masing-masing meminta pembahasan yang hati-hati.

Tapi reaksi-reaksi yang kelihatannya awam dan dangkal itu bagaimanapun juga perlu mendapat perhatian. Bukan untuk memanjakan publik, melainkan justru untuk menguji, betulkah musik yang maunya erudite atau spontan, atau entah apalagi itu, betul-betul sudah mencapai maksudnya? Ataukah rahasinya terletak pada perangkap: dapatkah kita bermusik tanpa meributkan semua itu?

Monte Young, seorang komponis Amerika, menulis antara lain beberapa karya untuk piano. Salah satu di antaranya seorang pianis (seorang saja) harus mendorong piano ke dinding, dan lamanya (musik ini) dia sendiri yang menetapkannya.

Pernah terjadi seorang pengunjung konser datang kepada Schoenberg dan mengeluh tidak mengerti karyanya yang baru saja dipentaskan. Tentu saja, jawab tokoh musik abad ke-20 ini, musik saya tidak dimainkan sebagaimana mestinya.

Juga sebuah ciptaan Stravinsky yang sekarang menjadi kesayangan hampir setiap pecinta musik. Le Ascre du Printems pernah dilempari tomat oleh orang yang biasanya paling semangat menanggapi pikiran-pikiran baru, yakni murid-murid kelas komposisi konservatori negara di Paris.

Lagu lama masih berputar di sekitar kecurigaan terhadap kemampuan komponis atau kesiapan pendengar. Mungkinkah sebuah karya besar dapat begitu saja diterima tanpa menggoncangkan nilai-nilai yang sudah ada?

Satu hal yang setidak-tidaknya sukar dipungkiri bahwa musik tidak pernah berhenti dalam memperluas daerahnya. Apa yang dianggap kemarin tidak musikal, sekarang malah bisa menjadi ramuan yang paling sedap. Suara apa pun bisa menjadi musik.

Terasa semacam ada keyakinan yang tenang dan mustahil dibendung dalam hal mengeluarkan suara-suara yang tadinya dianggap liar. Pada suatu ketika kita akan terpaksa (harus berani) mengakui musik yang serba bagai. Musik bukanlah hanya simfoni-simfoni Beethoven.

Jimmy Hendrix hanyalah salah satu aspek daripada musik yang bisa kita bayangkan. Di samping itu laut, angin, kicau burung, kucing kawin, sepeda motor. Tapi musik demikian lebih baik tidak disebut namanya. Kapan saja kita mendengar suara, kapan saja kita sadar akan adanya suara-suara, kita tahu bahwa hampir pada saat itu juga lenyaplah suara-suara yang kita rasakan kehadirannya.
Musik adalah soal SAAT. Tepat pada saatnya. Atau belum saatnya. Kita juga bisa mengalami ketinggalan saat.
Sinar Harapan, 16 Oktober 1976

Wayang Potehi vs Wayang Kulit di Kelenteng Sidoarjo

Ki Sugilar kembali tampil di halaman Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo, tadi malam. Setiap tahun pak dalang asal Mojokerto selalu ditanggap pengurus kelenteng di pinggi Sungai Karanggayam itu. Tak hanya mendalang, Ki Sugilar membawa tiga penari remo yang genit (dan gemuk) untuk menghibur warga sekitar kelenteng.

Sementara itu, di halaman dalam Ki Subur bersama grupnya memainkan wayang potehi. Beda dengan wayang kulit, wayang khas Tionghoa yang sempat dilarang selama 30 tahun oleh rezim Orde Baru itu dimainkan selama satu bulan. Dua jam sehari.

"Alhamdulillah, rezeki tahunan dari umat kelenteng," kata Ki Subur, satu-satunya dalang potehi asal Sidoarjo.

Begitulah. Kolaborasi seni tradisional Tionghoa dan Jawa ini selalu diperlihatkan saat perayaan ulang tahun Makco Thiang Siang Seng Bo. Makco yang dikenal sebagai dewi laut ini merupakan tuan rumah Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo. Dewi asal Fujian, Tiongkok, ini juga sangat dihormati oleh warga Tionghoa di seluruh dunia. Karena itu, hari jadinya selalu dirayakan dengan sangat meriah. Jauh lebih meriah ketimbang tahun baru Imlek atau hari-hari besar Tionghoa lainnya.

Tak hanya di halaman, suasana perayaan sejit Makco di dalam GOR Basket, satu kompleks dengan kelenteng, pun tak kalah meriah. Warga Tionghoa dari berbagai daerah berbaur bersama warga pribumi sekitar kelenteng menyaksikan berbagai atraksi yang ciamik. Aksi barongsai dari Pasuruan boleh juga. Begitu juga Power Band Surabaya yang tampil kompak dengan dukungan sound system yang enak.

Saya terkesan dengan penyanyi Ruben asal Surabaya yang vokalnya sangat powerful. Begitu pula Lily, penyanyi Surabaya juga yang suaranya ciamik. Rupanya orang Tionghoa ini punya banyak artis hebat yang terkenal di komunitas sendiri tapi tak dikenal masyarakat luas. Sebab tidak pernah muncul di televisi. Percayalah, vokal penyanyi-penyanyi pop Mandarin ini jauh lebih bagus ketimbang artis-artis karbitan di televisi itu.

