30 April 2015

Merayakan eksekusi mati

Dari 10 orang Indonesia, mungkin hanya SATU orang yang menentang eksekusi mati. Bahkan, mungkin kurang dari satu orang. Karena itulah, eksekusi mati delapan narapidana kasus narkoba di Nusakambangan, Jawa Tengah, disambut gembira di mana-mana. Orang senang karena para bandar narkoba itu ditembak mati. Beda kalau yang dieksekusi itu teroris, biasanya banyak yang membela dan menganggapnya mati sahid karena telah berjihad di jalan ilahi.

"Kalau dibiarkan hidup, mereka akan bikin pabrik narkoba di dalam penjara. Kasihan jutaan anak bangsa. Aneh kalau ada orang yang menolak eksekusi mati di Indonesia," kata Cak Maman, warga Gedangan, Sidoarjo, yang lulusan universitas.

Setiap kali ngobrol santai atau serius, Cak Maman sangat keras meminta agar pemerintah tidak menunda-nunda pelaksanaan eksekusi mati. Bila perlu tiap minggu ada eksekusi sehingga para bandar yang sudah divonis mati in kracht itu tidak ada lagi di Indonesia. Dan, yang penting, "Jangan hiraukan protes Australia, Brasil, Prancis, Filipina, dan sebagainya. Pemerintah tutup telinga aja," katanya.

Orang-orang macam Cak Mamat ini buanyaaak sekali di Indonesia. Dan itu merata di semua lapisan masyarakat. Mulai level bawah di warung kopi, pekerja kantoran, pengurus partai, pengurus kampung, pekerja media massa, dosen, pengamat, hingga Wapres Jusuf Kalla, dan Presiden Joko widodo. Wapres JK bahkan cuek aja dengan protes Australia.

"Biarkan saja. Australia itu lebih membutuhkan Indonesia (daripada Indonesia membutuhkan Australia)," kata JK yang dikutip Jawa Pos pagi ini.

Menanggapi reaksi negara-negara yang warganya dtembak mati di Nusakambangan, Presiden Jokowi mengatakan, "Itu kedaulatan hukum kita! Itu kedaulatan hukum kita! Itu kedaulatan hukum kita!" Tiga kali Pak Presiden mengucapkan kalimat pendek ini. Sambil tersenyum lebar.

Suasana kebatinan rakyat (dan pemerintah) yang sangat prohukuman mati ini sangat terasa di televisi. Termasuk TVRI yang notabene televisi pemerintah. Jauh sebelum pelaksanaan eksekusi mati di Dead Island, Cilacap, ada running text di layar TVRI yang berbunyi: "Saksikan siaran langsung (live) pelaksanaan eksekusi mati dari Cilacap."

Teks woro-woro ini terus diulang kayak pengumuman siaran langsung pertandingan sepak bola Piala Dunia atau Liga Spanyol, Liga Inggris, atau pertarungan tinju si Packman. Para pengamat, komentator, dan warga juga membahas eksekusi mati ini dalam durasi yang lamaaa sekali. Dan, intinya ya itu tadi, dari 10 orang Indonesia hanya 1 orang (bahkan kurang) yang menentang eksekusi mati. Orang Granat dan BNN terlihat paling senang dengan eksekusi mati.

"Itu penting untuk menunjukkan ketegasan kita pada bandar narkoba. Juga untuk memberikan efek jera," kata Pak Anang dari BNN.

Orang Granat sejak dulu rajin bicara di media, khususnya televisi, tentang betapa pentingnya menembak mati semua bandar narkoba yang dicokok di wilayah Indonesia. Eksekusi mati atas para bandar narkoba itu, kata Henry Yosodiningrat dari Granat, justru manusiawi. Henry yang juga pengacara dan politikus PDIP Perjuangan ini mengatakan begini:

"Hukuman mati itu manusiawi. Coba bandingkan dengan berapa banyak korban yang akan jatuh bila gembong narkoba dibiarkan bebas. Narkoba yang mereka sebarkan itu menyebabkan kematian.... Tidak ada alasan kalau dibilang mengeksekusi warga asing itu merusak diplomasi. Sejak dahulu peraturan kita tegas. Selain itu, apa rasional kita membiarkan anak bangsa kita terancam narkoba hanya karena omongan soal diplomasi? Kita ini negara berdaulat."

Begitulah. Eksekusi mati dirayakan di di tanah air kita. Orang Indonesia (mayoritas) heran bin bingung mengapa negara-negara lain malah mengecam Indonesia karena telah bersikap tegas terhadap para mafia narkoba yang dianggap merusak masa depan bangsa. Di televisi, bahkan ada pengamat yang mengecam Sekjen PBB Ban Ki-Moon yang meminta pemerintah Indonesia membatalkan eksekusi mati. Omongan sekjen PBB malah jadi bahan tertawaan yang sinis.

