02 April 2015

Bandara Juanda: Angkasa Pura vs TNI AL




Sejak 12 Maret 2015 TNI Angkatan Laut menutup jalan penghubung Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Internasional Juanda. Mabes TNI AL geram karena menilai PT Angkasa Pura 1 selaku pengelola Bandara Juanda wanprestasi alias ingkar janji. Tidak melaksanakan enam atau tujuh butir perjanjian kerja sama.

Sengketa macam ini sebetulnya lagu lawas. Tapi selalu terjadi dan terjadi lagi karena Bandara Juanda yang komersial itu menggunakan sebagian lahan TNI AL. Sebagai pemilik lahan, TNI AL berhak cawe-cawe urusan airport. Jangan lupa, Bandara Juanda juga berdampingan dengan Lapangan Udara TNI AL Juanda alias Lanudal yang dipakai untuk keperluan militer.

Salah sendiri Angkasa Pura. Sudah tahu kerja sama dengan AL selalu tidak mulus kok tidak ada revolusi mental? Tidak ada kebijakan untuk membuka bandara baru di atas lahan yang 100 persen sipil. Yang 100 persen milik Angkasa Pura. Yang tidak memberi celah sekecil apa pun bagi TNI atau pihak luar untuk intervensi.

Sebagai pengguna Bandara Juanda, bahkan warga Kabupaten Sidoarjo yang dekat dengan bandara, sedikit banyak saya tahu riwayat Bandara Juanda yang semula murni airport militer, kemudian jadi sipil, kemudian terlihat mentereng seperti sekarang. Dulu saya juga sering mampir ke ruangan GM PT Angkasa Pura 1 di kompleks bandara yang lama. Diajak minum kopi, diberi wawasan dan pengetahuan soal manajemen Bandara Juanda dan seluk belum bisnis penerbangan.

Akhirnya, saya menyadari bahwa Bandara Juanda di Kecamatan Sedati ini tidak mungkin sepenuhnya sipil. TNI AL punya kepentingan karena kawasan itu memang pangkalannya, pangkalan militer. Angkasa Pura boleh dikata cuma pinjam tempat karena bandara di Surabaya tidak ada lagi. TNI AL dengan puspenerbal-nya punya kepentingan untuk menjaga keamanan Indonesia dari jalur udara.

Maka, ketika bandara lama (maksudnya terminal lama) yang sederhana itu ditutup, semua orang memuji Angkasa Pura. Meskipun satu desa di Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, harus dibebaskan untuk dibangun terminal atau bandara baru. Ribuan penduduk Desa Pranti melakukan bedhol desa jauh ke timur. Artinya, lahan bandara baru itu bukan lagi milik TNI AL, melainkan milik Angkasa Pura sendiri yang dibeli dari warga Desa Pranti.

Bandara Juanda yang baru ini kemudian diresmikan Presiden SBY. Banyak orang yang memuji terminal yang jauh lebih bagus, bersih, dan modern. Dibandingkan dengan bandara lama yang sederhana ala terminal bus.

Namun, beberapa bulan kemudian, tiba-tiba ada ide untuk menghidupkan kembali bandara/terminal lama yang berdiri di atas tanah TNI AL itu. Mengakomodasi pertumbuhan penumpang yang pesat, begitu alasannya. Sayang kalau dibiarkan mangkrak. Saya hanya bisa geleng kepala. Kok bisa Angkasa Pura 1 yang ingin sedikit bebas dari lingkungan TNI AL kok kembali ke bandara lama yang militer itu? Banyak lagi pertanyaan dan dugaan lain di benak saya.

Begitulah. Bandara lama yang mangkrak itu akhirnya disulap jadi T2: Terminal 2. Khusus untuk penerbangan internasional dan beberapa domestik rute Jakarta. Begitu banyak apresiasi, pujian, saat peresmian. Orang lupa bahwa status kepemilikan lahan ini suatu ketika menimbulkan masalah kalau terjadi beda tafsir dan sebagainya.

Sebetulnya konflik Angkasa Pura 1 vs TNI AL sudah lama terjadi tapi diam-diam aja. Baru pada 12 Maret 2015 mencuat setelah TNI AL memblokade akses T1 ke T2 dengan segala implikasinya. Sengketa kelas kakap ini pun jadi bahan obrolan di warung kopi. Saya perhatian warga umumnya menyalahkan TNI AL yang dianggap arogan, mentang-mentang, intervensi, menang sendiri, dsb. Orang awam lupa bahwa status Bandara Juanda itu sangat unik, berbeda dengan kebanyakan bandara di Indonesia.

Konflik kali ini kayaknya jauh lebih parah. TNI AL rupanya benar-benar kecewa dengan Angkasa Pura 1. Imbauan Gubernur Soekarwo, DPR RI yang datang ke lokasi, bahkan mediasi yang dilakukan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun gak mempan. Blokade masih ditutup. Tak ada tanda-tanda akan dibuka.

Lha, kalau wapres saja tidak bisa, lalu siapa lagi? Presiden Jokowi? Hehehe.... Ingat kisruh KPK vs Polri, saya kok makin ragu kepala negara bisa menyelesaikan kisruh di Bandara Juanda ini.

Saya sendiri sih ingat pepatah lama: Seekor keledai pun tak akan mau terantuk pada batu yang sama! Manajemen Angkasa Pura rupanya kurang belajar dari pengalaman. Siapa suruh kembali ke terminal lama?

10 comments:

  1. Supplai vitamin D nya kurang, Pak Lambertus. Kalau di Indonesia, UUD lah yang berlaku. Ujung Ujungnya D...!

    ReplyDelete
  2. banyak kepentingan yg bermain di juanda. karena bandara itu memang gurih dan enak.