Malam kian larut. Musisi Power Band cabut ke Surabaya. Warga Tionghoa juga mulai meninggalkan arena pesta di kelenteng dan GOR karena jarum jam sudah melewati pukul 00.00. Tapi di panggung luar, Ki Sugilar baru memulai pertunjukannya dengan "bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip...."

Makin lama makin banyak penggemar wayang kulit berdatangan untuk menikmati pertunjukan wayang kulit Jawa Timuran itu. "Orang Tionghoa malah rajin nanggap wayang, sementara kita yang wong Jowo malah sering mengabaikan wayang kulit," kata Rusman asal Porong.

Buka Giling PG Candi Baru 2015

Setiap bulan April (minggu ketiga atau keempat) atau Mei empat pabrik gula (PG) di Kabupaten Sidoarjo mengadakan selamatan buka giling. Pesta rakyat digelar mulai sore sampai dinihari yang diikuti ribuan warga desa di sekitar pabrik gula. Tradisi buka giling ini sudah berlangsung sejak zaman Hindia Belanda ketika pabrik-pabrik gula dibangun di Sidoarjo.

Begitu banyak pabrik gula di Sidoarjo... doeloe! Ada yang bilang 16, ada yang menyebut 14, penulis lain bilang 12 atau 11 pabrik gula. Yang jelas, lebih dari 10 pabrik gula eks Hindia Belanda. Mulai Kecamatan Taman, Waru, Krian, Balongbendo, Buduran, Gedangan, hingga Porong di perbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.

Sayang, pabrik-pabrik itu gulung tikar satu per satu ditelan perkembangan zaman yang tak lagi pro pertanian. Sekarang tinggal 4 pabrik gula di Sidoarjo: PG Candi Baru (Kecamatan Candi), PG Toelangan (Tulangan), PG Kremboong (Krembung), dan PG Watoetoelis (Prambon). Entah sampai kapan empat pabrik gula ini mampu bertahan. Sebab orang-orang muda di Sidoarjo tak lagi tertarik jadi petani tebu. Selain kalah keren dengan pekerjaan kantoran, konflik sering terjadi antara petani tebu dan pabrik gula dalam urusan rendemen dan sebagainya.

Kamis malam, 7 Mei 2015, PG Candi Baru mengadakan selamatan buka giling tebu. Kompleks pabrik gula peninggalan Belanda itu dibuka seluas-luasnya untuk masyarakat. Pasar malam, bazar, jualan obat, alat pijat, batu akik, makanan jangan ditanya lagi, pakaian macam-macam, hingga acara hiburan. Dangdut, ludruk, lawak, dan ditutup pergelaran wayang kulit sampai pagi dengan lakon Wahyu Hidayat. Dalangnya Ki Sugilar Kondo Bawono asal Pungging, Mojokerto, tapi gayanya Porongan, Sidoarjo. Salah satu jenis wayang kulit Jawa Timuran yang mulai terancam gaya Jawa Tengahan.

Asyik banget menikmati suasana pesta rakyat di dalam kompleks PG Candi Baru. Kita juga bisa dengan bebas melihat mesin-mesin yang sedang nganggur menunggu diaktifkan saat giling tiba. Produksi alias giling tebu di PG Candi Baru dimulai 22 Mei 2015. "Selamatan ini merupakan tradisi yang selalu diadakan setiap tahun. Kita ingin musim giling tahun ini berjalan lancar," kata Warsito, direktur PG Candi Baru.

Banyak pengamat gula, juga asosiasi petani tebu rakyat, selalu pesimistis dengan produksi gula nasional. Tapi Pak Warsito justru sebaliknya. Dia memasang target tingg di musim giling yang berlangsung selama 180 hari (enam bulan). PG Candi Baru menargetkan menggiling 460 ribu ton tebu. Gula putih yang dihasilkan 37.720 ton. Rendemen atau kadar gula 8,2 persen. "Insyallah, bisa terwujud," katanya.

Sebagai perbandingan, rata-rata rendemen tebu di Sidoarjo tahun lalu 7,24 persen. Angka ini masih jauh lebih rendah daripada rendemen tebu di Thailand atau Tiongkok. Karena itu, pihak pabrik gula bersama pemkab berusaha membuat sistem budidaya tebu yang semakin canggih agar rendemen bisa dinaikkan. Ini terkait erat dengan produksi gula, plus kesejahteraan petani tebu.

Selama ini PG Candi Baru tak hanya mengandalkan pasokan tebu dari wilayah Sidoarjo. Mana cukup untuk tiga pabrik gula? Maka, setiap hari kita bisa melihat truk-truk pengangkut tebu dari luar daerah, khususnya plat N, parkir di pinggir jalan raya Candi menunggu giliran masuk.

Wilayah Kecamatan Candi sendiri sudah lama tak punya lahan untuk perkebunan yang luas. Padahal, tempo doeloe, pemeritah Hindia Belanda selalu membangun pabrik gula di tempat-tempat yang ada kebun tebunya. Begitu tak ada lagi kebun tebu di Kecamatan Taman, maka otomatis PG lama di Ketegan tutup. PG Waroe juga tutup karena wilayah perbatasan Sidoarjo-Surabaya itu sudah jadi kota. Begitu pula PG Sroeni di Gedangan yang sekarang jadi markas tentara Arhanudse. Begitu pula PG Boedoeran yang tutup karena tak ada pasokan tebu.

