27 April 2015

Bahasa Mandarin kian surut

Tempat kursus bahasa Mandarin di pinggir jalan raya Pucang, Sidoarjo, sudah lama tutup. Bangunan lama itu rupanya dijual pemiliknya. Tak ada lagi kerumunan anak-anak TK, SD, hingga SMA yang belajar bahasa nasional Tiongkok itu. Kegiatan catur gajah khas Tionghoa pun tak ada lagi.
Di kompleks Sun City pun tempat kursus Mandarin terlihat sepi. Ada kegiatan tapi tak ada hubungan dengan pelajaran Zhongwen alias bahasa Mandarin. "Agak sulit mencari peminat bahasa Mandarin di Sidoarjo. Di kota-kota lain juga begitu," kata Huang Zhiqiang, guru bahasa Mandarin senior yang juga pentolan catur gajah khas Tionghoa.

Meski begitu, Pak Huang masih tetap buka kursus Mandarin di kawasan Pondok Candra, Kecamatan Waru, yang bertetangga dengan Kota Surabaya. Di Pondok Candra peminat bahasa negeri tirai bambu ini masih lumayan tinggi. Selain mahasiswa-mahasiswa di Surabaya, banyak pelajar SMP/SMA, bahkan SD, yang ikut kursus karena punya rencana akan melanjutkan studi di Tiongkok.

"Orang kursus bahasa itu kan karena kebutuhan untuk berkomunikasi. Kalau gak butuh ya buat apa belajar," kata Pak Huang yang masih trengginas di usia yang tak lagi muda.
Huang mengatakan, di awal tahun 2000-an, khususnya ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membuka keran kebebasan untuk bahasa dan seni budaya Tionghoa di Indonesia, berbagai hal yang terkait dengan Tionghoa naik daun di Surabaya dan Sidoarjo. Orang jadi penasaran belajar tarian, musik, busana, hingga bahasa Tionghoa yang pernah dilarang selama 30 tahun lebih itu.

Orang-orang Tionghoa sendiri pun melihat peluang bisnis dengan bikin kursus Mandarin plus pengenalan seni budaya Tionghoa. Pak Huang sendiri membina kursus Mandarin dan catur gajah di beberapa tempat. Guru-guru Mandarin pun didatangkan dari Tiongkok. Konsulat Tiongkok di Surabaya juga rajin mempromosikan kampus-kampus perguruan tinggi di negaranya.

Namun, berbeda dengan kursus bahasa Inggris, belajar bahasa Mandarin ini jauh lebih berat bagi kita yang bukan keturunan Tionghoa. Fonologi atau bunyi bahasanya tak mudah diikuti. Apalagi bunyi kata sangat menentukan arti. "Saya gak kuat belajar Mandarin," kata seorang teman.

Pernah terjadi di Surabaya ada 20 peserta kursus Mandarin yang mrotol bareng. Drop out karena sulit menyerap bahasa yang konon paling sulit di seluruh dunia itu. Ini juga karena motivasi 20 orang itu sangat lemah. Cuma ikut-ikutan kursus agar bisa mengerti sedikit-sedikit bahasa Tionghoa.

Beda dengan calon mahasiswa ke Tiongkok, macam Ivana Supit di Sidoarjo, yang serius kursus karena berencana kuliah di Xiamen. Ivana yang bukan Tionghoa tapi Manado itu kemudian kerasan di Zhongguo dan ambil S2 di Heilongjiang. Sekarang Ivana sudah pulang jadi guru di Sidoarjo. "Saya ingin sekolah lagi di Zhongguo. Belajar di sana benar-benar asyik," kata Ivana.

Lantas, bagaimana dengan masa depan pembelajaran bahasa Mandarin di Sidoarjo?

Tetap bagus, kata Huang Zhiqiang. Sebab, bahasa Mandarin merupakan bahasa internasional yang banyak penuturnya dan terus berkembang ke seluruh dunia. Ini juga seiring makin hebatnya pengaruh ekonomi Republik Rakyat Tiongkok sebagai negara adidaya baru selain USA. Di era globalisasi akan semakin banyak orang Tiongkok yang membuka bisnis di Jawa Timur dan Indonesia umumnya.

Dan, ketahuilah, orang-orang Tiongkok itu punya AIGUO yang luar biasa pada negaranya. Sampai-sampai mereka tidak mau belajar bahasa Inggris (apalagi bahasa Indonesia) dan cenderung "memaksa" penduduk dunia untuk belajar bahasa nasionalnya. Sebaliknya, kita di Indonesia lebih sok berbahasa Inggris sedikit-sedikit dan kurang menghargai bahasa nasional, apalagi bahasa Indonesia.

