15 March 2015

Wartawan balita tanpa indepth reporting

Teknologi informasi, internet, gawai (gadget), membuat kita semua dipaksa berlari. Cepat cepat cepat! Tak ada lagi waktu untuk membaca buku tebal, novel berat, refleksi, menimbang sana sini sebelum melepasnya ke publik. Ungkapan alon-alon waton kelakon kayaknya tidak cocok lagi di era media sosial ini.

Wartawan-wartawan lawas pun sudah lama gundah dengan perubahan ini. Ada yang bisa adaptasi, tapi banyak juga yang gagap. Kalau dulu pekerja media atau wartawan bisa bertahan lama, bahkan sampai pensiun, sekarang cepat sekali datang dan pergi. Belum tiga bulan, Mas Rona sudah cabut kerja di tempat lain. Mas Bram entah kerja di mana meski belum enam bulan di surat kabar.

"Sekarang ini semua wartawan saya (reporter) adalah wartawan balita. Bahkan, batita," kata seorang pemimpin redaksi koran kecil. Wartawan balita maksudnya wartawan yang masa kerjanya di bawah lima tahun. Batita: di bawah tiga tahun.

Lalu apa yang bisa diharap dari balita dan batita? Sulit, katanya. Wong menulis berita sederhana saja gak becus. Belum bisa membedakan kata depan di dan awalan di. Masih suka copy paste (copas) online, kebiasaan buruk yang terbawa sejak mahasiswa dulu. Sulit membuat indepth news kalau wawasan, logika, dan passion kerjanya gitu-gitu aja.

Saya baca di Kompas hari ini, 15 Maret 2015, Bayu Widagdo, wakil pemimpin redaksi Bisnis Indonesia, koran terkenal di Jakarta, mengeluhkan wartawan-wartawan muda yang tidak mampu membuat berita-berita mendalam dan komprehensif. Beritanya selalu pendek-pendek, alur cerita loncat-loncat, tata bahasa masih sekelas SMP atau SMA. Padahal, media cetak dituntut menampilkan informasi yang mendalam.

Saat ini para batita itu juga kebanyakan sulit naik status ke balita. Kenapa? Cabut kerja di tempat lain. Muncul lagi muka-muka baru yang ingin merasakan petualangan di dunia jurnalistik. Kadang belum sampai setahun sudah cabut lagi. Kayak Mas Rona atau Bram tadi. Datang lagi muka baru.

Mas Bayu sendiri kaget ketika kembali ke kantor pusat Bisnis Indonesia di Jakarta setelah bertugas di Jateng selama empat tahun. Wartawan-wartawan di newsroom yang dipimpinnya hampir semuanya orang baru alias balita yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Suasana guyub, akrab kayak keluarga, sudah tak lagi terasa.

Di televisi pun begitu. Bahkan lebih terasa karena masyarakat biasanya sangat familier dengan wajah presenter. Mbak C yang cakep yang dulu reporter lapangan di Surabaya naik status jadi presenter terkenal di televisi X. Kemudian muncul di televisi Y. Lama menghilang, si C kemarin saya lihat di televisi Z.

Wow, zaman yang bergegas. Betapa cepatnya perubahan itu.

No comments:

Post a Comment