27 April 2015

EF dan Kursus Bahasa Inggris di Sidoarjo

Kaget juga melihat bangunan kenangan lama di Jalan Trunojoyo, Sidoarjo. Dulu rumah tua itu jadi kantor biro surat kabar terkenal. Saya sering tidur malam di situ meskipun kata orang "banyak penunggunya". Ada-ada saja cerita dari karyawan lama dan warga sekitar tentang "keanehan" gedung tua dan sekitarnya.

Yang jelas, pekan lalu, saya melihat bangunannya sudah berubah total. Kinclong. Sudah jadi pusat kursus bahasa Inggris dari sebuah lembaga yang cukup terkenal. Pakai nama Amerika pula. "Sudah dibeli," kata Bu Toha, tetangga sebelah yang saya kenal akrab. Dulu, Bu Toha suka guyon tentang banyak hal, termasuk sepak terjang politisi lokal.

Wow, rupanya kursus bahasa Inggris makin menjamur di Sidoarjo. Dulu, tak jauh dari situ, ada kursus bahasa Jepang, Tsubasa, pimpinannya Mbak Wiwik yang ramah itu. Tapi Mbak Wiwik dan Tsubasanya pindah entah ke mana. Katanya sih keluar kota. "Bahasa Jepang kurang jalan. Anak-anak sekarang lebih suka kursus bahasa Inggris," kata Mbak Wiwik beberapa tahun lalu.

Memang betul. Sejak dulu, katakanlah sebelum 2000, sudah banyak kursus bahasa Inggris di Sidoarjo. Biasanya lembaga pendidikan nonformal ini diampu oleh para guru bahasa Inggris di SMA/SMP. Ada juga yang cabang kursus di Surabaya. Tapi kursus-kursus English ini kalah saingan dengan Surabaya. Orang Sidoarjo lebih suka kursus di Surabaya karena jaraknya juga sangat dekat.

"Lagian, di Surabaya itu banyak native speaker-nya. Di Sidoarjo jarang ada penutur asli," kata Ahmad, warga Buduran, Sidoarjo, yang dulu kursus bahasa Inggris di Surabaya. Dia kurang sreg dengan kursus sejenis yang tak jauh dari tempat tinggalnya. "Mending mahal sedikit, tapi ada bule Amerika atau Inggris. Kalau diajari sesama orang Indonesia kok gak mantap," katanya.

Nah, kebutuhan akan kursus bahasa Inggris yang ada native speaker-nya inilah yang ditangkap English First (EF) di Surabaya. Kira-kira 10 tahun lalu EF membuka cabang di Sidoarjo. Tepatnya di Taman Pinang, dekat Stadion Gelora Delta yang terkenal itu. Kehadiran EF membuat kursus-kursus lain di Sidoarjo mulai goyang. Sebab, mereka tentu sulit mendatangkan bule-bule sebagai native speaker.

EF Sidoarjo juga sering melakukan promosi besar seperti memasang spanduk, umbul-umbul, hingga lewat media online. Belum lagi petugas marketing-nya rajin bikin program untuk menyedot sebanyak mungkin warga Sidoarjo, khususnya pelajar dan mahasiswa, untuk kursus bahasa Inggris. "Asyik lho kursus bahasa Inggris di EF," kata Santi, mantan peserta kursus EF, yang belakangan jadi guru bahasa Inggris.

Menurut dia, pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah kita, mulai SD/SMP hingga SMA dan perguruan tinggi, sebetulnya sudah cukup untuk memahami konsep dan grammar bahasa Inggris. Kita hanya lemah di percakapan. Bagaimana bisa ngomong lancar, mengalir, alamiah, tanpa pikir... kalau tidak ada teman bicara yang native speaker?

Sepandai-pandainya orang Indonesia berbahasa Inggris tentu masih lebih fasih orang Inggris atau USA yang sejak bayi sudah bicara English. Sementara kita di sini, bahasa pertama adalah bahasa Jawa, kemudian bahasa Indonesia informal (pasaran) kemudian bahasa Indonesia baku, baru dikasih pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Maka, pengusaha-pengusaha besar yang punya pabrik di Sidoarjo lebih memilih menyekolahkan anaknya ke Amerika atau Kanada ketimbang diikutkan kursus english di EF sekalipun. Atau membayar native speaker secara privat sekalipun.

"Anak dan cucu saya kalau ngomong bahasa Inggris, wah, cas-cis-cusnya kayak orang bule. Malah cucu saya sama sekali nggak bisa bahasa Indonesia. Apalagi bahasa Jawa," kata pengusaha Tenglang asal Sidoarjo. Sang pengusaha sudah pernah ikut kursus privat tapi tetap sulit bicara cas-cis-cus.

Di era internet ini, belajar bahasa Inggris, dan bahasa apa pun, bisa lewat YouTube dan ribuan situs lain. Tapi tidak berarti kursus-kursus bahasa Inggris macam EF bakal tergusur di tanah air. Buktinya, EF terus berkembang pesat, begitu pula lembaga kursus lain bisa membeli bangunan tua yang harganya bukan lagi ratusan juta, tapi miliaran rupiah.

No comments:

Post a Comment