7 comments:

  1. Karena bahasa mandarin ada banyak jenis.. sesuai daerahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasa Mandarin ada banyak jenis.... ? Apa maksud tulisan anda ?
      Apakah Bahasa Indonesia juga ada banyak jenis ?
      Tepatnya bahasa di China ada banyak jenis ! Mandarin identik Putonghua, Hanyu atau Guoyu, ya cuma ada satu tok !

      Delete
  2. Om Hurek, saya mau kasi sedikit masukan

    Istilah "tirai bambu" itu sebagai kiasan adanya tirai yg menghalangi daerah negeri Cina yang berbatasan dengan wilayah Laos, Kamboja, Birma dan sekitarnya, juga antara Cina dengan dunia luar pada era "perang dingin" 1950-1980an.

    "Negeri tirai bambu" adalah sebutan yg dipakai Amerika dan sekutunya untuk menyebut seterunya negeri Cina yang kala itu menutup diri, Indonesia yang waktu itu non blok ikut memakai istilah itu.

    Perang dingin itu sudah berakhir puluhan tahun yg silam, lebih lagi dg runtuhnya tembok Berlin.

    Kini Birma sudah berganti menjadi Myanmar, Cina sudah berganti menjadi Tiongkok. Zhunggou sudah bukan negara tertutup lagi, setiap tahun seratus juta lebih Zhungguo ren melancong keluar negeri, setiap tahun ber juta juta orang berkunjung ke Zhungguo.

    Istilah "negeri tirai bambu" mungkin sudah tidak tepat lagi. :)

    ReplyDelete
  3. TIRAI BaMBU itu cuma istilah puitis tanpa ada maksud untuk mengejek negara Tiongkok. Orang Indonesia kebanyakan menganggap negeri Tiongkok punya kekhasan bambu yang indah. Taman bambu yg jadi kekhasan Zhungguo meskipun dulu istilah itu dipakai negara2 Barat dalam konteks Tiongkok sebagai negara tertutup di era perang dingin. Kita anggap netral saja. Sama dengan CINA, CHINA, TIONGKOK, ZHONGGUO, CUNGKUO atau SINA (bahasa daerah saya di Flores Timur) sebagai istilah yg netral tanpa maksud mengejek atau menghina. Jadi, santai dan tenang sajalah Mr Wong Tjilik. kamsia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kira maksudnya Wong Tjilik bukan bhw istilah tersebut mengejek, Bung Lambertus. Tetapi, maksudnya ialah istilah tersebut sudah anakronistik, tidak cocok lagi waktunya, dengan adanya era keterbukaan di RRT sejak 1978 setelah pintu ekonomi dibuka oleh Deng Xiaoping, dan sekarang pintu keluar masuk RRT sudah terbuka lebar-lebar.

      Asal istilah tsb ialah pada waktu perang dingin antara kubu Amerika / Eropa barat dengan Uni Soviet / Eropa timur, Winston Churchill memberikan pidato bahwa tirai besi (iron curtain) sudah turun di Eropa Timur. Lalu istilah ini diadaptasi setelah Partai Komunis Tiongkok (GongChangDang) menang perang saudara thn 1949, disebutlah tirai bambu untuk RRT.

      Setelah perang dingin selesai dan era keterbukaan di Rusia dan RRT dimulai, istilah Tirai Besi atau Tirai Bambu sudah tidak digunakan lagi kecuali untuk hal-hal yang berkaitan dengan sejarah perang dingin.

      Delete
  4. Orang orang Tiongkok AIGUO. Entah bagaimana menanggapi ungkapan itu sejujurnya, sangat dilemmatis ! Mungkin memang ada beberapa orang Cina yang sungguh-sungguh aiguo, namun tidak bisa dipungkiri bahwa orang2 Cina lebih AIQIAN (爱钱) daripada aiguo.
    Tulisan ini akan mendapat kecaman dari para Tionghoa yang tidak pernah belajar budaya Tiongkok, atau tidak pernah hidup dinegeri leluhurnya. Saya
    yakin bapak Konsul atau bapak Duta Besar RRT yang membaca tulisan ini
    akan mengangguk-anggukkan kepalanya.
    Semua anak2 muda Tiongkok ingin belajar bahasa Inggris, bahkan banyak taman-kanak2 yang mulai mengajarkan bahasa Inggris. Karena lekukan lidah cina yang sangat khas, sehingga pronunciation inggris mereka agak aneh.
    Sama halnya dengan lidah Jawa kalau berbahasa Mandarin.

    ReplyDelete
  5. Kalau mau kursus mandarin alamat lengkap dan nomer telpon yg bisa dihubungi say mohon info.
    Xie Xie Nin.

    ReplyDelete