30 April 2015

Merayakan eksekusi mati

Dari 10 orang Indonesia, mungkin hanya SATU orang yang menentang eksekusi mati. Bahkan, mungkin kurang dari satu orang. Karena itulah, eksekusi mati delapan narapidana kasus narkoba di Nusakambangan, Jawa Tengah, disambut gembira di mana-mana. Orang senang karena para bandar narkoba itu ditembak mati. Beda kalau yang dieksekusi itu teroris, biasanya banyak yang membela dan menganggapnya mati sahid karena telah berjihad di jalan ilahi.

"Kalau dibiarkan hidup, mereka akan bikin pabrik narkoba di dalam penjara. Kasihan jutaan anak bangsa. Aneh kalau ada orang yang menolak eksekusi mati di Indonesia," kata Cak Maman, warga Gedangan, Sidoarjo, yang lulusan universitas.

Setiap kali ngobrol santai atau serius, Cak Maman sangat keras meminta agar pemerintah tidak menunda-nunda pelaksanaan eksekusi mati. Bila perlu tiap minggu ada eksekusi sehingga para bandar yang sudah divonis mati in kracht itu tidak ada lagi di Indonesia. Dan, yang penting, "Jangan hiraukan protes Australia, Brasil, Prancis, Filipina, dan sebagainya. Pemerintah tutup telinga aja," katanya.

Orang-orang macam Cak Mamat ini buanyaaak sekali di Indonesia. Dan itu merata di semua lapisan masyarakat. Mulai level bawah di warung kopi, pekerja kantoran, pengurus partai, pengurus kampung, pekerja media massa, dosen, pengamat, hingga Wapres Jusuf Kalla, dan Presiden Joko widodo. Wapres JK bahkan cuek aja dengan protes Australia.

"Biarkan saja. Australia itu lebih membutuhkan Indonesia (daripada Indonesia membutuhkan Australia)," kata JK yang dikutip Jawa Pos pagi ini.

Menanggapi reaksi negara-negara yang warganya dtembak mati di Nusakambangan, Presiden Jokowi mengatakan, "Itu kedaulatan hukum kita! Itu kedaulatan hukum kita! Itu kedaulatan hukum kita!" Tiga kali Pak Presiden mengucapkan kalimat pendek ini. Sambil tersenyum lebar.

Suasana kebatinan rakyat (dan pemerintah) yang sangat prohukuman mati ini sangat terasa di televisi. Termasuk TVRI yang notabene televisi pemerintah. Jauh sebelum pelaksanaan eksekusi mati di Dead Island, Cilacap, ada running text di layar TVRI yang berbunyi: "Saksikan siaran langsung (live) pelaksanaan eksekusi mati dari Cilacap."

Teks woro-woro ini terus diulang kayak pengumuman siaran langsung pertandingan sepak bola Piala Dunia atau Liga Spanyol, Liga Inggris, atau pertarungan tinju si Packman. Para pengamat, komentator, dan warga juga membahas eksekusi mati ini dalam durasi yang lamaaa sekali. Dan, intinya ya itu tadi, dari 10 orang Indonesia hanya 1 orang (bahkan kurang) yang menentang eksekusi mati. Orang Granat dan BNN terlihat paling senang dengan eksekusi mati.

"Itu penting untuk menunjukkan ketegasan kita pada bandar narkoba. Juga untuk memberikan efek jera," kata Pak Anang dari BNN.

Orang Granat sejak dulu rajin bicara di media, khususnya televisi, tentang betapa pentingnya menembak mati semua bandar narkoba yang dicokok di wilayah Indonesia. Eksekusi mati atas para bandar narkoba itu, kata Henry Yosodiningrat dari Granat, justru manusiawi. Henry yang juga pengacara dan politikus PDIP Perjuangan ini mengatakan begini:

"Hukuman mati itu manusiawi. Coba bandingkan dengan berapa banyak korban yang akan jatuh bila gembong narkoba dibiarkan bebas. Narkoba yang mereka sebarkan itu menyebabkan kematian.... Tidak ada alasan kalau dibilang mengeksekusi warga asing itu merusak diplomasi. Sejak dahulu peraturan kita tegas. Selain itu, apa rasional kita membiarkan anak bangsa kita terancam narkoba hanya karena omongan soal diplomasi? Kita ini negara berdaulat."

Begitulah. Eksekusi mati dirayakan di di tanah air kita. Orang Indonesia (mayoritas) heran bin bingung mengapa negara-negara lain malah mengecam Indonesia karena telah bersikap tegas terhadap para mafia narkoba yang dianggap merusak masa depan bangsa. Di televisi, bahkan ada pengamat yang mengecam Sekjen PBB Ban Ki-Moon yang meminta pemerintah Indonesia membatalkan eksekusi mati. Omongan sekjen PBB malah jadi bahan tertawaan yang sinis.

Perayaan eksekusi mati ini baru jilid kedua di era Presiden Jokowi. Masih banyak jilid-jilid lain di depan mata yang menanti eksekusi di depan regu tembak.

29 April 2015

Gereja tetap tolak eksekusi mati

Oleh Monsinyur Ignatius Suharyo
Uskup Agung Jakarta


1. Pada hari-hari ini, televisi, koran dan mass media lain, penuh dengan berita mengenai hukuman mati. Saya pribadi amat sedih setiap kali melihat atau membaca berita itu dan diberitakan dengan cara yang bagi saya mencederai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam suasana seperti ini saya mengajak para Rama untuk menjelaskan kepada umat pandangan Gereja mengenai hal ini dan mengajak mereka berdoa untuk para terpidana.

2. Katekismus Gereja Katolik menyatakan: Pembelaan kesejahteraan umum masyarakat menuntut agar penyerang dihalangi untuk menyebabkan kerugian. Karena alasan ini, maka ajaran Gereja sepanjang sejarah mengakui keabsahan hak dan kewajiban dari kekuasan politik yang sah, menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan beratnya kejahatan, tanpa mengecualikan hukuman mati dalam kejadian-kejadian yang serius (KGK 2266).

Menurut Katekismus ini, hukuman mati diperbolehkan dalam kasus-kasus yang sangat parah kejahatannya. Namun, apabila terdapat cara lain untuk melindungi masyarakat dari penyerang yang tidak berperi-kemanusiaan, cara-cara lain ini lebih dipilih daripada hukuman mati karena cara-cara ini dianggap lebih menghormati harga diri seorang manusia dan selaras dengan tujuan kebaikan bersama (bdk KGK 2267). Di sini terjadi peralihan tentang konsep hukuman mati bagi Gereja. KGK 2267 ini diambil dari ensiklik Paus Yohanes Paulus II Evangelium Vitae.

3. Dalam ensiklik Evangelium Vitae yang diterbitkan tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II menghapuskan status persyaratan untuk keamanan publik dari hukuman mati ini dan menyatakan bahwa, dalam masyarakat modern saat ini, hukuman mati tidak dapat didukung keberadaannya. Berikut kutipannya:

"Adalah jelas bahwa untuk tercapainya maksud-maksud ini, jenis dan tingkat hukuman harus dengan hati-hati dievaluasi dan diputuskan, dan tidak boleh dilaksanakan sampai ekstrim dengan pembunuhan narapidana, kecuali dalam kasus-kasus keharusan yang absolut: dengan kata lain, ketika sudah tidak mungkin lagi untuk melaksanakan hal lain untuk membela masyarakat luas. Selanjutnya ditegaskan, Namun demikian, dewasa ini, sebagai hasil dari perkembangan yang terus menerus dalam hal pengaturan sistem penghukuman, kasus-kasus sedemikian (kasus-kasus yang mengharuskan hukuman mati) adalah sangat langka, jika tidak secara praktis disebut sebagai tidak pernah ada." (EV 56). Dengan demikian Gereja Katolik tidak mendukung hukuman mati.

4. Salah satu yang orang yang sudah dijatuhi hukuman mati adalah Mary Jane Fiesta Veloso orang Katolik dari Filipina, berumur 30 tahun, ibu dari dua anak Sekolah Dasar. Sejak berumur 14 tahun, Mary Jane bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, ia menjadi tenaga kerja wanita Filipina di Malaysia. Di situ, ibu agen tenaga kerja menghadiahi Mary Jane sebuah koper; dan kemudian agen tenaga kerja menugasi Mary Jane, menemui seorang teman di Yogya. Di situ, polisi menemukan bahan narkoba amat banyak, tersembunyi dalam dinding koper lapis dua. Mary Jane bersikeras: tidak tahu menahu mengenai isi koper itu. Tidak ada bukti untuk menuduh Mary Jane bahwa bohong. Namun semua pengadilan di Indonesia mempidana Ibu Mary Jane dengan hukuman mati. Kini permintaan untuk peninjauan kembali, telah ditolak; maka bersama sembilan orang terpinda Mary Jane menghadapi eksekusi.

5. Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia sekarang ini juga sedang meng-advokasi seorang yang sudah dijatuhi hukuman mati dalam kasus yang serupa. Menurut kesaksian keluarga dan saksi-saksi lain, aparat salah menangkap orang.

6. Saya minta para Rama semua untuk mengajak seluruh umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta berdoa bagi Ibu Mary Jane dan kesembilan orang lain, juga untuk negara kita dan Gereja di Indonesia.

Doa ini mohon dipanjatkan di seluruh Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta dalam DOA UMAT PADA HARI MINGGU kalau dan setelah eksekusi mati jadi dilaksanakan. Kita tetap berdoa, agar eksekusi mati tidak dilaksanakan dan selanjutnya hukuman mati dihapuskan dari sistem hukum di Indonesia.

28 April 2015

Kebanyakan Dakwah dan Ngerumpi di Medsos

Serba salah di era media sosial (medos) ini. Cuek bebek, tidak gabung, kita kehilangan beberapa informasi penting. Tapi kalau ikut kita jengah dengan obrolan yang tidak serius, ngerumpi, cakap angin, gak ada isinya. Begitu banyak anggota komunitas di FB yang doyan omong kosong.

Tentu banyak juga grup medsos, komunitas online, yang produktif. Tapi, berdasar pengalaman mengkuti beberapa grup FB di Kabupaten Sidoarjo, isinya justru melenceng dengan visi misi (atau apalah namanya) dari grup itu.

Ada grup kuliner, tapi isinya hampir 90 persen dakwah. Beberapa member sangat aktif menulis khotbah atau dakwah tentang... apa saja. Pagi, siang, malam... pagi lagi tulisan-tulisan pendek yang muncul soal dakwah. Lalu muncul komentar yang banyak sekali. Komentar dikomentari, dikomentari lagi, sampai orang-orang bosan berkomentar.

Pagi ini ada postingan dari seorang wanita di grup diskusi masalah Sidoarjo begini: "Berbahagialah orang yang dapat menjaga lisannya, merasa betah dirumahnya (untuk ibadah) dan menangisi dosanya."(hr ath tabrani).

Dakwah yang bagus sekali! Tapi bukankah grup ini fokusnya musyawarah, diskusi, berbagi pendapat tentang Kabupaten Sidoarjo? Kok gak bahas masalah aktual yang dihadapi warga Sidoarjo macam jalan rusak di Krian-Legundi, pasar sapi di Krian, rencana bus rapid transpor, Bandara Juanda, sungai tercemar, dsb?

Kalau saya cermati, sebagian besar diskusi, 90 persen lebih, isinya ya seputar dakwah, pesan moral, atau ngerumpi ala cangkrukan di warung kopi. Media sosial Facebook, Twitter, dsb jadi wadah yang sangat efektif untuk memindahkan budaya ngerumpi masyarakat Indonesia dari dunia nyata ke dunia maya. Kalau tempo dulu orang Indonesia, khususnya di kampung-kampung, suka ngerumpi bersama tetangga, sekarang gantian ngerumpi di media sosial.

Syukurlah, di tengah lautan dakwah dan ngerumpi itu, ada beberapa agenda penting yang sangat layak disimak. Ini yang membuat komunitas di media sosial itu tetap penting untuk disimak. Kita akan ketinggalan informasi kalau sampai keluar dari grup itu.

27 April 2015

Bahasa Mandarin kian surut

Tempat kursus bahasa Mandarin di pinggir jalan raya Pucang, Sidoarjo, sudah lama tutup. Bangunan lama itu rupanya dijual pemiliknya. Tak ada lagi kerumunan anak-anak TK, SD, hingga SMA yang belajar bahasa nasional Tiongkok itu. Kegiatan catur gajah khas Tionghoa pun tak ada lagi.
Di kompleks Sun City pun tempat kursus Mandarin terlihat sepi. Ada kegiatan tapi tak ada hubungan dengan pelajaran Zhongwen alias bahasa Mandarin. "Agak sulit mencari peminat bahasa Mandarin di Sidoarjo. Di kota-kota lain juga begitu," kata Huang Zhiqiang, guru bahasa Mandarin senior yang juga pentolan catur gajah khas Tionghoa.

Meski begitu, Pak Huang masih tetap buka kursus Mandarin di kawasan Pondok Candra, Kecamatan Waru, yang bertetangga dengan Kota Surabaya. Di Pondok Candra peminat bahasa negeri tirai bambu ini masih lumayan tinggi. Selain mahasiswa-mahasiswa di Surabaya, banyak pelajar SMP/SMA, bahkan SD, yang ikut kursus karena punya rencana akan melanjutkan studi di Tiongkok.

