06 March 2015

Tak ada koran berbahasa Inggris di Surabaya

Tak sengaja saya menemukan majalah lawas, Kidung, edisi Maret 1999 di gudang. Di belakang majalah terbitan Dewan Kesenian Jatim itu ada iklan satu halaman dari The Indonesian Daily News. Koran terbitan Surabaya yang disingkat IDN.

Saya jadi ingat beberapa teman eks IDN yang dulu ngantor di Graha Pena, Surabaya. Sebagian besar masih bekerja di media massa tapi yang berbahasa Indonesia. Bukan media berbahasa Inggris yang sejatinya lebih membutuhkan kemampuan written and spoken English mereka.

Ya, koran IDN memang sudah lama tutup. Sulit dapat pelanggan di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur. Dijual eceran pun sulit. "Orang kita itu sok berbahasa Inggris tapi nggak serius. Inggrisnya pun inggris-inggrisan aja," kata seorang wartawan senior.

Lihatlah begitu mewabahnya ungkapan-ungkapan bahasa Inggris di media sosial, percakapan sehari-hari, bahkan iklan di ruang publik. Tapi itu tidak berarti bahwa warga Suranaya (dan Jatim) sudah benar-benar serius berbahasa Inggris. Cuma nginggris atau sok english aja, begitu sindiran Remy Sylado.

Maka, ketika disodori surat kabar berbahasa Inggris, warga kita sebetulnya belum siap. Apalagi membaca berita-berita dari kantor berita macam Reuters, AFP, AP, atau Bloomberg yang ditulis oleh wartawan-wartawan bule yang sejak bayi sudah cas-cis-cus bahasa Inggris. Sulit sekali kita pahami karena begitu banyak kata-kata sulit. Beda kalau berita itu ditulis wartawan-wartawan pribumi yang cuma menjadi bahasa Inggris bahasa ketiga atau kelima.

Karena itu, setelah IDN ditutup, tidak ada lagi koran berbahasa Inggris di Surabaya. Kota yang disebut-sebut nomor dua (atau enam) setelah Jakarta. "Bikin koran itu gampang. Tapi apa bisa dijual koran yang berbahasa Inggris?" kata wartawan senior yang sudah almarhum suatu ketika.

Syukurlah, di Jakarta masih terbit koran berbahasa Inggris macam The Jakarta Post atau Jakarta Globe. Ini berarti pasarnya memang ada dan konsisten. The Jakarta Post malah bertahan selama 30 tahun lebih. "Oplah kami memang tidak besar. Tapi pelanggan kami sangat setia," kata Pak Raymond Toruan, bos The Jakarta Post.

Koran berbahasa Inggris memang perlu, bahkan wajib ada, di kota-kota besar. Ini sangat terasa ketika kita berada di negara-negara yang bahasanya sama sekali kita tak mengerti. Misalnya di Tiongkok, Iran, Lebanon, atau Rusia. Sudah pasti kita akan mencari koran-koran setempat yang berbahasa Inggris untuk mencari informasi lokal. Informasi di online atau blog berbahasa Inggris tentu berbeda nilainya dengan di surat kabar resmi.

3 comments:

  1. Bung Hurek, adiknya Pak Raymond Toruan namanya Michael Toruan, dulu lama kerja di tambak / cold storage udang ayah saya 1980an - 1990an. Sudah lama jadi orang Sidoarjo seperti anda. Coba mungkin ketemu di gereja atau di toko, hehehe. Orangnya baik dan halus walaupun berdarah Batak.

    ReplyDelete
  2. Jangankan yang berbahasa Inggris, koran berbahasa Indonesia pun tampaknya sangat sulit mengembangkan basis pelanggan dan pembacanya. Khususnya di Surabaya. Bisa bertahan saja mungkin sudah baik. Begitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Minat baca yang terlampau rendah mungki ya, gan !?

      Delete