Nah, sambil menyimak monolog Ki Sugilar, sekitar pukul 00.30, saya pun merenung sendiri. Sampai kapan empat pabrik gula di Kabupaten Sidoarjo ini mampu bertahan? Di tengah industri manufaktur yang berkembang luar biasa dan lahan-lahan tebu sudah beralih fungsi menjadi perumahan dan pergudangan?

PG Candi Baru ini terbilang sangat istimewa karena merupakan satu-satunya pabrik gula di tengah kota yang masih bertahan. Tak pernah mengeluh kekurangan pasokan tebu. Bahkan, selalu mendahului buka giling ketimbang PG-PG lain di Jawa Timur.

08 May 2015

RIP Romo Ikwan Wibowo berpulang



Sekitar dua minggu lalu, Mas Bambang yang bertugas di Paroki di HKY, berbisik kepada saya, "Kondisi Romo Ikwan Wibowo di RKZ Surabaya sangat parah. Kita perlu banyak berdoa agar Tuhan memberi mukjizat untuk beliau," kata Mas Bambang, putra Jawa kelahiran Sumatera (pujakesuma), itu.

Kamis 7 Mei 2015, beredar SMS berantai di kalangan aktivis Gereja Katolik di Surabaya. Juga informasi pendek di media sosial dan internet.

"RD Paulus Ikwan Wibowo meningal dunia di Surabaya, pukul 12.50 WIB, 7 Mei 2015, setelah beberapa lama sakit dan baru saja merayakan HUT-nya ke-45. Misa requiem akan berlangsung di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya, Jumat tanggal 8 Mei 2015 pukul 18.00. Pemakaman pada hari Sabtu dan dimakamkan di Kerkop Puhsarang, Kediri, Jawa Timur."

Selamat jalan Romo Ikwan! Pastor yang selalu dekat dengan umat, khususnya kaum muda. Sang gembala yang ramah ini selalu jadi motivator bagi siapa saja yang curhat. Romo asli Blitar ini pernah menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Surabaya dan moderator PMKRI Cabang Surabaya. Saat bertugas sebagai pastor Paroki Santo Mateus, Pare, Kediri, pria yang hobi main gitar ini juga menjadi romo vikep Kediri.

Di usianya yang relatif muda, Romo Ikwan punya pengalaman pastoral yang tak bisa dibilang sedikit. Pertengahan 2000an jadi romo rekan di Paroki HKY Surabaya, plus mengurusi kaum muda. Kemudian melayani umat Katolik di Paroki Pare, Kediri. Dari kota besar, romo tidak canggung jadi pastor di desa, menggembalakan umat yang sebagian besar keluarga petani. Pendekatannya yang luwes, tak pilih kasih, membuat Romo Ikwan dijuluki romonya petani di Pare.

Saat dimutasi kembali ke Surabaya, Paroki Katedral HKY, umat Pare ramai-ramai mengantar dengan tiga bus pada 23 September 2011. Banyak umat Pare yang meneteskan air mata ketika ditinggal Romo Ikwan ke Surabaya. "Beliau memberikan kesan yang mendalam di kalangan umat Paroki Pare," kata Pak Valen, pengurus dewan paroki setempat.

Di balik keceriaannya, petikan gitarnya, sosialisasinya ke semua lapisan umat, ternyata Romo Paulus Ikwan Wibowo diserang penyakit ganas yang membuat fisiknya merosot drastis sejak pekan suci Paskah. Meskipun sulit bicara, Romo Ikwan masih sempat menciptakan lagu saat dirawat di RKZ. Beliau sempat menyanyikan lagunya itu dengan suara lirih:

"Buang saja rasa marahmu
Buang saja rasa bencimu
Minta saja pengampunan dari Tuhan
Beri saja kata maafmu,
karena tiada yang sempurna."

Umat Katolik di Keuskupan Surabaya, khususnya yang pernah mengenal Romo Ikwan, tentu saja berdukacita ditinggal sang gembala yang murah senyum ini. "RIP romo.. Tuhan Yesus menyambutmu di Surga.. Amin," tulis Veronica Marharyanti.

Ferry Dwi: RIP for Rm. Ikwan. Beliau sdh menyelesaikan pertandingan sbg pemenang..dan mahkota kemuliaan sdh menanti beliau di rumah Bapa. Amen."

Lawrentius Siangjaya: "Saya dan mama menyampaikan turut berduka cita ... terima kasih romo yang pernah mempersembahkan misa arwah 1 tahun nya papa tahun 2013 yang lalu."

07 May 2015

Sepak bola perlu INTERVENSI pemerintah

Begitu buruk wajah kompetisi sepak bola Indonesia yang katanya sudah profesional. Contohnya Persida Sidoarjo yang berlaga di Divisi Utama, kompetisi level kedua di bawah Indonesia Super League (ISL). Menurut PSSI dan PT Liga Indonesia, Divisi Utama ini kompetisi profesional, bukan amatir. Dus, klub-klub yang ikut pun harus profesional.

