21 April 2015

Perempuan atau Wanita?


Kata WANITA dan PEREMPUAN, menurut saya, sama artinya. Sinonim. Bisa ditukar buat variasi. Nilai rasanya pun saya anggap sama meskipun banyak orang bilang beda.

Pria berpasangan dengan wanita, laki-laki berpasangan dengan perempuan. Tidak pernah atau jarang kita dengar pria dan perempuan atau laki-laki dan wanita. Ini sih selera atau diksi saya dalam berbahasa baku.

Tapi sejak reformasi, para aktivis hak asasi manusia dengan tegas memilih kata PEREMPUAN sebagai ganti WANITA. "Kalau bisa wartawan menggunakan kata PEREMPUAN. Jangan WANITA," ujar seorang teman aktivis wanita, eh aktivis perempuan di Surabaya, beberapa tahun lalu.

Di awal reformasi, Bu Khofifah, yang memang aktivis sejak mahasiswi, gencar pakai kata PEREMPUAN. Bu Khofifah saat itu menjabar menteri pemberdayaan perempuan. "Saya bukan menteri peranan wanita tapi pemberdayaan perempuan," kata Khofifah saat awal reformasi.

Menteri PERANAN WANITA itu memang sangat khas Orde Baru. Salah satu menterinya, Bu Nani Sudarsono, masih sering tampil sebagai komentator acara wayang orang di TVRI. Saya kebetulan senang menonton siaran wayang orang di TVRI karena tidak ada lagi pertunjukan wayang orang di Surabaya dan Sidoarjo. Setiap kali melihat Bu Nani di televisi, saya selalu ingat frase PERANAN WANITA dan PEMBERDAYAAN PREMPUAN.

Wanita di masa Orde Baru dicitrakan sebagai orang rumahan, pendamping suami, pengasuh anak, istri yang baik. Maka, para wanita ini dianjurkan ikut kegiatan PKK, posyandu, dan sebagainya. Pendidikan kaum wanita, sebelum reformasi, khususnya sebelum tahun 1990, pun umumnya lebih rendah daripada kaum pria. Jarang ada wanita (di luar Jawa) yang kuliah di perguruan tinggi.

Beda dengan wanita, kaum perempuan sangat berdaya dan berpendidikan. Punya karir tinggi, pendidikan sampai S3 (di luar negeri pula), direktur atau bos, intelektual... tak berbeda dengan laki-laki. Kalau laki-laki bisa, mengapa perempuan tidak?

Kalau wanita telaten mengurus rumah tangga, anak-anak, perempuan hampir tidak waktu karena sibuk berkarir. Si perempuan suka menitipkan anak ke pembantu atau baby sitter. Bila perlu tak punya anak agar tidak repot. Tidak ganggu karir. Bisnis penitipan anak pun marak setelah reformasi. Sedikit banyak ada hubungan dengan perubahan wanita menjadi perempuan itu!

Kembali ke makna kata WANITA dan PEREMPUAN. Kamus besar bahasa Indonesia memberi definisi:

WANITA : perempuan dewasa: kaum -- , kaum putri (dewasa);
-- karier wanita yg berkecimpung dl kegiatan profesi (usaha, perkantoran, dsb).

PEREMPUAN : 1 orang (manusia) yg mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: -- nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan); bunyi -- di air, pb ramai (gaduh sekali).

Sudah bertahun-tahun saya tidak mengecek kata WANITA di kamus. Di Hari Kartini ini baru saya tahu bahwa WANITA itu perempuan dewasa. Lalu, perempuan yang belum dewasa bukan wanita? Rasanya penyusun kamus besar versi Pusat Bahasa ini perlu mendiskusikan lagi.

Rasa bahasa memang berubah dari masa ke masa. Ada perubahan makna yang disebut ameliorasi: nilai rasa baru diaggap lebih baik daripada asalnya. Buku pelajaran bahasa Indonesia lama di SMP (saya masih ingat) memberi contoh kata wanita.

"Kata WANITA asalnya lebih rendah daripada PEREMPUAN, tetapi makna baru menjadi lebih tinggi daripada perempuan."

Oh, itu buku bahasa Indonesia terbitan tahun 1980-an. Cocok dengan kebijakan dan paham rezim Orde Baru yang menekankan WANITA sebagai pengurus rumah tangga, pendamping suami, pengasuh anak, orang rumahan, dan sebagainya. Mungkin itu yang menyebabkan kata PEREMPUAN di masa lalu dianggap negatif atau bernilai rendah.

Di awal kemerdekaan pun, tahun 1950-an, kata PEREMPUAN bermakna negatif. Sutan Mohammad Zain dalam kamus terbitan 1952 menulis, "Perempuan baik-baik sekarang lebih suka dinamai WANITA."

Sebaliknya, di lema WANITA, Sutan yang ahli bahasa terkemuka itu mendeskripsikan: "Wanita = perempuan; tetapi dalam bahasa Indonesia sekarang (tahun 1950-an) dipandang lebih halus dari perempuan.

Yang menarik, Alkitab atau Kitab Suci orang Kristen/Katolik di Indonesia, yang terjemahannya dikerjakan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, kata PEREMPUAN lebih banyak dipakai mulai dari Kitab Kejadian hingga Wahyu. Kata PEREMPUAN di Alkitab dianggap netral, sama dengan WANITA.

Kejadian 1:27: "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."

Iseng-iseng saya coba mencari kata PEREMPUAN di Alkitab online. Hasilnya luar biasa: kata perempuan terdapat di 1.169 ayat, sedangkan kata wanita hanya 12 ayat.

2 comments:

  1. Perempuan itu partnernya lelaki. Sedangkan wanita itu partnernya pria, asalnya dari Bahasa Jawa. Yang dua belakangan jadi populer karena Suharto di jaman Orde Baru suka menambahkan kata-kata Jawa ke dalam Bahasa Indonesia, karena dia orangnya feodal gitu loh.

    ReplyDelete
  2. di jaman orba juga dibentuk DHARMA WANITA yg menekankan tugas wanita sebagai pendamping suami yg bekerja di ruang publik. Karir wanita sangat dibatasi saat itu. Jarang ada wanita yg jadi pejabat.

    ReplyDelete