"Orang kursus bahasa itu kan karena kebutuhan untuk berkomunikasi. Kalau gak butuh ya buat apa belajar," kata Pak Huang yang masih trengginas di usia yang tak lagi muda.
Huang mengatakan, di awal tahun 2000-an, khususnya ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membuka keran kebebasan untuk bahasa dan seni budaya Tionghoa di Indonesia, berbagai hal yang terkait dengan Tionghoa naik daun di Surabaya dan Sidoarjo. Orang jadi penasaran belajar tarian, musik, busana, hingga bahasa Tionghoa yang pernah dilarang selama 30 tahun lebih itu.

Orang-orang Tionghoa sendiri pun melihat peluang bisnis dengan bikin kursus Mandarin plus pengenalan seni budaya Tionghoa. Pak Huang sendiri membina kursus Mandarin dan catur gajah di beberapa tempat. Guru-guru Mandarin pun didatangkan dari Tiongkok. Konsulat Tiongkok di Surabaya juga rajin mempromosikan kampus-kampus perguruan tinggi di negaranya.

Namun, berbeda dengan kursus bahasa Inggris, belajar bahasa Mandarin ini jauh lebih berat bagi kita yang bukan keturunan Tionghoa. Fonologi atau bunyi bahasanya tak mudah diikuti. Apalagi bunyi kata sangat menentukan arti. "Saya gak kuat belajar Mandarin," kata seorang teman.

Pernah terjadi di Surabaya ada 20 peserta kursus Mandarin yang mrotol bareng. Drop out karena sulit menyerap bahasa yang konon paling sulit di seluruh dunia itu. Ini juga karena motivasi 20 orang itu sangat lemah. Cuma ikut-ikutan kursus agar bisa mengerti sedikit-sedikit bahasa Tionghoa.

Beda dengan calon mahasiswa ke Tiongkok, macam Ivana Supit di Sidoarjo, yang serius kursus karena berencana kuliah di Xiamen. Ivana yang bukan Tionghoa tapi Manado itu kemudian kerasan di Zhongguo dan ambil S2 di Heilongjiang. Sekarang Ivana sudah pulang jadi guru di Sidoarjo. "Saya ingin sekolah lagi di Zhongguo. Belajar di sana benar-benar asyik," kata Ivana.

Lantas, bagaimana dengan masa depan pembelajaran bahasa Mandarin di Sidoarjo?

Tetap bagus, kata Huang Zhiqiang. Sebab, bahasa Mandarin merupakan bahasa internasional yang banyak penuturnya dan terus berkembang ke seluruh dunia. Ini juga seiring makin hebatnya pengaruh ekonomi Republik Rakyat Tiongkok sebagai negara adidaya baru selain USA. Di era globalisasi akan semakin banyak orang Tiongkok yang membuka bisnis di Jawa Timur dan Indonesia umumnya.

Dan, ketahuilah, orang-orang Tiongkok itu punya AIGUO yang luar biasa pada negaranya. Sampai-sampai mereka tidak mau belajar bahasa Inggris (apalagi bahasa Indonesia) dan cenderung "memaksa" penduduk dunia untuk belajar bahasa nasionalnya. Sebaliknya, kita di Indonesia lebih sok berbahasa Inggris sedikit-sedikit dan kurang menghargai bahasa nasional, apalagi bahasa Indonesia.

EF dan Kursus Bahasa Inggris di Sidoarjo

Kaget juga melihat bangunan kenangan lama di Jalan Trunojoyo, Sidoarjo. Dulu rumah tua itu jadi kantor biro surat kabar terkenal. Saya sering tidur malam di situ meskipun kata orang "banyak penunggunya". Ada-ada saja cerita dari karyawan lama dan warga sekitar tentang "keanehan" gedung tua dan sekitarnya.

Yang jelas, pekan lalu, saya melihat bangunannya sudah berubah total. Kinclong. Sudah jadi pusat kursus bahasa Inggris dari sebuah lembaga yang cukup terkenal. Pakai nama Amerika pula. "Sudah dibeli," kata Bu Toha, tetangga sebelah yang saya kenal akrab. Dulu, Bu Toha suka guyon tentang banyak hal, termasuk sepak terjang politisi lokal.

Wow, rupanya kursus bahasa Inggris makin menjamur di Sidoarjo. Dulu, tak jauh dari situ, ada kursus bahasa Jepang, Tsubasa, pimpinannya Mbak Wiwik yang ramah itu. Tapi Mbak Wiwik dan Tsubasanya pindah entah ke mana. Katanya sih keluar kota. "Bahasa Jepang kurang jalan. Anak-anak sekarang lebih suka kursus bahasa Inggris," kata Mbak Wiwik beberapa tahun lalu.

Memang betul. Sejak dulu, katakanlah sebelum 2000, sudah banyak kursus bahasa Inggris di Sidoarjo. Biasanya lembaga pendidikan nonformal ini diampu oleh para guru bahasa Inggris di SMA/SMP. Ada juga yang cabang kursus di Surabaya. Tapi kursus-kursus English ini kalah saingan dengan Surabaya. Orang Sidoarjo lebih suka kursus di Surabaya karena jaraknya juga sangat dekat.

"Lagian, di Surabaya itu banyak native speaker-nya. Di Sidoarjo jarang ada penutur asli," kata Ahmad, warga Buduran, Sidoarjo, yang dulu kursus bahasa Inggris di Surabaya. Dia kurang sreg dengan kursus sejenis yang tak jauh dari tempat tinggalnya. "Mending mahal sedikit, tapi ada bule Amerika atau Inggris. Kalau diajari sesama orang Indonesia kok gak mantap," katanya.

Nah, kebutuhan akan kursus bahasa Inggris yang ada native speaker-nya inilah yang ditangkap English First (EF) di Surabaya. Kira-kira 10 tahun lalu EF membuka cabang di Sidoarjo. Tepatnya di Taman Pinang, dekat Stadion Gelora Delta yang terkenal itu. Kehadiran EF membuat kursus-kursus lain di Sidoarjo mulai goyang. Sebab, mereka tentu sulit mendatangkan bule-bule sebagai native speaker.

EF Sidoarjo juga sering melakukan promosi besar seperti memasang spanduk, umbul-umbul, hingga lewat media online. Belum lagi petugas marketing-nya rajin bikin program untuk menyedot sebanyak mungkin warga Sidoarjo, khususnya pelajar dan mahasiswa, untuk kursus bahasa Inggris. "Asyik lho kursus bahasa Inggris di EF," kata Santi, mantan peserta kursus EF, yang belakangan jadi guru bahasa Inggris.

Menurut dia, pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah kita, mulai SD/SMP hingga SMA dan perguruan tinggi, sebetulnya sudah cukup untuk memahami konsep dan grammar bahasa Inggris. Kita hanya lemah di percakapan. Bagaimana bisa ngomong lancar, mengalir, alamiah, tanpa pikir... kalau tidak ada teman bicara yang native speaker?

Sepandai-pandainya orang Indonesia berbahasa Inggris tentu masih lebih fasih orang Inggris atau USA yang sejak bayi sudah bicara English. Sementara kita di sini, bahasa pertama adalah bahasa Jawa, kemudian bahasa Indonesia informal (pasaran) kemudian bahasa Indonesia baku, baru dikasih pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Maka, pengusaha-pengusaha besar yang punya pabrik di Sidoarjo lebih memilih menyekolahkan anaknya ke Amerika atau Kanada ketimbang diikutkan kursus english di EF sekalipun. Atau membayar native speaker secara privat sekalipun.

"Anak dan cucu saya kalau ngomong bahasa Inggris, wah, cas-cis-cusnya kayak orang bule. Malah cucu saya sama sekali nggak bisa bahasa Indonesia. Apalagi bahasa Jawa," kata pengusaha Tenglang asal Sidoarjo. Sang pengusaha sudah pernah ikut kursus privat tapi tetap sulit bicara cas-cis-cus.

Di era internet ini, belajar bahasa Inggris, dan bahasa apa pun, bisa lewat YouTube dan ribuan situs lain. Tapi tidak berarti kursus-kursus bahasa Inggris macam EF bakal tergusur di tanah air. Buktinya, EF terus berkembang pesat, begitu pula lembaga kursus lain bisa membeli bangunan tua yang harganya bukan lagi ratusan juta, tapi miliaran rupiah.

24 April 2015

Tenun Ikat Lamaholot Bisa Punah



Mengapa tradisi tenun ikat di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, terancam hilang? Mengapa makin jarang perempuan muda etnis Lamaholot (Flores, Lembata, dan Alor) yang bisa bikin jagung titi? 

"Itu karena Mama Kartini," kata beberapa teman asal NTT di Jawa Timur. 

Mama Kartini tak lain Ibu Raden Adjeng Kartini yang hari lahirnya selalu dirayakan di seluruh Indonesia sebagai Hari Kartini. Mama Kartini berjasa mempromosikan pendidikan wanita Indonesia, membuat wanita setara dengan laki-laki. Membuat wanita tidak lagi melulu bekerja di dapur, mengurus rumah tangga, dan sebagainya.

Tradisi masyarakat Lamaholot sangat erat dengan budaya patriarki yang berurat berakar sejak zaman nenek moyang. Tugas atau kerja wanita dan pria dibedakan dengan sangat jelas. Dulu, sebelum 1990an, pantang menyuruh laki-laki memasak atau kerja di dapur. Cuci pakaian pun tak boleh dilakukan laki-laki. Kerja laki-laki di kebun, berburu, cari ikan, dan kerja fisik yang membutuhkan otot.

Begitu juga tradisi tenun ikat. Dulu, ketika saya masih kecil di kampung, pelosok Lembata, NTT, setiap rumah ada perangkat untuk menenun tradisional Lamaholot. Semua wanita, mulai dari nenek-nenek, mama-mama, hingga kebarek (gadis), menekuni tenun ikat. Mulai dari bikin pewarna alami, memintal kapas jadi benang; menenun hingga jadi kain sarung. Kain sarung ini sangat-sangat penting karena terkait erat dengan budaya adat Lamaholot.

Orang mau nikah harus ada kain sarung (tenun ikat). Ada keluarga yang meninggal harus ada kain tradisional. Pesta apa pun pasti pakai kain ikat itu. Saya selalu ingat dulu hampir semua wanita di Lembata memintal kapas jadi benang putih sambil berjalan kaki, ke mana saja. Namanya TUE LELU. Benang dari lelu alias kapas (dari kebun sendiri) ini kemudian direndam dalam laruta tarum atau mengkudu (dan zat pewarna lain). Lalu dijemur. Lalu ditenun di belakang atau samping rumah.

Tenun-menenun ini tidak pakai target. Belum ada pikiran untuk menjual atau menguangkan kain sarung itu. Karena tanpa target, kainnya baru jadi setelah dua tiga bulan, bahkan satu tahun. Kalau kebetulan sakit, ya, istirahat berbulan-bulan. Sistem yang sangat manual ini membuat produksi kain ikat sangat terbatas. Baru digunakan untuk urusan adat atau dipakai sendiri. 

Inilah kehebatan orang Lamaholot yang sejak zaman kuno sudah mampu membuat pakaian sendiri dari kain tenun ikat. Jauh sebelum Mahatma Gandhi menyebarkan paham swadeshi, yang salah satunya memproduksi pakaian sendiri, tanpa perlu membeli kain buatan pabrik di toko-toko. Inilah kehebatan etnis Lamaholot ketika banyak etnis lain yang tempo doeloe masih mamakai daun-daun, bahkan telanjang.

Perlahan tapi pasti, rezim Orde Baru sukses melakukan pembangunan. Sekolah-sekolah masuk desa dibantu yayasan Katolik. Gerakan wajib belajar membuat semua anak masuk sekolah. Anak-anak perempuan pun sekolah. Tak ada bedanya dengan laki-laki. Awalnya cuma SD sampai tamat, kemudian SMP, kemudian mulai SMA hingga perguruan tinggi. Dan, perjuangan Mama Kartini ini mulai dipetik pada 1990an dan setelah reformasi.

Berkat pendidikan yang makin tinggi, para wanita muda di Lembata dan Flores Timur mulai malas ke dapur. Tidak lagi TUE LELU, TANE WATEK (menenun kain), GAE WATA (membuat jagung titi), dan sebagainya. Bahkan, mencuci pakaian laki-laki pun tidak seikhlas zaman dulu. 

"Wah, saya masih sibuk nonton TV," kata seorang wanita muda di kampung. Padahal, dulu, sebelum 2000, kata-kata macam ini pantang keluar dari mulut wanita Lamaholot ketika diminta laki-laki untuk BAHA ALE LOLON (mencuci pakaian). Berkat perjuangan Mama RA Kartini, wanita modern menggugat semua tradisi patriarki yang menjadi pilar utama adat istiadat Lamaholot.

Setiap kali berlibur atau cuti ke Lembata, dan daerah lain di NTT, saya paling fokus memperhatikan dua hal ini: tenun ikat dan jagung titi. Betapa sulitnya menemukan para wanita sibuk menenun d rumah. Sudah lima tahun ini saya tidak pernah melihat seorag wanita pun (tua dan muda) yang TUE LELU (memintal kapas) di jalan. Saya pun mulai jarang mendengar bunyi bebatuan di dapur-dapur warga yang membuat jagung titi. 

Sebaliknya, sangat mudah melihat gadis-gadis muda bermain games atau HP di mana-mana. Televisi yang masuk kampung, berkat serbuan Matrix, yang membuat gambar sangat jelas, bahkan lebih jelas ketimbang di Sidoarjo, membuat orang kampung ketagihan menonton sinetron atau Tukul di televisi. 

