24 April 2015

Jokowi, KAA, Budi Gunawan

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) layak diapresiasi. Puluhan kepala negara dan kepala pemerintahan hadir. Bukti bahwa Indonesia masih dihormati di forum internasional. Presiden Jokowi bolehlah berbangga karena mampu meyakinkan begitu banyak pemimpin negara Asia-Afrika ke tanah air.

Sayang, KAA yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa rasanya garing di dalam negeri. Di kalangan masyarakat bawah, di warung-warung kopi, khususnya di Jawa Timur, tema obrolan justru tentang Jokowi yang dianggap lemot. Kepala negara dan kepala pemerintahan Republik Indonesia yang lemah. Seorang petugas partai yang kelihatan tak berdaya di hadapan Megawati, ketua umum PDI Perjuangan.

Masih belum selesai diskusi soal petugas partai, tiba-tiba, saat KAA berlangsung, Komjen Budi Gunawan dilantik sebagai wakil kapolri. Pelantikannya pun tertutup, diam-diam, seperti dirahasiakan. Mensesneg Pratikno malah bilang belum tahu rencana pelantikan wakapolri dan siapa yang akan dilantik.

Aneh! Pihak istana sampai tidak tahu BG dijadikan wakapolri. Lalu, beberapa jam setelah dilantik sama Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Presiden Jokowi ketika ditanya wartawan hanya mengatakan, "Saya sudah perintahkan kapolri untuk melakukan konsolidasi kelembagaan."

Pernyataan pendek ini pun harus paka baca kertas contekan. Lalu, Jokowi berlalu ke forum KAA yang dianggap jauh lebih penting mengingat banyaknya tamu negara yang hadir. Sebaliknya, rakyat Indonesia (mayoritas) menganggap persoalan BG sebagai wakapolri itu jauh lebih penting ketimbang KAA. "KAA iku opo? Aku gak ngerti blas," kata Cak Dikin di Waru, Sidoarjo.

Begitulah. Sebagian besar rakyat kembali kecewa dengan sikap lemot Jokowi soal BG. Sudah betul Jokowi membatalkan BG sebagai calon kapolri karena dugaan pidana korupsi yang didakwakan KPK. Tapi tidak berarti BG boleh melenggang sebagai wakapolri. BG dianggap kontroversial, meski status tersangkanya sudah dibatalkan pengadilan negeri. Lha, kok ngotot banget dijadikan pimpinan polisi se-Indonesia?

Akan sia-sialah Jokowi mencari panggung di luar negeri, bicara ngalor-ngidul, kalau kebijakannya di dalam negeri masih slintutan seperti itu. Belum lagi harga BBM yang terus naik mengikuti harga pasar internasional, yang diikuti kenaikan harga hampir semua barang. Daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jutaan buruh yang upahnya belum sesuai ketentuan UMK. Kemudian gonjang-ganjing sepak bola yang tak ada ujungnya.

1 comment:

  1. The best offense is defense. Kalau main bola, bila di lini belakangnya kuat, umpan umpan ke depan akan banyak mengalir dan bergulir. Begitu juga suatu negara, bila ekonominya kuat, mudah untuk bertingkah polah untuk diplomasi luar negeri atau unjuk kekuatan atau pengaruh di kancah internasional. Ekonomi Indonesia sudah banyak maju dibandingkan jaman Sukarno, tetapi dibandingkan Tiongkok, Korea, Malaysia, dll yang merdeka hampir bersamaan, ketinggalan. Mengapa? Karena korupsi, dan mental rakyat dan pejabatnya yang ahlaknya makin rusak, walaupun makin banyak yang naik haji, pengeras suara masjid makin lantang, dan perempuan-perempuan makin banyak yang berjilbab.

    ReplyDelete