08 April 2015

Malam Paskah 2015 di Pandaan

Malam Paskah di Gereja Santa Theresa, Pandaan, Jawa Timur, 4 April 2015, sangat berkesan dan menarik. Misanya sendiri sih sama dengan tata liturgi di seluruh dunia. Umatnya juga sama-sama membeludak di halaman. Tapi suasananya sangat khas kota kecil di Kabupaten Pasuruan yang santri itu.

Begitu masuk di kompleks gereja, pinggir jalan raya, kita disambut barisan pramuka pelajar SMA/SMK. Adik-adik pramuka yang wanita boleh dikata semuanya pakai jilbab. "Selamat datang, silakan parkir di belakang," kata seorang pramukawati seraya tersenyum.

Luar biasa! Justru di malam Paskah, ketika liturgi berlangsung tiga jam, belum ditambah persiapan awal dan ramah-tamah usai misa, adik-adik pramuka yang beragama Islam dengan sukarela menjaga ketertiban ekaristi Paskah. Korban waktu, korban acara malam minggu, hingga di atas pukul 00.00 ketika kalender sudah masuk hari Minggu, 5 April 2014. Saya pun menyatakan salut, apresiasi, dan bersyukur kepada Tuhan atas kebersamaan antarumat berbeda agama ini.

Satu jam sebelum misa, tempat duduk di dalam gereja sudah penuh. Hal yang lazim di mana-mana. Panitia juga sudah mengantisipasi dengan membuat terop di halaman gereja. Penuh juga. Untung tidak hujan sehingga banyak umat yang duduk di halaman beratap langit.

Misa malam Paskah segera dimulai. Wow, ternyata Romo Eko Aldilanto OCarm yang pimpin misa! 

Saya kenal betul pastor yang satu ini karena dulu dia jadi salah satu pendamping rohani kami saat mahasiswa. Romo karmelit ini rupanya menjabat pastor kepala Paroki Santa Theresia Pandaan. Kalau dulu rambutnya selalu dipotong pendek, mirip tentara, sekarang rambutnya dibiarkan gondrong. Kayak seniman! Bagus juga, karena biasanya makin tua makin botak. Romo Eko Aldilanto makin tua makin gondrong. Jarang ada pastor berambut gondrong di Jawa Timur.

Dibuka dengan upacara cahaya, pujian malam paskah atau Exultet dibawakan seorang pemuda berkaca mata. Usianya belasan tahun. Rupanya Romo Eko memberi kesempatan kepada anak muda itu untuk "mengambil alih" menyanyikan exultet yang biasanya menjadi jatah pastor alias imam itu. Semula saya ragu, apa bisa remaja itu mampu membawakan pujian paskah yang panjang, konsisten, dan enak?

Wow, luar biasa! "Bersoraklah para malaikat di surga...," begitu syair awal Exultet.

Saya pun terkesima mendengar suara sang remaja yang merdu, bening, dengan teknik yang hebat. Mungkin inilah Exultet paling bagus yang pernah saya dengar selama saya mengikuti misa malam Paskah. Surabaya kalah, Jember kalah, Sidoarjo kalah, Flores sekalipun kalah. Betapa berbakatnya anak itu membawakan lagu gregorian di usia semuda itu.

"Sudah ngantuk belum???" goda Romo Eko Aldilanto di awal khotbah.

"Beluuuum!!!" jawab umat.

Memang, ekaristi malam Paskah itu misa paling panjang dalam tradisi Katolik di seluruh dunia. Bacaan-bacaannya banyak, mazmur, upacara cahaya, hingga ekaristi biasa di ujung perayaan. Tiga jam itu sudah padat karena malam itu tak ada ritual pembaptisan katekumen. Coba kalau ada baptisan!

Tapi, hebatnya, malam Paskah selalu menjadi magnet yang luar biasa bagi umat Katolik. Misanya sangat panjang, tiga sampai empat jam, tapi selalu bikin ketagihan. Rugi besar kalau sampai tak ikut misa vigili paskah itu. Sebab, pujian lilin paskah yang indah itu, alias Exultet, hanya dibawakan di gereja setahun sekali, ya, malam Paskah itu. Begitu pula pembaruan janji permandian, dengan lagu wajib Syukur Kepadamu Tuhan, juga hanya dilakukan pada malam Paskah itu.

"Sanggupkah saudara-saudara menolak godaan-godaan setan dalam bentuk takhayul, perjudian, dan hiburan tidak sehat?"