Sebagai orang Lamaholot, kita syukuri kemajuan ini. Bahwa pola pikir, mentalitas warga di kampung, sudah jauh berbeda dengan tradisi lama. Wanita-wanita lebih memilih jadi TKW ke Malaysia Timur, atau kerja di Batam, ketimbang menekuni tradisi tenun ikat yang tidak menghasilkan uang. Duduk berjam-jam, setiap hari, berbulan-bulan, bahkan tahunan, tapi hasilnya tidak sebagus mereka yang merantau sebagai TKW.

Karena itu, saya mengapresiasi TENUNKOE, http://tenunkoe.org/ yang aktif melakukan pemberdayaan perempuan di NTT. "Tenunkoe dimaksudkan untuk mengajak masyarakat luas berbagi kasih dengan kaum marginal khususnya perempuan di NTT dalam bentuk memberikan donasi untuk modal usaha, membeli produk-produk buah karya perempuan, menyumbangkan pemikiran untuk memajukan perempuan ataupun bentuk sumbangan lainnya."


Jokowi, KAA, Budi Gunawan

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) layak diapresiasi. Puluhan kepala negara dan kepala pemerintahan hadir. Bukti bahwa Indonesia masih dihormati di forum internasional. Presiden Jokowi bolehlah berbangga karena mampu meyakinkan begitu banyak pemimpin negara Asia-Afrika ke tanah air.

Sayang, KAA yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa rasanya garing di dalam negeri. Di kalangan masyarakat bawah, di warung-warung kopi, khususnya di Jawa Timur, tema obrolan justru tentang Jokowi yang dianggap lemot. Kepala negara dan kepala pemerintahan Republik Indonesia yang lemah. Seorang petugas partai yang kelihatan tak berdaya di hadapan Megawati, ketua umum PDI Perjuangan.

Masih belum selesai diskusi soal petugas partai, tiba-tiba, saat KAA berlangsung, Komjen Budi Gunawan dilantik sebagai wakil kapolri. Pelantikannya pun tertutup, diam-diam, seperti dirahasiakan. Mensesneg Pratikno malah bilang belum tahu rencana pelantikan wakapolri dan siapa yang akan dilantik.

Aneh! Pihak istana sampai tidak tahu BG dijadikan wakapolri. Lalu, beberapa jam setelah dilantik sama Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Presiden Jokowi ketika ditanya wartawan hanya mengatakan, "Saya sudah perintahkan kapolri untuk melakukan konsolidasi kelembagaan."

Pernyataan pendek ini pun harus paka baca kertas contekan. Lalu, Jokowi berlalu ke forum KAA yang dianggap jauh lebih penting mengingat banyaknya tamu negara yang hadir. Sebaliknya, rakyat Indonesia (mayoritas) menganggap persoalan BG sebagai wakapolri itu jauh lebih penting ketimbang KAA. "KAA iku opo? Aku gak ngerti blas," kata Cak Dikin di Waru, Sidoarjo.

Begitulah. Sebagian besar rakyat kembali kecewa dengan sikap lemot Jokowi soal BG. Sudah betul Jokowi membatalkan BG sebagai calon kapolri karena dugaan pidana korupsi yang didakwakan KPK. Tapi tidak berarti BG boleh melenggang sebagai wakapolri. BG dianggap kontroversial, meski status tersangkanya sudah dibatalkan pengadilan negeri. Lha, kok ngotot banget dijadikan pimpinan polisi se-Indonesia?

Akan sia-sialah Jokowi mencari panggung di luar negeri, bicara ngalor-ngidul, kalau kebijakannya di dalam negeri masih slintutan seperti itu. Belum lagi harga BBM yang terus naik mengikuti harga pasar internasional, yang diikuti kenaikan harga hampir semua barang. Daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jutaan buruh yang upahnya belum sesuai ketentuan UMK. Kemudian gonjang-ganjing sepak bola yang tak ada ujungnya.

23 April 2015

Wanita Pelukis Sidoarjo Pameran di Surabaya

Tradisi pameran lukisan bersama dalam rangka Hari Kartini sudah lama vakum di Sidoarjo. Inilah yang membuat beberapa wanita pelukis Kota Delta memilih unjuk karya di Hotel Singgasana, Surabaya.

Pelukispelukis Sidoarjo yang ikut memeriahkan pameran bertajuk Aku Wanita Indonesia itu adalah Ary Indrastuti, Anny Djon, Endang Waliati, Maya Haerani, Novita Sechan, dan Yayuk. Ada pula Nur Hasana yang memamerkan batik tulis khas Sidoarjo. 

"Sebetulnya masih banyak teman-teman pelukis Sidoarjo yang berminat ikut. Tapi tempatnya terbatas sehingga tidak bisa diakomodasi," ujar Endang Waliati, pelukis yang juga korban lumpur Lapindo.

Perupa yang konsisten mengolah kain perca menjadi karya seni ini menampilkan karya terbarunya berjudul Sewu Rupo. Begitu banyak wajah perempuan mengisi kanvas berukuran 110 x 50 meter. Endang memberi judul Sewu Rupo. "Aku ingin menggambarkan bahwa wanita itu memiliki seribu rupa. Hahaha... Dia bisa jadi Srikandi, bisa jadi Sembadra, bisa jadi Dewi Kwan Im, atau bahkan jadi Bethari Durga," kata wanita kelahiran 27 Juni 1959 itu.

Ida Fitriyah, pelukis senior yang juga ketua panitia, mengaku memberi kebebasan kepada para wanita seniwati ini untuk berekspresi. Karena itu, lukisan-lukisan yang dipamerkan hingga 15 Mei itu sangat bervariasi corak dan alirannya. "Bahkan, ada pelukis yang baru pertama kali ikut pameran, yaitu Mbak Heti Palestina Yunani," katanya.

Ary Indrastuti misalnya tetap dengan lukisan bunga asoka. Begitu juga Anny Djon dan Maya Haerani. Lain lagi dengan Novita Sechan asal Waru yang menampilkan seorang ibu rumah tangga berkebaya di ruang makan. Mirip karikatur yang menggugat realitas di masyarakat.

"Setiap  pelukis dibatasi satu karya. Jadi, karakter masing-masing pelukis kurang begitu kelihatan," ujar Endang Waliati.

Wanita yang kini tinggal di Sidokare Indah, setelah rumahnya di Desa Mindi, Porong, terdampak lumpur Lapindo, ini mengaku bersyukur diajak panitia untuk pameran bersama di Surabaya. Sebab, sudah bertahun-tahun tak ada event seni rupa di Sidoarjo. "Terakhir saya ikut pameran bersama di Museum Mpu Tantular, Buduran," kata Endang.

Karena sepi pameran di Sidoarjo, menurut dia, para pelukis Kota Delta harus pandai-pandai membangun jaringan dengan sesama perupa di kota lain. Dengan begitu, karya-karya mereka bisa diapresiasi oleh masyarakat luas. "Kalau tidak pernah pameran, bagaimana masyarakat bisa mengapresiasi karya kami?"

Ida Firiyah, ketua panitia, mengatakan, Sidoarjo memiliki banyak perupa yang tak asing lagi di jagat seni rupa Jawa Timur. Hanya saja, dia mengakui belum banyak event seni rupa yang diadakan di Kabupaten Sidoarjo.

21 April 2015

Perempuan atau Wanita?


Kata WANITA dan PEREMPUAN, menurut saya, sama artinya. Sinonim. Bisa ditukar buat variasi. Nilai rasanya pun saya anggap sama meskipun banyak orang bilang beda.

Pria berpasangan dengan wanita, laki-laki berpasangan dengan perempuan. Tidak pernah atau jarang kita dengar pria dan perempuan atau laki-laki dan wanita. Ini sih selera atau diksi saya dalam berbahasa baku.

Tapi sejak reformasi, para aktivis hak asasi manusia dengan tegas memilih kata PEREMPUAN sebagai ganti WANITA. "Kalau bisa wartawan menggunakan kata PEREMPUAN. Jangan WANITA," ujar seorang teman aktivis wanita, eh aktivis perempuan di Surabaya, beberapa tahun lalu.

Di awal reformasi, Bu Khofifah, yang memang aktivis sejak mahasiswi, gencar pakai kata PEREMPUAN. Bu Khofifah saat itu menjabar menteri pemberdayaan perempuan. "Saya bukan menteri peranan wanita tapi pemberdayaan perempuan," kata Khofifah saat awal reformasi.

Menteri PERANAN WANITA itu memang sangat khas Orde Baru. Salah satu menterinya, Bu Nani Sudarsono, masih sering tampil sebagai komentator acara wayang orang di TVRI. Saya kebetulan senang menonton siaran wayang orang di TVRI karena tidak ada lagi pertunjukan wayang orang di Surabaya dan Sidoarjo. Setiap kali melihat Bu Nani di televisi, saya selalu ingat frase PERANAN WANITA dan PEMBERDAYAAN PREMPUAN.

Wanita di masa Orde Baru dicitrakan sebagai orang rumahan, pendamping suami, pengasuh anak, istri yang baik. Maka, para wanita ini dianjurkan ikut kegiatan PKK, posyandu, dan sebagainya. Pendidikan kaum wanita, sebelum reformasi, khususnya sebelum tahun 1990, pun umumnya lebih rendah daripada kaum pria. Jarang ada wanita (di luar Jawa) yang kuliah di perguruan tinggi.

Beda dengan wanita, kaum perempuan sangat berdaya dan berpendidikan. Punya karir tinggi, pendidikan sampai S3 (di luar negeri pula), direktur atau bos, intelektual... tak berbeda dengan laki-laki. Kalau laki-laki bisa, mengapa perempuan tidak?

Kalau wanita telaten mengurus rumah tangga, anak-anak, perempuan hampir tidak waktu karena sibuk berkarir. Si perempuan suka menitipkan anak ke pembantu atau baby sitter. Bila perlu tak punya anak agar tidak repot. Tidak ganggu karir. Bisnis penitipan anak pun marak setelah reformasi. Sedikit banyak ada hubungan dengan perubahan wanita menjadi perempuan itu!

Kembali ke makna kata WANITA dan PEREMPUAN. Kamus besar bahasa Indonesia memberi definisi:

WANITA : perempuan dewasa: kaum -- , kaum putri (dewasa);
-- karier wanita yg berkecimpung dl kegiatan profesi (usaha, perkantoran, dsb).

PEREMPUAN : 1 orang (manusia) yg mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: -- nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan); bunyi -- di air, pb ramai (gaduh sekali).

Sudah bertahun-tahun saya tidak mengecek kata WANITA di kamus. Di Hari Kartini ini baru saya tahu bahwa WANITA itu perempuan dewasa. Lalu, perempuan yang belum dewasa bukan wanita? Rasanya penyusun kamus besar versi Pusat Bahasa ini perlu mendiskusikan lagi.

Rasa bahasa memang berubah dari masa ke masa. Ada perubahan makna yang disebut ameliorasi: nilai rasa baru diaggap lebih baik daripada asalnya. Buku pelajaran bahasa Indonesia lama di SMP (saya masih ingat) memberi contoh kata wanita.

"Kata WANITA asalnya lebih rendah daripada PEREMPUAN, tetapi makna baru menjadi lebih tinggi daripada perempuan."

Oh, itu buku bahasa Indonesia terbitan tahun 1980-an. Cocok dengan kebijakan dan paham rezim Orde Baru yang menekankan WANITA sebagai pengurus rumah tangga, pendamping suami, pengasuh anak, orang rumahan, dan sebagainya. Mungkin itu yang menyebabkan kata PEREMPUAN di masa lalu dianggap negatif atau bernilai rendah.

Di awal kemerdekaan pun, tahun 1950-an, kata PEREMPUAN bermakna negatif. Sutan Mohammad Zain dalam kamus terbitan 1952 menulis, "Perempuan baik-baik sekarang lebih suka dinamai WANITA."

Sebaliknya, di lema WANITA, Sutan yang ahli bahasa terkemuka itu mendeskripsikan: "Wanita = perempuan; tetapi dalam bahasa Indonesia sekarang (tahun 1950-an) dipandang lebih halus dari perempuan.

Yang menarik, Alkitab atau Kitab Suci orang Kristen/Katolik di Indonesia, yang terjemahannya dikerjakan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, kata PEREMPUAN lebih banyak dipakai mulai dari Kitab Kejadian hingga Wahyu. Kata PEREMPUAN di Alkitab dianggap netral, sama dengan WANITA.

Kejadian 1:27: "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."

Iseng-iseng saya coba mencari kata PEREMPUAN di Alkitab online. Hasilnya luar biasa: kata perempuan terdapat di 1.169 ayat, sedangkan kata wanita hanya 12 ayat.

20 April 2015

Oknum Tentara vs Oknum Penjahat

Kalau ada tentara atau polisi terlibat kejahatan, hati-hatilah saat menulis. Jangan lupa pakai kata OKNUM. Misalnya: "Oknum anggota TNI AL diduga terlibat penggelapan motor." Begitu pesan wartawan senior kepada wartawan atau redaktur yang jam terbangnya belum banyak.

Mengapa harus pakai kata OKNUM? 

"Untuk keamanan. Itu kebiasaan sejak zaman Orde Baru. Kata OKNUM perlu dipasang untuk menunjukkan bahwa kejahatan itu dilakukan secara individual, bukan organisasi atau instansi," kata sang suhunya wartawan lawas.

Begitulah. Selama 30 tahun lebih kata OKNUM ini hanya disematkan ke Polri/TNI atau organisasi kemasyarakatan (ormas) yang seragamnya doreng. Misalnya, Pemuda Pancasila. Maka, ketika pekan lalu ada anggota Pemuda Pancasila bikin onar di studio SBO TV, Surabaya, menampar narasumber dalam talkshow yang disiarkan langsung, media massa pun menulis "oknum anggota Pemuda Pancasila". 