Benarkah Persida klub profesional karena main di Divisi Utama? Hehehehehe.... Orang Sidoarjo, khususnya yang senang lihat latihan atau pertandingan bola di Gelora Delta, Jenggolo, Arhanudse Gedangan, Marinir Gedangan, atau Sukodono, atau Tulangan pasti tertawa ngakak. "Hebat banget kalau Persida itu profesional," kata Cak Maman, penggemar bola di Gedangan.

Pengurus PSSI dan PT Liga Indonesia di Jakarta mungkin tidak tahu bahwa sampai sekarang Persida ini belum punya pemain resmi untuk kompetisi. Manajemennya gak ada. Pelatihnya belum ada. Apalagi sponsor, duit, dan tetek bengek lainnya. Bahkan, sampai 26 April 2015, jadwal laga perdana Persida di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, tim Persida ini belum siap. 

Mau berlaga dengan pemain-pemain yang mana? Ada rencana membajak 8 pemain Deltras yang berlaga di kompetisi amatir Liga Nusantara. Ada juga rencana meminta pasokan pemain dari Vigit Waluyo. Tapi semuanya baru wacana, belum ada realisasi di lapangan. 

Bagaimana dibilang profesional kalau klub Divisi Utama, Persida, harus meminjam 8 pemain Deltras yang berstatus amatir? Atau ngebon pemain-pemain nganggur, ketimbang tidak ikut kompetisi? Pengurus PSSI selama ini tidak pernah melakukan verifikasi, turun meninjau klub-klub profesional yang main di liga yang kataya profesional bernama Divisi Utama. Tapi, biasanya, PSSI segera melapor ke FIFA bahwa kompetisi yang diputarnya sudah bagus. Karena itu, tidak perlu ada intervensi dari pemerintah.

Intervensi pemerintah! Dua kata ini selalu dipakai PSSI ketika bersengketa dengan menteri pemuda dan olahraga (menpora) atau elemen negara lainnya. PSSI lupa bahwa selama puluhan tahun, sejak Indonesia merdeka, kompetisi balbalan di tanah air hanya bisa jalan kalau ada intervensi berupa uang rakyat dari APBD atau APBD. Kucuran dana APBD miliaran rupiah (minimal Rp 10 miliar) yang memungkinkan kompetisi ISL bergulir. Sebelum ada larangan penggunaan dana APBD (pemerintah) beberapa tahun lalu.

Sampai sekarang pun banyak klub ISL yang masih meminta intervensi (dana APBD) tapi caranya lebih halus. Persida dan Deltras di Sidoarjo pun kerap meminta bantuan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo agar bisa ikut kompetisi. Paling tidak bisa menggunakan stadion milik pemkab secara gratis. Mas Riyadh, pengurus Persida dan PSSI Sidoarjo, pun kerap meminta bantuan pemkab agar dua klub balbalan ini tidak sampai gulung tikar.

PSSI rupanya tutup mata dengan berbagai persoalan yang dihadapi klub-klub di daerah. PSSI malah terus mengadu ke FIFA di Swiss karena merasa jadi korban 'intervensi pemerintah'.    

Negara vs PSSI vs FIFA

Kisruh sepak bola kita seakan tak habis-habisnya. Ketika negara-negara lain sudah mulai maju, termasuk negara mungil Brunei dan Timor Leste, kita masih jalan di tempat. Bahkan mundur. Mau jadi apa kalau semua kompetisi, dari ISL sampai Liga Nusantara dan liga tarkam, dihentikan di Indonesia?   

Dari dulu akar persoalan bola kita masih sama: PSSI. Sebagai pengelola sepak bola, pengurus PSSI, khususnya di pusat, tidak becus mengurus kompetisi, memperhatikan klub-klub, pemain, dan sebagainya. Begitu banyak pemain yang belum digaji. Ada pemain bola yang sekarat dan mati karena tak punya uang. PSSI seakan tutup mata.

Maka, sudah seharusnya pemerintah melakukan intervensi di bidang olahraga. Pemerintah justru salah kalau membiarkan kondisi balbalan kita karut-marut, PSSI semau gue, mafia judi bermain, pengaturan skor, jual beli pertandingan, kontrak pemain yang dilanggar, pengurus klub tak bertanggung jawab, pemain-pemain sekarat. Salah satu tugas negara adalah melindungi segenap bangsa, termasuk pemain dan orang-orang yang berkecimpung di sepak bola.

Kalau intervensi pemerintah (menpora) untuk memperbaiki persepakbolaan dianggap melanggar statuta FIFA, melanggar hukum olahraga, ya aneh bin ajaib. Intervensi baru haram kalau pemerintah memaksa agar klub A atau B atau C dimenangkan atau dijuarakan. Wasit X yang harus memimpin pertandingan tertentu. Lama pertandingan tidak lagi 2 x 45 menit, tapi 2 x 30 menit karena stamina pemain-peman Indonesia memang payah. 

Tapi rupanya pengurus PSSI sangat alergi dengan pemerintah. PSSI sepertinya merasa tidak butuh negara Indonesia. PSSI lebih manut FIFA dan meremehkan arahan pemerintah. Sedikit-sedikit mengeluarkan ancaman bakal disanksi FIFA. Kalau kena sanksi nanti tim nasional tidak bisa ikut kejuaraan A, B, C, X, Y, Z. 

