02 April 2015

Wartawan Perempuan Menulis Siswa Perempuan

Saya tertegun cukup lama membaca tulisan reporter muda. Usianya 20an tahun, perempuan, baru lulus PTN tahun lalu, cerdas, cepat belajar. Berita mentahan itu tentang ujian nasional (unas). Nona ini menulis: "Seorang siswa perempuan mengundurkan diri karena menikah."

Siswa perempuan? Gak salah nih? Saya sengaja tak memanggil reporter anyar itu untuk diskusi. Sebab istilah SISWA PEREMPUAN sering saya baca di internet atau media cetak lain. Jangan-jangan saya yang ketinggalan zaman. Jangan-jangan bahasa Indonesia memang sudah berubah, sementara saya yang gagap mengikuti perubahan itu.

Bagi saya, SISWA itu ya harus laki-laki. Kalau perempuan ya SISWI. Maka kita biasa mendengar istilah SISWA-SISWI atau MAHASISWA-MAHASISWI. Gak ada mahasiswa perempuan, pikir saya. Gak ada wartawan perempuan, pikir saya. Kalau reporter atau wartawan itu berjenis kelamin perempuan ya disebut WARTAWATI.

Tapi rupanya bahasa kita terus berkembang dan cenderung mengabaikan konvensi lama soal jenis kelamin alias gender. Kata SISWA saat ini dianggap netral, tak lagi merujuk ke laki-laki. Mahasiswa pun begitu. Makanya kita mulai jarang mendengar istilah mahasiswi di Surabaya. Kecuali Pak Putroadi, wartawan lawas, yang getol mempertanyakan istilah siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi, wartawan-wartawati, seniman-seniwati.

"Artis wanita kok Anda sebut seniman? Apa gak keliru? Mestinya kan seniwati," kata wartawan yang banyak menulis di berbagai media massa di Surabaya sejak tahun 1960an itu. Sampai sekarang pun tulisan-tulisan Pak Putro yang Tionghoa ini masih muncul di media Katolik di Jawa Timur.

Di lingkungan Gereja Katolik pun saya lihat ada pergeseran diksi. Sampai pertengahan tahun 2000an istilah MUDIKA masih dipakai di gereja. Mudika = Muda-Mudi Katolik. Belakangan MUDIKA tak ada lagi, diganti OMK = Orang Muda Katolik. Tak hanya di Jawa, OMK ini sangat aktif melakukan berbagai kegiatan seperti paduan suara, bersih-bersih gereja, bakti sosial, hingga mengunjungi orang sakit.

Dulu Koes Plus punya lagu: "Muda-mudi zaman sekarang... Pergaulan bebas nian...."

Seiring zaman yang berubah sangat cepat, istilah muda-mudi ala Koes Plus dan muda-mudi gereja sudah tak dipakai lagi. Istilah PEMUDI pun mulai hilang dari peredaran. Padahal, dulu kita punya lagu mars terkenal: Bangun Pemudi Pemuda Indonesia!

Ada juga lagu keroncong terkenal karya Kelly Puspito yang sering dibawakan paduan suara: "Pemuda serta pemudi jangan sangsi lagi... Nasib negeri tergantung pada dirimu sendiri..."

Setelah pikiran berputar ke mana-mana, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti istilah SISWA PEREMPUAN itu dengan MURID PEREMPUAN. Kata MURID atau PELAJAR netral, bisa mewakili laki-laki, perempuan, banci, dsb. Saya juga membuat sebuah kali pendek baru yang pakai kata SISWI untuk merujuk murid perempuan yang gagal ikut unas di Sidoarjo itu.

Sayang kalau kata-kata lama putra-putri, siswa-siswi, wartawan-wartawati, karyawan-karyawati, dewa-dewi, biduan-biduanita, seniman-seniwati, biarawan-biarawati, dsb harus hilang dari media massa kita. Bagaimana pendapat Anda?


Sent from my BlackBerry

1 comment:

  1. Saya sangat kagum akan kepekaan Anda pada bahasa.

    ReplyDelete