"Kalau nggak menulis OKNUM, media bisa diserbu teman-temannya si oknum itu," kata seorang wartawan di Surabaya.

Kata OKNUM ini hanya muncul dalam konteks negatif. Ketika si tentara, polisi, atau anggota ormas doreng melakukan hal-hal yang baik, berprestasi, kata oknum tidak pernah dipakai. Sang komandan tentara atau polisi buru-buru mengklam bahwa prestasi anak buahnya itu berkat pembinaan dan dukungan instansi. Padahal, prestasi itu di luar urusan kedinasan, tak ada katan dengan Polri, TNI, atau ormas.

Sudah lama saya mencari kata OKNUM di kamus bahasa Indonesia lama, era 1950-an. Kamus susunan Sutan Mohammad Zain, edisi 1952, tidak memuat kata OKNUM. Yang ada cuma OKE, OKTAF, dan OKTOBER. Artinya, kata OKNUM ini termasuk kata yang baru muncul belakangan. Khususnya di era Orde Baru ketika pers dikontrol sepenuhnya oleh penguasa yang militeristik. Jangan lupa, presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota... di Indonesia saat itu (hampir) semuanya militer.

Maka, untuk menjaga citra militer, termasuk polisi yang saat itu termasuk ABRI, media massa di Indonesia diwajibkan memakai kata OKNUM ketika memberitakan tindakan anggota militer (Polri dan TNI) yang melanggar hukum. Kalau ada tentara menghamili anak orang, itu mah perbuatan oknum. Kalau ada tentara yang jadi beking judi atau kegiatan ilegal, itu juga oknum. Tentaranya sih bagus. Oknumnya yang salah.

Sejak itulah kata OKNUM masuk kamus bahasa Indonesia versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. OKNUM berarti (1)Orang seorang; perseorangan; (2) Orang atau anasir (dng arti yg kurang baik): -- yg bertindak sewenang-wenang itu sudah ditahan.

Lucunya, minggu lalu saya membaca berita di koran terkenal terbitan Jakarta yang menyebut OKNUM PENJUDI. Hehehe... Sejak kapan penjudi ada oknumnya? Lama-lama ada istilah OKNUM PELACUR atau OKNUM PSK, OKNUM PERAMPOK, OKNUM KORUPTOR, OKNUM PENCURI.... 

Mungkin wartawan yang menulis, plus redaktur yang mengedit berita itu, belum pernah mendapat pncerahan dari wartawan lawas era Orde Baru yang paham riwayat kata OKNUM.   

18 April 2015

La Nyalla tak pernah kalah

Siang tadi, La Nyalla Mattalitti akhirnya terpilih sebagai ketua umum PSSI. Tidak aneh karena skenarionya memang begitu. Kongres di Surabaya ini sudah diduga sebagai ajang legalisasi Nyalla sebagai orang nomor satu di asosiasi sepak bola nasional. 

"La Nyalla kok dilawan?" begitu celetukan sebagian orang Surabaya yang sedikit banyak paham sepak terjang Nyalla selama bertahun-tahun. "La Nyalla itu sebaiknya dirangkul. Jangan malah dilawan. Kalau dilawan, counter attack-nya sangat tajam kayak Real Madrid," kata teman yang lain.

Yang berani melawan La Nyalla tentu Persebaya 1927 berikut ribuan suporternya. Tapi, bukan Nyalla kalau tidak bernyala-nyala meyakinkan publik bahwa Persebaya yang sah itu Persebaya yang sekarang ikut ISL. Barusan Nyalla menyalahkan Saleh Mukadar yang membuat Persebaya 1927 untuk ikut kompetisi IPL. Kita tahu, IPL jadi almarhum, ISL yang di dalamnya ada Nyalla dan kawan-kawan menang.

Maka, sejarah pun ditulis oleh sang pemenang. Bagi Nyalla, ketua PSSI yang baru, mau dibolak-balik kayak apa pun, Persebaya yang sah itu Persebaya yang dia dukung. Bukan Persebaya 1927 yang boneknya banyak itu. Pak Ketua PSSI ini kayaknya tidak ambil pusing pertandingan Persebaya ISL di Surabaya sepi penonton karena mayoritas suporter justru memihak Persebaya 1927.

Karena itu, sudah pasti Nyalla, ketua PSSI dan jajaran pengurusnya, mustahil menuruti keinginan menpora dan BOPI agar mengakomodasi Persebaya 1927 di kompetisi Liga Indonesia. Setidaknya rujuk, islah, merger, atau apa pun namanya. Bagi Nyalla, Persebaya itu ya hanya satu: Persebaya yang saat ini ikut kompetisi QNB League. Persebaya 1927 dianggap tidak ada lagi karena IPL sudah lama bubar.

Persoalan di PSSI ini kian runyam karena tiba-tiba Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI hanya beberapa saat setelah La Nyalla terpilih sebagai ketua umum PSSI. Ribuan bonek di Jalan Embong Malang, luar JW Marriott Hotel Surabaya, sujud syukur. Sementara Nyalla tetap saja semangat, tenang, dan menganggap keputusan menpora ini gak ngaruh. "PSSI itu hanya tunduk ke FIFA," tegas Nyalla. 

Sesuai rekam jejaknya sebagai seorang fighter, La Nyalla pasti tak akan tinggal diam. Ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk melawan keputusan pemerintah (menpora). Gugat di pengadilan, mengadu ke FIFA, jalan politik, bangun opini publik, dan sebagainya. Dan, biasanya Nyalla tak mengenal kata menyerah atau kalah. Nyalla itu sang pemenang.

Di era Menpora Roy Suryo, PSSI juga pernah diambil alih oleh kelompok lain. Nyalla dkk bikin KPSI sebagai tandingan PSSI. Hasilnya? KPSI yang menang. PSSI yang didukung menteri malah kalah. Kompetisi IPL juga bubar. Sebaliknya, ISL yang tidak didukung pemerintah malah berjaya. 

Bagaimana ujung geger baru PSSI La Nyalla vs Menpora Imam Nahrawi? Silakan wait and see. Yang jelas, tontonan ini sangat tidak menarik di tengah minimnya prestasi tim nasional sepak bola kita. 

Paduan Suara Budak Partitur

Salah satu penyakit kronis yang diidap kor (paduan suara) kita adalah ini: tidak hafal teks! Penyakit lawas ini paling jelas terlihat di lingkungan gereja. Lebih khusus lagi di Gereja Katolik. Sebab saya selalu perhatikan paduan suara ketika ikut misa di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pandaan, atau Malang.

Sangat jarang kor-kor gereja yang anggotanya hafal teks atau partitur di luar kepala. Bahkan, banyak dirigen pun matanya lebih banyak melihat partitur ketimbang anggota paduan suara. Sebaliknya, anggota kor pun lebih banyak melihat teks ketimbang melihat gerakan tangan dirigen. Toh, dirigen juga tidak fokus melihat anak buahnya.

Percayalah, kor-kor macam ini mustahil bernyanyi dengan bagus. Jangankan lagu-lagu yang tingkat kesulitannya level C atau D, lagu-lagu sangat sederhana alias komposisi paduan suara level A dan B pun tidak bisa enak.

Oh ya, di lingkungan kor Katolik tingkat kesulitan komposisi paduan suara itu mulai level A (amat sangat gampang) sampai F (amat sangat sulit). Di Indonesia, hanya sedikit paduan suara yang mampu membawakan komposisi level D, apalagi F. Di Gereja Katolik, untuk perayaan ekaristi biasa, bukan lomba atau festival, tingkat kesulitan lagu mentok di C.

Mengapa kor-kor kita di gereja tidak bisa menghafal teks? Padahal lagu-lagu itu sederhana dan hampir selalu dinyanyikan setiap minggu, bahkan setiap hari? Sebab, sejak dulu komisi liturgi atau pembina paduan suara tidak pernah memaksa atau mewajibkan paduan suara untuk hafal teks. Bahkan, seorang komposer terkenal, yang lagu-lagunya banyak mengisi buku Madah Bakti dan Puji Syukur, pun pakai teks ketika memainkan komposisi karyanya sendiri. Ini saya lihat waktu kursus pembina paduan suara di sebuah paroki di Keuskupan Malang beberapa tahun lalu.

Karena itu, paduan suara gerejawi tidak pernah bisa menghafal lagu-lagu liturgi di Madah Bakti (terbitan 1980) atau Puji Syukur selama puluhan tahun. Bayangkan, ikut paduan suara sejak 1990an, ekaristi tiap minggu, tapi belum hafal syair dan lagu ordinarium Misa Lauda Sion, Misa Raya, Misa Kita 2, Misa Kita 4, Misa Senja, Misa Manado, Misa Dolo-Dolo, Misa Syukur... nyanyian persembahan, dan sebagainya. Kalau tidak pernah dipaksa untuk menghafal, ya, sampai mati pun tetap pakai teks. Mata melotot ke teks, lupa kalau di depan ada dirigen.

Teks atau partitur memang penting dan perlu. Sangat membantu paduan suara, dirigen, organis, juga umat, untuk membawakan lagu sesuai dengan yang dikehendaki komposer. Tidak mbeleset ke mana-mana. Tapi, kalau ketagihan membaca teks, otak tidak pernah dilatih untuk mengingat melodi dan syair yang itu-itu saja. Bisa dibayangkan kualitas macam apa paduan suara yang seperti itu.

Saya ingat pesan yang selalu diucapkan almarhum Slamet Abdul Sjukur, komponis dan guru musik terkenal asal Surabaya. Setiap kali memberikan kuliah komposisi, kursus komposisi untuk awam di Surabaya, beliau selalu mewanti-wanti peserta agar tidak melihat teks ketika permainan berlangsung. Main musik, entah piano, gitar, tepuk tangan, pakai mulut, bersiul, hendaknya spontan.

"Kita jangan mau jadi budaknya not balok," kata sang maestro musik kontemporer itu.

Di gereja, paduan suara kita malah jadi budaknya not angka. Bertahun-tahun. Sampai sekarang.

Mengenang Orkes Keroncong Suara Delta Utama

Gak nyangka kalau Totok Widiarto, warga Desa Siring, Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang rumahnya tenggelam akibat semburan lumpur Lapindo sembilan tahun lalu itu pernah membuat album musik keroncong. Saya menemukan kasetnya secara tak sengaja di lapak pinggir jalan. "Gila, hebat juga Pak Totok ini," batin saya.

Lagu-lagu keroncong yang syairnya berbau pariwisata. Tentang Sidoarjo yang permai (belum kena lumpur). Kota Surabaya yang indah. Tuban, tanah air Indonesia, dan sejenisnya. Saya pun mendatangi Pak Totok di rumah barunya di Taman Tiara Sidoarjo.

Hehehe.... Pak Totok tertawa ngakak. 

"Saya sendiri sudah tidak punya kasetnya," kata seniman yang juga host acara Napak Tilas di JTV Surabaya itu. Lalu, si korban lumpur ini membawakan sebuah lagu keroncong di kaset itu. Lumayan enak suara Pak Totok. Sayang, rada rusak karena kebanyakan merokok.

"Rekaman keroncong itu kami buat zaman Pak Sugondo menjabat bupati Sidoarjo. Tahunnya saya lupa. Wis lawas banget," ujar Pak Totok sembari menyeduh kopi pahit untuk saya. 

Sugondo menjabat bupati Sidoarjo pada 1985-1990. Pak Gondo ini bupati hebat yang merintis gelanggang olahraga (gelora) di Sidoarjo, dimulai lapangan kolam renang, lapangan tenis, hingga Stadion Gelora Delta yang terkenal itu. Sidoarjo sering jadi tuan rumah event olahraga nasional, bahkan internasional, ya, antara lain berkat rintisan Pak Gondo ini. Pak Gondo juga tokoh olahraga Provinsi Jawa Timur yang sangat disegani. Jatim selalu hebat di PON, ya, berkat Pak Gondo pula.

Artinya, rekaman Orkes Keroncong Suara Delta Utama dengan titel Sidoarjo Kota Permai itu dibuat pada 1980an. Selain Totok Widiarto, nama-nama artisnya Naniek R, Hari Yono, Ollan, Ririn, Yono S, dengan music director Welly. Lagu Sidoarjo Kota Permai diciptakan oleh K Yubi dan Sastro Saidi. Di mana para buaya keroncong Kota Delta itu sekarang?

"Sebagian besar sudah nggak ada lagi (meninggal). Satu-satunya yang masih bisa ke mana-mana ya saya ini. Penyanyinya yang dulu cantik sudah jadi nenek-nenek. Hehehe," ujar Pak Totok dengan gelak khasnya.

Berbeda dengan sekarang, era internet dan media sosial, bikin rekaman keroncong pada tahun 1980an masih menjanjikan. Pak Totok mengaku mencetak 10 ribu kaset di Golden Hand Records, Surabaya. Mus Mulyadi, penyanyi serba bisa asal Surabaya, ikut mengontrol rekaman OK Suara Delta Utama ini. Kualitas penyanyinya pun bagus karena juara Bintang Radio dan Televisi (BRTV) Jawa Timur.

"Proses rekamannya lama banget. Waktu kita habis di studio. Tapi puas karena bisa bikin kaset sampai 10 ribu keping. Nggak gampang lho untuk musik keroncong," katanya.

Bupati Sugondo sendiri waktu itu cukup mengapresiasi rekaman keroncong yang mempromosikan Kabupaten Sidoarjo itu. Buktinya, sebagian kaset itu "diserap" melalui jaringan pemerintah kabupaten hingga kecamatan dan desa. "Pak Gondo tidak kasih duit tapi ikut bantu pemasaran. Dulu memang selalu ada kerja sama seniman dengan pemda," kenangnya.

