24 April 2015

Tenun Ikat Lamaholot Bisa Punah



Mengapa tradisi tenun ikat di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, terancam hilang? Mengapa makin jarang perempuan muda etnis Lamaholot (Flores, Lembata, dan Alor) yang bisa bikin jagung titi? 

"Itu karena Mama Kartini," kata beberapa teman asal NTT di Jawa Timur. 

Mama Kartini tak lain Ibu Raden Adjeng Kartini yang hari lahirnya selalu dirayakan di seluruh Indonesia sebagai Hari Kartini. Mama Kartini berjasa mempromosikan pendidikan wanita Indonesia, membuat wanita setara dengan laki-laki. Membuat wanita tidak lagi melulu bekerja di dapur, mengurus rumah tangga, dan sebagainya.

Tradisi masyarakat Lamaholot sangat erat dengan budaya patriarki yang berurat berakar sejak zaman nenek moyang. Tugas atau kerja wanita dan pria dibedakan dengan sangat jelas. Dulu, sebelum 1990an, pantang menyuruh laki-laki memasak atau kerja di dapur. Cuci pakaian pun tak boleh dilakukan laki-laki. Kerja laki-laki di kebun, berburu, cari ikan, dan kerja fisik yang membutuhkan otot.

Begitu juga tradisi tenun ikat. Dulu, ketika saya masih kecil di kampung, pelosok Lembata, NTT, setiap rumah ada perangkat untuk menenun tradisional Lamaholot. Semua wanita, mulai dari nenek-nenek, mama-mama, hingga kebarek (gadis), menekuni tenun ikat. Mulai dari bikin pewarna alami, memintal kapas jadi benang; menenun hingga jadi kain sarung. Kain sarung ini sangat-sangat penting karena terkait erat dengan budaya adat Lamaholot.

Orang mau nikah harus ada kain sarung (tenun ikat). Ada keluarga yang meninggal harus ada kain tradisional. Pesta apa pun pasti pakai kain ikat itu. Saya selalu ingat dulu hampir semua wanita di Lembata memintal kapas jadi benang putih sambil berjalan kaki, ke mana saja. Namanya TUE LELU. Benang dari lelu alias kapas (dari kebun sendiri) ini kemudian direndam dalam laruta tarum atau mengkudu (dan zat pewarna lain). Lalu dijemur. Lalu ditenun di belakang atau samping rumah.

Tenun-menenun ini tidak pakai target. Belum ada pikiran untuk menjual atau menguangkan kain sarung itu. Karena tanpa target, kainnya baru jadi setelah dua tiga bulan, bahkan satu tahun. Kalau kebetulan sakit, ya, istirahat berbulan-bulan. Sistem yang sangat manual ini membuat produksi kain ikat sangat terbatas. Baru digunakan untuk urusan adat atau dipakai sendiri. 

Inilah kehebatan orang Lamaholot yang sejak zaman kuno sudah mampu membuat pakaian sendiri dari kain tenun ikat. Jauh sebelum Mahatma Gandhi menyebarkan paham swadeshi, yang salah satunya memproduksi pakaian sendiri, tanpa perlu membeli kain buatan pabrik di toko-toko. Inilah kehebatan etnis Lamaholot ketika banyak etnis lain yang tempo doeloe masih mamakai daun-daun, bahkan telanjang.

Perlahan tapi pasti, rezim Orde Baru sukses melakukan pembangunan. Sekolah-sekolah masuk desa dibantu yayasan Katolik. Gerakan wajib belajar membuat semua anak masuk sekolah. Anak-anak perempuan pun sekolah. Tak ada bedanya dengan laki-laki. Awalnya cuma SD sampai tamat, kemudian SMP, kemudian mulai SMA hingga perguruan tinggi. Dan, perjuangan Mama Kartini ini mulai dipetik pada 1990an dan setelah reformasi.

Berkat pendidikan yang makin tinggi, para wanita muda di Lembata dan Flores Timur mulai malas ke dapur. Tidak lagi TUE LELU, TANE WATEK (menenun kain), GAE WATA (membuat jagung titi), dan sebagainya. Bahkan, mencuci pakaian laki-laki pun tidak seikhlas zaman dulu. 

"Wah, saya masih sibuk nonton TV," kata seorang wanita muda di kampung. Padahal, dulu, sebelum 2000, kata-kata macam ini pantang keluar dari mulut wanita Lamaholot ketika diminta laki-laki untuk BAHA ALE LOLON (mencuci pakaian). Berkat perjuangan Mama RA Kartini, wanita modern menggugat semua tradisi patriarki yang menjadi pilar utama adat istiadat Lamaholot.

Setiap kali berlibur atau cuti ke Lembata, dan daerah lain di NTT, saya paling fokus memperhatikan dua hal ini: tenun ikat dan jagung titi. Betapa sulitnya menemukan para wanita sibuk menenun d rumah. Sudah lima tahun ini saya tidak pernah melihat seorag wanita pun (tua dan muda) yang TUE LELU (memintal kapas) di jalan. Saya pun mulai jarang mendengar bunyi bebatuan di dapur-dapur warga yang membuat jagung titi. 

Sebaliknya, sangat mudah melihat gadis-gadis muda bermain games atau HP di mana-mana. Televisi yang masuk kampung, berkat serbuan Matrix, yang membuat gambar sangat jelas, bahkan lebih jelas ketimbang di Sidoarjo, membuat orang kampung ketagihan menonton sinetron atau Tukul di televisi. 

Sebagai orang Lamaholot, kita syukuri kemajuan ini. Bahwa pola pikir, mentalitas warga di kampung, sudah jauh berbeda dengan tradisi lama. Wanita-wanita lebih memilih jadi TKW ke Malaysia Timur, atau kerja di Batam, ketimbang menekuni tradisi tenun ikat yang tidak menghasilkan uang. Duduk berjam-jam, setiap hari, berbulan-bulan, bahkan tahunan, tapi hasilnya tidak sebagus mereka yang merantau sebagai TKW.

Karena itu, saya mengapresiasi TENUNKOE, http://tenunkoe.org/ yang aktif melakukan pemberdayaan perempuan di NTT. "Tenunkoe dimaksudkan untuk mengajak masyarakat luas berbagi kasih dengan kaum marginal khususnya perempuan di NTT dalam bentuk memberikan donasi untuk modal usaha, membeli produk-produk buah karya perempuan, menyumbangkan pemikiran untuk memajukan perempuan ataupun bentuk sumbangan lainnya."


No comments:

Post a Comment