    ReplyDelete
  3. Apakah T1 itu benar pure punya AP?

    Seingat saya dari mulai dibuka pertama kali dahulu nuansanya selalu AL banget,
    Dari gate pertama mobil masuk, di pemeriksaan penumpang mau check in, di X-ray, di mana mana, juga taxi yg boleh bawa penumpang keluar bandara,semua sama tidak ada yg beda, AL banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manajemennya sulit ditebak. Kita sulit mengetahui kondisi sebenarnya di lingkungan Bandara Juanda + TNI AL. Yang jelas, kasus penutupan akses kargo ini sangat bagus buat Angkasa Pura biar kapok. Kalau gak kapok, ya, biarin aja. Kamsia sudah sering kometar di sini Wong Tjilik.

      Delete
    2. Sama sama om Hurek, itu bagian dari apresiasi saya atas artikel artikel anda ttg Tionghoa dan lain lain topik yg menurut saya menarik.

      Delete
  4. om hurek... aku bukan orang Surabaya, cuma sering ke sana... menurutku lokasi bandara Juanda saat ini pun sudah kurang representatif... daerah sekitaran Waru dan Gedangan itu sudah terlalu padat, termasuk bagaimana CITO bisa berdiri tinggi menjulang di lokasi yg tak terlalu jauh dari bandara Juanda...

    alangkah baiknya Pemprov Jatim atau pihak lain membangun satu bandara di daerah baru... mungkin di daerah ke arah Gresik atau daerah barat Sidoarjo seperti Krian dan Sepanjang masih okelah... atau di Bangkalan Madura aja sekalian, kan sudah ada Suramadu, hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Putra Pahae yg rajin menulis komentar2 yg bernas di banyak artikel. Makin jarang lho pembaca blog yg mau meluangkan waktu dan sedikit pikiran untuk nulis komen. Beda denga dulu ketika blog masih booming dan belum ada media sosial yg luar biasa kayak sekarang.

      Juanda Airport ini memang ruwet sejak awal. Posisi AP1 sangat dilematis menghadapi sang pemilik tanah TNI AL. Mau bikin baru butuh biaya triliunan rupiah dan belum tentu dapat lokasi yg bagus. Surabaya gak punya tanah. Sidoarjo bagian barat masih penuh sawah produktif dan padat penduduk. Bandara Juanda di Sidoarjo bagian timur karena lokasinya di pesisir, penuh dengan tambak2 yg bisa diuruk. Cuma tambak2 itu sedikit banyak masih dekat dengan obvit (objek vital) si AL itu. Daerah Sepanjang tidak bisa karena lahan yang luasnya ratusan hektare gak ada. Barusan membuat Tol Surabaya-Mojokerto saja butuh waktu belasan tahun untuk pembebasan tanah di Sidoarjo barat. Opo maneh bandara yg butuh lahan ratusan hektare.

      Kabupaten Gresik yg paling ideal. Tetangga langsung Surabaya, kayak Sidoarjo, dekat pantai, dan jauh dari objek vital TNI. Bangkalan alias Madura pasti ruwet dan gak jadi2 kayak pengembangan Suramadu yang antik. Di Bangkalan pun banyak tanah luas yg jadi aset TNI AL. Lamongan juga bisa lah. Cuma Angkasa Pura 1 sudah kadung nyaman sama Juanda, bahkan mau memperluas bandara yg ada sekarang dengan konsep City Airport. Itu berarti makin nancap dengan TNI AL dengan segala konsekuensinya. Gubernur Jatim Pakde Karwo malah terus mendorong agar Bandara Juanda segera diperluas. Sama sekali tidak ada pikiran dari Pakde untuk mengeluarkan Bandara Juanda dari lingkungan pengaruh militer. Ketika Bandara Juanda menghadapi blokade akses kargo, Pakde juga gak bisa apa2.

      Delete
    2. makasih juga buat om hurek sudah menanggapi komen saya... oh iya sebelumnya selamat memperingati hari wafatnya Tuhan kita Yesus Kristus pada Jumat Agung hari ini...

      saya kebetulan seneng baca tulisan2 om hurek ini, gak terlalu berat tapi bahasannya cukup mendalam... maka saya juga seneng mau komen...

      saya gak tau kenapa mereka tetap ingin mempertahankan Juanda... padahal idealnya bandara terletak di daerah yg sepi, salah satu alasannya supaya jangkauan pandang pilot bisa lebih lebar dan jelas, tanpa harus terhalang gedung-gedung... dan pembangunan CITO adalah blunder besar menurut saya...

      jika melihat berkembangnya daerah Waru dan Gedangan saya pikir memang sudah gak pantas lagi bandara tetap di situ, mau gak mau harus pindah...

      satu lagi yg menurut saya terjadi di mana-mana di Indonesia ini adalah, perancang dan pembangun bandara gak pernah memperkirakan bahwa traffic pesawat terbang makin hari makin melonjak, tetapi infrastrukturnya tidak memadai... akhirnya terjadilah pesawat ngantri mau terbang ataupun mau mendarat, dan bandara jadi sumpek karena kebanyakan orang...

      Delete
    3. bandara di kota besar seperti di Chicago atau di San Diego itu sudah biasa. kalau pangkalan angkatan laut yang di dalam kota besar itu yang tidak biasa. harusnya AL yang dipindah dan diambilkan dari dana APBN, dekat pelabuhan ke Tuban atau Gresik sana, agar pesawat tempur bisa mendarat di kapal

      Delete
  5. perlu ada solusi segera agar arus pengiriman barang (kargo) lancar kembali. AP n AL harus sama2 memikirkan kepentingan publik.

    ReplyDelete