"Ya, kami sanggup!" jawab umat Pandaan dengan suara lantang. Komitmen yang gampang diucapkan mulut, tapi sering sulit dilakoni secara konsisten setiap hari. Selama satu tahun. Selama hayat dikandung badan.

Begitulah. Misa selama 3,5 jam itu berlangsung lancar, damai, dan menarik dengan pengawalan para pramuka dan polisi di halaman dan jalan raya depan gereja. Sebelum berkat penutup, Romo Eko meminta umat agar tidak cepat-cepat pulang ke rumah. Makan-makan dulu, ramah-tamah di halaman, untuk menghabiskan kue. 

"Kalau kuenya gak habis, gak boleh pulang," ujar sang romo seniman ini disambut tepuk tangan meriah. 

Sayang, lagu penutup yang dipilih paduan suara ternyata bukan Halelujah Handel seperti yang saya bayangkan, atau setidaknya komposisi yang pas dan hebat, sebagai klimaks Paskah. Kor Pandaan malah menyanyikan Bangunlah Dada Kelana, lagu lawas di Madah Bakti yang sudah lama tidak saya dengar di Surabaya dan Sidoarjo. Lagu Bangunlah Dada Kelana ini dikarang untuk misa minggu biasa, bukan paskah. Padahal, kualitas paduan suara Pandaan ini di atas rata-rata kor di Jawa Timur yang lebih pantas membawakan komposisi choral yang berat.

Baru kali ini saya merasakan malam Paskah yang tak hanya perayaan liturgi yang meriah dan indah, tapi juga resepsi hangat di halaman gereja. Makanan dan minuman yang disiapkan panitia pun lebih dari cukup untuk umat yang saya perkirakan sekitar 1.500 jiwa. Makan sampai kenyang baru pulang!

Selamat Paskah 2015!

5 comments:

  1. Jaman saya kecil dulu, kalau perayaan di Gereja tidak perlu dikawal oleh Banser, atau Pramuka. Seharusnya Indonesia malu, bukan bangga bahwa misa paskah masih dijaga oleh Pramuka berjilbab. Setelah reformasi seharusnya makin toleran, eh ternyata masih ada ketakutan oleh serangan dari golongan radikal dan ekstrimis. Badan Intelijen Nasional harus meningkatkan kinerjanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya punya persepsi lain... menurut saya, pada hari raya besar seperti Natal atau Paskah, saya yakin hampir di semua gereja jemaat membludak, tidak seperti hari minggu biasa... dan tentu kita akan kekurangan orang dalam hal keamanan, sulit untuk mengandalkan satpam atau pengurus keamanan gereja...

      tidak salah jika bantuan datang dari Banser, Pramuka, atau pihak-pihak lain... soal keamanan bukan cuma soal ancaman bom atau serangan golongan radikal, terlalu jauh kalo kita mikirin itu...

      contoh simpel saja: parkir... pada hari raya seperti ini, saya yakin parkir gereja belum tentu cukup, maka perlu koordinasi dgn lingkungan sekitar untuk soal parkir... di sinilah bantuan dari pihak lain cukup berarti, daripada kita mengandalkan tukang parkir ilegal...

      kemudian kalo menurut saya sendiri, urusan keamanan memang sebaiknya ditangani oleh pihak luar... kenapa??? supaya umat Kristen fokus untuk beribadah kepada Tuhan dan tidak memikirkan hal-hal lain ataupun sibuk mondar-mandir di dalam gereja untuk mengurus keamanan...

      Delete
  2. menarik sharing paskahan kemarin.

    ReplyDelete
  3. Di Jawa Timur sejak dulu ada tradisi toleransi yg sangat terpuji dari sahabat2 santri nahdliyin, banser NU, dll yg berinisiatif ikut menjaga keamanan umat kristiani, khususnya di gereja2 besar, yg mengadakan misa malam Natal atau pekan suci paskah. Ini wujud toleransi dan kebersamaan yg sangat indah. Sama sekali bukan untuk menggantikan tugas polisi atau tentara.

    Tradisi ini juga dilakukan di Flores Timur dan Lembata (daerah saya di NTT) saat Idul Fitri dan Idul Adha yg diadakan bergilir dari desa ke desa setiap tahun. Panitia perayaan, resepsi, dsb diserahkan kepada umat Katolik dan pemerintahan desa. Umat Katolik juga ikut menjaga malam takbiran dan salat Id pagi hari di lapangan terbuka. Begitu yg saya pahami dan alami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas penjelasannya, cak.

      Delete