28 April 2015

Kebanyakan Dakwah dan Ngerumpi di Medsos

Serba salah di era media sosial (medos) ini. Cuek bebek, tidak gabung, kita kehilangan beberapa informasi penting. Tapi kalau ikut kita jengah dengan obrolan yang tidak serius, ngerumpi, cakap angin, gak ada isinya. Begitu banyak anggota komunitas di FB yang doyan omong kosong.

Tentu banyak juga grup medsos, komunitas online, yang produktif. Tapi, berdasar pengalaman mengkuti beberapa grup FB di Kabupaten Sidoarjo, isinya justru melenceng dengan visi misi (atau apalah namanya) dari grup itu.

Ada grup kuliner, tapi isinya hampir 90 persen dakwah. Beberapa member sangat aktif menulis khotbah atau dakwah tentang... apa saja. Pagi, siang, malam... pagi lagi tulisan-tulisan pendek yang muncul soal dakwah. Lalu muncul komentar yang banyak sekali. Komentar dikomentari, dikomentari lagi, sampai orang-orang bosan berkomentar.

Pagi ini ada postingan dari seorang wanita di grup diskusi masalah Sidoarjo begini: "Berbahagialah orang yang dapat menjaga lisannya, merasa betah dirumahnya (untuk ibadah) dan menangisi dosanya."(hr ath tabrani).

Dakwah yang bagus sekali! Tapi bukankah grup ini fokusnya musyawarah, diskusi, berbagi pendapat tentang Kabupaten Sidoarjo? Kok gak bahas masalah aktual yang dihadapi warga Sidoarjo macam jalan rusak di Krian-Legundi, pasar sapi di Krian, rencana bus rapid transpor, Bandara Juanda, sungai tercemar, dsb?

Kalau saya cermati, sebagian besar diskusi, 90 persen lebih, isinya ya seputar dakwah, pesan moral, atau ngerumpi ala cangkrukan di warung kopi. Media sosial Facebook, Twitter, dsb jadi wadah yang sangat efektif untuk memindahkan budaya ngerumpi masyarakat Indonesia dari dunia nyata ke dunia maya. Kalau tempo dulu orang Indonesia, khususnya di kampung-kampung, suka ngerumpi bersama tetangga, sekarang gantian ngerumpi di media sosial.

Syukurlah, di tengah lautan dakwah dan ngerumpi itu, ada beberapa agenda penting yang sangat layak disimak. Ini yang membuat komunitas di media sosial itu tetap penting untuk disimak. Kita akan ketinggalan informasi kalau sampai keluar dari grup itu.

2 comments:

  1. Saya juga merasakan demikian ama... tinggal kita saja memposisikan diri yang bagaimana... btw, salah satu paragraf saya share ya ama...

    ReplyDelete
  2. social media memang dipakai untuk nyantai, gak serius2 amat, guyon dsb. biasanya kalo serius banget malah gak disuka. yg penting guyon tapi bisa serius..

    ReplyDelete