12 April 2015

Wayang wong jadi barang antik

Sudah lama, mungkin 20an tahun, wayang wong alias wayang orang mati di Surabaya. Tak ada grup wayang wong. Sesekali sih ada pertunjukan wayang wong di THR. Tapi penontonnya tak sampai seratus orang. Di televisi lokal pun saya tidak pernah melihat wayang wong.

Kalau wayang kulit sih cukup rutin di televisi. TVRI Jawa Timur dan JTV sering menayangkan secara langsung pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Dulu Ki Enthus, sebelum jadi bupati, paling sering muncul di televisi dengan dagelannya yang kasar tapi bikin kita ketawa ngakak. Ki Sunaryo, mantan wakil gubernur Jatim, juga sering nongol di TVRI.

Karena itu, pertunjukan wayang wong di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Sabtu malam, 11 April 2015, menjadi sangat menarik dan langka. Lakonnya Mahabandhana, dimainkan grup wayang orang Sriwedari Solo, Jawa Tengah. Grup seni tradisional ini masih bertahan di tengah gempuran teknologi dan hiburan modern. Ketika orang bisa dengan mudah menonton video di internet tanpa perlu datang ke gedung pertunjukan.

"Wayang wong itu bagaimanapun juga kesenian tradisional Jawa yang punya penggemar. Buktinya, pertunjukan di Cak Durasim ini sukses," kata Heri Lentho, seniman tari sekaligus panitia pertunjukan.

Hanya, Mas Heri mengakui tidak mudah membuat generasi muda Kota Surabaya, juga Sidoarjo dan Gresik, yang berusia di bawah 30 tahun tergerak untuk menonton wayang orang. Apalagi menonton secara rutin layaknya nonton film di bioskop. Apalagi rajin datang ke THR yang memang punya panggung tetap ketoprak, wayang wong, atau ludruk. "Kemasannya harus dibuat modern dan elegan," katanya.

Apa yang membuat wayang wong tidak bisa hidup di Surabaya? Bahasanya, kata Dukut Imam Widodo, penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe yang terkenal itu.

Wayang orang menggunakan bahasa Jawa krama inggil atau bahasa Jawa sangat halus. Ragam bahasa Jawa atas itu tidak dipakai di Surabaya. Anak-anak muda di bawah 20 tahun di Surabaya bahkan banyak yang sulit berbahasa Jawa ngoko (kasar, sehari-hari) karena sejak bayi dibiasakan orang tuanya berbahasa Indonesia. Bahasa Jawa Suroboyoan hanya diketahui sedikit-sedikit dari temannya di sekolah atau jalanan.

"Kulo mboten mireng itu apa?" tanya Lina, 17 tahun, gadis kelahiran Surabaya, ketika saya tes kemampuan bahasa Jawanya. Padahal, kalimat ini sangat sederhana dan sering diucapkan orang Jawa di mana saja. Romo-romo di gereja katolik pun sering menyelipkan humor saat khotbah. "Romo, kulo mboten mireng!" ujar Romo Eko Aldilanto saat khotbah malam Paskah di Gereja Pandaan pekan lalu.

Berbeda dengan wayang wong, menurut Pak Dukut, kesenian ludruk masih bisa dinikmati generasi muda karena bahasanya ngoko, bukan krama inggil. Orang Surabaya senang dengan bahasa ceplas-ceplos dan guyonan ludrukan. Itu pun sebetulnya tidak mudah juga mempertahankan grup ludruk di Surabaya. Tolong sebutkan nama grup ludruk yang bertahan di Surabaya! Dua saja gak ketemu.

Sepeninggal Sakiyah, pimpinan Ludruk Irama Budaya, grup ludruk lawas ini masih bertahan di THR. Tapi kondisinya senen kemis. Hidup segan, menunggu ajal. Jangankan 100 penonton, mencari 20 penonton saja, malam Minggu, sulitnya bukan main. Begitu banyak hiburan modern di dekat panggung seni tradisional (musik dangdut, PS, televisi, VCD, internet, bioskop, dll) di arena yang dulu dipakai manggung Srimulat dan Siswobudoyo itu.

Masih untung ada orang-orang gila seni tradisi macam Mas Heri Lentho yang mau memanggungkan wayang orang di Surabaya. Masih untung ada THR yang masih sesekali menampilkan kesenian tradisional. Masih untung ada orang yang mau datang menonton. Masih untung ada seniman yang mau melestarikan seni tradisi meskipun honornya lebih rendah dari juru pakir di THR. Masih untung ada koran yang masih memuat cerita sekilas tentang pertunjukan wayang orang.


Sent from my BlackBerry

No comments:

Post a Comment