Meski sukses di pasar lokal, Pak Totok enggan memproduksi kaset keroncong lagi. Sebab, setelah Pak Gondo lengser, kebijakan pemda ikut berubah. Tren musik juga berubah. Banyak orkes keroncong di Kabupaten Sidoarjo yang mati suri atau mati beneran. Termasuk OK Suara Delta Utama. "Kami sudah mencoba melakukan regenerasi penyanyi dan musisi keroncong tapi tidak jalan. Makanya, orkes keroncong cuma diisi orang tua," katanya.

Pak Totok sendiri sibuk dengan kegiatannya di BP7, blusukan ke situs-situs lawas, main musik di mana-mana, tapi bukan keroncong. Instrumen lengkap keroncong pun nganggur di rumahnya yang megah, Desa Siring, Porong, sekitar 300 meter dari pusat semburan lumpur Lapindo. Tak banyak alat musik yang bisa diselamatkan saat tragedi itu terjadi pada 29 Mei 2006. 

"Saya malah sudah lupa kalau pernah bikin rekaman keroncong zamannya Pak Gondo. Untung sampeyan menemukan kaset lawas itu," katanya.

Bagaimana kalau Pak Totok membentuk lagi orkes keroncong di Sidoarjo, yang semua pemainnya anak muda di bawah 24 tahun? "Nggak gampang. Mana ada anak-anak muda sekarang suka keroncong? Saya sih siap saja karena instrumen lengkap masih ada," katanya. 

15 April 2015

TKW Siti Zaenab Dipancung di Arab Saudi

Siti Zaenab, warga Bangkalan, Madura, baru saja dipancung di Arab Saudi. Wanita 47 tahun ini didakwa membunuh majikan wanitanya pada 1999. Hukum pidana di Saudi tak mengenal grasi dari kepala negara. Yang ada pemaafan dari keluarga korban atau ahli waris.

Nah, putra bungsu sang majikan tak mau kasih ampun. Maka eksekusi pun dilakukan pihak Saudi. Pemerintah bereaksi lewat kemenlu tapi Siti Zaenab sudah almarhumah. Selamat jalan sang pahlawan devisa!

Rupanya, eksekusi mati Mbak Siti ini tidak begitu bikin geger di tanah air. Presiden Jokowi tidak memberikan pernyataan. Statement hanya dari Menlu Retno. Bandingkan dengan Brasil yang warga negaranya dieksekusi mati di Nusakambangan tempo hari. Presidennya bereaksi sangat keras. Bikin manuver diplomatik yang dinilai mempermalukan dubes Indonesia di Brasil.

Lain lubuk lain ikannya! Televisi-televisi kita pun rupanya kurang tertarik membahas eksekusi Siti Zaenab di Arab Saudi. Yang ramai justru pengungkapan ribuan ekstasi milik Freddy Budiman, terpidana mati kasus narkoba. Kok bisa masih jadi otak pembuatan XTC di dalam penjara? Kok gak taubat aja sebelum dieksekusi? Pengawasan di penjara bagaimana?

Maka, headline koran-koran Jakarta pada 15 April 2015 ini terfokus ke Freddy Budiman. Talkshow di TV juga bahas Freddy. Pak Henry ketua Granat mendesak jaksa agung agar segera mengeksekusi para terpidana mati yang lagi ngantre itu. Termasuk Freddy. Ini momentum untuk membuat jera para bandar macam Freddy ini.

Debat soal hukuman mati sepertinya sudah hilang di Indonesia. Eksekusi mati dianggap hukum positif yang bagus untuk menghabiskan penjahat-penjahat kakap itu. Kalaupun ditunda, itu semata-mata karena ada peringatan Konferensi Asia Afrika. Nggak enak sama para kepala negara asing kalau eksekusi dilakukan sekarang. Apa kata dunia?

Begitulah. Kita di Indonesia sudah kehilangan legitimasi moral untuk memprotes hukuman mati atas TKW di Saudi dan negara-negara lain. Selama hukuman mati masih berlaku di Indonesia, dan pemerintahan Jokowi sangat pro hukuman mati, kita hanya bisa pasrah. Cuma bisa berdoa semoga mendiang Siti Zaenab diberi pengampunan dan tempat yang layak di sisi Tuhan!

14 April 2015

Wali Kota Risma BUKAN Petugas Partai

Survei Unair yang dirilis di koran hari ini sekali lagi memperlihatkan keunggulan Tri Rismaharini. Elektabilitas Bu Risma masih jauh di atas nama-nama lain yang berpotensi maju dalam pemilihan wali kota Surabaya. Persentasenya mendekati 50 persen.

Apakah PDI Perjuangan akan mencalonkan lagi bu wali yang prestasinya segudang itu? Belum jelas. Tapi minggu lalu PDIP Surabaya memutuskan untuk mencalonkan Wisnu Sakti, ketua DPC PDIP Surabaya, wakil wali kota sekarang. "Kami utamakan kader sendiri," kata Baktiono.

Orang-orang PDIP macam Baktiono, Agustine, Adi, sangat tahu bahwa Risma sulit dilawan. Sebagian besar rakyat Surabaya senang dengan gaya blusukan, turun langsung, tegas, berani, ala Risma. Mana ada wali kota yang berani menutup semua lokalisasi pelacuran? Termasuk Dolly dan Jarak yang bekingnya banyak itu? Hanya Risma, wanita wali kota pertama Surabaya, yang mau dan mampu.

Begitu banyak taman, ruang terbuka hijau, nan asri yang dibangun Bu Risma. Surabaya paling gencar bikin taman. Genangan air saat hujan pun lekas surut. Dulu, ketika masih tinggal di Gayungsari Barat, banjir biasanya bertahan seminggu lebih. Sekarang tidak ada genangan. Daftar prestasi Risma masih sangat banyak.

PDIP sangat tahu prestasi Risma. Tapi PDIP juga tahu bahwa Risma sulit diajak koordinasi dengan partai. Risma sulit dijadikan petugas partai. Sebab insinyur lulusan ITS ini memang bukan orang partai meskipun diusung PDIP hingga dipercaya rakyat menjadi wali kota. Sebagai wali kota, Risma hanya bekerja sebaik-baiknya, sekeras mungkin, untuk Kota Surabaya. Risma berutang budi kepada rakyat yang memilihnya lima tahun lalu. Bukan kepada partai!

Prinsip Risma inilah yang rupanya membuat PDIP di Surabaya tidak sreg. Bambang DH, wakil wali kotanya Risma, yang sebelumnya wali kota, kader asli PDIP, memilih mundur karena sulit bekerja sama dengan Risma. Tak ada komunikasi di antara mereka. Padahal dulu Risma itu kepala dinas andalan Wali Kota Bambang DH. Akhirnya, Bambang DH mundur. Memanfaatkan momentum pemilihan gubernur Jatim pada 29 Agustus 2013.

Wisnu Sakti, putra almarhum Ir Sutjipto, yang juga PDIP tulen, sejak era Promeg sebelum reformasi, naik sebagai wakil wali kota. Sama aja! Bu Risma seperti tidak membutuhkan wakil wali kota karena bisa jalan sendiri. Apalagi wawali dari partai, PDIP, yang punya doktrin petugas partai. Wisnu sebagai ketua PDIP Surabaya tentu paling merasakan bagaimana bekerja sama dengan Risma.

"Bu Risma itu belum punya KTA," begitu kira-kira pernyataan Wisnu tentang calon wali kota yang diusung PDIP. Maksud Wisnu jelas: karena tidak punya kartu tanda anggota (KTA) PDI Perjuangan, Risma tidak bisa diusung sebagai calon wali kota oleh PDIP.

Benar saja. Beberapa hari kemudian PDIP Surabaya mendeklarasikan Wisnu Sakti Buana sebagai calon wali kota. Spanduknya mulai dipasang di sejumlah kawasan di Surabaya. "Saya no comment (soal pemilihan wali kota). Terserah Bu Mega saja," kata Risma diplomatis.

Risma kemudian hadir di kongres PDIP di Bali. Padahal dia tidak diundang PDIP Jatim atau Surabaya. Ternyata beliau diundang langsung oleh DPP PDIP yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Isyarat bakal dicalonkan kembali sama si banteng gemuk? Kita lihat saja.

Yang jelas, sikap DPP PDIP terhadap Wali Kota Surabaya Risma ini sangat menarik. Di satu sisi, Megawati berkali-kali bicara soal petugas partai, bahkan Presiden Jokowi pun dianggap petugas partai, di sisi lain tetap mencalonkan Risma yang bukan kader partai, dan tidak mau dijadikan petugas partai. Merujuk pepatah lama, vox populi vox dei, sikap DPP pimpinan Megawati yang lebih mendengar suara rakyat Surabaya ketimbang suara para petugas partai, memang sudah semestinya.

Jokowi, Petugas Partai, dan Petugas Rakyat

Semua anggota parlemen atau DPRD/DPR RI itu petugas partai. Cuma, istilah petugas partai ini baru diperkenalkan PDI Perjuangan, lewat ketua umumnya, Megawati, beberapa tahun lalu. Disebut petugas partai karena anggota dewan itu ditugaskan partainya berkhidmat di lembaga legislatif. Setelah ditugaskan partai, dia jadi caleg untuk bersaing di pemilu legislatif.

Sebelum muncul istilah petugas partai, yang menurut saya lebih singkat, padat, dan pas, kita lebih sering mendengar: kepanjangan tangan partai! Dulu, di era Orde Baru, anggota dewan disebut wakil partai, bukan wakil rakyat. Karena mewakili partai, setiap saat dia bisa ditarik alias dipecat alias di-recall oleh partainya kapan saja. Begitu dipecat partainya, anggota dewan itu pun gugur keanggotaannya di parlemen. Sebab, dia memang petugas partai!

Yang sekarang jadi ramai di Indonesia, Presiden Joko Widodo juga disebut petugas partai oleh Bu Megawati. Jokowi itu dianggap kader PDIP yang ditugaskan partainya menjadi presiden RI. Cara berpikir Megawati soal Jokowi petugas partai ini sangat konsisten. Tidak hanya retorika, Jokowi juga dilucuti kepresidenannya dalam kongres PDIP di Bali minggu lalu.

Di forum itu, Jokowi tidak dianggap presiden tapi anggota PDIP biasa. Duduknya pun berbaur dengan kader banteng gemuk yang lain. Pakai baju merah yang sama. Ribuan petugas partai itu diceramahi Megawati soal pemerintahan blablablabala....

Bagi kita yang netral, yang bukan PDIP, yang bukan aktivis partai mana pun, perlakuan PDIP, khususnya Megawati, di kongres itu kok janggal rasanya. Benar Mega itu paling tinggi posisisnya di PDIP. Benar Jokowi dulu dicalonkan PDIP sebagai presiden. Benar Jokowi masih kader banteng. Tapi jangan lupa, Jokowi itu kepala negara besar bernama Indonesia. Jokowi bukan lagi petugas partai selevel anggota dewan, gubernur, atau menteri.

Jokowi bisa jadi presiden karena dipilih rakyat. Bukan karena penugasan PDIP atau Megawati. Tanpa antusiasme masyarakat, relawan, dsb, Jokowi tidak akan jadi. Kader-kader PDIP memang ikut bekerja tapi tidak maksimal. Setelah jadi presiden, Jokowi itu petugas rakyat. Dapat mandat dari rakyat untuk memimpin selama lima tahun. Bukan lagi hanya sekadar petugas partai.

Levelnya Jokowi sudah jauh berbeda. Dialah kepala negara. Ibarat raja di negara-negara monarki yang menjadi simbol negara Indonesia. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Jokowi atas nama konstitusi dan undang-undang, statusnya jauh lebih tinggi dari semua ketua partai di negara ini. Termasuk Megawati Soekarnoputri.

Terlepas dari kualitas kepemimpinannya yang buruk, tak bisa pidato, kaku bicara, tidak tegas, Presiden Jokowi itu seorang kepala negara yang sah. Ketika berstatus presiden, maka sebutan petugas partai sangat tidak tepat dikenakan kepada Jokowi. Loyalitas kepada partai berakhir begitu panggilan tugas sebagai negarawan dimulai.

Pernyataan dan perlakuaan Megawati soal petugas partai untuk Presiden Jokowi ini niscaya berimplikasi panjang dalam tata negara kita. Saya yakin banyak analisis, pakar, pengamat, masyarakat biasa, netizen, yang protes keras. Kecuali pengamat yang menjadi petugas partainya Bu Mega.

Sebutan presiden sebagai petugas partai kayaknya hanya cocok di Tiongkok, negara komunis yang cuma punya satu partai: Gongchan Dang (baca: Kungchan Tang) alias Partai Komunis Tiongkok. Presiden Xi Jinping itu jelas petugas partai karena memang jauh hari sebelumnya sudah disiapkan dan ditugaskan menjadi presiden Tiongkok. Rakyat Tiongkok tidak punya hak memilih presidennya.

Tapi, setelah jadi presiden, Xi Jinping yang jelas-jelas petugas partai itu tidak lagi dianggap petugas partai. Kedudukan dia sebagai kepala negara yang lebih tinggi ketimbang ketua partai komunis. Rupanya Bu Mega merasa lebih tinggi dari seorang presiden karena dialah bos partai, sementara Jokowi cuma seorang petugas partai.

