20 April 2015

Oknum Tentara vs Oknum Penjahat

Kalau ada tentara atau polisi terlibat kejahatan, hati-hatilah saat menulis. Jangan lupa pakai kata OKNUM. Misalnya: "Oknum anggota TNI AL diduga terlibat penggelapan motor." Begitu pesan wartawan senior kepada wartawan atau redaktur yang jam terbangnya belum banyak.

Mengapa harus pakai kata OKNUM? 

"Untuk keamanan. Itu kebiasaan sejak zaman Orde Baru. Kata OKNUM perlu dipasang untuk menunjukkan bahwa kejahatan itu dilakukan secara individual, bukan organisasi atau instansi," kata sang suhunya wartawan lawas.

Begitulah. Selama 30 tahun lebih kata OKNUM ini hanya disematkan ke Polri/TNI atau organisasi kemasyarakatan (ormas) yang seragamnya doreng. Misalnya, Pemuda Pancasila. Maka, ketika pekan lalu ada anggota Pemuda Pancasila bikin onar di studio SBO TV, Surabaya, menampar narasumber dalam talkshow yang disiarkan langsung, media massa pun menulis "oknum anggota Pemuda Pancasila". 

"Kalau nggak menulis OKNUM, media bisa diserbu teman-temannya si oknum itu," kata seorang wartawan di Surabaya.

Kata OKNUM ini hanya muncul dalam konteks negatif. Ketika si tentara, polisi, atau anggota ormas doreng melakukan hal-hal yang baik, berprestasi, kata oknum tidak pernah dipakai. Sang komandan tentara atau polisi buru-buru mengklam bahwa prestasi anak buahnya itu berkat pembinaan dan dukungan instansi. Padahal, prestasi itu di luar urusan kedinasan, tak ada katan dengan Polri, TNI, atau ormas.

Sudah lama saya mencari kata OKNUM di kamus bahasa Indonesia lama, era 1950-an. Kamus susunan Sutan Mohammad Zain, edisi 1952, tidak memuat kata OKNUM. Yang ada cuma OKE, OKTAF, dan OKTOBER. Artinya, kata OKNUM ini termasuk kata yang baru muncul belakangan. Khususnya di era Orde Baru ketika pers dikontrol sepenuhnya oleh penguasa yang militeristik. Jangan lupa, presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota... di Indonesia saat itu (hampir) semuanya militer.

Maka, untuk menjaga citra militer, termasuk polisi yang saat itu termasuk ABRI, media massa di Indonesia diwajibkan memakai kata OKNUM ketika memberitakan tindakan anggota militer (Polri dan TNI) yang melanggar hukum. Kalau ada tentara menghamili anak orang, itu mah perbuatan oknum. Kalau ada tentara yang jadi beking judi atau kegiatan ilegal, itu juga oknum. Tentaranya sih bagus. Oknumnya yang salah.

Sejak itulah kata OKNUM masuk kamus bahasa Indonesia versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. OKNUM berarti (1)Orang seorang; perseorangan; (2) Orang atau anasir (dng arti yg kurang baik): -- yg bertindak sewenang-wenang itu sudah ditahan.

Lucunya, minggu lalu saya membaca berita di koran terkenal terbitan Jakarta yang menyebut OKNUM PENJUDI. Hehehe... Sejak kapan penjudi ada oknumnya? Lama-lama ada istilah OKNUM PELACUR atau OKNUM PSK, OKNUM PERAMPOK, OKNUM KORUPTOR, OKNUM PENCURI.... 

Mungkin wartawan yang menulis, plus redaktur yang mengedit berita itu, belum pernah mendapat pncerahan dari wartawan lawas era Orde Baru yang paham riwayat kata OKNUM.   

No comments:

Post a Comment