Seakan-akan timnas Indonesia itu hebatnya kayak Argentina, Brasil, atau Jerman yang sangat fenomenal di jagat sepak bola dunia. Lha, lawan Malaysia saja, yang sama-sama makan nasi, sulit menang, apalagi lawan Belanda, Prancis, Italia, atau Spanyol, yang makan roti? Lawan Timor Timur yang makan jagung pun lama-lama sulit menang juga. Begitu pula Brunei yang penduduknya lebih sedikit ketimbang Kabupaten Sidoarjo.

Keputusan Menpora Imam Nahrawi untuk membekukan PSSI pada 17 Maret 2015 jelas ada kaitannya dengan pembangkangan PSSI dan PT Liga Indonesia. Merujuk masukan BOPI, kemenpora memutuskan agar kompetisi ISL hanya diikuti 16 klub. Arema dan Persebaya punya masalah manajemen sehingga tidak bisa ikut. Selesaikan dulu. Klub-klub lain juga punya masalah, tapi bisa diselesaikan sambil jalan.

Kita tahu PSSI membangkang dengan tetap memutar kompetisi dengan 18 klub. Pengurus Persebaya dan Arema bahkan terang-terangan menantang pemerintah. Keputusan menpora bahkan dijadikan bahan tertawaan. Arema dan Persebaya tetap gelar pertandingan. Karena itulah, Menpora Imam Nahrawi terpaksa membuat keputusan untuk membekukan PSSI. Dus, semua ini ada sebab akibatnya. 

Lagi-lagi, seperti biasa, PSSI mengadu ke FIFA. Lapor ada intervensi pemerintah. Jelas sekali PSSI merasa sebagai organisasi yang berada di atas negara. Pemerintah harus lepas tangan sama sekali dalam urusan bola. Orang PSSI dan klub-klub itu seakan lupa bahwa semua stadion di Indonesia itu milik negara, entah itu pemkab, pemkot, pemprov, atau pemerintah desa. 

Mana ada stadion milik PSSI? Kalau timnas Indonesia main di Sidoarjo, latihan dan pertandingannya ya di Gelora Delta milik Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Kadang berlatih di Lapangan Jenggolo yang juga milik pemkab. Atau Lapangan Marinir atau Lapangan Arhanud, ya milik TNI, pemerintah juga. 

Yang mengamankan pertandingan juga polisi (kadang ditambah tentara). Kalau ada keributan, kerusuhan, negara juga yang dibuat repot. Seperti ketika kerusuhan di Sidoarjo beberapa tahun lalu yang melibatkan ribuan suporter Arema Malang. Pengurus Arema rupanya lupa bahwa kehadiran pemerintah (negara) tidak bisa dikesampingkan dalam urusan olahraga. Termasuk balbalan, mulai tarkam sampai ISL, sampai pertandingan internasional.

Maka, persoalan sepak bola di Indonesia hanya bisa selesai kalau PSSI mau mengakui otoritas negara. Harus bisa sinergi dengan pemerintah. Tidak cukup berlindung di ketiak FIFA di Swiss sana. Toh, kalau ada aksi anarkistis seperti di Sidoarjo dulu itu FIFA tak bisa berbuat apa-apa. FIFA juga tak punya lapangan balbalan. 

Saya sepakat dengan Sumohadi Marsis, pengamat olahraga, yang menulis di Kompas edisi 7 Mei 2015 bahwa ada segitiga simalakama PSSI, menpora, dan FIFA dalam kisruh balbalan kita. "Menpora ingin mengoreksi tetapi diaggap intervensi. PSSI ingin cepat menggelar kompetisi tetapi menabrak regulasi...," tulis wartawan senior itu.

FIFA sendiri gamang menghukum Indonesia karena sadar bahwa rakyat Indonesia sejak dulu sangat gandrung balbalan. 

04 May 2015

Mengenang SAS di Jolotundo Trawas



Saya tidak menyangka kalau almarhum Slamet Abdul Sjukur (SAS) pernah bikin konser di kampung terpencil Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto. Sang komponis tidak main piano atau instrumen lain layaknya artis, tapi mengajak orang-orang kampung bermain musik bersama. Untuk merayakan hari bumi 24 April 1993.

Orang-orang kampung itu bebas membuat alat musik dari apa saja, bambu, kayu, daun kelapa, botol, gelas, atau mulutnya sendiri. Eyang SAS bikin workshop, latihan sambil main-main, khas SAS, lalu bikin pertunjukan. Konser musik bumi itu jadi fenomena luar biasa saat itu. Yang nonton warga dari berbagai kota besar di tanah air, bahkan luar negeri.

Inilah musik MINIMAX ala Slamet Abdul Sjukur yang kemudian jadi trade mark SAS hingga tutup usia pada 24 Maret 2015 di Surabaya. Menggunakan sumber daya yang MINIMAL, tapi menghasilkan sesuatu yang MAKSIMAL. Eyang SAS tidak terpukau dengan instrumen mahal, pianis sekolahan, orkes nan megah... meskipun almarhum sendiri merupakan embahnya sebagian besar guru musik klasik di Indonesia.

