23 April 2015

Wanita Pelukis Sidoarjo Pameran di Surabaya

Tradisi pameran lukisan bersama dalam rangka Hari Kartini sudah lama vakum di Sidoarjo. Inilah yang membuat beberapa wanita pelukis Kota Delta memilih unjuk karya di Hotel Singgasana, Surabaya.

Pelukispelukis Sidoarjo yang ikut memeriahkan pameran bertajuk Aku Wanita Indonesia itu adalah Ary Indrastuti, Anny Djon, Endang Waliati, Maya Haerani, Novita Sechan, dan Yayuk. Ada pula Nur Hasana yang memamerkan batik tulis khas Sidoarjo. 

"Sebetulnya masih banyak teman-teman pelukis Sidoarjo yang berminat ikut. Tapi tempatnya terbatas sehingga tidak bisa diakomodasi," ujar Endang Waliati, pelukis yang juga korban lumpur Lapindo.

Perupa yang konsisten mengolah kain perca menjadi karya seni ini menampilkan karya terbarunya berjudul Sewu Rupo. Begitu banyak wajah perempuan mengisi kanvas berukuran 110 x 50 meter. Endang memberi judul Sewu Rupo. "Aku ingin menggambarkan bahwa wanita itu memiliki seribu rupa. Hahaha... Dia bisa jadi Srikandi, bisa jadi Sembadra, bisa jadi Dewi Kwan Im, atau bahkan jadi Bethari Durga," kata wanita kelahiran 27 Juni 1959 itu.

Ida Fitriyah, pelukis senior yang juga ketua panitia, mengaku memberi kebebasan kepada para wanita seniwati ini untuk berekspresi. Karena itu, lukisan-lukisan yang dipamerkan hingga 15 Mei itu sangat bervariasi corak dan alirannya. "Bahkan, ada pelukis yang baru pertama kali ikut pameran, yaitu Mbak Heti Palestina Yunani," katanya.

Ary Indrastuti misalnya tetap dengan lukisan bunga asoka. Begitu juga Anny Djon dan Maya Haerani. Lain lagi dengan Novita Sechan asal Waru yang menampilkan seorang ibu rumah tangga berkebaya di ruang makan. Mirip karikatur yang menggugat realitas di masyarakat.

"Setiap  pelukis dibatasi satu karya. Jadi, karakter masing-masing pelukis kurang begitu kelihatan," ujar Endang Waliati.

Wanita yang kini tinggal di Sidokare Indah, setelah rumahnya di Desa Mindi, Porong, terdampak lumpur Lapindo, ini mengaku bersyukur diajak panitia untuk pameran bersama di Surabaya. Sebab, sudah bertahun-tahun tak ada event seni rupa di Sidoarjo. "Terakhir saya ikut pameran bersama di Museum Mpu Tantular, Buduran," kata Endang.

Karena sepi pameran di Sidoarjo, menurut dia, para pelukis Kota Delta harus pandai-pandai membangun jaringan dengan sesama perupa di kota lain. Dengan begitu, karya-karya mereka bisa diapresiasi oleh masyarakat luas. "Kalau tidak pernah pameran, bagaimana masyarakat bisa mengapresiasi karya kami?"

Ida Firiyah, ketua panitia, mengatakan, Sidoarjo memiliki banyak perupa yang tak asing lagi di jagat seni rupa Jawa Timur. Hanya saja, dia mengakui belum banyak event seni rupa yang diadakan di Kabupaten Sidoarjo.

No comments:

Post a Comment