13 April 2015

Pilbup Sidoarjo: Saiful Ilah tak ada lawan

Suasana menjelang pemilihan bupati (pilbup) Sidoarjo 2015 ini jauh berbeda dengan lima tahun lalu. Kalau dulu banyak tokoh yang memasang baliho di pinggir jalan, bikin baksos, kampanye terselubung atau terang-terangan, sosialisasi, kali ini sama sekali tidak ada. Saya perhatikan cuma M Sholeh yang pasang baliho di depan Terminal Purabaya, Bungurasih, dan Bundaran Aloha.

"Incumbent (Bupati Saiful Ilah) terlalu kuat. Siapa yang berani lawan. Duit pasti habis miliaran atau ratusan juta tapi pasti kalah," kata seorang kader partai di Sidoarjo.

Saking kuatnya Pak Saiful alias Abah Ipul, banyak orang Sidoarjo (yang melek politik) bilang siapa pun pasangan wakil bupatinya, sang raja tambak itu sulit dikalahkan. Percuma dilawan! Kecuali bagi orang-orang yang ingin latihan ikut pilkada dan mau menghabiskan duit untuk pesta politik lima tahunan. "Lima tahun lagi baru kompetitif," kata teman dari Gedangan.

Abah Ipul memang luar biasa. Orangnya biasa saja, merakyat, merangkak dari bawah, tapi ketokohannya sangat kuat. Beliau ketua PKB Sidoarjo. Tokoh NU. Punya banyak perusahaan. Punya banyak klub olahraga terkenal di Sidoarjo. Jaringannya sulit ditandingi. Meskipun santri, Abah Ipul ini punya kedekatan dengan warga minoritas di Sidoarjo.

"Kita undang Abah Ipul untuk natalan bersama di perumahan pun beliau datang. Kecuali kalau ada urusan penting," kata Mas Agus, pengurus gereja di Sidoarjo.

Maka, jika pilbup diadakan bulan April ini, Abah Ipul bisa menang 80 persen. Lima tahun lalu, dengan kampanye yang minim, kemenangannya sekitar 65 persen. Padahal Abah asli Sawohan ini dikeroyok oleh banyak pasangan calon. Termasuk yang dibiayai perusahaan raksasa di negara ini. Abah Ipul yang lima tahun lalu sempat dianggap sepi oleh sang bupati malah melejit luar biasa.

"Sudahlah, pilkada Sidoarjo itu sudah selesai. Hasilnya kita sudah tahu," kata Pak Khoirul di Gedangan.

Kalaupun ada pilkada serentak pada 9 Desember 2015, itu hanya sebagai formalitas belaka. Sekadar legalisasi dan konfirmasi dari apa yang selama ini kita dengar di warung-warung kopi dari Waru sampai Porong, Taman sampai Tarik, Porong sampai Krembung, Jabon sampai Candi.

Mas Sholeh, warga Krian asli, mantan pentolan PRD, yang sekarang pengacara top, tidak percaya dengan obrolan warung kopi itu. Sholeh justru bertekad maju pilkada untuk menantang Abah Ipul. "Kalau yang lain gak berani, saya yang maju," katanya suatu ketika.

Tadinya saya pikir Mas Sholeh cuma bercanda atau gertak sambal. Eh, dia malah sudah memasang baliho di beberapa titik strategis. Sholeh bilang banyak hal yang perlu dibenahi agar Sidoarjo bisa lebih cepat lagi kemajuannya. "Kalau incumbent-nya kayak Bu Risma di Surabaya, saya pikir-pikir dulu untuk maju," kata advokat yang sering nongol di TV lokal itu.

Yang pasti, partainya Mas Sholeh, Gerindra yang punya 7 kursi, masih penjaringan. Dan dengar-dengar Gerindra malah merapat ke Abah Ipul alias PKB. "Silakan saja Sholeh mengklaim didukung Gerindra. Wong penjaringan aja belum selesai," kata seorang kader Gerindra.

Yang menarik, PDI Perjuangan dengan 8 kursi di DPRD Sidoarjo, partai terbesar kedua setelah PKB, malah makin mesra dengan Abah Ipul. Baru kali inilah Bupati Saiful Ilah yang ketua PKB Sidoarjo memberangkatkan rombongan kader PDIP ke kongres di Bali. "Koalisi abang ijo itu kan bagus," kata Abah Ipul bercanda.

Ayo, siapa berani menantang Abah Ipul di pilbup Sidoarjo?


Sent from my BlackBerry

12 April 2015

Gadget mengubah budaya komunikasi kita

Kemarin saya mencoba naik kapal feri dari Ujung Surabaya ke Kamal Madura. Nostalgia sekaligus ingin melihat kondisi kapal penyeberangan seperti apa setelah ada jembatan Suramadu. Wuih, perkiraan saya, jumlah penumpang merosot 90 persen dibandingkan sebelum ada Suramadu.

Wajar kalau orang lebih suka lewat jalan darat, Suramadu, ketimbang feri. Tarifnya dua kali lipat, waktu tempuhnya lama, menunggunya pun bikin makan hati. Enaknya ya kita bisa menyaksikan kapal-kapal di Pelabuhan Tanjung Perak dan perairan Selat Madura.

Melihat seorang bule duduk sendirian, saya sengaja merapat ke pria 50an tahun itu. Ingin ngobrol sedikit, minta pendapat, diskusi ringanlah. Kebiasaan lama di atas kapal laut, pesawat, atau ruang tunggu bandara. Sayang, si bule itu terlalu sibuk dengan gawainya. (Oh ya, gadget = gawai). Dia tersenyum sendiri, asyik chatting dengan temannya di FB. Saya intip Twitter-nya juga sangat aktif.

Sama sekali tak ada celah untuk menginterupsi si bule. Apa boleh buat, saya tidak bisa bertanya satu kata pun. Sangat tidak sopan mengganggu keasyikan turis putih dengan gawainya di atas kapal penyeberangan. Dan.. kapal pun tiba di Dermaga Kamal yang makin sepi itu.

Gadget, smartphone, media sosial, dan sebangsanya memang benar-benar dahsyat. Ia mengubah budaya komunikasi kita nyaris total. Yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh!

Bagaimana si turis itu bisa menyerap pemandangan laut Surabaya-Madura kalau matanya hanya fokus ke tabletnya? Mengapa dia tidak mencoba ngobrol sedikit dengan satu dua penumpang? Pasti ada yang bisa berbahasa Inggris meski tidak fasih. Wow, rupanya bule yang bukan anak muda itu sudah terserap ke dalam budaya sosial media yang parah.

Slamet Abdul Sjukur (almarhum), komponis dan budayawan asal Surabaya, sebelum meninggal dunia juga menyampaikan kegalauannya melihat budaya HP yang benar-benar mengubah budaya manusia Indonesia. Empat orang sahabat duduk santai di restoran. Bukannya ngobrol, saling cerita, sharing, kata Pak Slamet, empat sahabat itu malah sibuk sendiri-sendiri dengan ponselnya.

Setelah pesanan makanan datang, ponselnya pun on terus. Mulut menguyah makanan, mata membelalak ke layar ponsel. Senyum sendiri membaca cuitan yang dirasa lucu. Lalu, empat sahabat itu pun pulang sendiri setelah makan siang bersama di restoran. "Luar biasa fenomena baru ini," kata Slamet suatu ketika.

Wayang wong jadi barang antik

Sudah lama, mungkin 20an tahun, wayang wong alias wayang orang mati di Surabaya. Tak ada grup wayang wong. Sesekali sih ada pertunjukan wayang wong di THR. Tapi penontonnya tak sampai seratus orang. Di televisi lokal pun saya tidak pernah melihat wayang wong.

Kalau wayang kulit sih cukup rutin di televisi. TVRI Jawa Timur dan JTV sering menayangkan secara langsung pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Dulu Ki Enthus, sebelum jadi bupati, paling sering muncul di televisi dengan dagelannya yang kasar tapi bikin kita ketawa ngakak. Ki Sunaryo, mantan wakil gubernur Jatim, juga sering nongol di TVRI.

Karena itu, pertunjukan wayang wong di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Sabtu malam, 11 April 2015, menjadi sangat menarik dan langka. Lakonnya Mahabandhana, dimainkan grup wayang orang Sriwedari Solo, Jawa Tengah. Grup seni tradisional ini masih bertahan di tengah gempuran teknologi dan hiburan modern. Ketika orang bisa dengan mudah menonton video di internet tanpa perlu datang ke gedung pertunjukan.

"Wayang wong itu bagaimanapun juga kesenian tradisional Jawa yang punya penggemar. Buktinya, pertunjukan di Cak Durasim ini sukses," kata Heri Lentho, seniman tari sekaligus panitia pertunjukan.

Hanya, Mas Heri mengakui tidak mudah membuat generasi muda Kota Surabaya, juga Sidoarjo dan Gresik, yang berusia di bawah 30 tahun tergerak untuk menonton wayang orang. Apalagi menonton secara rutin layaknya nonton film di bioskop. Apalagi rajin datang ke THR yang memang punya panggung tetap ketoprak, wayang wong, atau ludruk. "Kemasannya harus dibuat modern dan elegan," katanya.

Apa yang membuat wayang wong tidak bisa hidup di Surabaya? Bahasanya, kata Dukut Imam Widodo, penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe yang terkenal itu.

Wayang orang menggunakan bahasa Jawa krama inggil atau bahasa Jawa sangat halus. Ragam bahasa Jawa atas itu tidak dipakai di Surabaya. Anak-anak muda di bawah 20 tahun di Surabaya bahkan banyak yang sulit berbahasa Jawa ngoko (kasar, sehari-hari) karena sejak bayi dibiasakan orang tuanya berbahasa Indonesia. Bahasa Jawa Suroboyoan hanya diketahui sedikit-sedikit dari temannya di sekolah atau jalanan.

"Kulo mboten mireng itu apa?" tanya Lina, 17 tahun, gadis kelahiran Surabaya, ketika saya tes kemampuan bahasa Jawanya. Padahal, kalimat ini sangat sederhana dan sering diucapkan orang Jawa di mana saja. Romo-romo di gereja katolik pun sering menyelipkan humor saat khotbah. "Romo, kulo mboten mireng!" ujar Romo Eko Aldilanto saat khotbah malam Paskah di Gereja Pandaan pekan lalu.

Berbeda dengan wayang wong, menurut Pak Dukut, kesenian ludruk masih bisa dinikmati generasi muda karena bahasanya ngoko, bukan krama inggil. Orang Surabaya senang dengan bahasa ceplas-ceplos dan guyonan ludrukan. Itu pun sebetulnya tidak mudah juga mempertahankan grup ludruk di Surabaya. Tolong sebutkan nama grup ludruk yang bertahan di Surabaya! Dua saja gak ketemu.

Sepeninggal Sakiyah, pimpinan Ludruk Irama Budaya, grup ludruk lawas ini masih bertahan di THR. Tapi kondisinya senen kemis. Hidup segan, menunggu ajal. Jangankan 100 penonton, mencari 20 penonton saja, malam Minggu, sulitnya bukan main. Begitu banyak hiburan modern di dekat panggung seni tradisional (musik dangdut, PS, televisi, VCD, internet, bioskop, dll) di arena yang dulu dipakai manggung Srimulat dan Siswobudoyo itu.

Masih untung ada orang-orang gila seni tradisi macam Mas Heri Lentho yang mau memanggungkan wayang orang di Surabaya. Masih untung ada THR yang masih sesekali menampilkan kesenian tradisional. Masih untung ada orang yang mau datang menonton. Masih untung ada seniman yang mau melestarikan seni tradisi meskipun honornya lebih rendah dari juru pakir di THR. Masih untung ada koran yang masih memuat cerita sekilas tentang pertunjukan wayang orang.


Sent from my BlackBerry

08 April 2015

Malam Paskah 2015 di Pandaan

Malam Paskah di Gereja Santa Theresa, Pandaan, Jawa Timur, 4 April 2015, sangat berkesan dan menarik. Misanya sendiri sih sama dengan tata liturgi di seluruh dunia. Umatnya juga sama-sama membeludak di halaman. Tapi suasananya sangat khas kota kecil di Kabupaten Pasuruan yang santri itu.

Begitu masuk di kompleks gereja, pinggir jalan raya, kita disambut barisan pramuka pelajar SMA/SMK. Adik-adik pramuka yang wanita boleh dikata semuanya pakai jilbab. "Selamat datang, silakan parkir di belakang," kata seorang pramukawati seraya tersenyum.

Luar biasa! Justru di malam Paskah, ketika liturgi berlangsung tiga jam, belum ditambah persiapan awal dan ramah-tamah usai misa, adik-adik pramuka yang beragama Islam dengan sukarela menjaga ketertiban ekaristi Paskah. Korban waktu, korban acara malam minggu, hingga di atas pukul 00.00 ketika kalender sudah masuk hari Minggu, 5 April 2014. Saya pun menyatakan salut, apresiasi, dan bersyukur kepada Tuhan atas kebersamaan antarumat berbeda agama ini.

Satu jam sebelum misa, tempat duduk di dalam gereja sudah penuh. Hal yang lazim di mana-mana. Panitia juga sudah mengantisipasi dengan membuat terop di halaman gereja. Penuh juga. Untung tidak hujan sehingga banyak umat yang duduk di halaman beratap langit.

Misa malam Paskah segera dimulai. Wow, ternyata Romo Eko Aldilanto OCarm yang pimpin misa! 

Saya kenal betul pastor yang satu ini karena dulu dia jadi salah satu pendamping rohani kami saat mahasiswa. Romo karmelit ini rupanya menjabat pastor kepala Paroki Santa Theresia Pandaan. Kalau dulu rambutnya selalu dipotong pendek, mirip tentara, sekarang rambutnya dibiarkan gondrong. Kayak seniman! Bagus juga, karena biasanya makin tua makin botak. Romo Eko Aldilanto makin tua makin gondrong. Jarang ada pastor berambut gondrong di Jawa Timur.