Slamet Abdul Sjukur menulis: "Membuat musik dengan cara demikian tidak memerlukan biaya mahal. Teknologinya sangat murah. Tapi ada tuntutan lain yang tidak main-main, yaitu tuntutan untuk tahu diri dan tanggap terhadap tuntutan saat."

"Karya bersama masyarakat desa ini memang dirancang sebagai teater energi yang tidak perlu bercerita apa-apa, karena karya itu sendiri sudah merupakan salah satu cara menyelamatkan diri dari godaan apa yang mungkin untuk mencapai hakikat apa yang sebenarnya kita butuhkan. Rasa tahu diri itu mengimbangi kecenderungan serakah yang sudah menjadi kodrat kita semua
," tulis SAS di buku Sluman Slumun Slamet halaman 153.

Desa Seloliman, yang punya situs petirtaan suci Jolotundo yang terkenal itu, tak asing bagi saya. Dulu hampir setiap akhir pekan saya bermalam di situ bersama seniman Eyang Bambang Haryadjie, yag juga sudah almarhum. Maka, hampir semua pemilik warung kopi di dekat Jolotundo saya kenal baik. Bahkan, sangat akrab layaknya keluarga sendiri. Bu Jono, Mbah Gembuk, Mbak Nining, hingga Koh Yang si Tionghoa Sidoarjo yang suka menghilangkan stres dengan berendam di air Jolotundo yang sejuk.

Sambil membaca buku SLUMAN SLUMUN SLAMET, kumpulan tulisan Slamet Abdul Sjukur, saya membayangkan konser musik bumi yang digelar Eyang SAS di Seloliman, Trawas, 13 tahun lalu. Konser itu bekerja sama dengan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di dekat Jolotundo itu. Begitu seringnya saya berada di daerah itu, tapi tidak menyadari ada musik alami seperti yang disampaikan Slamet Abdul Sjukur pada 1993 itu.

Duduk di kolam Jolotundo, sembari mendengar gemericik air dari pancuran alami, yang dibangun pada era Prabu Airlangga, saya pun tertegun membaca tulisan SAS di halaman 282:

"Musik ada di mana-mana. Tidak hanya terbatas yang ada di gedung pertunjukan saja. Angin, gemerisik dedaunan, kicau burung, hujan, petir, kendaraan di jalan, kucing kawin, dan sebagainya. Tinggal tergantung pada kepedulian dan kepekaan kita saja untuk bisa menangkap semua itu sebagai musik atau tidak," demikian pendapat bapak musik kontemporer Indonesia itu.

Oh begitu ya....

Selama ini saya malah sering memutar lagu-lagu pop dari HP karena tidak sadar bahwa suara-suara alam di Jolotundo, Trawas, itu justru musik alami yang sejati. Saya makin tertampar saat membaca lagi kalimat SAS berikut: "Ilmu dan teknologi yang semakin rumit merampas kemampuan kita untuk menyentuh kebenaran yang bersahaja...."

Chelsea 2015 memang membosankan

Setelah menyaksikan Barcelona melumat Cordoba, 8-0, semalam saya menyaksikan siaran langsung Chelsea vs Crystal Palace di sebuah warung kopi di Desa Sidokerto, Buduran, Sidoarjo. Warkop ini langganan TV kabel. Karena itu, setiap saat banyak pengunjung yang sengaja cangkrukan, ngopi, agar bisa nunut nonton pertandingan bola. Maklum, pertandingan yang menentukan Chelsea sebagai juara Liga Iggris ini tidak disiarkan di SCTV atau Indosiar.

Benar saja. Betapa membosankan permainan Chelsea. Melawan Crystal yang bukan tim besar, big five, tim asuhan Jose Mourinho ini kesulitan mencetak gol. Bahkan penalti pun tidak masuk. Untung bolanya muntah dan diselesaikan Hazard. Satu gol itu sudah lebih dari cukup untuk membawa Chelsea juara Liga Inggris musim 2014/2015.

Semula saya mengira pemain-pemain Chelsea, khususnya manajer Mourinho, memberikan hiburan segar kepada pendukungnya di kandang, dan yang nonton TV di seluruh dunia, dengan menampilkan permainan atraktif, cepat, kaki ke kaki, dan... banyak gol. Tak usah delapan atau sembilan gol ala Barcelona. Cukup tiga gol sajalah. Eh, ternyata Chelsea masih seperti yang dulu. Sudah puas dengan satu gol.

Drogba masih jadi titik lemah. Bola sering lepas dari kakinya, antusiasme bermain hilang, posisinya juga gak karuan. Saya tidak tahu mengapa Mou masih mempertahankan pemain tua yang sudah layak pensiun di usia 37 itu. Pemain-pemain yang lain pun tidak punya ambisi untuk menyerang dan membuat banyak gol. Toh, menang satu gol atau delapan gol, atau 12 gol, poinnya sama-sama 3. Dan sudah juara.

Filsafat bertahan, puas dengan satu gol, parkir bus ala Mou mungkin sudah lebih dari cukup untuk menjuarai Liga Inggris. Tapi apakah Chelsea hanya puas jadi jago kandang? Tidak ingin juara di Liga Champions? Ingat, tahun ini tim-tim Liga Inggris keok di ajang terbesar di Eropa itu. Semuanya kalah kelas dari tim-tim di liga negara lain yang nota bene kalah populer dan kalah kaya ketimbang klub-klub Inggris.

