18 April 2015

Paduan Suara Budak Partitur

Salah satu penyakit kronis yang diidap kor (paduan suara) kita adalah ini: tidak hafal teks! Penyakit lawas ini paling jelas terlihat di lingkungan gereja. Lebih khusus lagi di Gereja Katolik. Sebab saya selalu perhatikan paduan suara ketika ikut misa di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pandaan, atau Malang.

Sangat jarang kor-kor gereja yang anggotanya hafal teks atau partitur di luar kepala. Bahkan, banyak dirigen pun matanya lebih banyak melihat partitur ketimbang anggota paduan suara. Sebaliknya, anggota kor pun lebih banyak melihat teks ketimbang melihat gerakan tangan dirigen. Toh, dirigen juga tidak fokus melihat anak buahnya.

Percayalah, kor-kor macam ini mustahil bernyanyi dengan bagus. Jangankan lagu-lagu yang tingkat kesulitannya level C atau D, lagu-lagu sangat sederhana alias komposisi paduan suara level A dan B pun tidak bisa enak.

Oh ya, di lingkungan kor Katolik tingkat kesulitan komposisi paduan suara itu mulai level A (amat sangat gampang) sampai F (amat sangat sulit). Di Indonesia, hanya sedikit paduan suara yang mampu membawakan komposisi level D, apalagi F. Di Gereja Katolik, untuk perayaan ekaristi biasa, bukan lomba atau festival, tingkat kesulitan lagu mentok di C.

Mengapa kor-kor kita di gereja tidak bisa menghafal teks? Padahal lagu-lagu itu sederhana dan hampir selalu dinyanyikan setiap minggu, bahkan setiap hari? Sebab, sejak dulu komisi liturgi atau pembina paduan suara tidak pernah memaksa atau mewajibkan paduan suara untuk hafal teks. Bahkan, seorang komposer terkenal, yang lagu-lagunya banyak mengisi buku Madah Bakti dan Puji Syukur, pun pakai teks ketika memainkan komposisi karyanya sendiri. Ini saya lihat waktu kursus pembina paduan suara di sebuah paroki di Keuskupan Malang beberapa tahun lalu.

Karena itu, paduan suara gerejawi tidak pernah bisa menghafal lagu-lagu liturgi di Madah Bakti (terbitan 1980) atau Puji Syukur selama puluhan tahun. Bayangkan, ikut paduan suara sejak 1990an, ekaristi tiap minggu, tapi belum hafal syair dan lagu ordinarium Misa Lauda Sion, Misa Raya, Misa Kita 2, Misa Kita 4, Misa Senja, Misa Manado, Misa Dolo-Dolo, Misa Syukur... nyanyian persembahan, dan sebagainya. Kalau tidak pernah dipaksa untuk menghafal, ya, sampai mati pun tetap pakai teks. Mata melotot ke teks, lupa kalau di depan ada dirigen.

Teks atau partitur memang penting dan perlu. Sangat membantu paduan suara, dirigen, organis, juga umat, untuk membawakan lagu sesuai dengan yang dikehendaki komposer. Tidak mbeleset ke mana-mana. Tapi, kalau ketagihan membaca teks, otak tidak pernah dilatih untuk mengingat melodi dan syair yang itu-itu saja. Bisa dibayangkan kualitas macam apa paduan suara yang seperti itu.

Saya ingat pesan yang selalu diucapkan almarhum Slamet Abdul Sjukur, komponis dan guru musik terkenal asal Surabaya. Setiap kali memberikan kuliah komposisi, kursus komposisi untuk awam di Surabaya, beliau selalu mewanti-wanti peserta agar tidak melihat teks ketika permainan berlangsung. Main musik, entah piano, gitar, tepuk tangan, pakai mulut, bersiul, hendaknya spontan.

"Kita jangan mau jadi budaknya not balok," kata sang maestro musik kontemporer itu.

Di gereja, paduan suara kita malah jadi budaknya not angka. Bertahun-tahun. Sampai sekarang.

No comments:

Post a Comment