Dibuka dengan upacara cahaya, pujian malam paskah atau Exultet dibawakan seorang pemuda berkaca mata. Usianya belasan tahun. Rupanya Romo Eko memberi kesempatan kepada anak muda itu untuk "mengambil alih" menyanyikan exultet yang biasanya menjadi jatah pastor alias imam itu. Semula saya ragu, apa bisa remaja itu mampu membawakan pujian paskah yang panjang, konsisten, dan enak?

Wow, luar biasa! "Bersoraklah para malaikat di surga...," begitu syair awal Exultet.

Saya pun terkesima mendengar suara sang remaja yang merdu, bening, dengan teknik yang hebat. Mungkin inilah Exultet paling bagus yang pernah saya dengar selama saya mengikuti misa malam Paskah. Surabaya kalah, Jember kalah, Sidoarjo kalah, Flores sekalipun kalah. Betapa berbakatnya anak itu membawakan lagu gregorian di usia semuda itu.

"Sudah ngantuk belum???" goda Romo Eko Aldilanto di awal khotbah.

"Beluuuum!!!" jawab umat.

Memang, ekaristi malam Paskah itu misa paling panjang dalam tradisi Katolik di seluruh dunia. Bacaan-bacaannya banyak, mazmur, upacara cahaya, hingga ekaristi biasa di ujung perayaan. Tiga jam itu sudah padat karena malam itu tak ada ritual pembaptisan katekumen. Coba kalau ada baptisan!

Tapi, hebatnya, malam Paskah selalu menjadi magnet yang luar biasa bagi umat Katolik. Misanya sangat panjang, tiga sampai empat jam, tapi selalu bikin ketagihan. Rugi besar kalau sampai tak ikut misa vigili paskah itu. Sebab, pujian lilin paskah yang indah itu, alias Exultet, hanya dibawakan di gereja setahun sekali, ya, malam Paskah itu. Begitu pula pembaruan janji permandian, dengan lagu wajib Syukur Kepadamu Tuhan, juga hanya dilakukan pada malam Paskah itu.

"Sanggupkah saudara-saudara menolak godaan-godaan setan dalam bentuk takhayul, perjudian, dan hiburan tidak sehat?"

"Ya, kami sanggup!" jawab umat Pandaan dengan suara lantang. Komitmen yang gampang diucapkan mulut, tapi sering sulit dilakoni secara konsisten setiap hari. Selama satu tahun. Selama hayat dikandung badan.

Begitulah. Misa selama 3,5 jam itu berlangsung lancar, damai, dan menarik dengan pengawalan para pramuka dan polisi di halaman dan jalan raya depan gereja. Sebelum berkat penutup, Romo Eko meminta umat agar tidak cepat-cepat pulang ke rumah. Makan-makan dulu, ramah-tamah di halaman, untuk menghabiskan kue. 

"Kalau kuenya gak habis, gak boleh pulang," ujar sang romo seniman ini disambut tepuk tangan meriah. 

Sayang, lagu penutup yang dipilih paduan suara ternyata bukan Halelujah Handel seperti yang saya bayangkan, atau setidaknya komposisi yang pas dan hebat, sebagai klimaks Paskah. Kor Pandaan malah menyanyikan Bangunlah Dada Kelana, lagu lawas di Madah Bakti yang sudah lama tidak saya dengar di Surabaya dan Sidoarjo. Lagu Bangunlah Dada Kelana ini dikarang untuk misa minggu biasa, bukan paskah. Padahal, kualitas paduan suara Pandaan ini di atas rata-rata kor di Jawa Timur yang lebih pantas membawakan komposisi choral yang berat.

Baru kali ini saya merasakan malam Paskah yang tak hanya perayaan liturgi yang meriah dan indah, tapi juga resepsi hangat di halaman gereja. Makanan dan minuman yang disiapkan panitia pun lebih dari cukup untuk umat yang saya perkirakan sekitar 1.500 jiwa. Makan sampai kenyang baru pulang!

Selamat Paskah 2015!

06 April 2015

TEMPO mengenang Slamet Abdul Sjukur



Murid-muridnya memanggil sang guru Eyang SAS. Ini singkatan dari Slamet Abdul Sjukur, komponis besar Indonesia yang dikagumi banyak orang. Seniman senior yang menjadi cikal-bakal musik kontemporer Indonesia itu meninggal Selasa pagi, 24 Maret 2015, pada usia 80 tahun di Surabaya. Dalam kesendiriannya, ia terjatuh di lantai rumahnya tanpa diketahui siapa pun. Insiden itu mencederai kaki kanannya yang rentan dan menjadi kendala mobilitas dirinya sejak lahir.

Indonesia kehilangan lagi seorang ikon manusia pembaru pasca-Proklamasi yang sukar dicari padanannya. Dan, setiap kali kita kehilangan seorang yang kita anggap kompeten di bidangnya, kita merasa gethun, sedih dan tertinggalkan. Sesungguhnyalah, dalam stagnasi seperti saat ini, kita masih banyak membutuhkan pendekar yang mampu membuka perspektif baru di segala bidang.

Jauh dari hura-hura dan glamor buatan budaya semu industri, SAS telah menyumbangkan seluruh hidupnya untuk perkembangan musik baru Indonesia. Tidak berlebihan bila dibilang ia adalah pioner musik kontemporer abad ke-20 Indonesia. Karya musik, ide, dan pikirannya telah menginspirasi murid-murid dan para komponis generasi berikutnya, yang tersebar di mana-mana sebagai agen perubahan. SAS telah meninggalkan jejak yang tak mungkin dihapus. Parit sejarahnya akan lebih berkembang di kemudian hari, ketika Indonesia sudah mencapai logika waktu yang lebih maju.

Slamet Abdul Sjukur dilahirkan pada 30 Juni 1935 di Surabaya. Dari moyang ibunya, Canna, mengalir darah Eskimo dan Turki. Moyang ayahnya, Abdul Sjukur, keturunan Jawa. Ketika lahir SAS ditengarai dengan nama Soekandar. Tapi Soekandar kecil terus-menerus sakit-sakitan. Maka keluarga Abdul Sjukur memberinya nama baru: Slamet.

Dari istri pertama, Siti Suhairini (almarhum), lahirlah anak perempuan, Tiring Mayang Sari, 54 tahun. Istri keduanya, Elisabeth Fauquet (almarhum), memberinya satu keturunan, Stephanie, 46, dan istri ketiganya, Francoise Mazurek, lahir anak laki-laki, Svara, 36.

SAS sangat tangguh dalam kepribadian. Walaupun "saya tak pernah bermaksud mau melawan", ia tak pernah mau surut dan tunduk terhadap keadaan apa pun yang diyakini. Ia keras seperti batu karang dan tak tertundukkan, tapi ramah dan santun dalam tutur bahasanya. Gestur perilakunya elegan dan terbuka kepada siapa pun, terutama kalangan muda. Ia sangat perasa dalam banyak hal.

SAS mulai belajar musik, piano, pada umur 9 tahun. Bersama Paul Goetama Soegijo, FX Warsono, FX Soetopo, dan Idris Sardi, SAS adalah murid pertama Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta yang didirikan Ki Hadjar Dewantara, Bung Hatta, Mohamad Yamin, Hamengku Buwono IX, dll pada 1952. Inilah para pemimpin hebat yang berpikir jauh ke depan.

Bayangkan, masih dalam ketidakpastian dan hanya selang tujuh tahun sesudah pernyataan kemerdekaan, mereka telah berinisiatif membuka institusi pendidikan seni musik (kemudian juga sekolah seni rupa, sekolah seni tari, dan sekolah seni karawitan).

Murid-murid pertama sekolah seni itu juga orang-orang hebat. Mereka berani mengambil keputusan berisiko, yakni merintis hidup sebagai calon seniman, yang pada waktu itu masih tak jelas masa depannya. Tapi, seperti tercermin pada riwayat SAS, mereka adalah orang-orang tangguh yang tanpa lelah telah sukses mempertahankan pendirian dan pandangan hidup.

Dari sekolah musik di Yogya, SAS melanjutkan studinya ke Paris, Prancis. Di pusat peradaban musik dunia itu, ia belajar segala macam ilmu musik dan komposisi di Conservatoire National Superieuer de Musique de Paris. Di sana ia bertemu dengan seniman-seniman musik abad ke-20 paling berpengaruh antara lain Oliver Messian, Pierre Schaeffer, Henri Dutilleux, Simon Pke Caussade, George Dandelot, dan Ton de Leeuw.

Pada 1976, saya dan guru kami berdua di Yogya, Soemaro LE, memprovokasi SAS untuk pulang ke Indonesia. Tujuannya agar ia ikut mendirikan sekolah musik di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. (Di kemudian hari, saya menyesal mengajaknya pulang ke tanah air karena kami berdua akhirnya terlempar dari lembaga musik yang kami dirikan itu. Kami dianggap mengajarkan musik anek-aneh!)

Seperti perkembangan seni-seni umumnya, avangardisme musik juga marak di pertengahan abad lalu. Gerakan itulah yang dibawa pulang SAS ke negeri asal usulnya. Intinya, mengembalikan musik kepada sumber alaminya sebagai materi: bunyi!

Secara radikal, gerakan ini antara lain melawan arus konvensi musik lama yang memberhalakan nada (melodi) sebagai primadona. Melodi yang menjadi formatur utama seluruh struktur, bentuk, dan lika-liku ekspresi musik. Itu tidak cukup. Penemuan-penemuan sonografi bunyi sebagai sumber musik membuat nada (dalam notasi balok) menjadi rentan di hadapan sumber bunyi baru yang tak terhingga. Alam semesta bunyi, natural ataupun elektroakustik (electronic device), memungkinkan sumber bunyi apa pun menjadi musik. Musik adalah seni bunyi. Konsep inilah yang diajarkan SAS.

Tapi SAS menyadari adanya ketimpangan kesadaran tentang musik baru di negeri ini. Orang masih terpenjara kesalahpahaman abadi bahwa musik adalah melodi (nada). Musik adalah ungkapan rasa.

SAS lantas mengajarkan suatu paham radikal pada akhir 1970-an. Siapa pun, tanpa kecuali, bisa membuat musik. Siapa pun bisa menjadi komponis. Tak perlu harus menguasai musik dulu untuk belajar komposisi. Syarat mampu membaca not balok untuk belajar komposisi tak diperlukan. Bakat juga tak diperlukan. Yang diperlukan hanya satu: nalar!

Keruan saja aturan-aturan formal di pendidikan tinggi seni terlabrak habis oleh ulah pendidikan SAS ini. Tiga kali ia diminta mengajar di tiga pendidikan tinggi seni, tiga kali pula dia dipecat. SAS pernah mengatakan, "Saya terkenal sebagai dosen langganan dipecat." Tapi inilah yang terjadi, di luar kampus resmi, murid setianya banyak sekali. Termasuk bekas murid-muridnya di perguruan tinggi.

Sekitar 60 karya SAS telah dipentaskan di berbagai pelosok dunia. SAS mengatakan, "Setiap komposisi saya selesaikan dalam waktu cukup lama. Berbulan-bulan atau bahkan tahunan." Di antara karya SAS itu adalah Bunga di Atas Batu (Sitor Situmorang 1960), Parentheses 1-3 (Paris 1972), Astral (Christchurch 1984), Uwek-Uwek (Jakarta 1992), MiniMax (Surabaya 1993), Game Land 1-5 (Jakarta 2003-2012), dan Suroboyo (Jakarta 2013).

SAS menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Berikut ini adalah nukilan dari pidatonya yang berjudul Terima Kasih kepada Kuburan saat dia menerima penghargaan dari pemerintah Prancis pada 2012, L'Officer de l'Ordre des Arts et des Lettres:

"Upacara ini yang kembali mengingatkan pada mereka yang meninggalkan saya di saat-saat penting yang tidak saya hadiri, menimbulkan perasaan seolah-olah saya menghadiri pemakaman diri saya sendiri."

Juni 2014, pada perayaan ulang tahunnya yang ke-79, ia bilang kepada sahabatnya begini: "Kakek, bapak, dan ibu saya meninggal pada umur 79 tahun. Mas Suko, saya juga akan meninggal pada umur itu tahun ini."

Selamat jalan, Mas Slamet. Tuhan mengasihimu!

SUKA HARDJANA

Sent from my BlackBerry

SAS: Sunyi, Bunyi, dan Kota

Oleh Slamet Abdul Sjukur (1935-2015)
Komponis, Pemikir Kebudayaan

Mana yang penting: tempat berlindung, makan, atau kawin? Ini pertanyaan buat kucing. Tapi juga untuk manusia. Ketika hidupnya masih sangat sederhana. Sebelum ada kota.

Sekarang sebuah kota dikatakan nyaman jika penduduknya punya rumah yang pantas, pekerjaan yang mencukupi kebutuhannya dan anak-anaknya bersekolah yang mengasyikkan. Di samping itu, semua masih ada tuntutan lain: punya waktu untuk bersantai.

Apakah punya waktu santai itu suatu kemewahan? Alam sudah memberi contoh ada siang ada malam. Baterai juga perlu diisi kembali energinya. Santai itu fungsional.

Dalam gerakan waktu yang tiada hentinya, kita perlu ke tepi sejenak agar masih bisa merasakan hidup. Menyadari keluarbiasaan hidup sebagai karunia. Ketenteraman batin yang ditopang oleh suasana tenang menjadi syarat untuk itu. Sebaliknya, para buruh yang bekerja di pabrik yang bising.

