12 April 2015

Gadget mengubah budaya komunikasi kita

Kemarin saya mencoba naik kapal feri dari Ujung Surabaya ke Kamal Madura. Nostalgia sekaligus ingin melihat kondisi kapal penyeberangan seperti apa setelah ada jembatan Suramadu. Wuih, perkiraan saya, jumlah penumpang merosot 90 persen dibandingkan sebelum ada Suramadu.

Wajar kalau orang lebih suka lewat jalan darat, Suramadu, ketimbang feri. Tarifnya dua kali lipat, waktu tempuhnya lama, menunggunya pun bikin makan hati. Enaknya ya kita bisa menyaksikan kapal-kapal di Pelabuhan Tanjung Perak dan perairan Selat Madura.

Melihat seorang bule duduk sendirian, saya sengaja merapat ke pria 50an tahun itu. Ingin ngobrol sedikit, minta pendapat, diskusi ringanlah. Kebiasaan lama di atas kapal laut, pesawat, atau ruang tunggu bandara. Sayang, si bule itu terlalu sibuk dengan gawainya. (Oh ya, gadget = gawai). Dia tersenyum sendiri, asyik chatting dengan temannya di FB. Saya intip Twitter-nya juga sangat aktif.

Sama sekali tak ada celah untuk menginterupsi si bule. Apa boleh buat, saya tidak bisa bertanya satu kata pun. Sangat tidak sopan mengganggu keasyikan turis putih dengan gawainya di atas kapal penyeberangan. Dan.. kapal pun tiba di Dermaga Kamal yang makin sepi itu.

Gadget, smartphone, media sosial, dan sebangsanya memang benar-benar dahsyat. Ia mengubah budaya komunikasi kita nyaris total. Yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh!

Bagaimana si turis itu bisa menyerap pemandangan laut Surabaya-Madura kalau matanya hanya fokus ke tabletnya? Mengapa dia tidak mencoba ngobrol sedikit dengan satu dua penumpang? Pasti ada yang bisa berbahasa Inggris meski tidak fasih. Wow, rupanya bule yang bukan anak muda itu sudah terserap ke dalam budaya sosial media yang parah.

Slamet Abdul Sjukur (almarhum), komponis dan budayawan asal Surabaya, sebelum meninggal dunia juga menyampaikan kegalauannya melihat budaya HP yang benar-benar mengubah budaya manusia Indonesia. Empat orang sahabat duduk santai di restoran. Bukannya ngobrol, saling cerita, sharing, kata Pak Slamet, empat sahabat itu malah sibuk sendiri-sendiri dengan ponselnya.

Setelah pesanan makanan datang, ponselnya pun on terus. Mulut menguyah makanan, mata membelalak ke layar ponsel. Senyum sendiri membaca cuitan yang dirasa lucu. Lalu, empat sahabat itu pun pulang sendiri setelah makan siang bersama di restoran. "Luar biasa fenomena baru ini," kata Slamet suatu ketika.

1 comment:

  1. iklannya kok hilang? ada masalah dgn adsense????

    ReplyDelete