06 April 2015

SAS: Sunyi, Bunyi, dan Kota

Oleh Slamet Abdul Sjukur (1935-2015)
Komponis, Pemikir Kebudayaan

Mana yang penting: tempat berlindung, makan, atau kawin? Ini pertanyaan buat kucing. Tapi juga untuk manusia. Ketika hidupnya masih sangat sederhana. Sebelum ada kota.

Sekarang sebuah kota dikatakan nyaman jika penduduknya punya rumah yang pantas, pekerjaan yang mencukupi kebutuhannya dan anak-anaknya bersekolah yang mengasyikkan. Di samping itu, semua masih ada tuntutan lain: punya waktu untuk bersantai.

Apakah punya waktu santai itu suatu kemewahan? Alam sudah memberi contoh ada siang ada malam. Baterai juga perlu diisi kembali energinya. Santai itu fungsional.

Dalam gerakan waktu yang tiada hentinya, kita perlu ke tepi sejenak agar masih bisa merasakan hidup. Menyadari keluarbiasaan hidup sebagai karunia. Ketenteraman batin yang ditopang oleh suasana tenang menjadi syarat untuk itu. Sebaliknya, para buruh yang bekerja di pabrik yang bising.

Max Planck menemukan berbagai masalah keluarga pada mereka. Bahkan di New York sepertiga penduduknya mengidap psikopat, manusia yang sehari-harinya normal namun bisa mendadak naik pitam. Sebabnya banyak tapi yang utama karena kebisingan yang lama-kelamaan dirasakan sebagai sesuatu yang biasa tapi diam-diam sarafnya tidak bisa diterima.

Maka, sering diberitakan di sana, seorang siswa membawa mitraliur dan membunuh teman-temannya di sekolah. Di Jakarta pun sudah semakin terlihat gejala seperti itu. Orang gampang tersinggung, gampang marah, dan tidak punya toleransi.

Apa bahayanya? Kebisingan tidak cuma berurusan dengan telinga, tapi dengan semua organ tubuh dan seluruh jaringan saraf kita. Ketika tiba-tiba mendengar ledakan, jantung kita serasa pecah, tekanan darah naik, jaringan saraf korslet, dan fungsinya kacau balau. Lebih-lebih lagi kalau telinga kita terus-menerus diserbu oleh berbagai kebisingan yang melampaui batas pendengaran sama akibatnya seperti kalau lubang hidung kita disemprot alat pengering rambut terus-menerus, kita tidak saja tidak bisa bernapas tapi berpikir pun tidak mungkin.

Kebisingan yang berlebihan menyebabkan kita tidak bisa berpikir sebagaimana mestinya. Di Kanada sekolah-sekolah yang di atasnya sering dilewati kapal udara, kecerdasan murid-muridnya berkurang antara 30-40 persen dibandingkan kecerdasan murid-murid yang sekolahnya jauh dari jalur penerbangan.

Kebisingan bukan masalah selera, seperti ada orang yang suka musik hard rock, ada yang suka musik lembut. Disebut kebisingan karena melampaui batas kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, kebisingan adalah polusi yang berbahaya bagi lingkungan.

Para dokter THT punya tabel tentang hubungan antara kerasnya suara (dalam satuan desibel, dB) dan batas kemampuan pendengaran. Sayangnya, pemerintah tidak memahami maknanya yang lebih dalam yang sangat mengerikan. Sampai-sampai tidak ada sosialisasi, apalagi tindakan nyata, untuk mengatasi batas polusi yang satu ini.

Di negara-negara yang sudah maju inteligensinya sudah lama dilakukan upaya-upaya menanggulanginya semaksimal mungkin. Mesin-mesin disertai peredam yang tidak terpikirkan sebelumnya. Jalan raya dibuat dari bahan-bahan yang menyerap bunyi. Headphone dibatasi secara otomatis volumenya. Berbagai peraturan dan pelarangan dibuat untuk menyelamatkan penduduk dari kolonialisme baru yang tidak terlihat ini.

Indonesia tidak cuma menghadapi masalah kemiskinan ekonomi, tapi yang lebih penting lagi mengatasi kemiskinan mental, di samping masalah mengembalikan kepercayaan rakyat pada pemerintah. Surabaya dengan penghijauan dan kursi-kursi tamannya membuat kita tenteram. Sering terlihat orang asyik membaca di situ tanpa takut ditodong penjahat.

Sayang, trotoar yang mestinya untuk pejalan kaki dianggap sebagai pelebaran jalan untuk sepeda motor. Akibatnya, pejalan kaki tidak pernah merasa nyaman di situ. Pengemudi sepeda motor bahkan masuk di kampung-kampung dan tidak segan membunyikan klakson agar orang lain minggir. Sepeda motor menjadi raja di mana-mana. Dan Surabaya tidak tegas menghadapinya.

Memang tidak perlu pakai ketegasan terhadap kucing kawin, tapi dengan masalah trotoar yang bukan pelebaran jalan? Itu terkait langsung dengan sistem demokrasi, hajatan kebersamaan, dan lebih jauh lagi sama dengan korupsi: merampas yang bukan haknya.

Masalah prioritas? Tidak semua menjadi prioritas, tapi juga tidak semua bisa diremehkan. Prioritas yang paling dianaktirikan selama ini, sejak manusia tinggal di kota, ialah perlunya mutlak tidak membuat kebisingan. Keheningan bukan sesuatu yang mewah, tapi syarat untuk bisa bernapas sehat dan berpikir jernih.

CATATAN
Semasa hidupnya, selain menciptakan komposisi musik, mengajar musik di berbagai akademi, kampus, dan sekolah musik, almarhum SAS juga mendirikan gerakan Masyarakat Bebas Bising. Gerakan ini aktif mengampanyekan polusi suara, bahaya kebisingan di Indonesia.

No comments:

Post a Comment