Karena itu, saya merasa sangat senang, bahagia, saat menyaksikan Chelsea disingkirkan PSG, Prancis, di kandang sendiri. Lebih konyol lagi, saat itu PSG bermain dengan 10 orang di menit-menit awal karena Ibra kena kartu merah. Dengan taktik dan filsafat Mou selama ini, saya sangat pesimistis Chelsea akan menang. Apalagi menang dengan selisih dua atau tiga gol. Benar saja. Skor 2-2, sehingga Chelsea tersingkir. Alhamdulillah!

Dengan duit yang melimpah, stok pemain-pemain bagus, pelatih cerdik macam Jose Mourinho, rasanya Chelsea masih tetap kompetitif di musim depan di Liga Inggris. Tapi masak sih hanya puas jadi jago kandang? Tidak ingin jadi tim elite Eropa yang atraktif, tajam, bikin banyak gol macam Barcelona, Real Madrid, atau Bayern Munchen?

Syukurlah, empat klub semifinalis Liga Champions 2015 sangat mewakili kekuatan terbaik sepak bola dunia. Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen, dan Juventus. Selama masih dipegang Jose Mourinho kayaknya mustahil Chelsea bisa jadi tim elite Eropa yang ciamik dan mengesankan.

02 May 2015

Paroki Gresik Belum Lahirkan Pastor

Kaget juga membaca unek-unek Mas Tommy, pengurus Dewan Paroki Santa Perawan Maria Gresik. Dia sedih, ngersulo, karena Gereja Katolik di Gresik yang sudah dirintis sejak zaman Hindia Belanda, 1930-an, ini sampai sekarang belum mampu menghasilkan pastor, suster, bruder, atau frater. Belum ada buah panggilan dari kota tetangga dekat Surabaya ini.

"Sekarang baru ada satu siswa Seminari Garum. Semoga diberi jalan yang lapang oleh Tuhan," kata Mas Tommy yang sangat aktif di gereja sejak kecil itu.

Saya benar-benar gak nyangka kalau paroki tetangga kami, Sidoarjo dan Surabaya, itu kondisinya nihil panggilan. Tetangga dekat Gresik, yakni Stasi Krian, Kabupaten Sidoarjo, sejak dulu rajin mempersembahkan anak-anak mudanya menjadi pastor atau suster. Padahal, umat Katolik di Krian ini belum punya rumah ibadah (gereja). Misa mingguan terpaksa nunut di sekolah Katolik di pinggir jalan dekat simpang lima.

Stasi Krian pun ikut Paroki Mojokerto meski berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Siapa sangka justru umat Katolik di wilayah pinggiran itu punya potensi yang sangat besar di bidang panggilan. Sebaliknya, Gresik memiliki bangunan gereja yang megah dengan arsitektur mentereng. Mungkin salah satu gereja terindah di Jawa Timur.

Umat Katolik di Gresik juga buanyaaaak... Tapi sejak dulu Romo Suwadji CM yang bertugas di Gresik berasal dari Slorok, kampung di pelosok Blitar. Romo-romo lain yang mendampingi Eyang Romo Wadji ini juga biasanya berasal dari kampung-kampung kecil di Jawa Timur. Saking kecilnya, mereka tidak punya gereja, cuma buka stasi sederhana.

"Kapan ya Paroki Gresik bisa melahirkan pastor atau suster?" tanya Mas Tommy gundah. Ia kemudian menyebut beberapa alasan yang menyebabkan Gereja Katolik Gresik yang megah itu tak mampu belum bisa disebut mandiri sejak era Belanda.

Saya juga heran. Gresik yang berimpitan dengan Tanjung Perak, Surabaya, sama-sama punya pelabuhan, sejak zaman Belanda dilayani imam-imam kongregasi misi (CM) yang berpusat di Jalan Kepanjen, Surabaya. Dekat Tanjung Perak pula. Karena itulah, romo-romo CM yang babat alas dan melayani Paroki Gresik sampai hari ini. Karena dekat banget dengan pusat CM di Surabaya, kita sering mengira bahwa anak-anak muda Katolik di Gresik pun punya ketertarikan dengan kehidupan membiara. Tapi nyatanya tidak.

Mas Tommy melihat bahwa para orang tua Katolik justru tidak ingin anaknya kecemplung jadi romo, suster, bruder, atau frater. Sebab, jadi romo itu dianggap tidak membawa kesejahteraan ekonomi. "Apalagi banyak orang Katolik di Gresik yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Posisi mereka mapan, sejahtera, sehingga ikut mempengaruhi paradigma anaknya dalam hidup rohani," kata Mas Tommy.

Persoalan lain, menurut Mas Tommy, sejak dulu sampai sekarang tidak ada sekolah Katolik di Kabupaten Gresik. Maka, anak-anak Katolik tidak terbiasa bergaul erat dengan romo, suster, atau bruder. Mereka sekolah di sekolah negeri atau swasta umum di kota santri itu. "Guru agama Katolik pun tidak ada. Yang ada cuma relawan yang mau mengajar agama Katolik di sekolah," katanya.