Max Planck menemukan berbagai masalah keluarga pada mereka. Bahkan di New York sepertiga penduduknya mengidap psikopat, manusia yang sehari-harinya normal namun bisa mendadak naik pitam. Sebabnya banyak tapi yang utama karena kebisingan yang lama-kelamaan dirasakan sebagai sesuatu yang biasa tapi diam-diam sarafnya tidak bisa diterima.

Maka, sering diberitakan di sana, seorang siswa membawa mitraliur dan membunuh teman-temannya di sekolah. Di Jakarta pun sudah semakin terlihat gejala seperti itu. Orang gampang tersinggung, gampang marah, dan tidak punya toleransi.

Apa bahayanya? Kebisingan tidak cuma berurusan dengan telinga, tapi dengan semua organ tubuh dan seluruh jaringan saraf kita. Ketika tiba-tiba mendengar ledakan, jantung kita serasa pecah, tekanan darah naik, jaringan saraf korslet, dan fungsinya kacau balau. Lebih-lebih lagi kalau telinga kita terus-menerus diserbu oleh berbagai kebisingan yang melampaui batas pendengaran sama akibatnya seperti kalau lubang hidung kita disemprot alat pengering rambut terus-menerus, kita tidak saja tidak bisa bernapas tapi berpikir pun tidak mungkin.

Kebisingan yang berlebihan menyebabkan kita tidak bisa berpikir sebagaimana mestinya. Di Kanada sekolah-sekolah yang di atasnya sering dilewati kapal udara, kecerdasan murid-muridnya berkurang antara 30-40 persen dibandingkan kecerdasan murid-murid yang sekolahnya jauh dari jalur penerbangan.

Kebisingan bukan masalah selera, seperti ada orang yang suka musik hard rock, ada yang suka musik lembut. Disebut kebisingan karena melampaui batas kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, kebisingan adalah polusi yang berbahaya bagi lingkungan.

Para dokter THT punya tabel tentang hubungan antara kerasnya suara (dalam satuan desibel, dB) dan batas kemampuan pendengaran. Sayangnya, pemerintah tidak memahami maknanya yang lebih dalam yang sangat mengerikan. Sampai-sampai tidak ada sosialisasi, apalagi tindakan nyata, untuk mengatasi batas polusi yang satu ini.

Di negara-negara yang sudah maju inteligensinya sudah lama dilakukan upaya-upaya menanggulanginya semaksimal mungkin. Mesin-mesin disertai peredam yang tidak terpikirkan sebelumnya. Jalan raya dibuat dari bahan-bahan yang menyerap bunyi. Headphone dibatasi secara otomatis volumenya. Berbagai peraturan dan pelarangan dibuat untuk menyelamatkan penduduk dari kolonialisme baru yang tidak terlihat ini.

Indonesia tidak cuma menghadapi masalah kemiskinan ekonomi, tapi yang lebih penting lagi mengatasi kemiskinan mental, di samping masalah mengembalikan kepercayaan rakyat pada pemerintah. Surabaya dengan penghijauan dan kursi-kursi tamannya membuat kita tenteram. Sering terlihat orang asyik membaca di situ tanpa takut ditodong penjahat.

Sayang, trotoar yang mestinya untuk pejalan kaki dianggap sebagai pelebaran jalan untuk sepeda motor. Akibatnya, pejalan kaki tidak pernah merasa nyaman di situ. Pengemudi sepeda motor bahkan masuk di kampung-kampung dan tidak segan membunyikan klakson agar orang lain minggir. Sepeda motor menjadi raja di mana-mana. Dan Surabaya tidak tegas menghadapinya.

Memang tidak perlu pakai ketegasan terhadap kucing kawin, tapi dengan masalah trotoar yang bukan pelebaran jalan? Itu terkait langsung dengan sistem demokrasi, hajatan kebersamaan, dan lebih jauh lagi sama dengan korupsi: merampas yang bukan haknya.

Masalah prioritas? Tidak semua menjadi prioritas, tapi juga tidak semua bisa diremehkan. Prioritas yang paling dianaktirikan selama ini, sejak manusia tinggal di kota, ialah perlunya mutlak tidak membuat kebisingan. Keheningan bukan sesuatu yang mewah, tapi syarat untuk bisa bernapas sehat dan berpikir jernih.

CATATAN
Semasa hidupnya, selain menciptakan komposisi musik, mengajar musik di berbagai akademi, kampus, dan sekolah musik, almarhum SAS juga mendirikan gerakan Masyarakat Bebas Bising. Gerakan ini aktif mengampanyekan polusi suara, bahaya kebisingan di Indonesia.

02 April 2015

Bandara Juanda: Angkasa Pura vs TNI AL




Sejak 12 Maret 2015 TNI Angkatan Laut menutup jalan penghubung Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Internasional Juanda. Mabes TNI AL geram karena menilai PT Angkasa Pura 1 selaku pengelola Bandara Juanda wanprestasi alias ingkar janji. Tidak melaksanakan enam atau tujuh butir perjanjian kerja sama.

Sengketa macam ini sebetulnya lagu lawas. Tapi selalu terjadi dan terjadi lagi karena Bandara Juanda yang komersial itu menggunakan sebagian lahan TNI AL. Sebagai pemilik lahan, TNI AL berhak cawe-cawe urusan airport. Jangan lupa, Bandara Juanda juga berdampingan dengan Lapangan Udara TNI AL Juanda alias Lanudal yang dipakai untuk keperluan militer.

Salah sendiri Angkasa Pura. Sudah tahu kerja sama dengan AL selalu tidak mulus kok tidak ada revolusi mental? Tidak ada kebijakan untuk membuka bandara baru di atas lahan yang 100 persen sipil. Yang 100 persen milik Angkasa Pura. Yang tidak memberi celah sekecil apa pun bagi TNI atau pihak luar untuk intervensi.

Sebagai pengguna Bandara Juanda, bahkan warga Kabupaten Sidoarjo yang dekat dengan bandara, sedikit banyak saya tahu riwayat Bandara Juanda yang semula murni airport militer, kemudian jadi sipil, kemudian terlihat mentereng seperti sekarang. Dulu saya juga sering mampir ke ruangan GM PT Angkasa Pura 1 di kompleks bandara yang lama. Diajak minum kopi, diberi wawasan dan pengetahuan soal manajemen Bandara Juanda dan seluk belum bisnis penerbangan.

Akhirnya, saya menyadari bahwa Bandara Juanda di Kecamatan Sedati ini tidak mungkin sepenuhnya sipil. TNI AL punya kepentingan karena kawasan itu memang pangkalannya, pangkalan militer. Angkasa Pura boleh dikata cuma pinjam tempat karena bandara di Surabaya tidak ada lagi. TNI AL dengan puspenerbal-nya punya kepentingan untuk menjaga keamanan Indonesia dari jalur udara.

Maka, ketika bandara lama (maksudnya terminal lama) yang sederhana itu ditutup, semua orang memuji Angkasa Pura. Meskipun satu desa di Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, harus dibebaskan untuk dibangun terminal atau bandara baru. Ribuan penduduk Desa Pranti melakukan bedhol desa jauh ke timur. Artinya, lahan bandara baru itu bukan lagi milik TNI AL, melainkan milik Angkasa Pura sendiri yang dibeli dari warga Desa Pranti.

Bandara Juanda yang baru ini kemudian diresmikan Presiden SBY. Banyak orang yang memuji terminal yang jauh lebih bagus, bersih, dan modern. Dibandingkan dengan bandara lama yang sederhana ala terminal bus.

Namun, beberapa bulan kemudian, tiba-tiba ada ide untuk menghidupkan kembali bandara/terminal lama yang berdiri di atas tanah TNI AL itu. Mengakomodasi pertumbuhan penumpang yang pesat, begitu alasannya. Sayang kalau dibiarkan mangkrak. Saya hanya bisa geleng kepala. Kok bisa Angkasa Pura 1 yang ingin sedikit bebas dari lingkungan TNI AL kok kembali ke bandara lama yang militer itu? Banyak lagi pertanyaan dan dugaan lain di benak saya.

Begitulah. Bandara lama yang mangkrak itu akhirnya disulap jadi T2: Terminal 2. Khusus untuk penerbangan internasional dan beberapa domestik rute Jakarta. Begitu banyak apresiasi, pujian, saat peresmian. Orang lupa bahwa status kepemilikan lahan ini suatu ketika menimbulkan masalah kalau terjadi beda tafsir dan sebagainya.

Sebetulnya konflik Angkasa Pura 1 vs TNI AL sudah lama terjadi tapi diam-diam aja. Baru pada 12 Maret 2015 mencuat setelah TNI AL memblokade akses T1 ke T2 dengan segala implikasinya. Sengketa kelas kakap ini pun jadi bahan obrolan di warung kopi. Saya perhatian warga umumnya menyalahkan TNI AL yang dianggap arogan, mentang-mentang, intervensi, menang sendiri, dsb. Orang awam lupa bahwa status Bandara Juanda itu sangat unik, berbeda dengan kebanyakan bandara di Indonesia.

Konflik kali ini kayaknya jauh lebih parah. TNI AL rupanya benar-benar kecewa dengan Angkasa Pura 1. Imbauan Gubernur Soekarwo, DPR RI yang datang ke lokasi, bahkan mediasi yang dilakukan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun gak mempan. Blokade masih ditutup. Tak ada tanda-tanda akan dibuka.

Lha, kalau wapres saja tidak bisa, lalu siapa lagi? Presiden Jokowi? Hehehe.... Ingat kisruh KPK vs Polri, saya kok makin ragu kepala negara bisa menyelesaikan kisruh di Bandara Juanda ini.

Saya sendiri sih ingat pepatah lama: Seekor keledai pun tak akan mau terantuk pada batu yang sama! Manajemen Angkasa Pura rupanya kurang belajar dari pengalaman. Siapa suruh kembali ke terminal lama?

Wartawan Perempuan Menulis Siswa Perempuan

Saya tertegun cukup lama membaca tulisan reporter muda. Usianya 20an tahun, perempuan, baru lulus PTN tahun lalu, cerdas, cepat belajar. Berita mentahan itu tentang ujian nasional (unas). Nona ini menulis: "Seorang siswa perempuan mengundurkan diri karena menikah."

Siswa perempuan? Gak salah nih? Saya sengaja tak memanggil reporter anyar itu untuk diskusi. Sebab istilah SISWA PEREMPUAN sering saya baca di internet atau media cetak lain. Jangan-jangan saya yang ketinggalan zaman. Jangan-jangan bahasa Indonesia memang sudah berubah, sementara saya yang gagap mengikuti perubahan itu.

Bagi saya, SISWA itu ya harus laki-laki. Kalau perempuan ya SISWI. Maka kita biasa mendengar istilah SISWA-SISWI atau MAHASISWA-MAHASISWI. Gak ada mahasiswa perempuan, pikir saya. Gak ada wartawan perempuan, pikir saya. Kalau reporter atau wartawan itu berjenis kelamin perempuan ya disebut WARTAWATI.

Tapi rupanya bahasa kita terus berkembang dan cenderung mengabaikan konvensi lama soal jenis kelamin alias gender. Kata SISWA saat ini dianggap netral, tak lagi merujuk ke laki-laki. Mahasiswa pun begitu. Makanya kita mulai jarang mendengar istilah mahasiswi di Surabaya. Kecuali Pak Putroadi, wartawan lawas, yang getol mempertanyakan istilah siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi, wartawan-wartawati, seniman-seniwati.

"Artis wanita kok Anda sebut seniman? Apa gak keliru? Mestinya kan seniwati," kata wartawan yang banyak menulis di berbagai media massa di Surabaya sejak tahun 1960an itu. Sampai sekarang pun tulisan-tulisan Pak Putro yang Tionghoa ini masih muncul di media Katolik di Jawa Timur.

Di lingkungan Gereja Katolik pun saya lihat ada pergeseran diksi. Sampai pertengahan tahun 2000an istilah MUDIKA masih dipakai di gereja. Mudika = Muda-Mudi Katolik. Belakangan MUDIKA tak ada lagi, diganti OMK = Orang Muda Katolik. Tak hanya di Jawa, OMK ini sangat aktif melakukan berbagai kegiatan seperti paduan suara, bersih-bersih gereja, bakti sosial, hingga mengunjungi orang sakit.

Dulu Koes Plus punya lagu: "Muda-mudi zaman sekarang... Pergaulan bebas nian...."

Seiring zaman yang berubah sangat cepat, istilah muda-mudi ala Koes Plus dan muda-mudi gereja sudah tak dipakai lagi. Istilah PEMUDI pun mulai hilang dari peredaran. Padahal, dulu kita punya lagu mars terkenal: Bangun Pemudi Pemuda Indonesia!

Ada juga lagu keroncong terkenal karya Kelly Puspito yang sering dibawakan paduan suara: "Pemuda serta pemudi jangan sangsi lagi... Nasib negeri tergantung pada dirimu sendiri..."

Setelah pikiran berputar ke mana-mana, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti istilah SISWA PEREMPUAN itu dengan MURID PEREMPUAN. Kata MURID atau PELAJAR netral, bisa mewakili laki-laki, perempuan, banci, dsb. Saya juga membuat sebuah kali pendek baru yang pakai kata SISWI untuk merujuk murid perempuan yang gagal ikut unas di Sidoarjo itu.

Sayang kalau kata-kata lama putra-putri, siswa-siswi, wartawan-wartawati, karyawan-karyawati, dewa-dewi, biduan-biduanita, seniman-seniwati, biarawan-biarawati, dsb harus hilang dari media massa kita. Bagaimana pendapat Anda?


Sent from my BlackBerry