Perayaan eksekusi mati ini baru jilid kedua di era Presiden Jokowi. Masih banyak jilid-jilid lain di depan mata yang menanti eksekusi di depan regu tembak.

2 comments:

  1. Dikatakan dalam satu hari ada 50 nyawa melayang karena narkoba, adakah yg tahu siapa itu nama namanya 50 orang yang mati di hari may day kemarin, juga kemarin nya lagi.
    Juga bisakah lebih spesifik, narkoba macam apa yang dikonsumsi, apakah itu sabu sabu, ekstasi, ganja, heroin, putauw, morfin atau apa? juga yang jenis mana yang paling mematikan?

    Sungguh heran diantara yang cepat mati ada juga selebriti di dunia adalah pecandu narkoba selama puluhan tahun, tetapi tidak mati mati, ada dari dunia film, musik, juga dari dunia olah raga, entah karena beda narkoba atau apa.

    Dikatakan narkoba sebagai media penyebaran penyakit AID, butuh waktu yg lama untuk menjadi tahu yg dimaksud itu ternyata adalah narkoba jenis pakai alat suntik, bukan yang lain.

    Dulu juga pernah dikatakan mobil Esemka itu ciptaan anak anak sekolah SMK, dan sudah banyak dipesan sana sini, pemkot juga akan pesan dan memakai mobil Esemka sbg kendaraan operasional, entah kenapa sampai hari ini kenyataan yang ada tidak seperti itu.

    Kadang jadi salah sangka karena info yg kurang akurat

    ROKOK MEMBUNUHMU, adakah di antara kita yang tahu berapa orang kita yg mati setiap hari karena akibat kebiasaan merokok, berapa angkanya? Kurang dari 50 atau lebih dari 50 orang? Adakah yang tahu mana yang mati lebih banyak karena rokok atau narkoba?

    Ada seorang TKW WNI ditahan di Filipina dg kasus yg sama dg TKW WN Filipina Mary Jane Veloso.
    Bedanya yg di Filipina itu barangnya 3 kali lipat lebih banyak dari pada kasus Mary Jane.
    Bedanya saudara kita itu tidak dihukum mati, sedangkan Mary Jane kita hukum mati.

    Maraming salamat sa inyo Philippines

    Juga ada 3 WNI dipenjara di Australia dengan barang yg hampir 50 kali lipat lebih banyak dari kasus Bali Nine.
    Bedanya Bali nine itu menyelundupkan keluar dari Indonesia, bukan memasukkan, sedangkan 2 WNI kita itu membawa masuk ke Australia.

    Duo Bali Nine sudah kita tembak mati, bedanya yg di Australia tidak dihukum mati.

    Warga kita yang ditahan di Australia tentu merasa lebih "nyaman" dibandingkan dengan warga Australia yang ditahan di sini. Itu saja seharusnya sudah cukup layak untuk dijadikan bahan pembanding.

    Mungkin sembilan bagian dari kita tidak tahu, kurang dari satu bagian yang tahu, ada juga yang tahu tetapi mungkin tetap tidak mau tahu.

    Ada Pacquiao mau menjenguk Mary Jane setelah bertarung, mungkin dia menang mungkin juga dia kalah, apapun hasil tarungnya Pacquiao pastinya adalah pemenang bagi Mary Jane.

    For Pacquiao and Mary Jane Veloso I wish you all the best of luck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwun Wong Tjilik, sudah sering komentar yg berbobot di blog ini. Mayoritas orang Indonesia memang punya doktrin dan filsafat yg berbeda soal eksekusi mati. Kalau sebagian besar negara2 lain menghilangkan atau MEMPERSULIT eksekusi mati, di Indonesia yg terjadi justru MEMPERMUDAH eksekusi mati. Wacana yg santer di media adalah hukuman mati untuk koruptor. Kalau bisa tiap bulan ada eksekusi mati. Seorang mantan menteri yg terkenal sering mengatakan, terpidana mati yg ada di penjara itu sebaiknya segera dihabiskan (ditembak mati) karena hanya menghabiskan uang negara untuk konsumsi, biaya kesehatan dsb. Manusia2 bandar narkoba itu dianggap tidak layak hidup di Indonesia, meskipun di dalam penjara.
      Pemerintah harus punya reasioning untuk membenarkan eksekusi mati kepada dunia. Makanya selalu diulang di TV bahwa setiap hari 50 manusia Indonesia yg mati gara2 narkoba. Makanya pilih mana: bandar yg mati atau ratusan/ribuan rakyat Indonesia yg mati.
      Diskusi soal hukuman mati, eksekusi mati, di Indonesia saat ini kayaknya seperti menggantang asap: sia-sia. Argumentasi antara pro dan kontra eksekusi mati tidak akan pernah ketemu. Begitu kira-kira...

      Tunggu aja eksekusi mati di Nusakambangan babak ke- di era Jokowi.

      Delete