Faktor lain adalah belum adanya biara di Gresik. Ini jelas berbeda dengan Kabupaten Sidoarjo atau Kabupaten Jember, yang sama-sama kota santri, tapi punya biara susteran sejak puluhan tahun lalu. Mas Tommy menulis:

"Ibaratnya, bagaimana bisa kita menyuruh anak untuk merasakan enaknya bakso kalau tidak ada yang berjualan bakso di dekat mereka. Atau, bagaimana kita membuat anak-anak kita mempunyai kebiasaan membaca jika tidak disediakan buku-buku di rumah kita. Demikian halnya dengan panggilan, bagaimana kita menumbuhkan panggilan jika anak-anak tidak pernah mengenal sosok imam atau biarawan dan biarawati dalam hidup mereka sehari-hari."

Jurnalisme Olahraga Makin Kering

Entah mengapa sejak beberapa bulan terakhir saya gandrung membaca berita-berita olahraga di koran dan majalah lawas. Media massa terbitan 1970an dan 1980-an, sedikit 1990an. Paling asyik membaca tulisan tentang badminton dan sepak bola, dua olahraga yang sangat digemari rakyat Indonesia... dulu. Sekarang sih bulutangkis alias badminton sudah kurang diminati masyarakat dan pemerintah.

Membaca berita-berita olahraga, khususnya sepak bola, di surat kabar juga rutin saya lakukan. Tapi kenikmatannya gak ada lagi karena hampir semua berita itu sudah kita ketahui di internet. Ulasan di telegraph, guardian, marca, goal.com, soccernet, guardian, BBC, dsb jauh lebih dalam dan menarik ketimbang yang dimuat di media massa kita. Sebab, berita-berita olahraga yang dirilis koran-koran kita sejatinya cuma saduran belaka dari bahasa Inggris.

Mana ada wartawan Indonesia yang selalu menguntit Ronaldo, Messi, atau Pirlo? Karena itu, berita-berita olahraga kita memang informatif tapi kering. Ibarat makanan, ia bikin kenyang, memenuhi sedikit gizi, tapi gak enak. Mustahil wartawan menulis berita olahraga dengan bagus kalau dia tidak berada di lapangan, ngobrol sama pemain, pengurus, pelatih, mencium bau keringat atlet, dan tahu aturan permainan (law of the game).

Syukurlah, di tengah kekeringan reportase olahraga yang lezat itu, masih ada Azrul Ananda. Tulisan-tulisan Mas Azrul ini sejak dulu saya anggap oase di tengah kegersangan jurnalisme olahraga tanah air. Saya perhatikan Mas Azrul punya passion, gandrung, hobi berat dengan basket, balapan (khususnya F1), dan belakangan sepeda pancal. Begitu besar cintanya pada cabang-cabang olahraga itu, tulisan apa saja yang dibuat Mas Azrul selalu enak dan mendalam. Membaca tulisannya, kita tahu bahwa Mas Azrul ini sangat paham basket dan balapan. Sisi human interest, hal-hal kecil yang menarik selalu diangkat jadi bumbu penyedap reportase Azrul Ananda di Jawa Pos.

Sebaliknya, saya lebih sering sakit kepala membaca brita-berita olahraga yang ditulis wartawan masa kini. Ada yang menulis catur tapi tidak tahu aturan bermain catur. Menulis bridge, wushu, atau panjat tebing tapi hatinya tidak ada di olahraga itu. Akhirnya, si wartawan cuma menulis berputar-putar, mbulet, tak karuan. Tidak jelas apa maunya. Membaca satu alinea saja kita sudah malas.

Suatu ketika saya menemuka majalah TEMPO lama, lamaaa sekali... yang sampulnya sudah hilang. TEMPO edisi 26 April 1986. Langsung saya cari berita olahraga. Wow, empat halaman khusus membahas persiapan tim Piala Thomas Indonesia di Jakarta. Ada foto Liem Swie King, Han Jian, Yang Yang, kemudian empat pemain top Malaysia: Razief, Jaelani, Misbun, dan Rashid Sidek. Ada wawancara dengan Wan Wenjiao, pelatih Tiongkok asal Solo yang sejak 1953 menetap di Tiongkok.

Wartawan TEMPO juga ngobrol dengan Morten Frost Hansen dari Denmark. Kemudian foto Park Joo Bong dan Kim Moon Soo dari Korea Selatan. Reportase olahraga ala TEMPO tempo doeloe itu dibuat ringan, akrab, ibarat koki yang sangat pandai meracik masakan. Sebagai pelanggan restoran, saya benar-benar menikmati semua sajian pembuka hingga penutup sampai selesai. Reportase itu ditulis wartawan kawakan Ahmed Soeriawidjaja dan Rudy Novrianti yang diedit Marah Sakti Siregar.

Membaca liputan wartawan olahraga masa lalu ini bukan sekadar nostalgia. Saya justru menemukan roh jurnalisme narasi yang makin hilang di era internet ini. Di era breaking news, berita instan, kenikmatan membaca media massa makin hilang karena ketergesaan yang tidak perlu. Selain itu, ya, makin sulit menemukan wartawan olahraga yang kualitas dan passion-nya seperti Azrul Ananda.